Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Barbeque


__ADS_3

"Mom!" panggil Naura begitu melihat Sindi masuk rumah.


"Ada apa Naura?" tanya Sindi menatap anaknya.


"Duduk dulu Mom, Naura mau bicara sebentar dengan Mommy!" pinta Naura.


Sindi menurut dia kemudian duduk di sofa di depan anaknya.


"Kamu mau bicara apa dengan Mommy?" tanya Sindi lagi.


Naura menatap mommynya dan menarik nafas pelan.


"Ini soal tanre Dira, Mom. Mommy enggak akan berubah pikiran kan Mom, dan kembali mendukung tante Dira? Naura tahu Mom, sebagai orang tua Naura, pasti Mommy juga ingin terbaik untuk Naura, tapi Naura pribadi juga sadar akan kemampuan Naura. Naura memang bisa membuat brand skincare atas nama naura sendiri, tapi Naura enggak yakin itu bisa bertahan lama, karena Naura kerjanya terkadang tergantung mood. Naura butuh dukungan orang-orang seperti Mayu, Daddy, kak Alga dan teman-teman yang lainnya agar Naura tetap semangat. Makanya Naura ingin bekerja dengan mereka saja. Lagian menurut Naura, yang namanya bisnis itu tidak selamanya butuh jadi yang utama. Seperti Daddy contohnya, daddy sangat mampu membuat bisnis baru, tapi dia memilih, tetap bekerja jadi bawahan pimpinan om Pratama. Dan kenapa dia memilih bertahan, itu karena Om pratama juga sangat baik padanya. Daddy bahkan diberi kesampatan menanam saham di perusahaannya dan itu lebih besar dari saham keluarganya yang lain. Begitu juga dengan Mayu. Mayu bahkan menyarankan saham untuk Maga Beauty, harus lebih besar milik Naura dari pada miliknya, bukankah itu artinya Mayu juga sangat memikirkan yang terbaik untuk Naura?" jelas Naura.


"Iya Naura, Mommy mengerti dan Mommy juga percaya pada kamu. Kamu tenang saja Mommy tidak akan berubah pikiran. Mommy memang sayang pada mbak Dira dan akan mendukung apa pun keputusannya. Tapi Mommy juga lebih sayang lagi pada Kamu, dan akan mendukung penuh apa pun itu keingian kamu. Bahkan selama ini juga semua yang Mommy lakukan hanya demi kebahagiaan kamu. Jadi kamu enggak perlu khawatir." ujar Sindi mantap dan itu berhasil membuat Naura tersenyum.


"Terima kasih Mom, sudah mendukung Naura. Naura senang deh kalau Mommy mendukung keputusan Naura. Tetap seperti ini ya Mom! Naura suka Mommy yang seperti ini."


"Iya Naura, Mommy hanya enggak ingin dimusuhi sama anak dan suami Mommy terus menerus. Mommy juga enggak mau kehilangan kalian, dan itu karena sikap egois Mommy sendiri." ujar Sindi.


"Itu dia, Mom dan Naura sendiri juga enggak ingin kita jadi enggak akur hanya karena beda pendapat. Naura juga sangat sayang sama Mommy dan Naura enggak mau kehilangan Mommy." ujar Naura mantap.


"Iya Naura. Sini peluk Mommy." ujar Sindi merentangkan tangannya.


"Iya Mom," ujar Naura kemudian bangun dari duduknya dan melangkah ke arah mommynya. Naura memeluk erat Sindi dan begitu juga sebaliknya.


"Ah iya, Mom. Hari minggu nanti kan Mayu latihan renang lagi di sini. Kita sekalian membuat acara barbeque, Mommy setuju enggak? Kita ajak Kak Alga juga Mom." usul Naura begitu melepas pelukannya.


"Iya boleh. Ajak Rangga dan Yudha juga sekalian biar semakin ramai."


"Boleh juga itu Mom, sekalian sama pacar mereka juga ya Mom. Lora dan Shinta, mereka juga temannya Mayu, Mom. Mereka juga baik pada Naura belakangan ini." ujar Naura lagi.


"Iya boleh, sama teman kamu juga. Ira dan Yuli jangan ketinggalan." ujar Sindi mengingatkan.


"Itu sudah pasti Mom, bisa diprotes Naura kalau tidak mengajak mereka. Lagian Mereka juga akan jadi bagian dari Maga Beauty tentu Naura tidak akan melupakan mereka."


"Nah itu dia."


"Iya Mom, terima kasih ya Mom." ujar Naura senang dan kembali memeluk mommynya.


"Iya Naura sama-sama."


David yang berdiri di dekat pintu tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya. Dia merasa senang kali ini Sindi memilih jalan yang benar dan tidak mementingkan egonya, seperti apa yang dia lakukan selama ini. Dia juga sangat berharap, Sindi bisa lebih baik ke depannya dan semakin perduli pada Mayu. Selain itu David juga berharap Sindi mau minta maaf pada Mayu dan neneknya. David mau keluarganya saling sayang dan akur, karena hanya mereka keluarga terdekat ya David miliki.


***


"Iya Mbak, makasih ya Mbak." ujar Mayu di telepon.


"Sama-sama Mayu." jawab Ningrum pekerja di rumah Mayu.


Mayu kemudian mematikan sambungan teleponnya. Selanjutnya dia memesan makanan untuk neneknya juga Ningrum dan anaknya-anaknya. Seperti biasa saat Mayu pulang telat, dia selalu meminta Ningrum dan anak-anaknya untuk menemani neneknya. Mereka juga dengan senang hati menemani nenek Iroh. Apalagi anak-anak Ningrum juga sudah dekat dengan nenek Iroh.


"Gimana May?" tanya Naura dari arah kolam.


"Masalah nenek sudah aman." ujar Mayu dan kembali menyimpan ponselnya.


"Baguslah. Ayo lanjut renang lagi!"


"Siap, tapi 2 kali putaran lagi saja ya! Shinta dan yang lainnya sudah mau berangkat ke sini katanya."


"Oklah kalau begitu." ujar Naura mantap.


Mayu kembali nyebur. Dia sudah mulai bisa berenangnya, tapi belum terlalu jago.


"Mayu! Mayu! Lo pasti bisa Mayu!" seru Naura menyemangati Mayu.

__ADS_1


Mayu hanya tersenyum melihat tingkah Naura.


Setelah 2 kali putaran mereka memutusnya menyudahi acara renang mereka.


"May, lo pakai baju ini deh. Kemarin gue dikirim baju dari jepang sama Aunty." ujar Naura begitu Mayu keluar dari kamar mandi kamarnya.


"Lo punya Aunty tinggal di Jepang, mantap dong."


"Aunty lo juga Mayu. Dia istri dari saudara sepupu Daddy dan dia juga sudah tahu tentang lo. Dia juga minta kita datang ke Jepang. Hanya saja gue bilang nanti saja kalau kita enggak sibuk lagi." jawab Naura.


"Benarkah? Gue jadi ingin bertemu dengan mereka deh Nau." ujar Mayu. Dia sangat penasaran seperti apa keluarga daddynya.


"Itu pasti, suatu saat nanti kita akan temui semua keluarga Daddy. Keluarga daddy itu mencar di berbagai negara tahu, ada juga yang di London, Belanda sama Francis, tapi yang paling banyak itu di Jepang, karena Daddy juga numpang lahir doang di London, tapi lebih lama tinggal di Jepang dan Indonesia juga tentunya. Makanya nama lo juga kayaknya terinsfirasi dari nama Jepang gitu deh. Sirik deh gue sama lo, segitu sayangnya daddy sama lo." ujar Naura lagi.


"Ye, justru gue ya yang harusnya sirik sama lo. Lo sudah dibawa keliling dunia sama daddy, tapi gue keliling Indonesia saja belum." balas Mayu.


"Ya sudah besok-besok kita ke TMII saja."


"Ngapain?" tanya Mayu cepat.


"Katanya lo mau keliling Indonesia, di TMII kan semua propinsi ada."


"Benar juga ya, baru sadar gue."


"Ya lo kan memang telmi." ujar Naura dan langsung dapat pelototan Mayu.


"Lo juga teldar ya!" balas Mayu.


"Apa itu?"


"Telat sadar." ujar Mayu dengan santainya.


"Ngaco lo. Udah ah sana lo pakai baju dulu!" ujar Naura beralih mendorong Mayu.


"Iya Naura," ujar Mayu mengambil bajunya dan masuk kamar mandi lagi.


"Pas Nau, pas banget malah."


"Baguslah kalau begitu." ujar Naura.


Setelah beberapa menit kemudian Mayu keluar. Penampilannya terlihat berbeda dengan rok 3/4 serta baju kaos. Penampilannya memang terlihat sederhana tapi tetap saja meninggalkan kesan mahal dan mungkin itu karena bajunya juga bukan barang murahan.


"Eh Naura kata lo baju dari Jepang, tapi ini bukannya ootd orang Korea ya?" ujar Mayu.


"Hehe ... memang. Aunty itu sama kayak gue penggemar Korea, makanya dia juga lebih suka ootd Korea. Ditambah lagi dia memang ada darah Koreanya. Eh tapi ada komono sama mantel Jepang juga loh, tapi kan lo enggak mungkin pakai itu, nanti lo diketawain lagi."


"Benar juga tapi gue suka kok sama baju ini. Terima kasih ya Nau dan bilang terima kasih juga pada aunty."


"Siap. Eh tapi lo foto dulu. Biar nanti gue kirim fotonya. Dia pasti senang baju pemberiannya dipakai sama lo." ujar Naura lagi sambil mengambil ponselnya.


"Ok." nurut Mayu. Dia merasa senang berkat Naura dia mulai kenal dengan keluarga dari daddynya.


***


"Wih si Ayang, pakai baju baru." ujar Alga begitu Mayu berdiri di sampingnya.


"Iya Kak, baju pemberian dari keluarga daddy. Bagus enggak Kak?" ujar gadus berparas cantik itu.


"Bagus Ay, kamu jadi terlihat imut dan cantik pakai baju itu." jujur Alga membuat Mayu tersenyum.


"Terima kasih Kak."


"Sama-sama Ay."


"Aku bantu apa ini Kak?" tanya Mayu sambil memperhatikan perapian yang sudah disiapkan Alga, David dan para pekerja rumahnya.

__ADS_1


"Kamu bantu ambilkan minum saja Ay. Aku haus dan aku yakin om David juga yang lainnya pasti tidak kalah hausnya." ujar Alga.


"Ok, Kak kalau begitu aku masuk lagi ya Kak."


"Ok Ay. Buatkan minum yang segar-segar ya Ay! Es buah kalau bisa." pinta Alga.


"Siap Kak," ujar Mayu dan kembali melangkahkan kakinya.


"Mayu!" baru juga Mayu mau masuk rumah kembali terdengar panggilan dari Lora.


Mayu menoleh.


"Hai kalian sudah datang, ayo masuk!" ujar Mayu semangat.


"Gaya lo May, udah kayak yang punya rumah saja. Naura dimana?" ujar Lora menghampiri sahabatnya.


"Dia di dalam bantu tante Sindi dan yang lainnya. Kita juga sebaiknya langsung masuk saja dan bantu mereka."


"Entar dulu dong May, kami mau silam dulu sama daddynya Naura. Mumpung ada kesempatan May, sayang kalau dilewatkan. Kapan lagi ya kan, kami bisa salaman sama daddy hott?" ujar Lora lagi membuat Mayu menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah sana lo salim. Cepat ya enggak pakai lama!"


"Ok Mayu." semangat Lora.


Setelah kedatangan Lora, Shinta, Rangga dan Yudha suasana di rumah Naura semakin ramai. Begitu juga saat kedua teman Naura datang. Mereka semakin brisik dan heboh saja.


David sampai menggelengkan kepalanya tapi dia juga merasa senang karena ini pertama kalinya teman-teman Naura dan Mayu barbeque di rumahnya. Sedangkan Sindi, dia juga diam-diam tersenyum tipis, dia tidak menyesal sama sekali mengizinkan Mayu dan yang lainnya barbeque di rumahnya dan itu ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan. Apalagi Mayu dan teman-temannya juga sangat tahu diri. Mereka sangat rajin dan langsung mengerjakan apa yang harusnya mereka kerjakan.


"Ada acara apa ini ramai-ramai?" tanya Pratama yang baru pulang dari kondangan bersama Dira.


"Hanya acara bakar-bakar saja sama Naura dan teman-temannya. Sini gabung Mas, kita bisa minum sambil makan sate." ujar David.


"Oklah, aku enggak akan menolak kalau banyak anak mudanya, siapa tahu ada yang kecantol." ujar Prarama dan langsung dapat protesan dari anak.


"Hei Pi, di sini ada calon menantunya loh, malu Pi!" protes Alga.


"Papi hanya bercanda Alga, kamu ini serius sekali." ujarnya kemudian menoleh ke belakang atau lebih tepatnya ke halaman rumahnya.


"Mi mau sate tidak? Sini gabung!" ujar Pratama.


Dira menoleh pada suaminya dan yang lainnya.


"Enggak!" ujarnya dengan juteknya dan kembali masuk ke dalam rumahnya. Enggak akan sudi dia bergabung selama ada Mayu di sana.


"Ya sudah kalau mami enggak mau, kami enggak akan maksa." ujar Pratama lagi kemudian nyomot sate yang baru diangkat sama Alga.


Tidak lama setelah kedatangan Pratama, Vivi dan suaminya juga datang. Mereka yang tadinya mau berkunjung ke rumah orangtuanya malah nyangkut di rumah Naura.


"Naura, sekalian karoke dong, biar makin seru!" ujar Vivi sambil makan ikan bakar.


"Siap Mbak, kami siapkan alatnya dulu. Teman-teman ayo bantu!" seru Naura.


"Siap." kompak Mayu dan yang lainya.


Suasana di rumah Naura benar-benar semakin meriah, mereka gantian bernyanyi dan ada juga yang sambil dance. Tidak jarang juga terdengar suara tawa diantara mereka. Bahkan Sindi yang tadinya jarang sekali tersenyum malam ini jadi sering tersenyum melihat tingkah anaknya dan teman-temannya. Dan Sindi harus mengakui kalau Naura memang terlihat lebih bahagia dan lepas saat bersama Mayu dan teman-temannya, walau kelakuan mereka terkadang terlalu lebay.


Suasana yang berbeda tampak terjadi di rumah Dira. Diam-diam dia mengintip keadaan rumah David dari balkon rumahnya dan dia semakin kesal saja. Mereka semua sedang sedang bersenang-senang sedangkan dia hanya sendirian dan kesepian. Rahel juga belum pulang dan itu karena dia ada shooting ftv di luar kota.


'Mereka semua melupakanku.' batin Dira kesal. Padahal selama ini jika ada acara selalu dilakukan di rumahnya, dan dia tidak pernah ketinggalan, tapi kali ini suasananya benar-benar berbeda, dan kenapa juga harus dilakukan di rumah David? Rumahnya bahkan lebih besar dari rumah David, apalagi halamannya jauh lebih luas dan nyaman.


'Ini semua pasti gara-gara si Mayu itu.' batin Dira kesal.


Dira benar-benar ingin marah rasanya.


"Haha .... ayo goyang!" sorak Mayu dan teman-temannya saat Rangga dan Yudha goyang dangdut.

__ADS_1


"Berisik!" kesal Dira dan itu tidak didengar Alga dan yang lainnya.


__ADS_2