Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Permintaan Maaf Dira dan Sindi


__ADS_3

"Nah gitu dong Mi, makan. Jangan malah menyiksa diri di dalam kamar. Nanti kalau Mami sakit, mami juga kan yang repot. Mami kan paling enggak suka minum obat." ujar Vivi begitu dia ikut gabung di meja makan bersama Alga dan Mayu.


"Iya Vivi iya dan kamu juga enggak usah ceramah terus. Pusing Mami mendengar omongan kamu." ujar Dira membuat Vivi tersenyum.


"Ya maaf Mami, Vivi diam deh." ujarnya dan beralih pada Alga dan Mayu.


"Apa yang kalian katakan sama Mami, hingga dia mau makan?" tanya Vivi penasaran.


"Kami enggak mengatakan apa-apa Mbak, kami hanya saling minta maaf saja." ujar Alga apa adanya.


"Serius Mami mau minta maaf?" tanta Vivi hampir tidak percaya.


"Iya serius Mbak." jawab Alga mantap.


"Bagus dong. Berarti kalian sudah dapat restu dong?" tanya Vivi antusias.


"Iya Mbak sudah." kompak Alga dan Mayu membuat Vivi tersenyum lebar.


"Nah gitu dong Mi, ini baru maminya Vivi dan Alga. Lagian Mami ini ada-ada saja. Udah ada calon menantu yang baik kok masih saja suka cari yang lain. Hari gini Mi susah cari orang baik, dan pada dasarnya orang yang baik akan dipertemukan dengan orang baik juga, kecuali orang baik yang memang sedang mendapat sial." ujar Vivi lagi.


"Iya Vivi, kamu ini dari tadi cerama saja kerjanya. Kuping Mami sampai panas gara-gara kamu." ujar Dira menatap kesal anaknya.


"Kuping Mami sampai panas itu karena banyak yang membicarakan Mami dan bukan karena Vivi ya. Ah iya Mi, kata Tante Ratu, dia dan yang lainnya mau ke sini, mau melihat maminya katanya. Mereka turut prihatin atas apa yang menimpa Mami." ucap Vivi.


"Enggak usah." jawab Dira dan beralih mengambil minumnya kemudian meminumnya dengan perlahan.


"Maksudnya enggak usah kenapa Mi?" tanya Vini


"Mereka enggak usah datang ke sini. Mami lagi enggak ingin bertemu dengan banyak orang. Mami juga enggak ingin kemana-mana, Mami malu Vivi." jujur Dira membuat Alga yang duduk di samping maminya menatap pada Dira dan mengusap pada punggung Dira.


"Ah Iya Mami enggak apa-apa, Vivi mengerti. Sabar ya Mi, Vivi yakin ujaran kebencian itu juga pasti akan menghilang kok dengan sendirinya, dan doakan saja semoga secepatnya ada artis viral atau gosip viral, dengan begitu berita tentang mami dan Rahel pasti akan langsung menghilang." ujar Vivi lagi dan Alga juga menganggukkan kepalanya.


"Iya berita tentang Mami akan menghilang, tapi selamanya Mami akan dicap sebagai ibu yang jahat serta calon mertua yang jahat."


"Tidak akan selamanya itu Mi, apalagi kalau Mami berusaha memperbaiki pebuatan tidak baik Mami pada Alga dan Mayu. Orang Indonesia itu pada umumnya selain gampang marah dan gampang terpengaruh tapi mereka juga pemaaf loh Mi. Apalagi maafnya Mami itu disertai dengan rasa penyesalan. Sama halnya dengan Vivi dan Alga. Kami berdua juga dengan mudahnya memaafkan Mami asal Mami tidak lagi berbuat hal yang sama. Begitu juga dengan Mayu, dia juga pastinya mau memaafkan mami, tapi kalau boleh untuk kedepanya jangan lagi berbuat yang aneh-aneh! Apalagi yang menyangkut soal asmara kami, selama kami masih di jalan yang benar, Mimi sebaiknya jangan ikut campur kecuali kalau diantara kami sudah mulai ada yang belok seperti selingkuh misalnya, nah itu baru Mami boleh beraksi. Kita si sini sudah sama-sama dewasa Mi, tentu kita tahu apa yang terbaik untuk diri kita masing-masing." jelas Vivi.

__ADS_1


"Alga setuju dengan mbak Vivi, Mi. Asal Mami minta maaf dengan tulus dan mau berusaha jadi lebih baik lagi, Alga yakin baik Alga atau Mayu dan semua pasti akan melupakan perbuatan tidak baik Mami. Apa lagi setelah ini, Mami menujukkan sikap baik Mami pada Alga dan Mayu, atau Mami mau melakukan aksi berbagi misalnya, pasti citra baik Mami akan kembali lagi, karena pada dasarnya kita manusia ini tempatnya salah." tambah Alga.


"Iya Alga, Vivi terima kasih ya kalian selalu ada untuk Mami disaat susah dan senang Mami dan tidak pernah meninggalkan Mami. Mami memang sangat beruntung memiliki anak sebaik kalian." ujar Dira tulus.


"Dan kami juga sangat beruntung memilki orang tua sekaya Mami." ujar Vivi tidak kalah jujurnya dan langsung mendapat tatapan protes dari Dira. Alga dan Mayu juga saling menatap dan sama-sama tersenyum. Sejak Vivi menikah, dia memang semakin berani pada maminya tapi bukan berarti dia bersikap kurang a*ar pada maminya.


***


Sejak mendapat banyak komentar negatif, banyak yang berubah dalam diri Dira. Dia jadi tidak mau lagi main ponsel, karena dia ada rasa trauma melihat komentar-komentar pedas itu. Belum lagi keluarga dan teman-temanya juga hanya masalah itu saja yang mereka tanyakan. Dira sampi kesal sediri karena dia merasa malu. Untuk itu Dira memutuskan berhenti main ponsel untuk sementara.


Dira juga tidak mau pergi shooping atau sejenisnya, dia benar-benar menghabiskan hari-harinya di rumah saja. Untungnya dia memiliki rumah yang besar dan semua serba ada jadi kalau pun di rumah saja dia tidak akan tersiksa. Selain itu Sindi juga setiap hari menemaninya. Terkadang mereka belajar masak bersama, kadang olahraga dan kadang hanya sekedar nonton drama Korea atau series Indonesia.


Alga, Mayu dan Naura serta Vivi dan suaminya juga hampir setiap malam datang. Kadang mereka melakukan barbeque kadang hanya sekedar ngobrol dan kadang karokean juga. Mereka benar-benar terlihat semakin kompak antara satu dan yang lainnya. Apa lagi sikap Dira dan Sindi memang beneran baik pada Mayu dan mau menerima Mayu sebagai anggota baru dalam keluarga mereka.


Melihat perubuhan sikap Dira tentu tidak hanya Alga saja yang merasa senang, tapi Pratama juga tidak kalah senangnya. Apalagi Dira semakin perhatian padanya, tentu sebagai seorang suami, itulah yang diharapkanya karena bagaimana pun rasa sayang dan cintanya pada Dira itu tetap ada. Dia juga pastinya berharap mereka bersama selamanya hingga ajal menjemput. Walau dia pernah selingkuh dari Dira, tapi percayala itu karena na*sunya saja. Namanya laki-laki, paling lemah kalau sudah menyangkut selang*angan.


"Loh Tante, ada apa malam-malam datang ke sini?" tanya Mayu yang tampak terkejut begitu melihat kedatangan Dira dan Sindi di rumahnya.


"Kamu hanya ingin bertemu dengan nenek kamu Mayu, ada yang mau kami sampaikaan padanya. Dia belum tidur kan?" tanya Sindi.


"Baguslah kalau begitu. Sampaikan padanya Mayu kalau kami ingin bicara." ujar Dira.


"Iya Tante. Ayo salahkan masuk Tante. Maaf rumanya berantakan." ujar Mayu mempersilahkan tamunya.


"Tidak apa-apa kami mengerti." kompak Sindi dan Dira kemudian melangkah bersama masuk rumah Mayu.


"Nek ada, tante Dira dan tante Sindi mau bertemu Nek." ujar Mayu sambil mendorong pintu kamarnya.


"Ah iya Nak," ujar Nenek Iroh dan kembali bangun dari kasurnya. Dia penasaran ada apa Sindi dan Dira datang ke rumahnya? Nenek Iroh sudah tahu soal perubahan sikap mereka pada Mayu, tentu dia juga merasa senang untuk itu dan tidak adalagi amarah di hatinya pada Sindi dan Dira.


"Silahkan duduk Tante," ujar Mayu lagi mempersilahkan Dira dan Sindi.


"Iya Mayu," ujar Sindi dan sambil memperhatikan isi rumah Mayu. Hampir setengah rumah Mayu di isi dengan barang dagangan. Rumah Mayu jadi terlihat sempit padahal aslinya tidaklah sekecil itu.


"Tante mau minum apa?" tanya Mayu lagi.

__ADS_1


"Air putih hangat saja Mayu. Ah iya Mayu, ini kami ada bawakan makanan untuk kamu dan nenek kamu." ujar Dira lagi sambil menyerahkan kantong plastik yang dibawanya.


"Mayu terima ya Tante, terima kasih Tante."


"Sama-sama Mayu," ujar Dira lagi.


Dira dan Sindi sama-sama bangun dari duduknya begitu melihat nenek Iroh.


"Ibu," kompak mereka sambil menundukkan sedikit kepalanya.


"Iya. Silahkan duduk!" ujar nenek Iroh.


"Iya Ibu," kompak mereka dan kembali duduk.


Nenek Iroh juga ikut duduk di depan mereka.


"Ada apa kalian malam-malam datang ke sini?" tanya nenek Iroh.


"Begini Ibu, kami ingin minta maaf atas apa yang pernah kami lakukan pada mendiang Marisa anak ibu. Kami menyesal Ibu dan kami janji akan berusaha lebih baik lagi ke depannya." ujar Dira.


"Iya Ibu, kami memang sangat egois waktu itu dan kami salah. Kami benar-benar minta maaf Ibu." tambah Sindi.


"Iya Nak, saya sudah memaafkan kalian jauh sebelum kalian minta maaf. Lagian Marisa juga sudah tenang di alamnya dan Ibu juga enggak ingin mengingat masa-masa menyedihkan itu lagi." ujar nenek Iroh bijak.


"Terima kasih Ibu sudah mau memaafkan kami. Ah iya sebagai permintaan maaf kami, kami ingin mengajak Ibu dan Mayu liburan, apa ibu bersedia?" tanya Dira.


"Tanyakan Mayu saja Nak, Ibu ngikut Mayu saja." ujar nenek Iroh lagi.


"Iya Ibu, kami akan menanyakannya pada Mayu. Satu lagi yang mau kami sampaikan Ibu, silahkan Sin!" ujar Dira lagi beralih pada Sindi.


Sindi mengangguk.


"Begini Ibu, ini soal Mayu, izinkan saya menjadikannya sebagai anak angkat ibu. Saya janji akan menyanyangi selayaknya anak kandung saya sendiri seperti Naura. Saya juga sudah membicarakan ini dengan David dan David juga sudah menyetujuinya. Terdengar aneh memang mengingat David adalah anak kandungnya David, tapi ini demi kebaikan Mayu dan David karena soal status mereka yang sebenarnya tidak mungkin diungkapkan di hadapan publik." jelas Sindi.


Nenek Iroh tidak langsung menjawab, dia menoleh pada Mayu. Mayu yang hendak metakkan minum untuk Sindi dan Dira juga terdiam.

__ADS_1


__ADS_2