Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Beruntung


__ADS_3

Mayu merentangkan tangannya menikmati udara pagi dari balkon lantai 3 kamarnya.


Mayu menarik nafas pelan dan membuangnya dengan perlahan. Udara begitu segar. Beruntung memang mereka tinggal di kompleks perumahan elite. Banyak pohon besar yang ditanam, selain itu kendaraan yang melintas juga tidak banyak. Apalagi kalau hari libur jarang suara kendaraan terdengar karena para penghuninya jarang berpergian.


Mayu lagi-lagi menarik nafas dan membuangnya dengan dengan perlahan. Rasanya begitu tenang dan menyenangkan.


Selain Mayu beruntung tinggal di perumahan elite, dia juga sangat beruntung memiliki mertua yang enggak pernah menyuruhnya melakukan ini dan itu. Mayu mau melakukan apa saja terserah dia. Mayu mau membuat sarapan atau enggak juga tidak masalah. Mayu mau bangun siang juga Dira tidak perduli karena semua memang sudah tersedia di rumahnya itu.


Padahal dulunya Dira menentang keras hubungannya dan Alga, tapi kini Mayu malah jadi menantu kesayangannya. Benar kata orang di luar sana. Allah itu maha membolak-balikkan hati, yang penting kita jangan sampai cepat menyerah, apalagi sampai berputus asa.


Greb


"Eh!" kaget Mayu saat Alga tiba-tiba memeluknya dari belakang dan menyenderkan dagunya di bahu Mayu.


"Selamat pagi istriku, bidadariku." ujar Alga mesra membuat Mayu tersenyum. Keberuntungan Mayu yang lain ya dapat suami seperti Alga yang sangat mencintainya.


"Pagi juga suamiku, ayah dari anak-anakku." balas Mayu dan kali ini gantian Alga yang tersenyum dan menatap menggoda pada istrinya.


"Kok anak-anak Bun? Anak kita kan baru satu. Apa perlu kita buat anak sekarang juga biar kata-kata bunda pas dan tidak salah lagi." ujar Alga sambil mengeratkan pelukannya.


"Yah jangan mulai deh. Masih pagi juga." protes Mayu.


"Justru pagi yang lebih asoy Bun, tenaganya juga masih prima. Lima ronde juga kuat Ayah." ujar Alga dan langsung mendapat lirikan maut dari Mayu.


Alga kembali tersenyum dan mengecup gemas pipi istrinya.


"Lirikannya biasa saja dong Bun dan enggak perlu jual mahal juga. Ayah tahu kok kalau Bunda sangat suka goyangan Ayah dan Bunda selalu ingin lebih." ujar Alga lagi semakin semangat menggoda isterinya.


"Yah plis deh ya, omongannya jangan selalu mengarah ke sana! Memangnya Ayah enggak bosan?" protes Mayu.


"Ya enggak lah Bun, mana mungkin ayah bosan, kalau itu adalah salah satu penyemangat Ayah." balas Alga lagi.


"Yaya telselah Yayah aja!" ujar Mayu meniru gaya bicara anaknya dan itu berhasil membuat Alga tersenyum lebar dan memeluk gemas istri tercintanya.


"Kamu enggak kalah menggemaskannya dari Lisa deh Bun, beruntung sekali Ayah memiliki kalian berdua dalam hidup Ayah." ujar Alga tulus.


"Kami juga enggak kalah beruntungnya memiliki Ayah dalam hidup kami. Ayah jangan pernah berubah ya Yah, harus selalu sayang pada kami dan menjadikan kami prioritas Ayah!" ujar Mayu serius.


"Tidak akan Bun, sampai kapan pun Ayah tidak akan berubah. Hanya berubah jadi tambah tua saja dan Bunda juga harus tetap setia pada Ayah selamanya!" ujar Alga tidak kalah seriusnya.


Mayu memutar badannya hingga dia berhadapan dengan Alga. Mayu menatap suaminya dan Alga juga melakukan hal yang sama.


"Sampai keriput tubuh ini dan sampai memutih rambut ini, Bunda pasti akan tetap setia pada Ayah." jawab Mayu mantap dan langsung disambut dengan senyum manis Alga.

__ADS_1


"Ayah juga sama Bun. I love you istriku."


"I love you too suamiku." balas Mayu.


Mereka saling menatap mesra. Alga semakin mendekatkan wajahnya dan Mayu memejamkan matanya.


"Hey! Ayah dan bundanya Lisa. Lihat-lihat tempat dong, kalau mau itu di kamar!" teriak Alex dari balkon rumah Naura.


Alga refleks menjauhkan wajahnya dan Mayu membuka matanya.


Alga dan Mayu menatap ke arah si empunya suara.


Alex sudah tersenyum lebar sambil merangkul isteri tercintanya.


Alex dan Naura juga melambaikan tangannya menggoda Alga dan Mayu.


"Dasar pengganggu!" balas Alga.


Naura dan Alex hanya tertawa ngakak mendengarnya.


Jika hari libur pemandangan seperti itu sering terlihat di rumah mereka.


***


Rumah Alga sudah ramai. Ada mbaknya dan keluarga kecilnya, ada Naura dan keluarga kecilnya, ada mertuanya dan ada teman-temannya dan teman-teman Mayu.


Alga dan yang lainnya mau, walau mereka sibuk dengan pekerjaan atau rumah tangga masing-masing, tapi setidaknya mereka masih tetap menjalin silaturami dengan baik, meski hanya sebulan sekali.


"Hihi ... hihi," Lisa terlihat begitu bahagia main bersama 2 kakak sepunya juga Lina adik sepupunya.


Walau hanya mereka berempat anak-anak di rumah itu tapi itu cukup membuat suasana rumah jadi lebih meriah.


"Lisa, Rio, Raihan, Lina mainnya udah dulu Sayang, sini makan dulu. Ini sosis dan baksonya sudah mateng." ujar Dira.


"Cocis? Au!" seru Lisa dan langsung berlari ke arah omanya tapi baru beberapa langkah dia kembali berhenti dan menoleh ke belakang.


"Dedek!" serunya. Dia mutar balik dan menghampiri Lina. Lina memang sudah bisa jalan dan lari tapi belum secepat Lisa.


Lisa menggenggam tangan Lina dan Lina tersenyum manis padanya.


Mereka kemudian lari bersama.


Para orang tua mereka juga ikut tersenyum melihatnya. Bangganya mereka pada Lisa ya begitu. Walau suka membuat ulah, dia sangat sayang pada Lina dan mereka berharap selamanya akan begitu.

__ADS_1


"Lisa, Lina sini Sayang!" ujar Sindi sedangkan Rio dan Reihan sudah menghampiri Dira.


"Yaya Enma." semangat Lisa.


"Lisa ini ada ikan, mau enggak?" tanya Yudha.


"Nono, Lica au cocis. Cocis enyak tenan." balas Lisa.


"Enak juga ikan Lisa, bergizi lagi." balas Yudha lagi.


"No!" ujar Lisa tidak setuju. Jelas saja bagi Lisa sosis lebih menarik dari ikan.


"Iya no Lisa no, ini makan sosisnya! Makan yang banyak biar tambah gemoy kamu." ujar Sindi lagi sambil meletakkan beberapa sosis dan bakso di piring Lisa.


"Yaya Lica emoi," ujar Lisa dengan centilnya membuat para orang dewasa di sekitarnya menggelengkan kepala.


"Anak kamu itu Mayu, beda sekali dengan kamu. Rasa percaya dirinya itu loh, di atas rata-rata." ujar Vivi.


"Tahu itu Mbak, mana udah pintar debat lagi. Capek aku kadang tapi buat gemas juga. Apa lagi kalau sudah ada makan, bisa lupa segalanya dia." ujar Mayu sambil memperhatikan anaknya yang sedang makan dengan lahapnya seolah tidak diberi makan selama berhari-hari.


"Benar juga ya, hobby makan Lisa memang enggak ada duanya. Makanya makin gemoy saja itu pipi." ujar Vivi lagi dan itu berhasil membuat Lisa menoleh padanya karena mendengar kata gemoy.


"Yaya Anti, Lica emoi." ujar Lisa lagi.


"Iya Lisa iya, Lisa memang sangat gemoy mirip oma." ujar Vivi sengaja menggoda keponakannya.


"Nono, Lica milip bubun."


"Iya Sayang, Lisa mirip Bunda. Udah ya, makan saja itu makanannya. Jangan lupa minum, nanti Lisa keselek!" ujar Mayu mengingatkan.


"Oce Bubun," ujar Lisa dan kembali makan dengan lahapnya sedangkan Mayu kembali ngobrol dengan yang lainnya.


"Ah iya teman-teman, sebenarnya kami atau saya dan mas Yudha ingin menyampaikan sesuatu." ujar Shinta tiba-tiba.


"Apa itu Shin?" tanya Naura sambil menerima ikan dari tangan suaminya.


"Kami berdua sudah membuat keputusan, kalau kami akan menikah. Rencananya lamarannya akan dilangsungkan bulan depan." ujar Shinta malu-malu. Akhirnya apa yang ingin disampaikannya keluar juga dari mulutnya.


"Serius ini, kita akan pesta lagi Shinta?" tanya Lora.


"Iya," ujar Shinta mantap.


"Alhamdulillah." kompak mereka dan langsung memberi pelukannya pada Shinta. Senang mereka akhirnya kabar baik itu datang juga.

__ADS_1


"Selamat ya, Shinta dan Yudha. Semoga rencana pernikahan kalian dilancarkan. Jika butuh sesuatu bilang saja. Saya siap membantu." ujar Pratama. Baginya Yudha sudah seperti keponakannya sendiri.


"Iya Tuan, terima kasih banyak Tuan." ujar Yudha. Senang dia ternyata niatan baiknya dan Shinta disambut hangat sama orang-orang terdekat mereka.


__ADS_2