
"Makan Malam Nek," jawab Mayu apa adanya.
"Makan malam? Bukankah kamu hanya pacar pura-puranya tapi kenapa kamu ikut makan malam di rumahnya?" tanya nenek Iroh lagi.
Walau belum pernah bertemu dengan ibunya Alga tapi nenek Iroh sudah pernah mendengar cerita tentangnya dari Tuti. Kata Tuti majikannya itu tidak suka pada orang miskin dan sikapnya suka tidak baik pada orang miskin. Nenek Iroh benar-benar tidak ingin cucunya diperlakukan tidak baik oleh ibunya Alga.
"Iya Nek, Mayu memang hanya pacar pura-pura Kak Alga dan kedatangan kami ke sana juga hanya sekedar makan malam biasa kok Nek. Enggak apa-apa ya Nek, hitung-hitung biar Mayu bisa belajar jadi orang kaya Nek. Supaya nanti saat kita jadi orang kaya beneran, enggak kaget lagi Nek." ujar Mayu berusaha bercanda dengan neneknya, supaya neneknya tidak terlalu khawatir.
Maya sangat bisa membaca raut wajah khawatir itu, hanya saja Mayu tidak tahu kenapa neneknya bisa sekhawatir itu.
"Kamu ini Nak, bisa saja jawabnya. Ya sudah kamu boleh makan malam di sana, tapi ingat harus selalu hati-hati dan jaga sikap ya Nak!" putus nenek Iroh dan tidak pernah lupa mengingatkan cucunya.
"Iya Nek, Mayu pasti akan selalu hati-hati juga jaga sikap. Jadi Nenek juga tidak perlu khawatir ya Nek! Ingat Nek, Mayu adalah gadis yang kuat juga tangguh." ujar Mayu mantap.
"Iya Nak. Nenek percaya pada kamu."
"Terima kasih Nenek. Peluk lagi Nek!" ujar Mayu sambil merentangkan tangannya. Nenek Iroh tersenyum tipis, dan tanpa menunggu lebih lama lagi, dia membawa Mayu ke dalam pelukannya.
Mayu memeluk erat neneknya.
'Nek sebenarnya Mayu juga akan melihat rumah papa jika Mayu ke sana, tapi Mayu belum bisa cerita pada nenek. Maafkan Mayu nek, Mayu janji suatu saat nanti, Mayu akan ceritakan semuanya pada nenek.' batin Mayu.
Setidaknya soal Alga, Mayu sudah cerita semuanya. Mayu jadi merasa lebih tenang dan tidak merasa bersalah pada neneknya.
***
Sepulang dari kampus, Mayu buru-buru pulang ke rumah. Mayu harus mengambil semua perlengkapannya. Hari ini, Mayu masih harus ke salon untuk mempersiapkan dirinya.
Kedatangan Mayu di salon kali ini tanpa ada drama lagi. Mayu langsung disambut hangat oleh pemilik salon dan siap memberikan pelayanan terbaik untuk Mayu.
"Mbak make upnya yang alami saja Mbak dan jangan tebal-tebal juga!" ujar Mayu mengingatkan. Mayu benar-benar tidak mau terlihat norak. Ini hanya makan malam biasa jadi penampilan Mayu juga sebaiknya sewajarnya saja.
"Iya Mbak tenang saja, saya sudah paham keinginan Mbak." ujar karyawan salonnya.
"Terima kasih Mbak, dan maaf ya Mbak kalau saya terlalu cerewet. Saya jarang sekali pakai make up Mbak, jadi sekalinya pakai make up, saya suka enggak nyaman Mbak, makanya enggak mau terlalu tebal Mbak." ujar Mayu merasa tidak enak.
"Iya Mbak saya mengerti, santai saja. Lagian Mbak juga bayar mahal ini, sangat wajar jika kalau Mbak cerewet dan ingin hasil yang terbaik."
__ADS_1
"Nah, itu dia Mbak. Mbak jangan kapok ya Mbak melayani saya!"
"Tentu saja saya tidak akan kapok Mbak. Lagian Mbak wajahnya mulus jadi kalau pun pakai make up tipis, hasilnya akan tetap bagus. Nah parahnya banyak orang yang wajahnya penuh dengan bekas jerawat dan sebagainya, inginnya pakai make up tipis. Itu benar-benar ujian Mbak." ujar karyawannya malah curhat.
"Sabar ya Mbak." ujar Mayu.
"Iya Mbak, saya pasti akan selalu sabar. Namanya juga pekerjaan, saya berusaha menikmatinya saja Mbak."
"Iya Mbak. Saya juga begitu Mbak." ujar Mayu mantap.
Setelah hampir satu jam, selesai juga Mayu di make up. Tidak hanya wajahnya yang dirias tapi rambutnya juga. Mayu juga minta rambutnya dikepang bando. Mayu jadi terlihat lebih cantik dan imut.
Mayu menatap dirinya di kaca. Mayu sudah memakai gaun warna peach serta sepatu heels yang tingginya 7 cm.
Mayu memutar tubuhnya dan tanpa sadar tersenyum tipis. Mayu tidak menyangka dia bisa jadi secantik ini. Tidak salah memang Mayu sering menyebutnya cantik jelita, kali ini Mayu benar-benar cantik jelita.
Mayu kemudian mengambil ponselnya, jarang-jarang Mayu bisa berpenampilan secantik ini, jadi harus diabadikan. Bila perlu Mayu cetak besar fotonya dan dipajang di dinding rumah kontrakannya. Biar dinding rumah kontrakannya juga ikutan terlihat cantik.
"Aihh!" Mayu mengaduh, baru juga Mayu mau ambil foto, Alga sudah meneleponnya.
"Hallo Kak," jawab Mayu.
"Iya Mayu, apa kamu sudah selesai?"
"Iya sudah Kak. Kak Alga dimana?"
"Ini saya sudah diparkiran. Kamu bisa ke parkiran sekarang!"
"Ok Kak." ujar Mayu. Mayu menutup sambungan teleponnya kemudian mengambil tasnya. Setelah mengucapkan terima kasih, Mayu langsung keluar dari salon.
"Kak Alga!" panggil Mayu.
Alga yang sedang memainkan ponselnya menoleh.
Alga sampai menelan lidahnya dan jantungnya seketika berdebar lebih cepat dari biasanya begitu melihat penampilan Mayu yang jauh lebih cantik dari biasanya.
Mulai dari rambut, make up, serta gaunnya menurut Alga semuanya sudah pas, tidak kurang dan tidak berlebihan. Mayu tidak hanya cantik elegan tapi lebih imut, paslah untuk dia yang usianya masih 19 tahun. Ditambah lagi Mayu juga terlihat sangat percaya diri dengan apa yang dikenakannya, jadi aura cantiknya semakin terlihat.
__ADS_1
"Kak! Kak Alga!" seru Mayu sambil mengibaskan tangannya depan Alga.
"Eh!" ujar Alga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ketahuan deh dia terpesona pada Mayu.
"Mayu cantik banget ya Kak? Kak Alga sampai ileran begitu." ujar Mayu.
Alga seketika memegangi sudut bibirnya membuat Mayu tertawa ngakak.
"Haha ... Kak Alga tertipu." ujar Mayu dengan cerianya.
Alga menatap kesal gemas pada Mayu, sekaligus Alga jadi yakin kalau dia tidak salah orang. Ternyata orang yang berdiri di depannya ini masih Mayu yang biasanya, bukan Mayu yang berbeda.
"Bercandanya udah Mayu, ayo kita berangkat!" ujar Alga. Alga tidak mau salah tingkah lebih lama depan Mayu. Bisa-bisa Mayu semakin gencar menggodanya.
"Eh Kak Alga tumben membukakan pintu untuk Mayu!" ujar Mayu begitu Alga membukakan pintu bagian penumpang.
Alga kembali refleks melihat pintu yang dibukanya.
'Aihh apa yang sudah aku lakukan?' batin Alga.
Ini karena salah tingkahnya, Alga jadi tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.
Alga lagi-lagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Salah tingkahnya sudah mencapai tingkat kabupaten.
"Terima kasih Kak Alga. Gitu dong Kak Alga, sekali-kali bersikap romantis gitu pada kekasih bayarannya ini." ujar Mayu lagi kemudian masuk mobil Alga.
Alga tidak komentar apa-apa. Dia takut salah bicara. Alga tidak mau semakin salah tingkah depan Mayu.
Setelah menutup pintu bagian Mayu. Alga berlari kecil ke arah kursi kemudinya.
"Kak Alga, sebentar deh!" ujar Mayu saat Alga ingin menjalankan mobilnya.
"Kenapa Mayu?" tanya Alga.
"Kak Alga benar-benar ganteng malam Ini, suka deh Mayu hihi ...." ujar Mayu memuji tetang-terangan penampilan Alga. Malam ini Alga memang memakai kemeja putih hitam dan melekat pas ditubuhnya, membuat penampilan Alga lebih rapi dan ganteng dari biasanya.
"Biasa saja Mayu, jangan berlebihan!" ujar Alga dan dengan susah payah menyembunyikan senyumnya. Alga tidak bisa memungkiri kalau dia suka dengan pujian Mayu dan jantungnya semakin berdebar cepat. Jika begini terus, bisa bahaya ini. Alga akan semakin susah dalam mengontrol perasaannya.
__ADS_1