Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Jangan Salahkan Mayu


__ADS_3

"Gimana keadaan Mayu, Ra?" tanya Naura antusias begitu Ira masuk kamar.


"Sangat memperhatinkan. Dia benar-benar tidak berdaya, bahkan untuk bicara saja dia tidak sanggup lagi. Dan berita baiknya lagi nih, kak Lia dan kak Rani bukannya bantu dia, tapi malah memarahi dia. So sad." ujar Ira dengan dengan bahagianya.


Naura dan Yuli tersenyum lebar.


"Bagus dong kalau begitu, dan benar kan dugaan gue kalau kak Lia dan kak Rani itu tidak akan perduli padanya. Mereka itu juga sangat benci pada Mayu. Tos dulu dong!" ujar Naura tidak kalah bahagianya. Dia sangat senang akhirnya bisa memberi pelajaran pada Mayu.


Ira dan Yuli dengan semangat tos dengan Naura.


'Itulah akibatnya Mayu kalau lo berani pada gue, itu bahkan belum ada apa-apanya. Gue bahkan bisa melakulan lebih kejam dari itu.' batin Naura.


"Ah Iya Ra, enggak ada yang curiga kan kalau kita adalah pelaku utama yang sudah mendorong Mayu ke kolam?" tanya Yuli.


"Tentu saja enggak dong. Enggak akan ada yang curiga kalau kitalah pelaku utamanya. Villa ini kan tidak ada CCTVnya. Jadi kita sudah pasti aman, dan biar lebih aman lagi, kita sebaiknya enggak keluar lagi sampai besok pagi, karena kak Lia sudah pesan pada kami, soal Mayu tenggelam di kolam tidak boleh ada lagi yang tahu, selain kami." jelas Ira.


"Baguslah kalau begitu. Itu berati kita benar-benar aman. Tenang gue. Tos lagi dong!" ujar Yuli.


Mereka bertiga kembali kembali tos dengan wajah bahagianya. Mereka tiba-tiba tertawa ngakak begitu membayangkan Mayu yang tidak berdaya sama sekali.


Sementara itu Mayu yeng mereka tertawakan sedang menggigil parah. Padahal dia sudah dipakaikan 2 lapis selimut tapi tubuhnya masih sangat menggigil dan sangat dingin.


"Huu ... huu ... huu,"


Hanya suara menggigil Mayu yang terdengar dari balik selimut. Dia benar-benar sudah tidak kuat dengan dinginnya.


Shinta sampai mau menangis melihatnya, dia benar-benar tidak tega melihat Mayu. Mayu yang biasanya selalu semangat dan ceria tapi kali ini benar-benar tidak berdaya.


"Non, kalian masih ada persediaan minyak angin tidak?" tanya Lora sambil mengusapkan minyak angin pada telapak kaki Mayu.


"Sudah habis Lor, itu Riana dan Lely juga masih kedinginan." ujar Noni. Dia juga benar-benar tidak tega melihat Mayu, tapi dia bingung harus berbuat apa lagi.


Riana dan Lely langsung mendingan begitu minum air hangat tapi tidak dengan Mayu. Mayu bahkan langsung memuntahkan air yang dia minum. Sepertinya Mayu kebanyakan menelan air kolam, perutnya jadi kembung.


"Ini saya masih ada minyak kayu putih, tapi jangan dihabiskan." ujar Rani memberikan minyak kayu putihnya tidak ikhlas. Ogah banget sebenarnya dia membatu Mayu, tapi karena tidak ingin dituduh senior yang sangat kejam, tidak apa-apalah dia berbaik hati sedikit pada Mayu.

__ADS_1


"Iya Kak, terima kasih Kak." ujar Lora menerima minyaknya dan kembali memakaikannya di kaki Mayu. Padahal dia sendiri juga sudah mulai merasa dingin, tapi itu tidak dia perdulikan sama sekali, bagi Lora dan Shinta yang terpenting itu adalah Mayu.


"Makanya lain kali jangan berenang malam-malam, begini kan akibatnya. Kayak enggak ada hari lain saja. Kampungan boleh, udik juga boleh tapi bodoh jangan! Mending yang dirugikan itu hanya diri sindiri, tapi ini orang lain juga dirugikan. Bagaimana kalau tadi tidak ada yang melihat, bisa meninggal ini Mayu. Jika Mayu meninggal maka tidak hanya kita yang terkena dampaknya, tapi kampus juga." ujar Lia kembali mengomel. Lia seakan menumpakan semua rasa kesalnya pada Mayu yang tidak berdaya.


"Kak sebentar deh, dari tadi kak Lia perasaan menyalahkan Mayu terus, Kak Lia bahkan tidak ada membantu Mayu sama sekali. Kami tidak masalah Kak, kalau Kak Lia tidak mau membantu Mayu, tapi jangan seenaknya saja menuduh Mayu. Dan saya Rasa Mayu tidak segila itu mau berenang malam-malam, apalagi sendiri. Mayu ini tidak bisa berenang Kak. Bisa saja kan ada yang mendorongnya atau ada mahluk lain yang merasukinya. Kak Lia juga bisa melihat sendiri kalau sebelumnya, pakaian Mayu masih lengkap. Dia bahkan memakai sweater tebalnya. Gila saja berenang memakai sweater." ujar Shinta akhirnya buka suara juga.


Kesal dia dari tadi Mayu disalahkan terus. Udah tahu Mayu juga keadaannya sangat memperhatinkan, masih saja disalahkan. Benar-benar tidak punya hati. Sayangnya saja itu Lia seniornya, kalau temanya sudah Sinta usir dari tadi.


"Saya sependapat dengan Shinta, Kak. Mayu kayaknya enggak mungkin berenang malam-malam. Saya bahkan ada melihat sendal Mayu terapung di dalam kolam. Tidak mungkin kan orang berenang pakai sendal? Saya yakin Mayu tidak sebodoh itu berenang pakai sendal. Jadi Kak Lia sebaiknya stoplah menyalahkan Mayu terus!" ujar Noni ikut membela Mayu.


Sebelumnya Noni memang sempat tidak menyukai Mayu, karena gosip-gosip tidak baik tentang Mayu, tapi dia juga masih punya hatilah mau membantu Mayu saat Mayu sedang kesusahan, bukannya mengomeli Mayu saja. Mayu ini juga manusia, dia juga punya hati dan perasaan.


"Ok alasan kalian bisa saya terima, tapi tetap saja ini salah Mayu. Napain juga dia keluar malam-malam, udah tahu udaranya lagi dingin, bukannya di kamar saja." ujar Lia lagi yang masih saja ada celah untuk menyalahkan Mayu.


Shinta sampai menarik nafas pelan. Gedek banget dia sama seniornya itu. Bilang iya saja apa susahnya, tanpa harus menyalahkan Mayu lagi.


Shinta beralih menatap Mayu. Setelah dia pikir-pikir ada benarnya juga apa kata seniornya. Mayu ngapain keluar malam-malam?


'Apa jangan-jangan kak Alga yang mengajaknya kemudian mendorongnya ke kolam. Orang yang terakhir kali bersama Mayu kan Kak Alga, tapi apa mungkin kak Alga sejahat itu? Aku tidak yakin kak Alga bisa sejahat itu. Aku tidak bisa diam saja, aku harus mencari tahunya. Mayu juga tidak bisa dibiarkan saja, dia harus mendapatkan bantuan lebih dari yang kami berikan.' batin Shinta.


"Kamu mau kemana Shinta?" tanya Lia cepat.


"Mengambil air hangat lagi Kak, siapa tahu, Mayu sudah bisa minum." bohong Shinta. Shinta takut dia dilarang menemui Alga, karena itu bohong adalah jalan terbaik.


"Oh," ujar Lia tidak ada niatan menahan Shinta.


"Shin bawa air panasnya juga sekalian ya!" pinta Riana.


"Ok," ujar Shinta kemudian melangkahkan kakinya.


Shinta mebuka perlahan pintu villa. Antara kamar anak perempuan dan laki-laki memang beda villa, dan para panitia senaja melakukannya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.


"Huh!" Shinta menghembuskan nafasnya kasar. Udara di luar benar-benar dingin dan itu sampai ke tulang-tulang.


'Ini demi lo May. Cepat sembuh May!' batin Shinta.

__ADS_1


Shinta menarik nafas pelan begitu dia sampai depan kamar Alga.


Tok tok tok


Shinta mengetuk perlahan pintu kamar Alga sambil berdoa dalam hati semoga Alga tidak susah dibangunkan.


"Siapa?" tanya Alga dari dalam kamar.


Shinta benar-benar lega, ternyata Alga langsung mendengar ketukannya.


Alga memang belum lama kembali ke kamar, jadi dia belum ada tidur.


"Ini saya kak Shinta, temannya Mayu." ujar Shinta pelan.


Mendengar kata Mayu Alga langsung membuka cepat pintu kamarnya.


Hampir saja Shinta terpesona melihat Alga yang jaraknya begitu dekat dengannya, dan wanginya itu loh, enak benar. Padahal Alga mau tidur tapi tetap saja wangi. Heran Shinta.


"Kenapa kamu mencari saya, apa ini ada hubungannya dengan Mayu?" tanya Alga langsung to the poin.


"Iya Kak. Apa Kak Alga meninggalkan Mayu sendirian dekat kolam atau Kak Alga yang mendorongnya ke kolam?" tanya Shinta tanpa basa basi.


Alga melotot mendengarnya.


"Kamu ini bicara apa? Saya bahkan tidak ada ke area kolam renang dan saya tidak mungkin mendorong Mayu ke kolam, gila saja!" ujar Alga tidak terima dengan pertanyaan Shinta. Alga bukan laki-laki sejahat itu. Bahkan sekesal-kesalnya dia pada Naura dia tidak pernah berbuat kasar pada Naura.


"Eh tunggu, apa Mayu jatuh di kolam renang?" tanya Alga cepat begitu mengerti arti pertanyaan Shinta.


"Iya Kak, Mayu ditemukan tenggelam dalam kolam, dan keadaannya sekarang memperhatinkan. Dia menggigil berat dan tubuhnya juga sangat dingin Kak. Saya sangat khawatir padanya." jelas Shinta.


"Mayu!" seru Alga dan tangannya seketika terkepal erat.


Alga khawatir pada kekasih bayarannya itu, dan Shinta bisa melihatnya. Ada kelegaan tersendiri di hati Shinta, di lihat dari wajah Alga, Shinta yakin pasti bukan Alga yang sudah mendorong Mayu ke kolam.


"Ayo kita temui Mayu!" ujar Alga kemudian melangkahkan cepat kakinya.

__ADS_1


__ADS_2