
Mayu tampak bernafas lega saat tidak menemukan orang yang mengikutinya masuk ke dalam rumah makan. Ini bagus, seenggaknya dia tidak akan mengetahui apa yang Mayu bicarakan dengan Alga.
"Kamu mau makan apa Ay?" tanya Alga sambil membaca buku menunya.
"Mau seafood tumpah saus padang Kak. Kita makan itu saja ya Kak!" ujar Mayu dan ada senyum di wajahnya.
"Baiklah kita makan itu. Terus minumnya apa?"
"Jeruk hangat saja Kak."
"Ok. Hanya itu saja kan?" tanya Alga sambil menulis pesanan mereka.
"Nasi putihnya Kak jangan lupa!" ujar Mayu mengingatkan.
Alga seketika menatap kekasihnya dan ada senyum di wajahnya.
"Dasar orang Indonesia, enggak pernah mau ketinggalan makan nasi."
"Ya habisnya kalau enggak makan nasih, pertahannya enggak akan lama Kak. Dari pada nanti tengah malam kebangun gara-gara kelaparan kan enggak lucu. Padahal habis makan enak loh." ujar Mayu. Mayu paling tidak bisa tidur kalau perutnya kelaparan.
"Iya Ay, aku mengerti. Sebentar ya!" ujar Alga sambil mengangkat tangannya memanggil pelayan.
Setelah selesai dengan pelayan, Alga menatap kekasihnya dan mereka sama-sama tersenyum manis.
"Ay!" panggil Alga.
"Kenapa Kak?"
"Kamu sangat cantik kalau tersenyum." ujar Alga.
"Ih Kak Alga, jangan puji Mayu dong, terbang ini Mayu." ujar Mayu tersenyum malu.
Senyum Alga semakin lebar melihat tingkah kekasihnya.
"Ay!" panggil Alga lagi.
"Kenapa Kak?"
"Sini tangannya!" ujar Alga sambil mengulurkan tangannya. Kebiasaan Alga selalu ingin menggenggam tangan Mayu setiap ada kesempatan.
Mayu menggelengkan cepat kepalanya.
"Kenapa?" tanya Alga.
"Malu Kak di lihat orang," ujar Mayu apa adanya.
"Enggk usah malu Ay, pengunjungnya juga sudah sepi ini. Ditambah lagi mereka juga fokus makan."
"Tetap saja Mayu malu Kak dan enggak enak juga. Apalagi kan Kak Alga sangat ganteng. Takutnya orang-orang pada berpikir, mentang-mentang cowoknya sangat ganteng dipegangin terus tangannya. Takut banget diambil orang, gitu Kak."
Senyum Alga mengembang.
"Ay, enggak usah lebay gitu deh hehe ...."
"Mayu enggak lebay Kak, Mayu berkata apa adanya." ujar Mayu dan ikut tersenyum.
"Iya Ay, terserah kamu saja."
"Hehe ...."
Mereka terus mengobrol sampai pesanan makanan mereka datang.
"Selamat makan Kak Alga!" ujar Mayu manis.
__ADS_1
"Iya Ay, selamat makan juga." ujar Alga dan kembali tersenyum. Ketahuan sekali sedang jatuh cintannya, bawaannya ingin tersenyum terus.
"Mmm rasanya enak ya Kak. Rasa bumbunya itu pas banget. Mayu sangat suka ini." ujar Mayu sambil makan dengan perlahan.
"Lumayan enak kalau kataku Ay. Rasanya tidak terlalu spesial sesuailah sama harganya."
"Kan ada harga ada kualitas Kak."
"Benar sekali."
"Ah iya Kak. Kak Alga tahu harga pasaran rumah di seputaran Jakarta enggak Kak?" tanya Mayu teringat dengan tujuannya.
Alga yang sedang makan udang seketika menatap kekasihnya. Alga mengusap sudut bibirnya dan mengunyah makanannya dengan cepat.
"Tumbenan kamu tanya harga rumah Ay, apa kamu mau beli rumah?"
"Recananya begitu Kak. Daddy yang nyuruh Mayu beli rumah Kak, dan dia juga sudah memberikan uangnya sebagian pada Mayu." ujar Mayu apa adanya.
"Wow, bagus dong kalau begitu. Berapa jumblah uang yang sudah dia berikan?" tanya Alga.
"Di tabungan Mayu totalnya ada sekitar 690 juta Kak. Ditambah lagi ada 2 perhiasan mahal yang dia berikan. Daddy juga minta supaya Kak Alga bantu Mayu jual perhiasannya. Takutnya kalau Mayu yang jual, Mayu bisa ditipu karena tidak mengerti." jelas Mayu.
"Sudah banyak Ay, daddy kamu ternyata gerak cepat juga, tapi kenapa dia memberikan perhiasan dan bukannya uang saja? Bukankan akan lebih mudah kalau dia memberikan uang saja?"
"Katanya perhiasan itu hadiah dari rekan kerjanya Kak. Aku juga tidak mengerti, hanya saja daddy memang harus serba berhati-hati, karena tidak ingin keluarganya, terutama istrinya tahu keberadaanku." jelas Mayu.
"Iya Ay aku mengerti. Dari cerita kamu, aku yakin daddy kamu itu pasti sangat menyayangi kamu. Hanya saja keadaan yang tidak memungkinkan untuk dia memberitahukan pada semuanya, kalau kamu itu adalah anaknya. Kemungkinan besar karena dia tidak ingin membuat skandal yang menyebabkan nama baik perusahaan jadi jelek dan kemungkinan lain pasti alasan keselamatan kamu juga. Kamu yang sabar ya Ay. Seenggaknya daddy kamu itu sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk kamu dan jangan sampai membencinya juga." jelas Alga.
"Iya Kak, aku tidak pernah membenci daddy. Apalagi setelah mendengar cerita daddy kalau ternyata aku bukan anak dari hasil perselingkuhan, tapi anak dari wanita yang sangat dicintai Daddy. Aku benar-benar bersyukur untuk itu Kak. Ternyata mendiang ibuku bukan perusak hubungan orang, justru hubungannya lah yang dirusak dan itu karena dia bukan orang kaya." ujar Mayu.
Alga mengangguk mengerti.
"Syukurlah kalau begitu Ay, aku juga ikut senang mendengarnya."
"Oh itu, aku juga tidak terlalu mengerti soal harga rumah Ay karena itu bukan bidangku, tapi aku punya teman yang orang tuanya usaha properti. Pemilik hotel tempat kamu menginap kemarin Ay. Nanti aku tanyakan dia saja."
"Sekalian minta harga diskon juga Kak!" ujar Mayu cepat dan ketagihan dapat harga diskon.
Alga tersenyum mendengarnya.
"Kamu ini Ay ada-ada saja. Beres kalau soal itu nanti aku akan memasang wajah semelas mungkin biar diberikan diskon yang banyak. Gimana menurut kamu?"
"Ide bagus itu Kak." ujar Mayu mantap. Mereka kemudian sama-sama tersenyum.
"Cie yang sebentar lagi punya rumah." goda Alga meniru apa yang sering Mayu lakukan.
"Belum Kak Alga, tapi doakan saja ya Kak, Mayu segera dapat rumah yang pas, harganya bersahabat dan prosesnya juga diperlancar."
"Amin."
***
"Ini Kak perhiasannya!" ujar Mayu memberikan perhiasannya pada Alga.
Alga menerima kedua perhiasannya dan melihatnya dengan teliti.
"Perhiasan BvLgari. Ini memang beneran mahal ini Ay. Nanti aku minta Rangga saja yang menjualnya enggak apa-apa kan Ay? Kamu tenang saja, Rangga itu orang kepercayaanku dan dia bisa menjaga rahasia. Aku bukannya tidak mau menjual ini, tapi kamu tahulah seperti apa Mami. Aku takut ada yang melapor padanya kalau aku menjual perhiasan. Takutnya Mami menuduhku mencuri perhiasannya." jelas Alga kemudian menyimpan perhiasannya dalam tasnya.
"Iya Kak, tidak masalah siapa pun yang menjualnya, yang terpenting rahasia kita tetap aman." ujar Mayu mantap.
"Iya Ay. Selamat ya Ay."
"Selamat untuk apa Kak?" bingung Mayu.
__ADS_1
"Selamat, kamu sudah jadi gadis kaya. Aku tidak menyangka kalau aku pacaran dengan gadis kaya." goda Alga.
"Apaan sih Kak, Mayu enggak kaya ya Kak. Kak Alga jangan berlebihan deh!" ujar Mayu malu.
"Aku hanya bercanda Sayang. Ya sudah ayo kita pulang. Kasihan nenek di rumah sendirian. Dia pasti khawatir menunggu kamu."
"Iya Kak." ujar Mayu.
Mereka melangkah bersama keluar dari rumah makan dan kali ini Alga melangkah sambil menggenggam tangan kekasihnya.
Kurang lebih 15 menit perjalanan motor sampai juga mereka di rumah kontrakan Mayu, dan sudah ada Rangga di sana yang sengaja ingin menjemput Alga.
"Padahal bertemu setiap hari, tapi kalau lagi pacaran masih saja suka lupa waktu." sindir Rangga.
"Sirik saja lo Mblo!" ujar Alga cuek, membuat Rangga memberikan tatapan kesalnya dan Mayu tersenyum tidak enak.
"Maaf ya Kak Rangga, ada hal penting yang harus kami bicarakan makanya pulangnya lama." ujar Mayu.
"Iya Mayu, tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf juga. Saya sangat mengerti. Saya juga pernah muda." ujar Rangga diakhiri dengan kata candaannya.
"Sok tua lo!" ujar Alga dan beralih pada kekasihnya.
"Kami langsung pulang saja ya Ay, dan sampaikan salamku pada nenek. Kamu langsung istirahat saja dan jangan bergadang. Ingat begadang itu tidak baik untuk kesehatan." ujar laki-laki berparas tampan itu.
"Iya Kak. Kak Alga hati-hati ya, kabari aku kalau kak Alga sudah sampai rumah."
"Ok Ay. Salim!" ujar Alga sambil mengulurkan tangannya.
Mayu menyambutnya dengan senang hati dan menci*m tangan kekasihnya. Alga membalasnya dengan mengecup kening Mayu.
"Hei, hargai orang jombo bisa enggak sih!" protes Rangga.
Mayu dan Alga sama-sama tersenyum.
"Kamu langsung masuk saja Sayang! Aku pulang."
"Iya Kak dah Kak, dah juga Kak Rangga, hati-hati!"
"Iya," kompak mereka.
Alga pergi meninggalkan kontrakan Mayu dengan senyum di wajahnya.
***
Prok prok prok
"Bagus benar-benar bagus, gara-gara pacaran jam setengah sebelas baru sampai di rumah. Hebat sekali kamu Alga!" sindir Dira begitu Alga masuk rumah.
Alga sampai menghentikan langkahnya dan menatap maminya.
"Tidak setiap hari ini Mi, jangan berlebihan deh. Lagian baru juga jam setengah sebelas. Alga ini anak cowok Mi, bukan anak gadis. Wajar-wajar saja kalau Alga pulang jam setengah sebelas. Lagian tidak ada yang salah juga dengan apa yang Alga lakukan. Kecuali tadi Alga pergi balap liar atau mabuk-mabukan di club, tidak masalah mami marah." protes Alga.
"Semakin berani melawan kamu ya, memang gadis tidak tahu diri itu benar-benar bawa pengaruh buruk bagi kamu." ujar Dira dan langsung menyalahkan Mayu.
"Mi, jangan salahkan Mayu terus, Mayu tidak salah apa-apa. Udah ah Alga mau ke kamar saja, capek Alga bicara sama Mami." ujar Alga dan kembali melangkahkan kaminya.
"Alga tunggu, Mami mau bicara penting!"
"Bicara apa lagi Mi?"
"Hari sabtu nanti kita akan merayakan ulang tahun Vivi sekalian ada pertemuan keluarga besar juga. Jangan sampai kamu tidak datang dan kamu datangnya sendiri saja, jangan bawa gadis gembel itu! Mami tidak sudi melihat wajahnya lagi." ujar Dira.
Alga menarik nafas pelan.
__ADS_1
"Baiklah, terserah Mami saja." ujar Alga dan kembali melangkahkan kakinya.