Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Lisa


__ADS_3

Lisa langsung minta turun dari pangkuan opanya begitu melihat mobil Alga masuk pekarangan rumahnya.


"Yayah! Bubun!" panggil Lisa semangat dan wajahnya berbinar bahagia. Lisa selalu senang menyambut kepulangan Ayah dan bundanya.


Mayu dan Alga dari dalam mobil juga tersenyum senang. Disambut sama anak tercinta, membuat rasa lelah mereka setelah seharian bekerja seketika hilang.


Mayu membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya pada Lisa.


"Bubun!" seru Lisa lagi sambil melompat-lompat. Sesederhana itu kebahagiaannya hanya dengan melihat bunda dan ayahnya.


"Assalamualaikum Cantik," ujar Mayu sambil membuka pintu mobilnya.


"Acalamlekum Bubun. Lica angen Bubun." ujar Lisa langsung mengulurkan tangannya.


Mayu lagi-lagi tersenyum dan menyambut uluran tangan anaknya. Begitu Lisa Salim Mayu membawa Lisa kepelukannya dan memeluk Lisa erat.


"Bunda juga kangen banget sama Lisa." ujar Mayu. Walau hanya beberapa jam tidak bertemu Mayu selalu merindukan anaknya. Apalagi sejak Lisa berhenti minum asi, Dira jadi jarang membawanya ke kantor Mayu. Ditambah lagi Lisa juga sudah mulai ikut les renang, kegitannya sudah mulai banyak.


"Sama Ayah kangen juga enggak?" tanya Alga ikut memeluk anak dan istrinya.


"Yayah!" seru Lisa girang dan langsung mengulurkan tangannya.


Senyum Alga mengembang dan membawa Lisa ke gendongannya.


"Salim Ayah dulu Cantik!" ujar Alga.


"Ciap Yayah, piyu Yayah." ujar Lisa sambil salim pada ayahnya. Senyum Alga makin mengengembang. Dia kemudian mengecup gemas pipi anaknya.


"Ayah juga love Lisa. Lisa nakal enggak selama Ayah dan bunda kerja?" tanya Alga sembari melangkah menghampiri orang tuanya dan nenek Iroh. Aktivitas mereka tiap sore ya begitu, menemani Lisa menunggu orang tuanya pulang kerja.


"Nono Yayah, Lica baik." ujar Lisa mantap.


"Smart girl." ujar Alga kemudian salim pada nenek Iroh dan orang tuanya. Setelah itu dia duduk di kursi samping papinya.


"Yes, Lica cemat el, butipul." ujar Lisa dengan percaya dirinya membuat para orang dewasa di sekitarnya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Selain kursus Renang, Lisa juga sudah mengikut les bahasa Inggris. Alga sangat paham, mengajarkan 2 bahasa pada anak manfaatnya sangat banyak. Ditambah lagi Lisa memang si anak cerdas, cepat nangkap dia kalau diajarkan sesuatu.


"Ya Lisa memang beautiful mirip sama Oma." ujar Alga dan langsung mendapat protesan dari Lisa.


"No Yayah, cama Bubun. Bubun butipul." seru Lisa.


"Iya Bunda beautiful, Lisa beautiful, oma juga beautiful." ujar Alga lagi.


"Ee," Lisa ingin protes dan menatap pada bunda dan omanya.


Mayu senyum-senyum saja sedangkan Dira sudah berkacak pinggang.


"Kenapa? Lisa mau bilang Oma engga beautiful iya? Ok, enggak Oma temani lagi besok. Enggak Om bagi pisang lagi." ujar Dira pura-pura mengancam cucunya.


"No Moma, Moma butipul, cikit." ujar Lisa dan diakhiri dengan kata pelan membuat Alga dan yang lainnya terawa ngakak terutama Pratama. Senang Pratama melihat istrinya mendapat lawan yang tepat. Lisa memang beda sekali dengan Alga dan Vivi waktu kecilnya. Lisa lebih ke Dira tapi sifat perduli dan penyayangnya nurun dari Mayu dan Alga.


"Berarti menurut Lisa, beautifulnya Oma hanya sedikit saja dan yang banyak itu Lisa sama bunda, gitu?" ujar Alga setelah tawanya mereda.


"Iya Yayah hihi ...." ujar Lisa dan langsung memeluk Alga erat tidak berani melihat omanya.


Alga dan yang lainnya kembali tersenyum melihatnya. Tingkah polosnya Lisa memang hiburan buat mereka semua.


***


Puk puk puk


"Yayah! Bubun! Angun!" seru Lisa sambil memukul pintu kamar ayah dan bunda. Kebiasaan Lisa tiap pagi, begitu bangun dia pasti akan membangunkan orang tuanya dan minta turun. Lisa belum berani turun sendiri dan orang tuanya juga belum mengizinkan. Terlalu bahaya untuk Lisa.


Alga dan Mayu yang sedang asik bermesraan di atas kasur seketika saling menatap.


"Alaram kita yang satu itu memang tidak pernah rusak atau kehabisan baterai Bun." ujar Alga dan menjauhkan wajahnya dari wajah istri tercintanya.


Mayu hanya tersenyum. Dia sudah hapal kebiasaan anaknya dan Alga harusnya tidak perlu protes.


"Yayah! Bubun! Angun!" seru Lisa lagi dan pukulannya di pintu semakin keras.


"Iya Sayang iya!" jawab Alga.


"Aku buka pintu dulu Bun," ujar Alga dan sebelum turun dari kasur dia menyempatkan mengecup bibir istrinya sekali lagi.


Cklek


Pintu kamar dibuka dan Lisa langsung memperlihatkan senyum moneynya.


"Gud oning Yayah," ujarnya dengan cerianya.


Senyum seketika terbit di wajah Alga. Walau sebelumnya sempat merasa terganggu karena anaknya, dia langsung merasa senang begitu mendengar sapaan manis dari anaknya.


"Good morning juga cantiknya Ayah. Morning kiss Cantik!" ujar Alga menyamakan tingginya dengan anaknya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Lisa.


Lisa tersenyum dan tanpa menunggu diminta 2 kali. Lisa memberi kecupan di pipi kiri dan kanan ayahnya.

__ADS_1


"Ba, ba!"


"Bibir belum Cantik!" ujar Alga sambil memoyongkan bibirnya.


Lisa buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya.


"No, auk igong." ujar Lisa tidak mau dan Alga hanya tersenyum. Alga memang sengaja mengajari itu pada anaknya karena dia tidak mau Lisa sembarangan memberi kecupan dibibir.


"Ayah sudah sikat gigi loh, enggak bau jigong lagi Cantik." ujar Alga sengaja menggoda anaknya.


"No Yayah. Bubun!" ujarnya malah memilih beralih pada bundanya. Lisa juga tidak pernah lupa menyapa bundanya dan memberikan morning kissnya setelah itu barulah dia minta diantar turun.


"Maacih Yayah," ujar Lisa lagi begitu dia dan Alga sampai di ujung tangga.


"Sama-sama Cantik, Ayah mau ganti baju dulu ya, nanti Lisa olahraga sama Ayah!" ujar Alga lagi.


"Oce Yayah," ujar Lisa melepas genggaman tangan Alga kemudian hormat pada Alga membuat Alga lagi-lagi tersenyum.


"Semangat cantik!" ujar Alga lagi dan tidak lupa mengecup pipi putrinya.


"Cemangat juga Yayah. Dadah Yayah." ujar Lisa kemudian ngacir ke dapur. Lisa mau laporan sekalian minta alat untuk dia beraksi pagi ini.


Lisa senyum-senyum begitu budhe memberikan sapu, lap dan kemoceng yang Mayu buatkan khusus untuk Lisa. Mayu senang melihat anaknya yang suka bersih-bersih. Mayu akan dukung semua keinginan anaknya selama itu positif. Meski kadang Dira protes padanya karena tidak suka cucu ngebabu. Hanya saja selama Alga mendukung istrinya, Dira harus mengalah.


"Maacih Ude," ujar Lisa.


"Sama-sama Non Lisa. Nanti kalau sudah selesai bersih-bersih. Non Lisa cari Budhe lagi ya. Budhe ada hadiah untuk Non Lisa." ujar Tuti.


"Picang Ude?" semangat Lisa.


"Iya bolo pisang sepesial untuk Non Lisa." ujar Tuti lagi. Dia sangat tahu cucu majikannya sangat suka segala sesuatu yang berbau pisang.


"Hole. Lica becih-becih ya Ude."


"Iya Non, semangat Non!" ujar Tuti menunjukkan kepalan tangannya.


Lisa mengangguk. Dia kemudian pergi ke ruang depan. Dia metakkan sapunya terlebih dulu dan milih membersihkan meja.


"Becih-becih Lica becih-becih." ujar Lisa sambil mengusap meja dengan kemoceng. Dia begitu serius dan semangat.


"Yang bersih ya Cantik!" ujar Mayu sambil melewati anaknya.


"Oce Bubun. Becih cemua Bubun." ujar Lisa lagi.


"Mantap. Lisanya Bunda memang hebat." ujar Mayu lagi.


Mayu senyum saja mendengarnya dan tetap melanjutkan langkahnya. Dia tidak mau mengganggu Lisa yang sedang serius kerja. Padahal kerjanya juga buat berantakan saja.


Sepuluh menit kemudian dia kembali mencari Tuti.


"Ude udah Ude, becih cemua Ude." ujarnya laporan.


"Oh udah ya Non. Mantap memang Non Lisa. Sapu dan lapnya dimana Non?" tanya Tuti begitu melihat Lisa yang hanya membawa kemoceng.


"Capu?" beo Lisa.


"Iya sapu. Sapunya Non Lisa yang warna biru." ujar Tuti mengingatkan


"Yaya capu Lica," ujarnya dan berlari mengambil sapunya.


Tuti hanya senyum-senyum saja melihatnya.


Tidak lama setelah itu Lisa kembali sambil membawa sapu juga kain lap miliknya.


"Nih capu Ude." ujarnya memberikan peralayan kebersihannya.


"Terima kasih Non,"


"Cama-cama. Ude, adiah Lica!" tagihnya sambil menengadahkan tangannya.


"Siap Non, Budhe ambil dulu ya. Non Lisa tunggu di sini dan jangan kemana-mana!"


"Oce Ude." nurutnya.


Lisa langsung tepuk tangan begitu melihat Tuti kembali sambil membawa piring kecil dan ada sepotong bolu pisang di atasnya.


"Ini Non, jangan jatuh ya!"


"Maacih Ude. Hihi ...." ujar Lisa senang.


"Pantas saja tiap hari rajin bersih-bersih ternyata ada hadiahnya." ujar Mayu yang sudah berdiri di belakang anaknya.


Lisa menoleh dan memperlihatkan senyum moneynya pada bundanya.


"Picang enyak Bubun." ujarnya memamerkan bolu pisangnya.


"Iya pisang enak. Bunda bagi dong Cantik!" ujar Mayu kemudian jongkok di depan anaknya.

__ADS_1


"Nono Bubun, ini picang Lica. Bubun becih-becih!" ujarnya menyuruh bundanya bersih-bersih biar bisa dapat bolu pisang sama seperti dia.


"Bunda masih ada kerjaan Cantik. Lisa saja ya yang menggantikan Bunda bersih-bersih. Bunda juga mau bolu pisang." ujar Mayu sengaja menggoda anaknya.


"Nono Bubun, Lica apek." ujarnya membuat Mayu dan yang lainya mau ketawa rasanya. Lisa kecil-kecil sudah pintar buat alasan.


"Yah, Lisa capek ya. Padahal bunda ingin sekali makan bolu pisang." ujar Mayu dengan wajah semelas mungkin.


Lisa jadi tidak tega, apalagi Mayu juga menatap ngiler pada bolu miliknya.


"Bubun bagi cama Lica ya!" ujar Lisa akhirnya membuat Mayu memberikan kecupan gemas pada anaknya.


"Terima kasih sayangnya Bunda. Ini baru anak pintarnya Bunda, mau berbagi sama Bunda."


"Yes Bubun. Lica cuap Bubun?" ujar Lisa lagi.


"Boleh Sayang. Sini piringnya biar bunda yang pegang." ujar Mayu membantu anaknya.


"Iya," ujar Lisa memberikan piring bolunya pada Mayu. Lisa kemudian mengambil sedikit bolunya kemudian menyuapi Mayu. Selanjutnya dia juga makan bagiannya.


"Hihi ...." mereka sama-sama tertawa dan Mayu kembali mengecup gemas pipi anaknya. Dia benar-benar bangga pada Lisa.


Tuti dan pekerja lainnya diam-diam tersenyum melihat ibu dan anak itu. Sejak kehadiran Mayu di rumah Alga susana rumah itu memang jadi lebih berbeda. Apalagi sejak kehadiran Lisa, suasana semakin meriah dan bos mereka juga semakin baik serta semakin sering berbagi.


***


Lisa dan Alga menggandeng tangan Lisa masuk ballroom hotel. Hari ini adalah hari pernikahan Rangga dan Lora.


"Bun kalau mau ke kamar Lora, silahkan saja. Lisa biar sama aku saja!" ujar Alga. Alga juga mau ke kamar Rangga.


"Iya Yah. Lisa, sama Ayah dulu ya Cantik, Lisa jangan nakal ok!" ujar Lisa pamitan pada anaknya.


"Oce Bubun," ujar Lisa mantap. Lisa aman kalau sama ayahnya.


"Ayo Cantik!" ujar Alga dan memilih menggendong anaknya saja.


Lisa ngangguk dan nurut saja. Dia sibuk memperhatikan sekitarnya.


"Oom anteng hihi ...." seru Lisa girang begitu melihat Rangga dan yang lainnya. Dia senang main dengan teman-teman Alga. Mereka juga suka bagi-bagi makanan pada Lisa.


Rangga dan yang lainnya menoleh, mereka langsung berlomba melambaikan tangan. Mereka senang kalau ada Lisa. Lisa si cerewet dan hobby makan terutama makan pisang.


"Hai si cantik sudah datang. Sini Cantik sama om Yudha." ujar Yudha sambil mengulurkan tangannya.


Lisa langsung Mau dan menyambut uluran tangan Yudha dengan senang hati.


"Om Anteng, Lica aun antik dong." ujar Lisa langsung pamer gaun cantiknya membuat Yudha tersenyum.


"Iya cantik sekali Lisa. Lisa jadi mirip bunda Mayu ya." ujar Yudha lagi dan langsung disambut antusias Lisa.


"Ya Lica embal bubun." ujarnya semangat. Lisa paling senang kalau dibilang mirip bundanya. Bagi Lisa wanita paling cantik itu bundanya. Dia bucinnya ke Mayu sama dengan Alga.


"Kata siapa Lisa mirip dengan bundanya? Salah kamu Yudha, Lisa itu mirip dengan omanya." ujar Frans sengaja menggoda Lisa.


"Nono!" protes Lisa cepat dan langsung memberikan tapapan tidak terima.


Satu kamar Rangga langsung tertawa melihat tingkahnya. Padahal Lisa juga enggak bisa lama-lama pisah dari omanya, tapi entah kenapa dia paling enggak mau dibilang mirip omanya.


"Om Salah ya? Lisa bukan mirip oma tapi mirip Om frans." ujar Frans lagi.


"No! Lica wewek Om." ujar Lisa lagi-lagi protes.


"Oh Lisa cewek.Terus Om Frans cowok gitu?"


"Ya, Om Pans wowok, cama yayah." ujarnya menunjuk Alga.


"Oh berarti Om Frans sama dengan ayahnya Lisa. Kalau begitu Om Frans jadi ayahnya Lisa ya!" ujar Frans lagi.


"No!" seru Lisa keras dan benar-benar tidak terima Frans jadi ayahnya. Alga dan yang lainnya kembali tertawa karenanya. Suasana kamar Rangga jadi heboh gara-gara Lisa.


Sama halnya dengan yang terjadi di kamar Lora. Di sana juga tidak kalah hebohnya gara-gara Lina. Walau Lina belum pintar bicara tetap saja para cewek-cewek itu suka gemas karena tingkahnya. Suasana pernikahan Rangga dan Lora jadi lebih berwarna karena kehadiran para biridesmaid cilik itu.


"Nau, nanti gue mau foto berdua dengan Lina!" pinta Lora.


"Silahkan saja!" jawab Naura.


"Terima kasih Naura." ujarnya berlalih pada Mayu.


"Gue juga mau foto sama Lisa ya May! Pokoknya setelah ini lo harus ambil Lisa dari ayahnya." ujar Lora lagi. Lora juga senang sekali main sama Lisa. Lisa yang suka sekali buat heboh.


"Berani bayar berapa lo?" goda Mayu.


"Seribu!" jawab Lora cepat.


"Murah amat anak gue. Tega lo!"


Lora hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2