
"Pan, tolong bantu angkat belanjaannya dong!" ujar Mayu begitu dia dan mobil yang membawa barang belanjaannya sampai di rumah.
Belakangan ini jika belanja Mayu tidak lagi membawa sendiri barang belanjannya tapi dia harus menyewa mobil dan itu karena barang belanjaannya banyak. Terkadang sampai 4 karung besar. Selain itu ada juga yang sistim telepon saja. Seperti halnya Mayu yang suka mengirim Maga Wear untuk beberapa agen langganan mereka.
"Ok May," ujar Irpan dan langsung menghampiri abang supirnya.
Mayu juga membantu mengangkat belanjaan yang diplastik. Walau sudah jadi owner dia tidak pernah berubah. Dia tidak pernah gengsi mengangkat barang, seperti apa yang sering dulu dia lakukan.
Setelah semua barang berhasil mereka masukkan ke rumah, Mayu mengambil 2 botol minuman dan 2 bungkus roti.
"Bang buat bekal di jalan biar enggak haus." ujar Mayu sambil memberikan roti dan minumannya.
"Iya Neng Mayu, terima kasih. Nanti kalau belanja, kabari lagi saja!" ujarnya.
"Ok Bang, hati-hati ya Bang!"
"Iya Neng. Mari Neng, mari Mas." ujarnya lagi.
"Iya Bang," ujar Mayu. Mayu tidak akan pernah perhitungan pada orang yang tidak perhitungan padanya. Prinsip hidup Mayu, kalau kamu baik, maka aku akan lebih baik lagi.
"May, ada kiriman buat lo itu. Ada di meja, lihat saja!" ujar Irpan dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Kiriman dari siapa Pan?" tanya Mayu.
"Kak Alga," jawab Irpan lagi membuat Mayu refleks menoleh padanya.
"Serius?" tanya Mayu antusias.
"Iya serius Mayu." ujar Irpan sambil merapikan gantungan chiki-chiki.
Mayu langsung berlari ke arah meja. Dia sangat penasaran dengan kiriman Alga. Tumben-tumbenan Alga mengirim sesuatu untuknya. Biasanya dia selalu bawa sendiri. Apalagi beberapa hari ini, Alga 2 kali sehari mampir ke rumahnya, dan itu pagi juga malam sepulang dia kerja.
Mayu seketika tersenyum begitu melihat satu tangkai bunga mawar.
"Pan kirimannya yang ada bunga mawarnya, kan Pan?" tanya Mayu memastikan. Takutnya dia udah senang duluan tapi ternyata salah, kan enggak lucu.
"Iya May." jawab Irpan lagi.
Mayu kembali melanjutkan senyumnya yang sempat tertunda. Dia mengambil perlahan bunga mawarnya kemudian menciumnya. Mayu suka wanginya. Tumbenan sekali ayangnya itu berbuat romantis padanya, dan Mayu harus mengakui kalau dia suka itu.
"Terima kasih kak Alga." monolog Mayu.
Tatapan Mayu beralih pada 2 cup es cendol Elizabeth serta 2 boks makanan. Ayangnya itu tahu saja kalau dia butuh yang segar-segar serta asupan makanan.
Mayu kembali tersenyum, dia benar-benar meleleh karena perhatian Alga kali ini. Alga benar-benar tahu apa yang dia butuhkan bukan apa yang dia mau.
Perhatian Mayu teralih karena mendengar ponselnya berbunyi. Mayu mengambil ponselnya dan lagi-lagi senyum terbit di wajahnya begitu melihat ada pesan masuk dari Alga.
[Ay, apa kamu sudah sampai di rumah? Aku ada kirim makanan dan minuman untuk kamu. Aku yakin selesai belanja kamu pasti capek dan butuh asupan. Ambil waktu untuk beristirahat ya Ay dan kamu bisa sambil menikmati makanan yang aku kirimkan. Semoga suka. Semangat terus Ay!] isi pesan Alga.
Mayu buru-buru membalas pesan kekasihnya.
[Iya Kak, Mayu sudah sampai di rumah dan Mayu juga sudah menerima kiriman Kak Alga. Terima kasih banyak ya Kak. Mayu sangat suka. Sering-sering ya Kak hehe ....]
[Siap Ay. Aku lanjut kerja lagi. Love you Ay.] balas Alga lagi.
[Love you too Kak.]
Mayu kembali menyimpan ponselnya dan beralih pada makanan dan minumannya. Mayu memutuskan mengambil minumannya terlebih dulu, dia sangat haus.
"Ah seger!" seru Mayu sambil menikmati minumannya.
Mayu juga membuka boks makanannya. Boks pertama berisi risol mayo, tahu crispy dan bakwan, sedangkan boks satunya berisi makanan olahan pisang.
Mayu lagi-lagi tersenyum karena Alga tahu saja apa yang Mayu suka. Makanan sederhana tapi bagi Mayu semua makanan itu sangat nikmat tiada tara.
Alga benar-benar memenuhi janjinya kalau dia akan belajar lebih perhatian juga lebih peka lagi.
__ADS_1
"Irpan, mau makanan tidak?" ujar Mayu sambil mengambil bakwannya.
"Ya mau dong, tapi bukannya makanan itu spesial untuk kamu?" ujar Irpan. Dia cukup tahu diri.
"Ya memang spesial untukku, tapi aku enggak akan bisa menghabiskan makanan ini sendirian. Udah enggak usah jual mahal, sini istirahat dulu!" ujar Mayu lagi.
"Oklah kalau begitu." ujar Irpan kemudian meletakkan chiki yang dipegangnya.
Baru juga dia mau duduk ada pembeli yang datang dan Ipan memutuskan melayani pembelinya terlebiih dulu.
"Makin pintar saja kamu melayani pembeli ya Pan." ujar Mayu begitu Irpan duduk di sampingnya.
"Ya harus itu May. Lagian jualan itu adalah satu pekerjaan yang menyenangkan walau kadang suka sebel juga kalau dapat pembeli yang resek." ujar Irpan sambil mengambil minumannya.
"Sangat menguji kesabaran ya Pan kalau pembelinya resek."
"Bukan lagi, apalagi yang suka ngebanding-bandingin harga tuh, ingin ku berkata kasar kadang. Kalau dia tahu harga di warung lain lebih murah, kenapa dia enggak belanja di sana saja, iya kan? Kita juga bukan sengaja jual mahal, tapi karena kita belanjanya juga memang mahal, dan kita enggak mungkin jual modal atau lebih murah dari modal. Untung yang kita ambil bahkan enggak sampai 10 persen." curhat Irpan.
"Sebenarnya kalau ketemu sama orang seperti itu enggak usah ditanggepin Pan dan jawab singkat saja karena niatnya memang mau kompor itu. Dia seperti punya penyakit gitu loh Pan." ujar Mayu.
"Benar juga ya May, dan kalau aku perhatikan tiap dia datang juga pasti saat ada pembeli. Kalau lagi sepi pembeli enggak pernah nongol dia itu."
"Itu dia. Kalau yang untuk pakaian dalam malah ada yang lebih menyebalkan lagi, udah nawarnya enggak masuk akal, eh dagangnya diberantakin dan ujung-ujungnya enggak jadi beli. Aku kadang mau marah rasanya, tapi aku juga sadar mungkin gara-gara dia enggak punya uang makanya bersikap seperti itu." ujar Mayu lagi sambil makan.
"Dan itu sebenarnya dia salah ya May, harusnya kalau memang enggak punya uang bicara baik-baik kan bisa. Kita juga enggak akan merasa sayang memberikan dia harga yang lebih murah kalau dia bersikap baik."
"Benar sekali, dan mungkin dia tipekal orang yang enggak punya hati makanya dia pikir orang lain juga sama."
"Se-"
"Wah wah di sini lo ternyata. Pantas dari tadi ditunggu tapi enggak nongol-nongol. Enak banget lo berdua makan enak tapi enggak bagi-bagi." protes Lora tiba-tiba sambil berkacak pinggang.
Mayu dan Irpan saling menatap dan saling tersenyum.
"Makanannya enggak banyak Lora, makannya gue makan berdua sama Irpan saja. Udah lo jangan berisik. Ini makanannya masih ada, lo makan saja dan jangan sampai ketahuan sama yang lain." ujar Mayu.
"Bukan belajar pelit Lora, ini makanan kiriman dari Kak Alga." jawab Mayu apa adanya.
"Serius? Tumben dia kirim makanan hanya sedikit."
"Ya kan ini makanan spesial untuk ayang, Lora. Gimana sih lo?" ujar Irpan.
"Benar juga, pantas rasa risolnya ada rasa cintanya." ujar Lora lagi menggoda Mayu.
"Ngaco lo!" seru Mayu.
"Hehe ... Ah iya May ada mommy Naura belanja itu. Lo yang layani sana, siapa tahu dia jadi beli banyak, gara-gara lo." ujar Lora teringat dengan tujuannya mencari Mayu.
"Mommynya Naura? Serius lo?" tanya Mayu seakan tidak percaya. Hari ini Naura memang tidak datang karena dia ada janji dengan Vivi. Mereka mau menemui kenalan Vivi yang berprofesi sebagai dokter kecantikan. Naura mau konsultasi soal skincarenya. Dia benar-benar serius untuk Maga Beauty.
"Serius Mayu, lo lihat saja sono kalau lo enggak percaya!" ujar Lora lagi.
"Baiklah gue akan melihatnya." ujar Mayu kemudian meminum cepat es cendolnya.
"Hei Mayu jangan dihabiskan!" seru Lora cepat.
"Iya Lora. Gue tahu apa yang lo mau. Gue ke sebelah dulu ya!" ujar Mayu meletakkan cup es cendolnya kemudian bangun cepat dari duduknya. Dia sangat penasaran ada apa Sindi datang. Dia mau membuat masalah lagi atau gimana?
Sebelum masuk toko Maga Wear, Mayu mengintip keadaan di sana. Ternyata ada pembeli lain selain Sindi. Sindi sibuk memperhatikan rak Maga Wear, sementara pembelinya memperhatikan rak yang lain.
Mayu menarik nafas pelan dan mengembuskannya dengan perlahan. Mayu juga melangkah perlahahan ke arah Sindi. Mayu sangat berharap kali ini Sindi tidak membuat keributan di tokonya.
"Selamat sore Tante," ujar Mayu pelan dan berusaha bersikap ramah seperti biasanya.
Sindi refleks menoleh begitu mendengar suara yang tidak asing baginya.
"Iya sore. Saya mau beli pakaian dalam Mayu, mana yang bagus?" ujar Sindi membuat Mayu melotot dan hampir tidak percaya ini. Ini seriusan Sindi mau belanja pakaian dalam di tokonya? Ini Sindi tidak sedang kerasukan jin baik kan?
__ADS_1
"Hai Mayu, kenapa kamu diam saja. Apa di toko kamu enggak ada pakaian dalam yang bagus? Sudah saya duga." ujar Sindi lagi dan masih dengan nada jutek seperti biasanya.
"Tentu saja ada yang bagus Tante, banyak. Ini Maga Wear juga salah satu produk kami yang bagus dan termasuk best seller juga. Bahannya adem dan jahitannya kuat serta rapi juga tentunya. Modelnya memang belum banyak, tapi pilihan warnanya masih lengkap untuk semua ukuran. Tante silahkan saja pilih mau yang mana, bebas saja Tante." ujar Mayu menjelaskan produknya. Dan walaupun sebelumnya dia ada masalah dengan dengan Sindi tapi dia akan tetap profesional dalam melayani pelanggannya.
Sindi kembali menatap rak maga Wear.
"Ini beneran bagus kan, kamu enggak bohong Kan?" ujar Sindi lagi.
"Beneran Tante dan saya enggak mungkin bohong pada Tante. Kalau Tante enggak percaya tanya saja Naura. Naura bahkan sudah membeli untuk semua model dan semua warna untuk ukuran dia. Daddy juga ada beli 2 lusin lagi kemarin untuk ukuran dia. Dan mereka sendiri yang bilang kalau mereka suka sama produk Maga Wear. Ini Mayu barkata apa adanya Tante. Tante pastinya sangat tahu seperti apa daddy, dia akan bilang suka kalau dia memang suka dan begitu juga sebaliknya." jelas Mayu lagi.
"Ok kalau begitu saya juga mau bh dan cel*na dalam untuk semua model dan semua warna ukuran saya dan masing-masing 1 pieces." ujar Sindi dan Mayu kembali melotot mendengarnya.
"I ... Ini Tante serius Tante?" tanya Mayu cepat.
"Iya Mayu. Cepat siapkan barangnya sebelum saya berubah pikiran!" seru Sindi lagi.
"Ba-baik Tante, barangnya akan saya siapkan secepatnya!" ujar Mayu semangat. Rejeki nomplok ini tentu Mayu tidak akan melewatnya.
"Mbak Hana, bantu saya!" seru Mayu lagi.
"Iya Mbak Mayu." ujarnya.
Sindi hanya diam saat Mayu menyiapkan barang permintaannya. Dia tidak ada protes atau sejenisnya. Kali ini dia ingin bersikap biasa pada Mayu tanpa ada perasaan benci di dalamnya. Dia benar-benar menuruti keinginan anaknya.
"Tante, berhubung belanjaan Tante sangat banyak, saya beri diskon 50 ribu ya Tante." ujar Mayu sambil menghitung harga belanjaan Sindi.
"Enggak usah, saya enggak butuh diskon." ujar Sindi masih tetap jutek seperti biasanya.
"Baiklah Tante, tidak apa-apa. Biar diskon dari Tante akan saya berikan buat karyawan saja. Mereka pasti senang. Saya mewakili karyawan saya, mengucapkan terima kasih Tante." ujar Mayu lagi.
"Ya," ujar Sindi dan diam-diam menatap Mayu. Benar kata anaknya Mayu memang tidak semaruk itu soal uang.
"Total belanjaannya 2.750.000 Tante." ujar Mayu lagi.
Sindi mengangguk kemudian mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
"Saya hitung uangnya ya Tante!" ujar Mayu lagi.
"Iya,"
"Uangnya 2.800.000 ya Tante, berarti kembaliannya 50.000 lagi." ujar Mayu sambil membuka cash drawer.
"Kembaliannya ambil saja!" ujar Sindi lagi.
"Beneran Tante?" tanya Mayu kembali tidak menyangka.
"Iya,"
Mayu refleks tersenyum, dia senang bukan karena jumblah uangnya, tapi dia merasa senang karena sikap baik Sindi dan ini benar-benar sebuah keajiban bagi Mayu.
"Terima kasih banyak Tante. Saya doakan semoga rejeki Tante semakin mengalir deras dan tidak ada hentinya." ujar Mayu tulus.
"Iya," ujar Sindi lagi.
Setelah Sindi pergi Mayu tidak hanya bersorak girang dengan teman dan karyawannya tapi dia juga menghubungi Naura juga David dan menceritakan soal kedatangan Sindi yang memborong dagangannya.
Naura dan David, tentu saja merasa senang, sepertinya Sindi memang serius mau berubah dan mendukung Mayu.
***
Dira menatap bingung kantong belanjaan Sindi.
"Sindi, itu Maga Wearnya Mayu, kan?" tanya Dira menunjuk kantong belanjaan Sindi.
"Iya Mbak, aku habis belanja di toko Maga Wear." jawab Sindi santai.
Dira menatap tidak percaya pada Sindi. Dia tidak salah dengar kan? Ada apa dengan Sindi? Apa dia dapat ancaman dari David?
__ADS_1