Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Ingin Bantu tapi Lagi Buntu


__ADS_3

"Ya cemburulah." ujar Alga cepat.


Mayu tersenyum lebar.


"Sayangnya Mayu enggak cemburu tuh." ujar Mayu apa adanya.


"Berarti kamu enggak cinta dong Ay?" protes Alga. Alga enggak suka Mayu tidak cemburu, maunya Alga, Mayu itu cemburu karena cemburu itu tanda sayang.


"Bukan enggak cinta Kak Alga, tapi Mayu sangat percaya pada Kak Alga. Naura yang jelas-jelas cantik serta anak konglomerat saja, Kak Alga tidak tergoda, begitu juga dengan Kak Lia yang berprestasi juga kaya, serta pengagum Kak Alga yang lainnya. Bukan maksud Mayu menganggap rendah para pembeli Mayu, tapi Mayu sangat yakin kalau Kak Alga juga tidak akan tergoda pada mereka. Mayu benar kan kak Alga?" jelas Mayu.


Senyum seketika terbit di wajah Alga.


"Kamu benar sekali Ay, dan kamu harus selalu percaya padaku Ay, kalau hanya kamu pemilik hati ini. Aku pribadi, 1 ya satu karena hatiku juga hanya satu, dan itu kamulah pemiliknya." ujar Alga mantap.


"So sweet, Tuan Muda bisa saja." ujar Mayu tersenyum malu. Hati Mayu berbunga-bunga mendengarnya.


Alga ikut tersenyum dan mengacak gemas rambut Mayu.


"Ay!" panggil Alga lagi.


"Kenapa Kak?" tanya Mayu sambil memasukkan barang yang sudah dirapikan ke dalam karung.


"Itu jualannya kenapa dimasukin karung? Ini Baru jam 5 loh." ujar Alga.


"Mayu mau pindah jualan ke depan Kak, ke jalan utama. Kalau di situ akan ramai samai jam 9 malam. Di sini juga mau ngapain lagi, yang beli juga enggak akan ada lagi. Karyawan yang lewat juga sudah jarang." jelas Mayu.


"Benar juga, apa tempatnya jauh dari sini?"


"Enggak Kak, paling 400 meter saja. Ah iya, Kak Alga belum mau pulang? Ini Mayu bukan mau mengusir Kak. Takut Kak Alga dimarahi karena pulang telat." ujar Mayu. Mayu jelas tidak mau karena dia, Alga dapat masalah lagi.


Alga tersenyum mendengarnya.


"Ay aku bukan anak tk atau anak SD yang harus pulang cepat. Aku ini anak kuliahan semester 5. Aku mau pulang tengah malam juga tidak akan ada yang melarang atau memarahi. Yang terpenting itu, aku tidak membuat ulah yang bisa membuat malu nama keluarga itu saja. Jadi kamu enggak perlu khawatir kalau soal itu." jelas Alga.


"Iya Kak, Mayu hanya enggak mau Kak Alga dimarahi itu saja."


"Kenapa kamu tidak mau aku dimarahi, kamu khawatir ya?"


"Ya iya lah." jawab Mayu tanpa ragu.


Alga tersenyum dan mencubit gemas pipi Mayu.


"Aku tidak akan dimarahi Ay. Mami itu mana berani memarahiku, apalagi memukulku. Kalau papi jangan ditanya. Dia itu sangat cuek, bagi dia yang terpenting nilaiku tetap bagus dan aku tidak buat onar itu saja."

__ADS_1


"Enak ya jadi anak orang kaya kerjaan hanya belajar saja dan tidak perlu memikirkan ini dan itu, tidak seperti Mayu yang harus kerja banting tulang sampai malam. Walau begitu Mayu tidak sedih kok, justru Mayu sangat bersyukur atas pencapaian saat ini dan Mayu akan terus bersemangat karena Mayu sangat percaya, tidak ada yang namanya usaha menghianati hasil. Mayu yakin banget suatu saat nanti, Mayu akan memetik hasil dari kerja keras Mayu saat ini." ujar Mayu.


Alga kambali tersenyum mendengarnya.


"Amin. Dan ini lah yang membuatku kagum pada kamu Ay. Aku suka semangat kamu dan perjuangan kamu. Harus tetap semangat ya Ay, aku pasti akan selalu mendukung kamu!"


"Ok Tuan Muda." ujar Mayu tersenyum dan sambil hormat.


Alga juga kembali tersenyum dan mengacak gemas rambut Mayu.


***


"Kenapa berhenti Ay, apa tempatnya sudah sampai?" tanya Alga begitu mereka sampai di suatu tempat yang cukup ramai dan mirip dengan pasar. Hanya saja penjualnya sepanjang jalan saja dan jualannya itu kebanyakan baju, celana, makanan dan sejenisnya. Ada juga beberapa yang jual buah tapi untuk sayuran tidak ada sama sekali.


"Belum Kak, sedikit lagi. Tempat Mayu biasa dagang di samping indomaret. Hanya saja Mayu melihat itu Kak." ujar Mayu menunjuk ruko yang ditutup di seberang jalan.


Alga mengikuti arah pandang Mayu.


"Kenapa dengan Ruko itu Ay?" bingung Alga. Rukonya tutup dan menurut Alga tidak ada yang menarik dari ruko itu.


"Itu Kak, Kak Alga baca deh kertas putih yang tertempel di ruko itu."


"Dikontrakkan." ujar Alga.


"Sebentar Kak," ujar Mayu lagi dan langsung berlari ke arah ruko itu.


Alga hanya diam saja dan memperhatikan Mayu dari tempatnya. Alga bisa Mayu yang memgambil ponselnya dan menelepon seseorang. Alga yakin orang yang dihubungi Mayu pasti pemilik ruko itu.


Wajah antusias Mayu berubah jadi sedih tapi beberapa menit kemudian setelah Mayu berbicara beberapa kalimat kalimat dia tampak senang kembali.


Alga jadi penasaran, apa kira-kira yang Mayu bicarakan di telelon.


Mayu mematikan sambungan teleponnya dan kembali berlari menghampiri Alga.


Mayu tersenyum pada Alga membuat Alga semakin penasaran.


Mayu kembali menjalankan motornya dan membawanya ke arah ruko kusong itu.


"Kita kenapa ke sini Ay, kata kamu tempatnya bukan di sini. Apa kamu mau kontrak ruko ini?" tanya Alga.


Mayu menggelengkan kepalanya.


"Enggak Kak, tapi Mayu sudah minta ijin selama belum ada pengontrak baru, Mayu mau numpang jualan di depan ruko ini, dan pemiliknya sudah memberi izin. Pemiliknya baik deh Kak." ujar Mayu sambil menurunkan barangnya dari atas motor dan disusul oleh Alga.

__ADS_1


Alga menatap Mayu.


"Kenapa tidak kamu kontrak saja? Aku lihat ini tempatnya juga lumayan strategis, dan kiri kanan kamu juga tidak ada yang jual pakaian dalam. Hanya baju tidur saja, itu juga di seberang. Enggak masalah lah itu. Itu yang jual baju banyak yang saling berdekatan." ujar Alga.


Mayu menghembuskan nafas cepat.


"Masalah jualannya memang tidak ada yang masalah Kak. Hanya saja yang jadi masalahnya, uang Mayu tidak cukup kalau mau kontrak tempat ini Kak." ujar Mayu diakhiri dengan suara pelannya dan kembali menatap ruko kosongnya.


Andai saja dia punya uang lebih, Mayu tidak akan ada keraguan sewa tempat ini. Mayu suka tempat jualannya dan dari kemarin dia ingin sekali punya tempat jualan di area itu. Sayangnya saat tempatnya sudah ada tapi uangnya belum ada.


Alga kembali menatap Mayu. Andai saja di tidak sedang dihukum, Alga tidak akan ragu menyewakan tempat ini untuk Mayu. Namun yang jadi masalahnya dia juga sedang sangat pusing. Sebentar lagi ulang tahun maminya dan Alga belum membeli kado dan itu juga karena Alga belum memiliki uang.


Alga sempat memiliki keinginan menjual salah satu jam tangan mahalnya, tapi kalau Dira mengetahuinya, Alga yakin masalahnya akan semakin banyak, dan sudah pasti Mayu yang akan diserang maminya. Apalagi kalau ketahuan uangnya dipakai untuk sewa tempat jualan Mayu. Alga tidak bisa membayangkan bagaimana Dira ngamuknya pada Mayu.


"Maaf ya Ay, untuk saat ini aku tidak bisa bantu walau sebenarnya aku ingin." ujar Alga pelan.


"Tidak apa-apa Kak, Mayu sangat mengerti, santai saja. Mayu tidak apa-apa walau belum bisa sewa tempat ini. Mayu masih sabar, dan Mayu yakin satu saat nanti, Mayu akan dapat tempat jualan di area sini." ujar Mayu mantap.


"Amin. Aku ikut mendokan Ay, tapi kenapa kamu tidak coba sewa bulanan saja, kalau bulanan kan tidak terlalu mahal?" usul Alga.


"Sebenarnya Mayu juga tadi inginnya begitu Kak, hanya saja pemiliknya tidak mau bulanan, dia maunya sewa tahunan. Soalnya dia sudah beli ruko baru dan uangnya masih kurang." jawab Mayu.


"Berapa memangnya sewa setahun?"


"25 juta Kak."


Alis Alga terangkat.


"Seriusan itu, apa ini tempatnya ke dalamnya luas?" tanya Alga tidak menyangka sewa rukonya semahal itu. Padahal dilihat dari depan rukonya kecil saja.


"Tidak juga Kak. Luasnya sama dengan yang sebelah 3×3 meter. Pasaran sewa ruko di sini memang segitu Kak dan itu udah termasuk murah. Ini kan pinggir jalan utama Kak dan tempatnya juga sudah seperti pasar."


"Benar juga ya."


"Iya, Kak. Sebenarnya kalau pun Mayu mau sewa tempat ini, masih terlalu berat juga Kak. Karena barang dagangan Mayu juga harus ditambah dan itu modalnya tidak sedikit. Kalau hanya sedikit ya bisa rugi karena untuk bayar sewa tempat saja paling tidak harus dapat keuntungan 100 per hari. Eh ini kok kita malah ngobrol sih. Dagangannya juga belum diambil semua lagi. Kak Alga tunggu sebentar ya, Mayu mau ambil si dagangan dulu." ujar Mayu.


"Iya, kamu hati-hati!"


"Iya Kak."


Alga menatap Mayu yang perlahan semakin jauh meninggalkannya. Dia benar-benar tidak tega pada pujaan hatinya itu dan Alga ingin sekali membantunya.


'Apa aku cari kerja sampingan saja?' batinnya.

__ADS_1


Alga menggelengkan cepat kepalanya, jelas itu akan lebih berbahaya kalau sampai maminya tahu. Bisa-bisa orang yang mau memperkerjakan Alga terkena amukan maminya juga.


__ADS_2