Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Menjadi Satu


__ADS_3

"Minumnya Nek," ujar Mayu begitu nenek Iroh menelan obatnya.


Nenek Iroh mengangguk dan menerima gelas berisi air hangat itu.


"Kalau masih sanggup, airnya dihabiskan ya Nek!" ujar Mayu lagi.


Nenek Iroh tidak menjawab tapi dia melakukan apa yang dikatakan oleh cucunya. Dia mau melihat cucunya senang. Membuat Mayu senang tidak susah, cukup dengan dia sehat-sehat saja dan semangat tentunya.


"Pintar," ujar Mayu begitu melihat gelas yang sudah kosong itu.


Nenek Iroh tersenyum dan Mayu juga balas tersenyum.


"Nenek mau langsung tidur atau nonton dulu?" tanya Mayu sambil menyimpan kembali gelas bekas nenek Iroh.


"Mau tidur saja Nak, nenek sudah mengatuk."


"Ya sudah." ujar Mayu.


Mayu beranjak menarik bantal yang digunakan nenek Iroh untuk bersandar dan menggantikannya dengan bantal yang lebih rendah.


Mayu juga tidak lupa menarik selimut untuk neneknya dan memakaikannya untuk nenek Iroh.


"Selamat tidur Nenek dan semoga mimpi indah. Maafkan Mayu ya Nek, Mayu tidak bisa lagi menemani Nenek tidur." ujar Mayu. Ada perasaan sedih juga di hatinya karena selama ini neneknya lah yang menjadi teman tidurnya.


"Tidak apa-apa Nak, nenek sangat mengerti. Nenek malah senang kami akhirnya bisa tidur dengan sosok laki-laki yang bisa menjadi pelindung kamu dan yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kamu. Sosok laki-laki yang sudah siap menggantikan tugas nenek, mendiang mama kamu dan daddy kamu juga tentunya." ujar nenek Iroh. Walau dia merasakan kehilangan tapi dia juga sangat bahagia.


"Iya Nek, terima kasih untuk pengertiannya. Kalau begitu Mayu ke kamar Mayu dulu ya Nek."


"Iya Nak, kamu juga selamat tidur dan semoga mimpi indah. Nenek sayang kamu."


"Mayu juga sayang Nenek," ujar Mayu.


Mayu kemudian mengecup kening neneknya dan nenek Iroh memejamkan matanya.


Sebelum keluar dari kamar neneknya, Mayu mengambil piring kotor bekas neneknya dan tidak lupa juga mematikan lampu dan menggantikannya dengan lampu tidur.


Mayu juga tidak lupa menutup pintu kamar neneknya.


"Nenek sudah tidur Ay?" tanya Alga tiba-tiba muncul di belakang Mayu. Sebenarnya bukan tiba-tiba, Alga memang sengaja menunggu istrinya dari beberapa menit yang lalu. Alga tidak mau masuk kamar karena dia tidak mau mengganggu Mayu dan nenek Iroh.


"Kak! Kaget aku." ujar Mayu.


"Iya nenek sudah tidur," lanjut Mayu lagi.


"Maaf Ay, aku tidak bermaksud mengagetkan kamu. Baguslah kalau nenek sudah tidur, berarti sekarang giliran kita yang tidur." ujar Alga dengan wajah senangnya tapi tanggapan Mayu tidaklah sesenang itu.


Ingin rasanya Mayu bertanya hanya tidur saja? Sebagai pengantin baru yang belum pernah melakukan itu, mereka tidak seharusnya langsung tidur, ya walaupun Mayu juga tidak bisa memungkiri kalau dia sangat nyaman tidur dipelukan Alga.


Mayu tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia ingin lebih daripada tidur. Dia ingin dijadikan istri sesungguhnya oleh Alga dan bukan istri di atas kertas saja.

__ADS_1


"Ay, kenapa malah bengong?" ujar Alga lagi sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Alga.


"Ah iya Kak, tidak apa-apa. Ya sudah aku cuci sebentar piring kotornya ya Kak." ujar Mayu.


"Tidak usah Ay, biarkan bibi saja yang mencuci piringnya." ujar Alga kemudian memanggil salah satu pekerja rumahnya dan memberikan piring kotor itu padanya.


"Udah selesai kan? Ayo kita ke kamar kita! Kamu bahkan belum ada menginjakkan kaki di kamar kita." ujar Alga.


Setelah pulang dari rumah orang tuanya, Mayu memilih menemani neneknya sebentar sekaligus membantu dia makan dan minum obat. Dia bahkan belum sempat berkeliling rumah Alga.


"Iya Kak," nurut Mayu.


Mereka melangkah bersama ke arah lift dan seperti biasa Alga selalu setia merangkul istrinya dan membawa tangan Mayu supaya melingkar di pinggangnya. Dilihat dari sikap Alga, dia benar seperti laki-laki normal pada umumnya. Hanya saja yang jadi tanda tanya besar di benak Mayu, kenapa Alga belum menyentuhnya? Bukankah Alga sangat mencintainya?


Jangan-jangan Alga Im*oten?


"Cup, kamu tiba-tiba jadi suka melamun Ay, lagi mikirin apa sih kamu?" ujar Alga dan tidak lupa meninggalkan kecupan di wajah istrinya.


"Bukan mikirin apa-apa Kak," ujar Mayu datar.


"Katanya bukan mikirin apa-apa, tapi nada suaranya datar sekali. Ini jelas bukan kamu yang biasanya loh Ah." ujar Alga lagi sambil menekan tombol lift atau lebih tepatnya tombol angka 3. Kamar mereka ada di lantai 3. Lantai yang sebelumnya dihuni oleh Rangga dan Yudha juga. Hanya saja sekarang mereka berdua sudah pindah ke rumah masing-masing. Yudha ke rumah yang dia beli dari Alga sedangkan Rangga ke rumah yang sebelumnya ditempati Mayu bersama neneknya.


"Enggak datar kok Kak, perasaan biasa saja deh," ujar Mayu. Apa nada suaranya terdengar jadi berbeda?


"Enggak biasa Ay dan raut wajah kamu juga jadi sedikit berbeda. Seperti sedang memikirkan sesuatu dan itu terlihat sejak kamu ngobrol dengan Naura. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Apa ada masalah? Cerita padaku Ay dan tolong jangan sembunyikan apapun dariku!" ujar Alga dan beralih menghadap istrinya dan menatap dalam istrinya.


Mayu balas menatap Alga. Inikah saatnya dia tanyakan apa yang mengganggu pikirannya, tapi situasinya tidak mendukung. Mayu tidak mungkin tiba-tiba menanyakan itu pada Alga, bisa-bisa Alga menertawakannya.


Alga kemudian membungkukkan sedikit kepalanya dan menyatukan kepalanya dengan kepala Mayu.


"Tidak apa-apa Ay kalau kamu belum siap cerita, aku tidak akan memaksa, tapi begitu kamu sudah siap cerita, katakan semuanya pada ya Ay! Aku ini suami kamu dan aku ingin sekali menjadi tempat kamu berbagi masalah atau berbagi kebahagiaan. Ingat Ay kita bukan lagi 2 melainkan satu. Kita sudah disatukan oleh Allah, Ay." ujar Alga lagi.


"Iya Kak, begitu waktunya sudah pas aku pasti akan cerita pada Kak Alga." ujar Mayu akhirnya.


"Ok, ditunggu ya Ay. Berarti sekarang waktunya fokus untuk kebahagiaan kita saja. Saatnya kita melakukan sesuatu yang sempat tertunda." ujar Alga kemudian mengendong Mayu ala bridal style. Alga juga tidak lupa menatap genit pada istrinya.


"Maksudnya apa nih kak?" bingung Mayu. Walau sempat bingung tangannya refleks melingkar di leher Alga.


"Enggak usah pura-pura enggak tahu deh Ay dan aku tidak tidak menerima penolakan ya Ay. Aku sudah menunggu terlalu lama dan aku tidak bisa menahan diri lagi Ay." ujar Alga mengedipkan satu matanya dan membawa istrinya keluar dari lift.


Mayu menatap menyelidik pada suaminya. Ini Mayu tidak salah tanggap bukan? Maksud Alga dia ingin melakukan itu kan? Mayu pastinya akan sangat senang kalau apa yang dia pikirkan memang benar adanya. Ini berarti suaminya normal dan tidak seperti yang dipikirkannya.


"Lagi-lagi ngelamun kamu Ay. Sepertinya ini karena aku terlalu lambat. Baiklah aku akan gerak cepat saja." ujar Alga kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir Mayu membuat Mayu lagi-lagi terkejut tapi senang.


Alga tersenyum dibalik penyatuan bibir mereka, dia senang dengan respon cepat Mayu. Mayu juga tidak lagi malu-malu kalau mereka melakukan kiss bibir dan yang lebih pinting Mayu sudah mulai bisa mengimbanginya.


Alga melepas tautan bibir mereka dan menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kamu harus siap Ay kalau kamu aku buat capek malam ini." ujar Alga kemudian mengecup kening istrinya.

__ADS_1


Wajah Mayu seketika memerah mendengarnya. Perasaannya campur aduk, tapi perasaan bahagialah yang lebih mendominasi karena memang inilah yang diharapkanya. Dia ingin menyatu dengan suaminya.


Alga kembali tersenyum melihat wajah istrinya. Ekspresi Mayu seperri inilah yang diinginkannya dan dari ekspresi Mayu dia bisa melihat kalau Mayu memiliki keinginan yang sama dengannya. Mayu sudah siap untuknya.


Alga kemudian membuka kamarnya. Kamar masih kamar yang sama, hanya saja kamar itu sudah direnovasi dan dibuat lebih besar lagi. Kamar Yudha yang sebelumnya ada samping kamarnya dibobol dan dijadikan satu, membuat kamar Alga semakin luas dan besar.


"Selamat datang di kamar pengantin kita Sayang. Kamar yang akan menjadi saksi cinta kita sampai maut memisahkan kita." ujar Alga kemudian menurunkan istrinya dan memperlihatkan isi kamar mereka. Alga juga tidak lupa menutup kamar mereka kembali.


Mayu menatap takjub isi kamar mereka. Tidak banyak yang berubah memang dengan isi kamar Alga. Kasur, lemari dan sofanya masih sama seperti yang sebelumnya, yang berubah itu ada penambahan 3 lemari baru 1 meja rias dan satu lagi kursi santai. Bukan barang-barang itu yang membuat Mayu takjub tapi hiasan bunga yang menghiasi kamar mereka. Dari depan pintu saja sudah banyak taburan bunga, di meja juga banyak hiasan bunga dan di kasurnya juga tidak ketinggalan. Di tengah kasur ada taburan bunga membentuk love dan di bawahnya ada tulisan happy wedding. Mayu sangat menyukainya.


"Kamu suka Ay?" tanya Alga.


Mayu kembali menatap suaminya dan ada senyum di wajahnya. Tentu saja Mayu sangat menyukainya dan dia benar-benar tidak menyangka kalau Alga akan kembali menghias kamar mereka untuk melanjutkan malam pertama yang sempat tertunda.


Mayu jadi merasa bersalah pada suaminya karena sempat berpikir negatif pada Alga. Kira-kira gimana reaksi Alga begitu dia tahu Mayu sempat berpikir kalau dia tidak normal.


"Iya Kak, aku sangat suka. Terima kasih." ujar Mayu kemudian memeluk erat suminya.


"Sama-sama Sayang, tapi aku enggak mau hanya sekedar pelukan saja, aku ingin lebih. Apakah kamu siap menjadi milikku sepenuhnya mulai malam ini?" ujar Alga.


Ini adalah untuk pertama kali mereka melakukannya tentu Alga ingin melakukannya di tempat spesial dan ditempat paling nyaman tentunya. itu juga alasannya kenapa dia membawa Mayu ke rumah David. Dia mau menyiapkan kamar mereka.


Mayu melepas pelukan suaminya dan kembali menatap Alga penuh cinta.


"Iya Kak, aku sangat siap menjadi milik Kak Alga seutuhnya." ujar Mayu mantap dan langsung disambut dengan senyum bahagia Alga.


"Terima kasih Sayang. I love you istriku."


"I love you too suamiku." balas Mayu.


Alga kemudian mendekatkan wajahnya pada Mayu dan tanpa menunggu lebih lama lagi dia menyatukan bibirnya dengan Mayu. Ci*man mereka awalnya lembut saja tapi semakin lama semain panas dan liar.


Alga kembali mengangkat istrinya dan membawanya ke kasur tanpa melepas tautan bibir mereka. Alga kemudian merebahkan tubuh istrinya di kasur dengan perlahan, setelahnya dia juga ikut naik.


Alga melepas tautan bibir mereka dan kembali menatap istrinya penuh cinta. Mayu juga melakukan hal yang sama dan mereka akhirnya sama-sama tersenyum.


Tanpa bicara lagi, Alga kembali mendekatkan wajahnya. Kali ini dia tidak langsung mengecup bibir Mayu tapi dia mengecup kening Mayu, mata, hidung, pipi dan berhenti di bibir Mayu. Kali ini gerakan bibir Alga lebih panas dari sebelumnya. Tagannya juga tidak lagi diam saja, tapi mulai mengusap punggu Mayu kemudian masuk baju Mayu dan melepas bra Mayu.


Parasaan Mayu sulit digambarkan dengan kata-kata begitu tangan Alga menyentuh kulit tubuhnya secara langsung. Rasanya geli dan lain sebagainya, tapi Mayu juga menyukainya.


Mayu sampai menahan nafas saat tangan Alga menyentuh gunung kembarnya dan memainkannya. Seluruh tubuh Mayu langsung bekerja karena sentuhan itu.


Apa lagi saat bibir Alga mulai turun ke lehernya dan tangannya yang lain membuka kancing bajunya, Mayu sampai pusing. Mayu baru kali ini disentuh sejauh ini dan Mayu baru tahu rasanya, dan lagi-lagi Mayu harus mengakui kalau dia menyukainya dan itu karena yang melakukannya adalah suaminya. Laki-laki yang sangat dicintainya.


"Jangan bengong Ay! Sentuh aku dimana punkamu mau. Malam ini dan seterusnya aku milik kamu dan kamu juga milikku. Kamu berhak atas tubuhku dan begitu juga sebaliknya." ujar Alga kemudian membawa tangan Mayu ke dadanya entah kapan dia membuka bajunya Mayu tidak tahu.


Mayu menurut dan melakukan seperri keinginan Alga.


Alga tersenyum melihat gerakan tangan Mayu yang sangat kaku, walau begitu dia juga sangat menyukainya. Dia suka setiap sentuhan istrinya.

__ADS_1


Alga kembali menyatukan bibirnya dengan istrinya dan kedua tangannya juga ikut bekerja melepas apa yang melekat di tubuh mayu. Hingga akhirnya mereka berdua tanpa sehelai benang pun dan terjadilah penyatuan diantara dua anak manusia itu.


"Terima kasih Ay sudah menjadikanku yang pertama. Aku juga yang pertama untuk kamu Ay dan ini begitu indah dan menyenangkan. Aku juga sangat berharap di perut kami ini akan segera tumbuh buah cinta kita. I love you istriku, sekarang dan selamanya." ujar Alga begitu dia mendapatkan pelepasannya. Akhirnya dia tidak perlu lagi tersiksa setelah ini.


__ADS_2