Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Perjalanan Makrab


__ADS_3

Naura menatap tersenyum pada Alga kemudian menyenderkan kepalanya di pundak Alga.


"Jauhkan kepala kamu dari pundak saya Naura!" ujar Alga dingin dan menatap tidak suka pada Naura.


"Kenapa sih Kak, hanya pinjam pundaknya ini loh bukan pinjam hatinya." ujar Naura manja dan tetap menyenderkan kepanya di pundak Alga.


"Tetap saja tidak bisa Naura, kamu tahu kan kalau kalau saya sudah punya pacar. Harusnya kamu tahu batasannya Naura. Saya tidak mau pacar saya jadi salah paham karena kamu." ujar laki-laki berhidung mancung itu.


Alga juga berusaha menjauhkan pundaknya dari Naura, hanya saja Naura sengaja menahan kuat lengan Alga.


"Biarkan saja dia salah paham, cewek udik, miskin dan enggak guna begitu. Lagian kenapa sih Kak Alga lebih memilih dia dari pada Naura, jelas-jelas Naura lebih segalanya dari dia." ujar gadis berparas cantik itu.


Alga menarik nafas pelan, kemudian menyenderkan kepalanya dan memejamkan matanya. Malas dia meladeni Naura yang selalu suka merendahkan orang lain.


"Kak Alga!" panggil Naura.


Alga tetap memilih diam.


Naura menatap cemberut pada Alga tapi beberapa detik kemudian senyum manis seketika terbit di wajahnya saat ada ide terlintas di benaknya.


Naura semakin menyenderkan kepalanya di bahu Alga dan tangan kanannya perlahan tapi pasti memeluk perut Alga.


Alga refleks membuka matanya dan menatap tajam pada Naura.


"Jaga sikap kamu Naura dan jauhkan tangan kamu itu dari perut saya." ujar Alga berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.


"Kenapa sih kak timbang peluk ini saja dan enggak ada yang lihat juga. Kak Alga jangan terlalu pelit deh sama Naura." ujar Naura dengan gaya manjanya.


"Ada atau tidak yang lihat, kamu itu harusnya bisa jaga sikap Naura. Walau kita tidak sedang di kampus tapi kita sedang menjalankan kegiatan kamus. Sebagai seorang mahasiswi kamu itu harusnya tahu batasannya." ujar Alga sambil mengepalkan tangannya.


Naura kembali menatap Alga tersenyum.


"Berarti kalau tidak sedang menjalankan kegiatan kampus, kita bisa bebas dong Kak melakukan apa saja?" ujar Naura dengan genitnya.


Tangan Alga semakin terkepal erat. Inilah alasannya kenapa dia sampai memaksa Mayu supaya ikut, dia sudah bisa menebak akan apa yang dilakukan Naura.


"Jaga bicara kamu Naura, jangan sampai yang lain dengar dan berpikir yang tidak-tidak tentang kita. Sekali lagi saya tekankan pada kamu, saya ini sudah punya pacar Naura, tolong hargai keberadaan pacar saya! Sekarang sebaiknya kamu pindah ke belakang, kursi ini bukan untuk kamu. Sebentar penghuninya mau duduk di situ." tegas Alga dan mengusir Naura.


"Siapa, Kak Rangga? Biarkan saja dia duduk di belakang." ujar Naura dengan santainya. Jika hanya Rangga kecil saja baginya. Dia tinggal memperlihatkan wajah memelasnya, Rangga pasti akan mau mengalah padanya.


"Bukan." ujar Alga singkat padat dan jelas.


Alga kemudian beralih pada supirnya.


"Pak jangan lupa berhenti di toko agen sejahtra!" ujar Alga mengingatkan.


"Baik Mas,"


Rangga memang kebagian tugas membeli minuman juga snack untuk diperjalanan, karena itu dia bisa sekalian jemput Mayu.

__ADS_1


"Bukan Kak, terus siapa yang mau naik?" tanya Naura menatap Alga.


"Nanti juga kamu akan tahu," ujar Alga dengan cueknya.


Naura menatap Alga.


'Siapa yang akan duduk di sini? Pokoknya siapa pun orangnya aku tidak akan mau mengalah karena akulah yang lebih dulu duduk di sini.' batin Naura sambil mengepalkan tangannya.


Jangan panggil dia Naura kalau dia mau mengalah begitu saja.


"Mayu!" seru Shinta dan Lora tiba-tiba begitu melihat Mayu sedang berdiri di pinggir jalan bersama Rangga. Di samping mereka juga ada beberapa dus minuman juga snack dan permen.


Mayu melambaikan tangannya dengan wajah cerianya, sedangkan Naura dia refleks menegapkan tubuhnya. Itu yang dipanggil beneran Mayu? Bagaimana bisa ada Mayu di sini? Bukankah namanya tidak ada di daftar makrab kali ini.


Tidak hanya Naura yang terkejut. Lia dan Rani yang sedari tadi harus menahan kesal juga sama terkejutnya. Mereka bahkan sampai berdiri untuk memastikan apa benar ada Mayu di sana?


Lia seketika mengepalkan kuat tangannya. Beneran ada Mayu ternyata. Lia menatap ke arah Alga. Dia mulai mengerti kenapa Alga bayar untuk satu orang lagi, ternyata itu untuk Mayu.


'Apa hebatnya sih itu Mayu, sampai-sampai Alga mau bayarin dia.' batin Lia kesal.


"Hallo semua," ujar Mayu dan kembali melambaikan tangannya begitu dia naik bus.


"Hallo Mayu." ujar Lora, Shinta dan Irpan semangat, sedangkan yang lainnya hanya menatap malas pada Mayu. Enggak penting banget bagi mereka Mayu ada atau tidak.


"Mayu sini!" ujar Irpan sambil mengode Mayu supaya duduk di sampinya.


Mayu balas menatap Alga dan untuk beberapa detik mereka saling menatap.


"Eh," Mayu seketika tersadar begitu Alga memberi kode padanya.


Mayu mengangguk pelan. Mayu menatap ke arah Irpan dan teman-temannya. Dia tidak mungkin duduk di samping Irpan walau dia ingin. Dia sebaiknya duduk di samping Alga. Dia harus menjalankan tugasnya sebagai kekasih Alga. Terlebih lagi dia juga sudah berjanji akan menjalankan tugasnya dengan baik.


Mayu beralih menatap Naura. Mayu melangkah mendekatinya dan menatap Naura sambil berkacak pinggang.


"Awas Naura, gue mau duduk di situ!" seru Mayu.


"Tidak Mau, saya duluan yang duduk di sini, jadi siapa cepat dia dapat." ujar Naura tidak mau kalah.


"Sejak kapan ada peraturan siapa cepat dia dapat? Justru gue sudah pesan pada kak Alga kalau gue yang akan duduk di situ. Saya benar kan Kak Alga?" ujar Mayu beralih pada Alga.


"Mayu benar Naura. Bukankah dari awal juga sudah saya bilang kalau kursi ini sudah ada penghuninya. Kamu saja yang ngeyel dan mau duduk di situ. Sekarang kamu pindah atau bus tidak akan jalan? Biar saja kita telat sampai tujuan dan itu semua karena kamu." tegas Alga.


Naura menatap kesal pada Mayu. Kesal banget dia, gara-gara Mayu, gagal sudah rencana dia bermesraan dengan Alga.


'Lihat saja Mayu, gue pasti akan balas lo jauh lebih kejam dari pada ini.' ujarnya kemudian mengambil kasar tasnya. Mau tidak Mau Naura harus pindah ke belakang.


Sebelum pindah ke kursi belakang dia masih sempat-sempatnya menatap tajam pada Mayu dan Mayu membalasnya dengan tatapan mengejek.


Alga hanya menggelengkan kepalanya. Naura benar-benar sudah menemukan lawan yang tepat. Jadi tidak perlu dipertanyakan lagi kenapa Alga memilih Mayu jadi kekasih bayarannya karena pilihan yang paling tepat ya hanya Mayu.

__ADS_1


***


"Kak Alga mau kerupuk?" tanya Mayu sambil menawarkan makanannya. Mayu punya kebiasaan ngemil jika naik mobil.


Alga menoleh pada menatap kerupuk yang dibawa Mayu.


"Enggak," ujar Alga singkat.


"Ya sudah kalau tidak mau. Mayu makan kerupuk ya Kak."


"Terserah." ujar Alga dan lebih memilih memejamkan matanya. Sekarang dia sudah bisa tidur dengan tenang.


"Siap tuan Muda." ujar Mayu.


Mayu kemudian makan kerupuk dengan nikmatnya seolah sangat menikmati perjalananya.


Alga yang tadinya memejamkan mata, perlahan membuka matanya karena mendengar suara kerupuk Mayu yang sepertinya sangat enak.


"Kenapa, Kak Alga mau? Kalau Mau ambil saja Kak, ini kerupuknya sangat enak loh, digorengnya pakai pasir lagi, jadi lumayan amanlah." ujar Mayu. Mayu tahu laki-laki seperti Alga pasti akan sangat memperhatikan makananya, tidak seperti Mayu makan apa saja dimakan yang penting perut kenyang.


"Enggak usah malu-malu sama Mayu Kak, santai saja. Mayu saja yang kadang suka malu-maluin santai." ujar Mayu dan kembali memakan kerupuknya.


"Jadi kamu sadar kalau kelakuan kamu itu kadang suka malu-maluin?" ujar Alga. Alga yang sudah tidak tahan akhirnya ikut nyomot krupuk Mayu.


"Sangat sadar dong Kak. Saya ini memang punya rasa percaya diri yang tinggi, tapi saya juga punya kesadaran diri yang tinggi. Mayu gitu loh."


"Enggak usah jadi sombong juga Mayu." ujar Alga kemudian makan kerupuk pemberian Mayu.


"Hehe ...."


Alis Alga terangkat. Seumur hidupnya baru kali ini makan kerupuk seperti yang dimakan Mayu, dan rasanya memang lumayan, tidak buruk. Pantas saja Mayu suka.


"Gimana Kak rasanya enak kan?" ujar Mayu dan lagi-lagi makan dengan nikmat.


"Iya lumayan," ujar Alga dan kembali nyomot kerupuk Mayu. Lama-lama dia jadi ketagihan.


Mayu tersenyum sangat Berbeda dengan Lia dan Rani yang duduk di seberang mereka yang terlihat jelas menahan amarahnya. Mereka enggak ikhlas banget Alga mau makan makanan pemberian Mayu. Terlebih itu hanyalah makanan murahan.


"Kak Alga tahu enggak ini nama kerupuknya apa?"


"Enggak," jawab Alga dan lagi-lagi nyomot krupuk Mayu. Semakin lama semakin enak ternyata.


"Ini namanya kerupuk melarat Kak, dan orang-oramg yang makan kerupuk ini akan jadi melarat." ujar Mayu dengan santai.


"Heh!" seru Alga seketika melotot. Kerupuk yang hendak kembali dimakanya sampai tertahan di depan mulut.


"Haha ...."


Mayu tertawa ngakak, puas banget dia bisa mengerjai Alga.

__ADS_1


__ADS_2