Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Fakta Tentang Alga


__ADS_3

Mayu menarik nafas pelan dan menatap neneknya.


"Nek perusahaan manapun itu yang memberi beasiswa pada Mayu, menurut Mayu bukanlah suatu yang penting. Yang penting itu, Mayu harus tetap giat belajar supaya nanti IPKnya tinggi dan Mayu juga bisa mempertanggungjawabkan beasiswa Mayu. Itu yang paling utama Nek." ujar Mayu sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Enggak bisa gitu dong Nak, kamu harus tahu nama perusahaan yang memberi kamu beasiswa. Supaya kamu tahu berterima kasih suatu saat nanti. Kamu itu jangan jadi kacang lupa akan kulitnya!" ujar nenek Iroh mengingatkan.


"Iya Nenek, Mayu pasti akan berterima kasih pada perusahaan yang sudah memberi Mayu beasiswa. Sekarang sebaiknya kita makan dulu ya Nek, Mayu sudah lapar. Mayu juga ada bawa makanan enak untuk kita Nek." ujar Mayu memamerkan kantong belanjaannya.


"Kamu beli makanan mahal Nak? Kenapa harus beli, kita itu harus berhemat Nak!" ujar nenek Iroh lagi-lagi mengingatkan cucunya.


"Enggak mahal-mahal banget Nek, Mayu hanya beli sup iga, dan harga per porsinya juga hanya 25 ribu. Sekali-kali enggak apa-apalah Nek kita makan makanan yang kaya akan nutrisi. Ini biar tenaga Nenek juga cepat pulih kembali. Anggap saja ini buat perayaan keberhasilan Mayu karena sudah berhasil mendapatkan beasiswa Nek."


Nenek Iroh menatap haru pada cucunya. Cucunya ini selalu saja perhatian padanya dan seakan tahu isi hatinya. Dia memang sudah lama menginginkan makan sup iga, tapi dia tidak pernah berani mengatakannya pada Mayu. Dia sangat tahu kondisi keuangan mereka yang cukup sulit akhir-akhir ini. Dia bahkan tidak jarang mendapati Mayu makan hanya pakai sambal atau kerupuk saja. Hanya saja Mayu tidak pernah mengeluh, dan dia juga selalu bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Beruntungnya dia memiliki cucu seperti Mayu yang sangat mengerti keadaan juga selalu ada untuknya dan tidak pernah pergi meninggalkannya.


"Nek! Nenek! Kenapa jadi melamun? Ayo kita masuk Nek!"


"Ah iya Nak," ujar Nenek Iroh kemudian berusaha bangun dari tempat duduknya.


Nenek Iroh jalan perlahan menggunakan tongkat dan menyeret kaki kirinya yang mengalami kelumpuhan.


"Nek tadi siang nenek ada latihan jalan?" tanya Mayu.


"Ada Nak. Nenek jalan sampai rumahnya Asih." ujar Nenek Iroh. Keinginan nenek Iroh untuk bisa sembuh masih sangat besar.


"Bagus, Nenek memang hebat. Mayu yakin jika jika Nenek tetap semangat, Nenek pasti bisa jalan kembali."


"Iya Nak, amin. Ah iya Mayu, tadi Nenek ada cerita sama Asih, katanya ada saudaranya juga yang terkena stroke ringan, dan sodaranya itu bisa jalan kembali setelah diurut sebanyak 7 kali. Apa Nenek bisa melakukan pengobatan tradisional itu Nak? Biayanya tidak begitu mahal. Kata Asih sekali urut bayar 100 ribu juga dia mau terima." tanya Nenek Iroh memberanikan diri. Tadinya ingin dia simpan rapat-rapat keinginannya, tapi karena Mayu masih ada uang tidak salahnya dia mencoba. Nenek Iroh bener-benar ingin bisa kembali jalan seperti semula. Dia tidak mau merepotkan Mayu terlalu banyak.


"Tentu saja bisa Nek, nanti Mayu akan tanya bibi Asih untuk lebih jelasnya ya Nek. Bila perlu besok kita pergi ke sana." ujar Mayu. Mayu akan melakukan apa saja demi kesembuhan neneknya.


"Iya Nak. Terima kasih ya Nak."


"Sama-sama Nenek. Nenek semangat, kita pasti bisa Nenek!" ujar Mayu sambil menunjukkan kepalan tangannya.


"Iya Nak," ujar Nenek Iroh lagi-lagi tersenyum haru.


'Semoga kamu selalu diberi kesehatan Mayu, Nenek tidak tahu apa jadinya nenek kalau tidak ada kamu.' batin nenek Iroh.

__ADS_1


***


Hari demi hari berlalu, hari-hari yang jalani Mayu dan neneknya semakin membaik. Kondisi kesehatan nenek Iroh juga sudah semakin membaik. Mayu tentu saja merasa senang melihat kondisi neneknya yang semakin membaik. Mayu jadi tidak khawatir lagi kalau harus meninggalkan neneknya sampai malam.


Jika dagang dalam kondisi normal Mayu memang selalu pulang malam. Bahkan kalau hari sabtu dan minggu, Mayu dagang bisa sampai jam 9 malam. Sekeras itu memang perjuangan Mayu untuk memenuhi kebutuhannya dengan neneknya. Walau begitu Mayu selalu melakukannya dengan tulus dan penuh semangat.


Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu Mayu, hari dimana dia akan mulai kuliah. Mayu tidak sabar menutut ilmu sebanyak-banyaknya. Mayu ingin cepat pintar.


Di hari pertama kuliah Mayu memakai baju putih hitam. Hari ini Mayu akan ospek atau mahasiswa UI sering menyebutnya orientasi kehidupan kampus UI atau OKK UI.


Mayu juga sengaja mengikat rambutnya kuncir kuda saja. Penampilan Mayu bisa dibilang biasa banget dan tidak ada yang menarik juga spesial dari dirinya, dan inilah yang diinginkan Mayu. Mayu memang paling tidak suka jadi pusat perhatian. Dia mau jadi mahasiswa yang biasa-biasa saja.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Eh ada Irpan. Gantengnya Kang Mas Irpan, pakai baju putih hitam." ujar Mayu seperti biasanya.


Irpan tersenyum salah tingkah. Walau dia tahu pujian Mayu hanya sekedar basa basi, tapi Irpan selalu suka mendengarnya.


"Kamu juga sangat cantik May," ujar Irpan dan itu ungkapan tulus dari dalam hatinya.


Mayu tersenyum lebar.


"Lebay deh May. Mayu mau berangkat bareng enggak? Nyoba motor baru kita!" ujar Irpan sambil menaikturunkan alisnya.


Tujuan Irpan lainnya mengajak Mayu, dia mau perempuan pertama yang dia bonceng naik motor barunya adalah Mayu.


"Ma- eh enggak deh Pan, aku masih ada yang mau dibeli setelah pulang kuliah." bohong Mayu.


Mayu sebenarnya ingin sekali naik motor baru Irpan. Motor yang dibeli orang tuanya sebagai hadiah karena Irpan berhasil masuk UI. Hanya saja Mayu ingat dengan perjanjian kekasih bayaran itu dan hari ini kerja sama itu mulai berlaku.


Perjanjian pertama selama di kampus Mayu tidak bisa dekat dengan cowok lain, jika sampai Mayu melakukannya maka Mayu akan dapat hukuman.


"Kita bisa beli barangnya bareng May, sekalian kita jalan-jalan. Nanti aku teraktir deh makan bakso, hitung-hitung untuk merayakan keberhasilan kita masuk kampus UI."


Mendengar kata bakso, Mayu langsung menelan ludah. Mau banget dia ditraktir bakso sama Irpan tapi karena teringat wajah Alga, Mayu lagi-lagi terpaksa menolak keinginan Irpan.


Mayu memang tidak takut pada Alga tapi untuk hal tertentu dia tidak berani melawan Alga, karena dia tahu Alga orang kaya dan berkuasa dan dia bisa melakukan apa saja pada Mayu hanya dengan menjentikkan jarinya.

__ADS_1


"Lain kali saja ya Pan. Beli barangnya cukup memakan waktu dan aku tidak mau merepotkan Irpan. Aku mohon mengertilah!" ujar Mayu diakhiri kata-kata lebaynya. Mayu selalu menggunakan cara itu itu jika ingin menolak keinginan Irpan secara halus.


Irpan menarik nafas pelan.


"Baiklah aku mengerti, tapi kita berangkat ke kampusnya tetap bareng ya!"


"Siap Kang Mas Irpan. Sebentar ya aku pamit pada nenek dulu!"


"Ok."


***


"May tunggu, kita bareng ke lapangannya!" seru Irpan berusaha menyamai langkah Mayu.


"Maaf Pan, aku kebelet, aku mau ke toilet sebentar. Kamu duluan saja, nanti aku menyusul." ujar Mayu mempercepat langkahnya. Mayu sebenarnya mencari alasan saja. Dia takut ketahuan Alga jalan sama cowok. Sebelumnya dia sudah melihat ada Rangga di parkiran, dan Rangga menatapnya tajam, itu sangat menyeramkan.


"Kamu sudah tahu toiletnya belum? Kamu enggak mau aku antar saja?" tanya Irpan tidak menyerah dan tetap perhatian.


"Aku tahu kok Pan. Irpan sebaiknya ke lapangan saja dan temui teman kita yang lain!"


"Baiklah kalau begitu aku duluan ya May, nanti aku sisakan tempat di depanku untuk kamu." ujar Irpan akhirnya menyerah namun tetap saja masih perhatian.


"Iya Pan, terima kasih Pan."


"Iya sama-sama."


Mayu menatap kepergian temannya. Irpan tidak pernah berubah, dia selalu perhatian pada Mayu. Hanya saja Mayu tidak mau baper, dia tahu Irpan itu memang sangat baik dan salah satu idola cewek-cewek para tetangganya juga teman sekolahnya dulu.


"Hei kalian sudah tahu informasi terhot belum?"


"Tahu dong, kak Alga pangeran tampan kita terpilih jadi pesiden BEM kan? Gue tadi papasan dong sama dia, dan tampannya itu loh, mau pingsan gue melihatnya. Pokoknya gue harus bisa foto sama dia."


"Sama gue juga mau foto sama dia. Selain itu gue juga mau memberikan coklat sama dia. Semoga saja kak Alga suka coklat buatan gue."


"Gue juga mau memberikan topi sama dia. Topinya buatan gue sendiri dong. Biar nanti kak Alga enggak kepanasan, dan wajahnya yang genteng terlihat makin ganteng."


Mayu menoleh saat mendengar para mahasiswi baru membicarakan tentang Alga. Itu Alga yang dia kenal kan? Alga yang memintanya jadi kekasih bayarannya.

__ADS_1


'Apa kak Alga sengaja memintaku jadi kekasih bayarannya, supaya bisa memghindari para cewek-cewek itu?' batin Mayu.


Mayi menepuk keningnya. Kacau banget ini, Mayu bisa dapat musuh yang banyak, jika mereka tahu Mayu kekasih Alga.


__ADS_2