Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Mantan Alga


__ADS_3

Mayu hanya diam dan menatap bingung tatapan terkejut Alga. Beda halnya dengan Dira yang tersenyum penuh arti dari dalam mobilnya.


Naura yang masih berdiri depan gerbang rumahnya jadi penasaran. Siapa kira-kira yang datang bersama Dira itu.


Naura refleks menutup mulutnya dengan tangannya begitu melihat sosok cewek yang keluar dari mobil Dira. Dia sangat kenal dengan gadis itu.


Sementara gadis itu sudah berdiri di depan Alga dan menatap tersenyum pada Alga.


"Alga akhirnya kita bertemu kembali. Aku sangat senang Alga." ujarnya dengan wajah bahagianya.


Dia juga mengulurkan tangannya pada Alga.


Alga hanya diam, dia masih sangat terkejut. Bagaimana mungkin gadis ini bisa berdiri di hadapannya? Setelah dia pergi tanpa sepatah kata pun dan hanya mengirimkan pesan singkat pada Alga.


"Alga, salam dari Rahelnya disambut dong. Pasti kamu sangat merindukannya ya? Sampai kamu tidak bisa berkata-kata lagi." ujar Dira membuat Mayu semakin bingung. Dia juga jadi semakin penasaran, siapa gerangan gadis yang berdiri di depan Alga? Penampilannya memang enggak jauh berbeda dengan Mayu. Hanya saja dia versi elegannya. Rambutnya juga hanya dicepol dan pakai pakaian yang simple tapi terlihat mahal di tubuhnya.


"Ah iya, hai Rahel." ujar Alga setelah dia berhasil menguasai dirinya kembali dan sebisa mungkin bersikap biasa.


Alga juga menyambut uluran tangan Rahel.


"Kamu makin ganteng saja Alga." ujar Rahel lagi membuat Mayu seketika menatap padanya. Sedangkan Alga dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah Mayu. Dia tidak ingin menanggapi kata-kata yang keluar dari mulut Rahel.


"Sayang, kenalkan ini Rahel." ujar Alga dan langsung mengenalkan Mayu pada Rahel. Alga cukup paham dengan wajah bingung kekasihnya, dan dia tidak ingin Mayu bingung lebih lama lagi.


Walau benak Mayu masih penuh dengan tanda tanya, Mayu tetap mengulurkan tangannya pada Rahel.


"Hai, saya Mayu." ujar Mayu pelan.


Rahel beralih menatap Mayu. Dia juga tersenyum tipis dan menyambut uluran tangan Mayu.


"Hallo Mayu, saya Rahel mantannya Alga." ujarnya santai tapi tidak terdengar santai di telinga Mayu. Mayu refleks menelan ludahnya dan kembali menatap Rahel dari atas sampai bawah.


Mantannya Alga sangat cantik dan elegan, sangat berbeda dengan dia, yang menang cantiknya saja dan masih jauh dari kata elegan. Mayu bisa tampil elegan hanya disaat-saat tertentu saja.


"Bilang saja mantan terindahnya Alga, Rahel, yang jelas dong, biar Mayu itu tahu." ujar Dira lagi dan ada senyum penuh arti di wajahnya.


Tidak hanya Mayu yang menatap pada Dira tapi Alga juga.


Mayu tanpa sadar semakin menelan ludahnya sedangkan Alga tampak tidak suka mendengar kata-kata maminya. Bagi Alga tidak ada itu mantan terindah, dan mantan itu hanya sekedar masa lalu baginya.


"Mi omongannya biasa saja dong dan jangan terlalu berlebihan. Hargai keberadaan Mayu Mi!" protes Alga dan kembali menatap Mayu.


"Udah Ay, omongan Mami enggak perlu kamu pikirkan, lebih baik kita pergi saja." ujar Alga dan kembali meraih tangan Mayu.

__ADS_1


"Kami pergi Rahel." ujar Alga dan tanpa menoleh lagi pada Rahel.


"Alga tunggu! Kamu jangan main pergi saja dong! Bantu Rahel mengangkat kopernya!" suruh Dira lagi membuat Alga dan Mayu seketika menghentikan langkanya dan kembali menatap Dira.


"Maksud Mami koper apa?" tanya Alga.


"Ya koper Rahel lah, koper siapa lagi? Untuk sementara Rahel akan tinggal di sini." ujar Dira membuat Alga kembali terkejut.


Dia enggak salah dengar kan, maminya mengizinkan Rahel tinggal di rumahnya? Seingat Alga, Dira juga tidak suka pada Rahel, karena Rahel juga bisa dibilang bukanlah anak anak dari pengusaha kaya. Ayahnya seorang dokter dan ibunya seorang desainer. Masih cukup jauh bila dibandingkan dengan keluarga Alga.


"Mami enggak salah mengizinkan Rahel tinggal di sini Mi? Rahel bukan keluarga kita Mi."


"Mami tahu tapi kamu tahu sendiri kalau orang tua Rahel itu tinggal di Bogor. Mami hanya kasihan melihat dia tinggal di apartemen sendiri. Itu terlalu bahaya untuk seorang gadis. Lagian di rumah ini juga masih banyak kamar yang kosong. Jadi enggak ada salahnya dia tinggal di sini." jelas Dira.


"Ya tapi kan Mi, enggak seharusnya Rahel tinggal di sini." ujar Alga lagi. Alga benar-benar tidak nyaman kalau harus tinggal satu atap dengan mantan pacarnya. Apalagi Alga juga sangat tahu seperti apa watak maminya. Alga yakin Dira pasti punya maksud tertentu kenapa dia menyuruh Rahel tinggal di rumahnya.


"Enggak ada tapi-tapian Alga. Keputusan Mami sudah bulat. Kamu sebaiknya bantu angkat koper Rahel. Ayo cepat!" ujar Dira bersikukuh.


"Enggak mau. Alga bukan pembantu di rumah ini. Ayo Ay, sebaiknya kite pergi saja!" ujar Alga kesal dan tanpa menoleh lagi pada maminya, dia pergi meninggalkan Dira dan Rahel.


"Alga tunggu!" seru Dira.


Alga tidak perduli dia terus melangkahkan kakinya.


"Alga!" panggil Dira kesal. Sedangkan Rahel dia hanya diam, dan menatap sedih kepergian Alga. Alga benar-benar sudah berubah dan dia hampir tidak mengenali Alga lagi.


"Kamu sudah lihat kan Rahel, bagiamana Alga yang sekarang? Dia benar-benar sudah berubah dan itu karena gadis tidak tahu diri itu. Gadis tidak tahu diri itu benar-benar membawa pengaruh buruk pada Alga. Padahal saya ini maminya, saya yang sudah melahirkannya, tapi dia tidak mau menuruti saya sama sekali dan dis lebih mengutamakan si Mayu itu. Saya benar-benar sedih Rahel." ujar Dira mengomel dan diakhiri dengan wajah memelas.


Rahel mendekat pada Dira dan mengusap lengan Dira.


"Tante yang sabar ya Tante. Saya juga merasa kalau Alga memang sangat berubah, tapi saya yakin Alga pasti akan kembali pada Tante karena Tante adalah mamanya Alga." ujar Rahel.


"Iya Rahel, saya pasti akan selalu bersabar karena biar bagaimana pun Alga itu adalah anak saya, dan saya hanya ingin yang terbaik untuk dia. Kamu mau kan Rahel membantu saya, supaya Alga tidak lagi tersesat dan kembali seperti Alga yang dulu." pinta Dira.


"Tentu saja saya mau Tante, karena saya juga merindukan Alga yang dulu." ujar Rahel.


"Terima kasih Rahel, kamu memang gadis terbaik Rahel." ujar Dira kemudian membawa Rahel ke dalam pelukannya.


"iya Tante," ujar Rahel membalas pelukan Dira.


Naura yang sedari tadi masih memperhatikan mereka, mengucek matanya. Dia tidak salah lihat kan? Sejak kapan Dira sedekat itu dengan Rahel. Naura memang tidak begitu tahu dengan cerita percintaan Rahel dan Alga, tapi yang dia tahu Rahel adalah cinta pertama Alga, dan setahu Naura penyebab utama yang membuat Rahel dan Alga putus adalah Dira karena dia tidak suka pada Rahel.


"Naura, kamu kenapa masih berdiri di situ?" tegur David. David sampai menyusul anaknya karena Naura tidak kunjung masuk rumah.

__ADS_1


"Ah iya Dad," ujar Naura seketika tersadar dari lamunannya kemudian berlari kecil menghampiri David.


"Kamu kenapa?" tanya David yang bisa melihat jelas perubahan raut wajah Naura.


"Itu Dad, sepertinya tante Dira belum kapok juga mau memisahkan Mayu dan Kak Alga." ujar Naura membuat David seketika menatap padanya.


"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya David.


"Itu Dad, Naura melihat tante Dira membawa mantan kak Alga ke rumahnya. Apa lagi coba tujuannya kalau bukan mau mengganggu hubungan kak Alga dan Mayu? Naura kok jadi sebal ya sama tante Dira. Padahal dari pada Rahel masih mending Mayu lah. Mayu anaknya Daddy, ya walaupun Naura harus mengakui kalau Rahel itu lebih cantik dari Mayu, tapi itu karena Mayu tidak rajin perawatan. Coba saja Mayu rajin perawatan, dia juga tidak kalah cantik dari si Rahel itu." ujar Naura mengadu.


"Enggak apa-apa Naura, anggap saja itu ujian cintanya Alga dan Mayu serta menguji kesetiaan Alga. Kalau memang Alga benar-benar tulus sayang dan cinta pada Mayu, Daddy rasa mau seribu Rahel pun yang datang padanya, dia tidak akan tergoda dan tetap memilih Mayu." jelas David dan terlihat santai saja.


"Tapi bagaimana kalau kak Alga tergoda Dad? Biar bagaimana pun, Rahel itu cinta pertama Kak Alga, dan yang namanya cinta pertama, pasti sulit dilupakan. Naura sendiri belum bisa melupakan kak Alga. Walau Naura sudah ikhlas kak Alga dengan Mayu tapi Naura tidak bisa membohongi diri Naura sendiri, kalau nama Kak Alga masih menempati salah satu sisi di hati Naura." ujar Naura lagi.


David menarik nafas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan.


"Daddy sangat paham kekhawatiran kamu Naura, tapi menurut Daddy pribadi kalau pun nanti Alga tergoda ya biarkan saja, itu berarti Alga itu bukan jodohnya Mayu."


"Daddy kok gampang sekali bicaranya, jika Mayu mendengar dia pasti kesal pada Daddy." seru Naura cepat. Kali ini dia tidak setuju pada daddynya. Dia pribadi akan mengikhlaskan Alga kalau bersama Mayu, tapi tidak dengan cewek lain.


"Bukan gampang Naura. Begini Naura, Daddy pribadi juga sangat ingin Alga jadi menantu Daddy, tapi kalau misalkan dia gampang tergoda pada perempuan lain, terlebih perempuan itu adalah mantannya, Daddy rasa dia tidak cocok untuk Mayu. Kamu belum tahu saja, godaan mantan itu belum ada apa-apanya jika dia sudah jadi bos besar nanti. Jika dia sudah jadi CEO, dia pasti akan semakin sering bertemu dengan wanita dari berbagai kalangan, yang mana pasti akan ada saja yang ingin menggoda Alga. Jika Alga tidak kuat iman, pasti dia akan mudah tergoda. Daddy tentu tidak ingin memiliki menantu mudah tergoda pada perempuan lain. Daddy lebih baik dapat menantu yang dari kalangan biasa saja, yang penting dia setia pada anak-anak Daddy." jelas David.


"Begitu ya Dad. Kalau soal itu Naura juga setuju sih Dad, karena Naura juga paling benci sama cowok playboy."


"Nah itu dia. Makanya Daddy enggak terlalu ambil pusing soal itu. Apalagi status mereka masih sekedar pacaran dan umur mereka juga masih sangat muda. Enggak masalah mereka dapat banyak cobaan. Hitung-hitung itu untuk mendewasakan cinta mereka juga, supaya kelak kalau mereka sudah menikah, cinta mereka samakin kuat, dan semakin sabar dalam menghadapi rintangan." jelas David lagi.


"Iya Dad, Naura mengerti. Hanya saja Naura jadi malas pacaran deh Ded, ternyata pacaran itu tidak seindah yang Naura bayangkan."


"Iya sekarang bilangnya begitu tapi besok-besok saat Alga melakukan sesuatu yang romantis pada Mayu, pasti deh Naura akan merengek pada Daddy dan minta dicarikan pacar lagi." ujar David menyindir anak bungsunya yang masih suka plin plan.


Naura tersenyum lebar karena merasa tersindir.


"Ya habisnya Naura juga pingin disayang-sayang sama pacar Dad. Dibuatkan sesuatu yang romantis juga, tapi Naura juga tidak ingin disakiti Dad." curhat Naura membuat David tersenyum dan mengacak gemas rambut anak gadisnya.


"Semua orang juga inginnya begitu Naura, tapi yang namanya menjalin suatu hubungan itu tidak mungkin sayang-sayangan terus atau romantis terus. Pasti akan ada saja masalahnya. Ibarat kata pepatah, jika berani jatuh cinta itu berati kamu harus berani mengambil resiko."


"Iya Dad, Naura tahu. Naura hanya belum siap kalau harus merasakan patah hati dan kecewa lagi Dad. Cukup kak Alga yang sudah membuat Naura patah hati Dad." jujur Naura.


David beralih merangkul anaknya.


"Iya Naura, Daddy paham, dan Daddy juga sangat berharap, kamu akan dipertemukan dengan laki-laki yang sangat sayang pada kamu dan yang romantis juga serta tidak akan menyakiti kami. Laki-laki yang ganteng, kaya dan yang masih single pokoknya." ujar David membuat Naura tersenyum lebar.


"Amin." jawab Naura mantap.

__ADS_1


__ADS_2