Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Licik Balas Licik


__ADS_3

Mayu keluar dari restoran sambil memeluk tasnya. Mayu sebisa mungkin bersikap biasa, walau rasanya cukup susah, dan ini bukan karena Mayu takut ketahuan supir atau bodyguard daddynya, tapi ini karena uang ratusan juta yang dibawanya.


Mayu rasanya masih sulit untuk percaya, tapi itulah faktanya kalau dia sedang memegang uang ratusan juta.


Mayu yang tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada uangnya. Dia memilih pergi ke bank terdekat saja. Mumpung orang yang mengikutinya juga kehilangan jejaknya, tentu ini kesempatan bagus untuk Mayu.


Tidak berselang lama dari Mayu, David juga ikut keluar dari restoran. David tampak lega begitu melihat bodyguardnya yang sedang duduk santai dan bersikap biasa saja, tanpa ada rasa curiga sedikit pun padanya. Ini tentu bagus untuk David, istrinya itu memang licik, tapi David juga bisa bersikap lebih licik dari dia.


Bodyguard David langsung berdiri dari duduknya begitu meligat David datang.


"Kita langsung pulang!" ujar David sambil melangkahkan kakinya dan tanpa mau repot-repot menatap bodyguardnya.


"Baik Tuan," ujarnya dan langsung berlari kecil ke arah mobil mewah David. Dia membukakan pintu untuk David, setelah itu barulah dia masuk mobil dan duduk di samping supir.


David menyandarkan tubuhnya di jok dan tatapan menoleh ke arah jalan yang dilewatinya. Tujuannya tentu bukan untuk melihat pemandangan, tapi dia berharap bisa melihat Mayu di pinggir jalan.


Sejak dia tahu kalau Mayu itu adalah anaknya, dia sering sekali melakukan itu, dan dari situ juga dia mencari tahu soal Mayu. Beberapa kali dia bahkan melihat Mayu jualan di pinggir jalan, dan itu bukan tanpa sengaja. Dia memang sengaja menyuruh supirnya lewat jalan itu. Bahkan untuk kios baru Mayu, David juga sudah mengetahuinya dan dia salut pada anak sulungnya itu. Dia pintar memanfaatkan uang yang David berikan padanya.


David seketika menajamkan pengelihatannya begitu melihat Mayu masuk salah satu bank.


'Kerja bagus Mayu,' batin David. Ada kelegaan di hati Davin, Mayu langsung memasukkan uangnya ke bank. Setidaknya uang yang dia berikan pada Mayu sudah aman dan tinggal uang perhiasannya saja.


Kurang lebih 20 menit sampai juga David di rumahnya. David keluar dari mobil setelah pintu dibukakan. David juga tidak lupa mengambil paper bag yang sudah dia siapkan sebelumnya.


Kedatangan David langsung disambut oleh Sindi, dan David sangat tahu apa arti dari sambutan itu, yang jelas sambutan itu bukan karena rindu, tapi karena uang.


"Sayang, aku lihat kamu memakai kartu kredit sebanyak satu milyar, kamu gunakan buat apa uang itu?" tanya Sindi langsung to the poin.


David menghentikan langkahnya dan menatap pada Sindi. Benar bukan tebakannya? Sindi tidak akan bisa menunggu lebih lama lagi kalau itu menyakut uang.


David kemudian memberikan paper bag yang dibawanya pada Sindi.

__ADS_1


"Aku gunakan uangnya buat beli itu. Perhiasan untuk kamu dan Naura serta jam tangan untukku. Semoga kamu menyukainya." ujar David bersikap sok manis.


David memang sengaja melakukan itu biar tidak ketahuan dia memberikan perhiasan itu pada Mayu. David juga sengaja membeli yang sama persis dengan yang diberikan pada Mayu.


Sindi langsung memeriksa isi paper bagnya dan senyum cerah seketika terbit di wajahnya.


"Kamu membelikan perhiasan ini padaku, kalau ini sih aku pasti suka, Naura juga pasti suka. Bertambah lagi deh koleksi perhiasan kami. Terima kasih Sayang, perhiasannya sangat bagus. Kamu tahu saja apa yang aku mau." ujar Sindi senang.


"Iya sama-sama, aku ke ruang kerja dulu."


"Iya," ujar Sindi tanpa menoleh, tatapan terlalu fokus pada perhiasan yang dibelikan suaminya. Ini tumbenan banget David membelikan dia perhiasan dengan inisiatifnya sendiri. Biasanya kan Sindi terus yang minta duluan padanya. Apa suaminya itu sudah mulai sadar kalau dia punya istri yang harus dia bahagiakan?


Sementara itu Mayu sudah kembali ke mall. Mayu tampak tersenyum tipis begitu melihat orang yang mengikutinya seketika bangun dari duduknya begitu melihat kedatangan Mayu.


Dari raut wajahnya kelihatan jelas kalau dia kelelahan dan itu karena dia terus mencari keberadaan Mayu di lantai 1 dan tiga, tapi tidak juga menemukan Mayu. Hingga akhirnya dia memilih menyerah dan menunggu di parkiran saja.


Mayu memilih melangkah dengan santainya seolah tidak terjadi apa-apa. Kali ini, Mayu sudah bisa bersikap biasa karena uangnya sudah aman.


'Maaf Mayu Mas, bukan niat Mayu ingin mengerjai, tapi memberi sedikit pelajaran saja hehe ....' batin Mayu.


"Loh Kak, Kak Alga di sini, lalu dimana nenek?" tanya Mayu begitu melihat Alga yang menjaga kiosnya.


Mayu langsung salim pada Alga seperti biasanya.


"Iya Ay, nenek aku suruh pulang, tapi kamu tenang saja, dia tidak pulang sendirian. Aku suruh Rangga yang mengantarnya. Kasihan dia, dia terlihat kelelahan, makanya aku minta dia istirahat saja di rumah." jelas Alga.


Alga sudah mulai bisa jualan, jadi tidak masalah baginya kalau dia harus menggantikan nenek Iroh, jualan di kios.


"Iya Kak, tidak apa-apa. Terima kasih ya Kak sudah perduli pada Nenek." ujar Mayu sambil menyimpan tasnya di tempat biasa.


"Tentu saja aku perduli padanya Ay, nenek Iroh kan nenekku juga. Ah iya Ay, kamu kemana saja, dan kenapa kamu pergi terburu-buru? Aku sampai tidak enak pada penjual laptopnya."

__ADS_1


Mayu tersenyum tidak enak.


"Maafkan Mayu, Kak. Mayu benar-benar terburu-buru, dan waktu Mayu tidak banyak, makanya tanpa berpikir panjang Mayu langsung pergi. Kak Alga mau kan memaafkan Mayu?" ujar Mayu dan ada rasa bersalah pada Alga.


"Aku pasti akan memaafkan kamu, asal kamu mengatakan terus terang padaku kamu pergi kemana. Ingat Ay, aku tidak pernah menyembunyikan apa pun dari kamu, dan aku harap kamu juga sama. Jangan sampai karena masalah itu malah berakhir dengan salah paham nantinya. Kamu percaya padaku kan Ay?" ujar Alga serius.


Mayu menganggukkan mantap kepalanya.


"Tentu saja Mayu sangat percaya pada Kak Alga. Mayu juga tidak ada niatan menyembunyikan apa pun dari Kak Alga. Mayu pasti akan dengan senang hati mengatakan semuanya pada Kak Alga. Hanya saja tidak sekarang ya Kak, nanti saja setelah selesai jualan, biar ngobrolnya juga bisa tenang dan tidak terganggu." ujar Mayu.


Mayu tentu tidak akan merahasiakan pertemuannya dengan daddynya pada Alga. Terlebih lagi setelah ini Mayu sangat butuh bantuan Alga.


"Ok Ay, aku tunggu ya Ay! Gitu dong Ay, kan hatiku ini juga jadi tenang mendengarnya." ujar Alga dan raut wajahnya langsung lepas tidak lagi seserius sebelumnya.


"Memangnya dari tadi hati Kak Alga tidak tenang?"


"Ya gimana aku bisa tenang Ay, kamu pergi terburu-buru dan meninggalkannku begitu saja. Biasanya selain nenek, aku yang paling penting buat kamu. Aku sampai berpikir negatif dan takut terjadi sesuatu pada nenek. Makanya aku langsung minta dijemput Rangga supaya menghantarku ke sini. Aku memang lega melihat nenek baik-baik saja. Hanya saja hatiku semakin gelisah karena tidak menemukan kamu. Ponsel kamu dihubungi juga tidak aktif. Aku juga sempat menghubungi Shinta dan Lora, tapi kata mereka, mereka juga tidak bersama kamu. Aku jadi semakin gelisah juga khawatir pada kamu Ay." ujar Alga mengutarakan apa yang dirasakannya.


Mayu jadi semakin merasa bersalah pada kekasihnya. Harusnya dia memang tidak pergi begitu saja, tapi mau gimana lagi, Mayu terlalu senang karena ingin bertemu dengan daddynya. Hingga dia tidak bisa berpikir jauh lagi.


"Sekali lagi maafkan Mayu ya Kak. Mayu memang sangat terburu-buru dan itu karena menyangkut daddy. Mayu tidak sabar ingin bertemu dengannya, hingga Mayu melupakan banyak hal." ujar Mayu akhirnya memilih berterus terang saja.


Mayu tidak ingi, Alga terus berpikir yang tidak-tidak padanya, karena apa yang dilakukan Mayu memang tidak ada yang perlu dihawatirkan.


"Oh, jadi kamu pergi terburu-buru karena ingin bertemu dengan ayah kamu? Harusnya kamu bilang saja dari awal Ay, aku juga tidak akan melarang kamu kalau soal itu." ujar Alga merasa lega. Ternyata semua pikiran negatifnya tidak ada yang banar. Beginilah kalau tarlalu bucin, jadi suka berpikir negatif.


"Iya Kak, maafkan Mayu ya Kak!"


"Tentu saja aku memaafkan kamu Sayang. Apa lagi kalau ditambah kiss di pipi. Dijamin aku langsung senang dan semua pikiran negatifku langsung hilang." ujar Alga menunjuk pipinya.


"Kak Alga apaan sih? Di sini banyak orang Kak, malu kalau ada yang lihat." ujar Mayu salah tingkah.

__ADS_1


"Berarti nanti kalau tidak ada orang, boleh ya Ay aku dapat kiss? Dua saja, kiri dan kanan. Bonus di bibir satu juga tidak masalah." goda Alga.


"Ih Kak Alga jangan makin ngaco deh. Sebaiknya kita jualan saja. Itu ada orang datang." ujar Mayu semakin salah tingkah dan Alga senyumnya semakin lebar.


__ADS_2