Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Alga Bebas Dari Hukumannya


__ADS_3

"Mbak Klara, Mbak Hana kalian saling kerja sama bantu nenek jaga warung ya. Hari ini kami sudah masuk kuliah kasihan nenek kalau jaga warung sendiri." ujar Mayu.


"Siap Mbak Mayu, beres kalau soal itu. Berarti nanti kita mulai jualan online setelah kalian pulang kuliah?" ujar Klara.


"Ya, tapi kalau ada pesanan masuk langsung dikerjakan saja. Saya dan teman-teman masih akan terus promosi dari sosial media."


"Iya Mbak Mayu, kami mengerti."


"Semangat ya Mbak, dan jangan malas-malasan ok! Biar nanti dapat bonus lagi." ujar Mayu sambil menunjukkan kepalan tangannya.


"Ok Mbak Mayu." kompak mereka.


Mayu tersenyum kemudian melangkah ke arah tangga.


"Mas Janu, Mayu kuliah dulu." ujar Mayu.


"Iya Mayu, semangat kuliahnya!"


"Ok Mas, Mas Janu dan yang lainnya juga harus tetap semangat ya. Barang setokan kita sudah mulai menipis, dan jangan sampai barang kosong!"


"Ok Mayu, kami pasti akan lebih semangat lagi demi dapat bonus yang lebih besar lagi." ujarnya mantap.


Mayu tersenyum.


"Dasar mata duitan. Ya sudah Mayu pergi Mas."


"Hati-hati May!"


"Ok Mas."


Mayu juga tidak lupa pamitan pada neneknya dan memeluk neneknya.


"Ingat ya Nek, mau ada pembeli atau tidak jam 12 pas nenek sudah harus makan siang. Minta Mbak Hana atau Mbak Klara juga buat potongin buah untuk Nenek." pesan Mayu.


"Iya Nak, Nenek pasti akan makan tepat waktu, kamu juga ya, dan jangan lupa minum air putihnya juga dibanyakin!" balas nenek Iroh.


"Siap nenekku sayang." ujar Mayu kemudian mengecup pipi neneknya sebelum dia pergi.


Mayu menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Akhirnya setelah sekian minggu dia akan menginjakkan kakinya di kampusnya kembali. Walau kali ini suasananya akan sedikit berbeda karena dia tidak akan bisa bertemu Alga di kampus dan itu untuk 3 bulan ke depan. Mulai hari ini Alga dan kedua temannya resmi magang di perusahaan Pratama.


Sementara itu suasana yang sedikit berbeda terlihat di kediaman Pratama.


Alga dan keluarganya sedang sarapan bersama dan tidak banyak percakapan yang terjadi diantara mereka, dan itu karena si nyonya besar masih dalam suasana hati yang sedang kesal.


Dia masih belum bisa terima dengan keputusan Pratama, dan sayangnya terima atau tidak terima, dia harus menerimanya karena Pratama tidak akan berubah pikiran.


Alga meletakkan sendok makannya kemudian menghabiskan air minumnya. Alga juga tidak lupa mengambil tisu dan membersihkan bibirnya.

__ADS_1


Alga meletakkan bekas tisunya kemudian bangun dari duduknya.


"Pi dan semuanya, Alga duluan." pamit Alga.


"Alga tunggu!" ujar Pratama.


"Ada apa Pi?"


Pratama merogoh sakunya dan mengambil sesuatu dari dalamnya.


"Ini atm dan kartu kredit kamu, kamu boleh menggunakannya kembali." ujar Pratama mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak anaknya.


Alga tampak berbinar melihatnya sedangkan Dira makin cemberut saja. Untuk sementara ini Pratama membatasi kartu kreditnya dan hanya boleh digunakan untuk keperluan pernikahan Vivi saja. Dira sudah mulai mendapatkan balasan dari apa yang pernah dilakukannya pada Alga.


"Ini serius Pi?"


"Tentu saja serius. Papi tahu kamu membutuhkan itu semua."


"Terima kasih Pi." ujar Alga mengambil kartu kredit dan atmnya.


"Sama-sama. Satu lagi Alga, Papi tahu kamu sudah punya pacar, tapi bukan berarti semua waktu senggang kamu, kamu habiskan dengan pacar kamu itu. Waktu kamu itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin Alga, dan mulai minggu depan kamu ikut olahraga golf, berkuda dan yang lain sebagainya. Kamu itu calon peminpin, kamu harus bisa menguasai banyak hal." ujar Pratama.


"Iya Pi, Alga tahu. Rencana Alga juga begitu Pi dan Om David juga sudah beberapa kali mengingatkan Alga. Kalau begitu Alga pergi dulu ya Pi,"


"Iya kamu hati-hati dan soalnya yang kemarin kita bicarakan, jangan lupa!"


"Eits senyum-senyum saja itu wajah. Pasti habis dapat pesan romantis dari ayang tercinta ya." goda Rangga.


"No, tapi ini dia!" ujar Alga dan langsung memamerkan kartu kredit dan atmnya.


Tidak hanya Rangga yang terkejut tapi Yudha juga.


"Ini seriusan Al? Itu berarti lo jadi orang kaya lagi dong Al? Asik bisa dapat makan gratisan lagi ini. Uang tabungan gue jadi awet lagi." ujar Yudha antusias.


"Dasar lo, giliran dapat gratisan saja paling semangat lo."


"Itu manusiawi Al, iya kan Ngga?" ujar Yudha minta dukungan.


"Tepat sekali. Eh tapi gue penasaran deh, kenapa tiba-tiba kartu kredit dan atm lo dibalikin lagi Al? Apa ini ada hubungannya dengan Mayu?" tanya Rangga penasaran.


"Nanti gue akan jawab. Sebaiknya kita berangkat, kita bisa telat kalau ngobrol terus di sini."


"Ok Al!" ujar Rangga kemudian masuk mobil dan diikuti Alga dan Yudha.


Alga duduk di belakang, Rangga kebagian nyetir dan Yudha duduk di sebelahnya.


"Sekarang lo bisa cerita Al!" pinta Rangga begitu mobil mereka sudah masuk jalan raya.

__ADS_1


"Iya Rangga. Jadi begini gue sempat marah pada Mami setelah apa yang dilakukannya pada Maga Wear dan gue sengaja melakukannya di depan papi, biar papi tahu kelakuan tidak baik mami. Dan ya papi marah pada mami dan memberi hukuman pada mami." cerita Alga.


"Jadi lo benar-benar melakukan aksi protes pada nyonya Dira, Al? Apa lo tidak takut kalau dia semakin marah pada lo? Apa lagi dia sampai dihukum begitu, dia juga pasti akan semakin membenci Mayu." ujar Rangga.


"Enggak, saat ini gue enggak perduli lagi mau mami semarah apa pun pada gue, karena gue sudah capek melihat semua tingkahnya yang di luar batas. Kesabaran gue sudah habis pada Mami. Begitu juga dengan Mayu, mau mami sebenci apa pun padanya kami tidak perduli lagi, karena percuma juga Mayu bersikap baik padanya. Mami tidak akan perduli dengan semua itu dan dia tetap membenci Mayu. Saat ini gue dan Mayu mau fokus memantapkan diri saja. Apa lagi jalan Mayu untuk mendapatkan kesuksesan juga sudah mulai terbuka. Gue percaya jika Mayu sudah mendapatkan kesuksesannya. Pasti akan semakin banyak orang lagi yang mendukung hubungan kami, terutama dari keluarga gue." jelas Alga.


"Benar juga ya Al, Lo dan Mayu memang sebaiknya fokus untuk kesuksesan kalian saja, dan melihat dari kerja keras kalian berdua, gue yakin kalian pasti akan jadi pasangan yang sangat sukses." ujar Rangga lagi.


"Amin."


"Ah iya Al, berarti nyonya Dira akhirnya memberikan kartu kredit dan atm lo itu karena aksi protes lo itu?" tanya Yudha.


"Tidak, kartu kredit dan atm papi yang memberikannya tadi pagi. Selain itu Papi juga sepertinya sangat mendukung usaha kalian."


"Maksudnya mendukung kami gimana Al, lo kayaknya enggak nyambung deh. Apa hubungannya coba kartu kerdit lo yang dikembalikan dengan mendukung usaha kami?" protes Yudha dan Rangga juga menganggukkan kepalanya setuju dengan Yudha.


"Memang enggak nyambung tapi itulah adanya." ujar Alga tersenyum misterius.


"Apaan sih Al, lo enggak jelas banget sih." seru Yudha lagi.


"Terserah lo mau bilang gue enggak jelas, tapi begitu kabar ini gue sampaikan nanti, lo berdua pasti akan sangat berterima kasih pada gue." ujar Alga mantap.


"Apaan sih Al lo buat penasaran deh." ujar Rangga.


"Jangan penasaran terus, penasaran itu tidak baik buat kesehatan." ujar Alga lagi.


"Terserah lo Al terserah!" ujar Yudha memilh menyerah.


Alga hanya tersenyum saja, senang dia melihat temannya penasaran.


***


Sampai di kantor, mereka bertiga langsung menemui personalia. Padahal Alga sebenarnya tidak perlu lagi menemui personalia karena dia anak magang spesial.


Spesial bukan berarti Alga bisa bekerja seenaknya dan malas-malasan, justru kerjaan Alga jauh lebih banyak dari pada anak magang lainnya.


"Selamat bekerja Rangga, Yudha." ujar Alga begitu salah satu prsonalia membawa mereka pergi untuk ditempatkan di bagian masing-masing.


Rangga dan Yudha hanya menganggukkan kepalanya meski mereka kembali dibuat penasaran sama Alga. Apa Alga kerja dibagian personalia?


Sementara itu Alga langsung mengutarakan niatnya begitu kedua temannya pergi. Para prsonalia menyambut senang niatan baik bos mereka. Jarang-jarang bukan mereka dapat hadiah dari pemilik saham. Bahkan bisa dibilang ini untuk pertama kalinya, meski hadiahnya hanya pakaian dalam.


"Jadi usaha pakaian dalam itu, milik pacar kamu Alga? Berarti kamu enggak jomblo lagi dong. Gagal deh jadi calon menantu saya. Saya jadi penasaran secantik apa sih dia, apa lebih cantik dari anak saya?" ujar salah satu personalia.


"Bagi saya masalah cantik rupa itu hanya nomor sekian saja Pak, karena cantik rupa itu bisa dibeli dengan uang. Bagi saya yang terpenting adalah cantik hatinya dan kecantikan hati pacar saya, menurut saya paling best dan sampai sejauh ini bagi saya dialah yang terbaik." ujar Alga mantap.


"Wah wah ternyata anak bos kita bucin akut juga ya, tapi saya setuju dengan kamu Alga, kecantikan hati itu memang yang terpenting dan kalau kamu sudah mendapatnya jangan dilepas lagi Alga. Ibu ikut mendoakan semoga kalian langgeng sampai menikah, sampai punya anak dan sampai maut memisahkan." ujar personalia yang lain.

__ADS_1


"Amin." ujar Alga mantap.


__ADS_2