Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Drama Para Bocah


__ADS_3

Alga menatap anaknya yang tengah dipegang erat oleh anak laki-laki usia 7 tahun.


Alga terpaksa ikut turun tangan karena Juna tidak mau melepas Lisa dan tetap bersikukuh ingin membawa Lisa pulang ke rumahnya.


Alga menarik nafas pelan dan membuangnya dengan perlahan. Anaknya masih kecil saja sudah bisa menarik perhatian laki-laki, gimana besarnya? Mana itu cowoknya usianya cukup jauh di atas Lisa. Gimana kalau besarnya malah diapelin om-om? Bisa-bisa kena serangan jantung Alga. Sepertinya Alga harus belajar tegas pada anaknya.


Alga kemudian membungkuk dan menyamai tingginya dengan Juna.


Juna menatap dingin pada Alga, sedangkan Lisa malah senyum-senyum saja melihat ayahnya. Dia belum mengerti dengan apa yang terjadi. Juna mengajak dia ke rumahnya dia ok saja. Bagi Lisa yang penting banyak makanannya dan ada pisangnya.


Alga mengangkat tangannya dan mengusap rambut Juna. Sayang belum juga tangan Alga sampai, Juna langsung menepisnya. Dia tidak suka Alga menyentuhnya.


Alga mau ketawa rasanya melihat reaksi Juna, walau dia juga bingung bagaimana caranya supaya Juna mau melepas anaknya. Alga belum pengalaman menangani sikap posesif anak-anak.


"Hai Juna," ujar Alga memilih menyapa Juna saja.


Juna tidak menjawab, dia justu mengeratkan pegangannya pada Lisa. Dia juga tidak mau lagi menatap Alga.


Alga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia semakin bingung gimana caranya membujuk Juna. Alga juga tidak mungkin bersikap kasar, itu bukan gaya Alga.


"Yayah!" panggil Lisa tiba-tiba membuat Alga beralih menatap anaknya. Jika membujuk Juna susah, Alga akan mencoba dari anaknya saja.


"Iya Cantik. Lisa lagi sama siapa Sayang?"


"Akak, Yayah." jawab Lisa mantap.


"Nama kakaknya siapa?" tanya Alga lagi.


Lisa menatap pada Juna dan beralih menatap ayahnya.


"Akak akak Yayah," jawabnya membuat Alga tersenyum, sedangkan Juna hanya meberikan tatapan protesnya pada Lisa.


"Nama kakaknya bukan kakak kakak cantik, tapi kakak Juna? Siapa nama kakaknya Cantik?" ujar Alga lagi.


"Akak Una," jawab Lisa.


"Pintar. Lisa dan kak Juga sudah makan belum?"


"Beyum Yayah," jawab Lisa cepat.


"Lisa mau makan sama Ayah?"


"Mau!" semangat Lisa.


"Ok Cantik. Bilang pada kak Junanya, Lisa mau makan dulu kakak. Tangan Lisa dilepas!" suruh Alga.


Lisa beralih menatap Juna.


Belum juga Lisa bersuara Juna sudah menarik tangannya.


"Lica makan sama Kakak saja! Makan pisang yang banyak." ujarnya dan langsung disambut antusias Lisa.


"Mau," semangat Lisa dan nurut saja saat Juna menarik tangannya.


Alga menepuk keningnya. Dia gagal membujuk Lisa.


Alga beralih pada maminya.


"Lisanya dibawa pergi Mi, gimana dong?" ujar Alga.


"Ya terus berusaha dong Alga. Cari cara supaya Juna mau melepas Lisa dengan sukarela!" suruh Dira. Dira bukan tidak bisa, tapi dia sadar dia sosok yang gampang emosi. Takutnya dia mengeluarkan kata-kata kasar dan itu akibatnya bisa fatal.


Alga menghembuskan nafas cepat, dia jadi buntu. Alga tidak seahli itu dalam menangani anak kecil. Alga juga mengkhawatirkan hal yang sama dengan maminya. Alga tidak mau karena salah dalam berucap membuat keadaan fatal. Alga tahu siapa Juna, dia adalah cucu konglomerat. Tidak jauh berbeda dengan Lisa. Bahkan bisa dibilang, kakeknya Juna termasuk sosok yang kejam dan ditakuti banyak orang.


Alga kembali menatap Lisa dan Juna. Juna memperlakukan Lisa sangat baik, dia mengambil makanan untuk Lisa dan menyuapi Lisa. Lisa juga dengan senang hati memperlihatkan senyum moneynya.


Alga tanpa sadar tersenyum melihatnya dan senyum itu seketika memudar begitu ingat dengan tugasnya.


Alga akhirnya memutuskan menghubungi Mayu saja. Mayu biasanya cukup ahli dalam menangani anak kecil.


***


"Semangat Bun!" ujar Alga memberi dukungan pada istrinya.


Mayu hanya menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya menangani anak kecil saja suaminya tidak bisa. Bagaimana nanti menangani pacarnya Lisa? Ada-ada saja memang ini suaminya.


"Maafkan anak saya ya Mayu," ujar Tiar mommynya Juna. Dia merasa tidak enak karena sudah merepotkan banyak orang.


Tiar sangat tahu karakter anak, makin dipaksa dia bukannya nurut tapi malah makin menjadi. Dulunya tidak begitu, tapi sejak adiknya meninggal semuanya berubah.


"Tidak apa-apa Mbak, santai saja. Namanya juga anak kecil." ujar Mayu mengerti.

__ADS_1


Mayu kemudian mendekati dia bocah yang sedang asik makan puding itu. Setelah makanan mereka habis, Juna mengambil puding rasa pisang, tentu saja Lisa makin senang.


"Halo cantiknya Bunda dan kakaknya yang ganteng." ujar Mayu menyapa mereka.


Lisa dan Juna menoleh.


"Bubun!" seru Lisa girang dan Juna hanya memperlihatkan tatapan tidak sukanya. Dia yakin kedatangan Mayu pasti ingin mengambil Lisa. Juna tidak akan mengizinkannya.


"Hai Cantik. Lisa makan apa itu Sayang?"


"Picang enyak Bubun." jawab Lisa mantap.


"Enak dong. Lisa disuap sama kakaknya ya Sayang?" ujar Mayu lagi.


"Ya,"


"Kakaknya ganteng ya Sayang." ujar Mayu dan kali ini mendapat lirikan dari Juna, ada senyum di wajahnya. Senang dia dibilang ganteng.


"Ya," ujar Lisa asal iya saja tapi itu berhasil membuat Juna tambah senang.


"Iya-iya saja ini anak Bunda. Lisa senang main sama kakak ganteng?" tanya Mayu lagi.


"Ya," jawab Lisa mantap.


"Kakak gantengnya senang main sama Lisa?" tanya Mayu beralih pada Juna.


"Senang," jawab Juna singkat.


"Bunda juga senang main sama Lisa dan kakak ganteng. Bunda boleh ikutan main sama kalian?" tanya Mayu lagi.


"Boyeh Bubun hihi ...." ujar Lisa senang.


"Terima kasih Cantik. Kakak gantengnya disuap dong Cantik!" suruh Mayu.


"Cuap Akak?" tanya Lisa dan Juna menganggukkan kepalanya.


Lisa menyendok pudingnya dibantu Mayu kemudian menyuapkannya pada Juna.


Ibu dan anak itu tertawa membuat Juna ikutan tertawa. Juna mulai nyaman dengan kehadiran Mayu. Padahal biasanya dia susah sekali dekat dengan orang yang baru dikenalnya.


Mayu terus mengajak mereka mengobrol dan tak jarang juga mereka tertawa.


"Kakak Ganteng sudah sekolah?" tanya Mayu.


"Wah hebat dong ya. Kakak Ganteng harus rajin sekolah ya, biar cepat pintar! Lisa suka kalau kakak ganteng pintar."


"Iya Tante."


"Bagus. Kakak Ganteng juga enggak boleh kebanyakan main. Bisa sakit kalau kebanyakan main. Mainnya sebentar saja. Supaya besok bisa main lagi sama Lisa." ujar Mayu lagi.


"Besok bisa main lagi Tante?" tanyanya menatap Mayu penuh harap.


"Bisa dong. Kakak ganteng tahu handphone?" tanya Mayu.


"Tahu Tante."


"Gunanya handphone untuk apa?"


"Nonton youtube." jawabnya polos.


"Selain itu?"


"Telepon," jawabnya lagi.


"Nah itu dia, besok Kakak Ganteng telepon Tante saja kalau mau main sama Lisa. Kakak ganteng bisa datang ke rumah Lisa. Di sana banyak mainan." ujar Mayu berusaha membujuk Juna.


"Di rumah Juna juga sangat bamyak mainan Tante." ujar Juna tidak mau kalau.


"Kalau begitu, biar Lisa saja nanti yang datang ke rumah Kak Ganteng. Gimana?" ujar Mayu lagi.


"Lica tidak tahu rumah Juna, Tante." jawabnya lagi dengan polosnya membuat Mayu tersenyum.


"Iya Lisa, memang tidak tahu rumah kakak Ganteng, tapi kan Tante tahu rumah Kakak Ganteng. Besok kalau Kakak Ganteng sudah pulang sekolah. Kakak Ganteng suruh mamanya telepon Tante saja. Nanti Tante akan datang sama Lisa." ujar Mayu lagi berusaha meyakinkan Juna.


"Beneran ya Tante, Tante antar Lisa ke rumah Juna!"


"Iya Kakak Ganteng. Kakak Ganteng mau dibawa apa, makanan atau mainan?"


"Bawa Lica saja!!" ujarnya membuat Alga menganga. Ini bocah satu udah tahu saja cara membuat orang baper. Untung anaknya belum mengerti apa-apa.


Mayu juga ikut tersenyum mendengarnya. Dasar bocah zaman now.

__ADS_1


"Baiklah, besok Tante akan datang bawa Lisa. Berarti sekarang Kakak Ganteng pulang dulu ya, kasihan itu mamanya uduh menunggu dari tadi." ujar Mayu lagi.


Juna menatap mommynya dan beralih pada Lisa. Dia beralih menatap Mayu kemudian menganggukkan kepalanya. Dia akhirnya setuju pulang tanpa membawa Lisa.


Tiar, Alga dan Dira lega melihatnya.


"Good Boy. Ya sudah salam dulu sama Lisanya. Bilang pada Lisa, sempai bertemu besok Lisa!" suruh Mayu.


Juna kembali menatap Lisa, dia bukanya mangatakan apa yang mengatakan Mayu tapi dia memeluk Lisa dan mengecup pipi Lisa.


Alga sampai menepuk keningnya sedangkan Tiara sampai menggelengkan kepalanya. Anaknya itu memang mirip sekali sama daddynya dingin di luar tapi kalau sudah kenal dan merasa nyaman, sikap hangat dan mesranya langsung keluar.


"Dadah Lica, Kakak Juna pulang dulu ya. Lica jangan nakal!" ujar Juna sambil melambaikan tangannya.


"Dadah Akak," balas Lisa dan ikut melambaikan tangannya.


Juna meraih tangan mommynya dan masih menatap Lisa. Ada perasaan tidak rela di hatinya, tapi dia harus pulang.


"Kami pulang dulu ya Tante, Alga, Mayu. Maafkan Juna yang sudah merepotkan kalian dan terima kasih." ujar Tiar.


"Iya Mbak sama-sama. Misalkan Juna mau main sama Lisa, telepon saja Mbak. Nomor telepon saya ada sama Mas Panji, minta saja!" ujar Mayu lagi. Mayu kenal dekat dengan daddynya Juna karena mereka memang rekan kerja.


"Iya Mayu, nanti saya akan minta padanya. Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama Mbak." ujar Mayu.


"Akak Anteng!"


Lisa tiba-tiba teriak dan berlari mengejar Juna begitu Juna dan mommynya melangkahkan kakinya meninggalkan mereka.


Alga lagi-lagi menepuk keningnya. Kenapa ini para bocah drama sekali?


"Kakaknya mau pulang Lisa. Lisa ikut Oma saja yuk, kita ambil pisang." ujar Dira membawa cucunya ke gendongannya.


Mendengar kata pisang Lisa langsung semangat dan melupakan Juna. Pesona pisang belum bisa dikalahkan oleh Juna di mata Lisa.


"Akhirnya Bun, drama perbocilan selesai juga. Pusing Ayah." ujar Alga merangkul istrinya.


"Masih bocil sudah buat Ayah pusing, gimana kalau Lisa sudah remaja dan mengerti pacaran?" ujar Mayu.


"Aduh Bun, jangan diingetin dulu deh Bun! Beri Ayah waktu bernapas dulu Bun!" ujar Alga belum bisa membayangkan kebucinan anaknya. Mayu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


***


"Selamat ya Ra, semoga pernikahan lo langgeng, rejekinya semakin lancar, selalu bahagia dan dijauhkan dari musibah serta secepatnya dapat momongan dan kalau bisa anaknya cowok saja." ujar Mayu mengucapkan selamat pada Lora dan tidak lupa memberikan pelukan hangatnya.


Mayu sangat bahagia, akhirnya kisah cinta Lora dan Rangga berakhir happy ending, sama seperti kisah cintanya dan Alga. Padahal sebelumnya mereka sempat putus dan akhirnya nyambung lagi. Rangga yang tidak ingin kehilangan Lora lagi memilih menikahi Lora.


"Terima kasih ya May dan terima kasih juga untuk semua bantuan lo. Lo memang salah satu sahabat terbaik gue May. Hanya saja gue enggak setuju dengan doa terakhir lo. Gue juga maunya punya anak se lucu Lisa, May. Jangan lo dan Naura saja yang punya anak lucu!" ujar Lora apa adanya.


"Punya anak lucu itu enggak selamanya menyenangkan Lora. Noh lihat, dia kembali jadi rebutan para cowok-cowok. Laris banget anak gue, buat pusing saja." ujar Mayu menunjuk ke arah Lisa yang sedang main di dekat pelaminan bersama 2 anak cowok.


Lara tersenyum mendengarnya. Tidak heran dia Lisa jadi rebutan. Rangga dan teman-leman Alga saja senang sekali kalau ada Lisa dan langsung berebut ingin gendong Lisa.


"Justru itu yang gue mau May, pasti menyenangkan rasanya kalau anak gue nanti jadi rebutan para cowok-cowok tampan dan tajir." ujar Lora lagi.


"Ngaco Lo. Udah ah gue mau turun dulu. Pokoknya bahagia terus untuk lo dan gue harap walaupun lo sudah menikah, lo tetap jadi teman curhat gue!" ujar Mayu lagi.


"Iya Mayu. Tidak akan ada yang berubah setelah ini. Kita akan tetap jadi sahabat selamanya." ujar Naura mantap. Mayu mengangguk dan kembali memeluk Lora.


"Selamat ya Ngga, semoga pernikahan lo langgeng sampai maut memisahkan. Jadilah suami yang bertanggung jawab dan selalu sayang pada istri. Semoga kalian juga secepatnya mendapat keturunan yang soleh dan solehah. Dan semoga sukses juga untuk nanti malam. Jangan banyak-banyak rondenya yang penting gol saja dulu." ujar Alga pada sahabatnya dan diakhiri dengan berbisik pada Rangga.


Rangga tersenyum dan memukul lengan Alga. Beginilah kalau punya sahabat sudah bapak-bapak. Omongannya pasti tidak akan jauh-jauh dari yang satu itu.


"Terima kasih Ngga dan lo tenang saja, tendangan gue pasti masuk gawang malam ini juga. Lo juga udah bisa itu. Siapa tahu anak kita nanti beda jenis kelamin dan gue siap jadi besan lo." ujar Rangga mantap.


"Besanan sama lo, ogah!" ujar Alga tapi itu tidak serius. Walau dia dan Rangga berada di level berbeda, Alga pasti akan sangat senang jika Rangga atau sahabatnya yang lain bisa menjadi besannya.


"Awas kualat lo ya!" ujar Rangga dengan santainya.


"Tidak akan. Udah ah gue mau turun dulu. Pokoknya bahagia terus untuk lo!" ujar Alga lagi.


"Nanti dulu Alga, kita foto dulu. Lisa mana?" ujar Rangga mencari keberadaan Lisa.


"Noh lagi asik pacaran dia." ujar Alga menunjuk ke arah anaknya.


"Panggil sebentar Ngga!" suruh Rangga.


"Susah Ngga, Lisa memang pasti mau, tapi itu bocil dua, bisa saja nangis kalau gue ambil Lisa." ujar Alga belajar dari pengalaman.


"Coba saja dulu!"

__ADS_1


"Baiklah," ujar Alga memilih mengalah dan akhirnya ketiga bocah itu ikut foto bersama mereka karena tidak mau ditinggal Lisa.


__ADS_2