
Mayu ingin menutup rapat rasanya kupingnya saat lagi-lagi dia mendengar teman-temannya sesama mahasiswa baru membicarakan tentang Alga dan Alga.
Mayu baru tahu ternyata sangat banyak mahasiswi baru yang mengagumi Alga, seolah Alga adalah orang yang sangat hebat. Alga memang kaya, tampan dan berprestasi tapi menurut Mayu pujian yang diberikan pada Alga itu terlalu berlebihan.
Mereka tidak tahu saja, Alga yang sangat mereka banggakan ternyata perhitungan. Mobil penyok sedikit saja minta ganti rugi 10 juta. Belum lagi dia juga meminta Mayu menjadi kekasih bayarannya. Bukankah itu sama saja dengan meremehkan harga diri seorang wanita? Lalu apa pantas orang seperti itu diidolakan? Mayu lebih baik mengidolakan bunda Corla dari pada Alga.
"Mayu! Mayu! Lihat kak Alga lewat. Barusan dia ngelirik lo tahu Mayu." ujar Shinta sangat antusias menyadarkan lamunan Mayu.
"Iya benar, tadi gue juga melihatnya walau cuma sebentar tapi dia sempat melirik pada Mayu. Beruntung banget si lo Mayu. Gue juga mau dilirik kak Alga, Mayu." ujar Lora tidak kalah antusiasnya.
"Cuma dilirik begitu doang, beruntung dari mananya? Kecuali tadi dia memberikan gue uang 1 milyar baru bisa dibilang beruntung. Jangan lebay deh." ujar Mayu malas. Ini juga Mayu baru tahu kalau teman SMAnya juga ternyata kenal Alga dan termasuk penggemar Alga.
"Dasar lo Mayu, dari dulu isi otaknya hanya ada uang dan uang. Sesekali pikirkan tentang cinta dong Mayu, biar hidup lo itu sedikit lebih berwarna! Memangnya lo enggak suka gitu melihat kak Alga yang sangat tampan itu? Asal lo tahu ya Mayu, dia itu enggak hanya tampan, tapi dia sangat kaya. Hartanya enggak habis 7 turunan. Dia juga sangat berprestasi baik itu akademik dan non akademik. Dia juga kapten tim basket dari SMA. Nah satu lagi, dia adalah presiden BEM, padahal dia baru semester 5. Hebat banget kan dia, dan orang seperti dia sangat pantas untuk diidolakan." ujar Lora dengan semangat membara.
Lora paling senang kalau membahas tentang Alga. Alga itu ibaratnya BTS bagi para ARMY BTS.
"Iya, dia memang sangat pantas diidolakan." ujar Mayu malas dan itu bertentangan dengan kata hatinya. Hanya saja Mayu tidak mungkin mengatakan kalau dia tidak tertarik sama sekali sama yang namanya Alga. Mayu takut diserang Lora dan para penggemar Alga yang lain.
"Tentu saja, kak Alga itu memang sangat pantas diidolakan. Eh Mayu lihat deh cewek itu, sangat cantik kan dia?" ujar Lora lagi sambil menunjuk ke arah salah satu mahasiswi baru yang penampilannya terlihat lebih seksi dan cantik dari pada yang lain.
Mayu menoleh.
"Iya dia sangat cantik. Lo kenal dia?" ujar Mayu jujur.
"Tentu saja, namamaya Naura dan dia itu saingan berat kita Mayu."
Kening Mayu seketika berkerut.
"Saingan berat gimana maksudnya? Dia juga ambil jurusan manajemen bisnis gitu?" tanya Mayu apa adanya. Yang dipikiran Mayu tidak pernah jauh-jauh dari yang namanya pelajaran dan uang.
"Iya dia memang ambil jurusan manajemen bisnis sama seperti kita dan kak Alga, tapi saingan yang gue maksud itu, saingan untuk mendapatkan hati kak Alga."
Alis Mayu seketika terangkat dan menatap bingung Lora.
"Maksudnya?" tanya Mayu bingung.
"Begini Mayu, gue dengar gosip dari penggemar kak Alga yang lain, kalau dia itu juga sudah lama naksir Kak Alga, dan dia selalu mengikuti Kak Alga, kemana pun Kak Alga sekolah. Bahkan rumah mereka saja saling berdekatan. Dia itu juga salah satu anak konglomerat Mayu. Kalau tidak salah, papanya itu CEO di Sinar Pratama group. Bahkan gue ada dengar katanya dia mau dijodohin sama kak Alga. Hanya saja gue pribadi enggak percaya Mayu, kak Alga saja sangat cuek padanya, dan katanya kak Alga juga masih jomblo." jelas Lora.
__ADS_1
Mayu menatap Lora dan seketika menegapkan tubuhnya. Mayu beralih menatap pada mahasiswi itu. Kata Lora, dia anak dari CEO Sinar Peratama Group.
'Apa itu berarti dia adalah anak dari papa? Berarti dia saudaraku?' batin Mayu.
Mayu kembali menatap Lora.
"Apa dia anak dari David Antonius?" tanya Mayu memastikan.
Mayu yang sebelumnya malas-malasan jadi antusias begitu ada mendengar kabar bagus tentang papa kandungnya. Jika perempuan itu beneran anak papa kandung Mayu, itu berarti kesempatan Mayu untuk bisa bertemu dengan papa kandungnya semakin besar.
"Kalau itu gue enggak tahu Mayu. Gue tahunya dia anak CEO saja. Eh ngomong-ngomong siapa itu David antonius, dia bukan sugar daddy lo kan?" tuduh Lora.
"Gila saja lo gue punya sugar daddy. Gue lebih baik jual kolor dan bh keliling kampung daripada jadi peliharaan sugar daddy. Ini Mayu ini, si calon pebisnis hebat, bukan peliharaan para pebisnis hebat, you know?" seru Mayu tidak terima.
Lora tersenyum lebar. Dia sudah bisa menebak apa jawaban Mayu. Dia sangat kenal pada Mayu.
"Iya Mayu, gue cuma bercanda. Gue juga tahu kok lo enggak mungkin jadi sugar baby. Mana laku lo jadi sugar baby. Dada rata begitu."
"Hei gue m*ntok ya kalau pakai busa yang tebal." seru Mayu tidak mau kalah.
Mereka kemudian saling tersenyum.
"Hei kalian berdua, kenapa belum baris?" teriak salah satu senior dan menatap tajam pada Mayu dan Lora.
Mayu dan Lora menoleh, senyum di wajah mereka seketika memudar.
"Eh maaf Kak," kompak Mayu dan Lora dan langsung berlari ke arah barisan kelompok mereka.
Baik Mayu atau Lora sama-sama menundukkan kepalanya. Mereka sadar mereka yang salah.
"Masih mahasiswa baru juga, sudah tidak disiplin. Kalian ini niat kuliah atau tidak? Kalau tidak niat lebih baik mengundurkan diri saja! Masih banyak orang di luar sana yang mau menggantikan posisi kalian." marahnya lagi.
"Sangat niat Kak, sekali lagi kami minta maaf Kak. Kami salah dan kami janji tidak akan mengulanginya lagi." ujar Mayu dan masih menundukkan kepalanya.
"Awas saja ka-"
"Lia sudah Lia tidak usah diperpanjang. Alga sudah mau memberikan kata sambutannya. Sebaiknya lo ke depan. Jangan sampai Alga marah." ujar Rangga.
__ADS_1
"Iya," nurut Lia. Sebelum dia pergi dia masih sempat-sempatnya menatap kesal pada Mayu, entah apa alasannya, Mayu tidak tahu. Padahal kesalahan Mayu hanya sedikit ini.
Rangga kembali menatap Lora dan Mayu.
"Kalian berdua karena sudah membuat kesalahan harus dihukum. Saya yang akan memberi hukuman pada kalian. Kalian berdua temui saya saat istirahat jam makan siang! Jangan sampai telat!" ujar Rangga.
"Baik Kak," ujar Mayu dan Lora seketika lemas. Baru juga acara OKK dimulai, mereka sudah kena hukuman saja.
"Bagus. Untuk semuanya juga dengar baik-baik! Jika mau kuliah di sini yang paling utama itu adalah disiplin. Kampus ini tidak butuh mahasiswa atau mahasiswi yang tidak disiplin. Sekali pun kalian berprestasi tapi kalau tidak disiplin itu sama saja percuma. Ingat waktu itu sangat berharga!" seru Rangga.
"Iya Kak." kompak para mahasiswa dan mahasiswi baru.
"Bagus." ujar Rangga dan kembali berlari ke depan. Rangga mengacungkan jempolnya pertanda semuanya sudah siap.
Alga mengangguk.
"Selamat pagi semua," ujar Alga memulai memberikan kata sambutannya.
"Selamat pagi juga Kak." seru Mayu dan yang lainnya kompak.
"Sebelumnya saya ucapkan selamat datang pada ...." Alza terus memberikan kata sambutannya dengan jelas, tegas tanpa ada rasa gugup sama sekali. Kelihatan dia sudah terbiasa bicara depan banyak orang. Jiwa kepeminpinannya juga sangat terlihat.
Para mahasiswa baru mendengarkannya dengan serius sedangkan para mahasiswi baru banyak yang senyum-senyum. Mereka sangat suka mendengar suara Alga secara langsung. Suara Alga sangat jantan dan berkharisma.
Mayu bisa melihat wajah senyum teman-teman perempuannya. Mayu semakin pusing saja dibuatnya, tingkah mereka benar-benar di luar nalar Mayu. Apa menariknya sih itu Alga? Lobang hidungnya juga masih dua dan belum 3. Itu berarti Alga masih sama saja kan dengan mereka? Heran Mayu.
***
Mayu menarik nafas pelan, dia merasa lelah. Benar kata orang di luar sana masa OKK itu memang seru tapi sangat melelahkan. Tugas dan misi yang yang diberikan oleh para senior mereka benar-benar melatih mental Mayu dan yang lainnya.
"Hei Mayu, siapa yang suruh kamu duduk? Cepat berdiri dengan satu kaki! Kamu masih saya hukum!" teriak salah satu senior perempuan pada Mayu.
"Baik Kak," nurut Mayu. Mayu lagi-lagi tidak mengerti kenapa kebanyakan senior perempuan menatap tidak suka padanya. Mayu bahkan terkadang suka diberi hukuman tidak jelas sama mereka, dan yang terakhir, hanya karena dia melirik pada Alga, dia langsung dihukum.
"Ini minum dulu!" ujar Alga sambil memberikan satu botol air mineral pada Mayu.
Tidak hanya Mayu yang terkejut, tapi hampir semua mahasiswi penggemar Alga juga terkejut. Sedangkan para senior perempuan, semakin kesal saja pada Mayu.
__ADS_1