Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Sama-sama Mencari Tahu


__ADS_3

Alga melangkah perlahan ke arah David.


"Om," ujar Alga kemudian mengulurkan tangannya.


David menoleh dan menyambut uluran tangan Alga.


Baik Alga atau David sama-sama berusaha bersikap sebiasa mungkin.


Alga menatap wajah David lebih teliti lagi. Tanpa sadar Alga kembali menelan ludahnya. Kenapa dia baru menyadari ini, jika diperhatikan lebih dalam lagi antara David dan Mayu memiliki kemiripan yang cukup banyak. Terutama di bagian dagu belah, hidung yang mancung, alis dan yang sama persis itu adalah warna kulit mereka.


Bahkan Naura saja yang jelas-jelas anaknya tidak semirip itu dengan David. Naura lebih mirip dengan mommynya.


Alga tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Dia tidak seharusnya terlalu cepat mengambil keputusan. Sekali pun 3 kebetulan itu sangat mencurigakan belum tentu juga kalau Mayu adalah anaknya David.


Bagaimana kalau dia salah?


Seandainya saja, Alga memiliki uang yang banyak, dia pasti akan melakukan tes DNA, biar semuanya jelas dan dia tidak penasaran terus.


"Bagaimana kabar kamu Alga." ujar David memulai obrolan mereka.


Alga tampak terkejut dan refleks menatap David.


"Saya baik Om, Om sendiri bagaimana kabarnya?" ujar Alga balas bertanya.


"Seperti yang kamu lihat, om juga sangat baik. Kapan rencana kamu mulai masuk kantor? Sudah saatnya kamu belajar dengan serius, masih banyak sekali yang harus kamu pelajari, dan akan lebih mudah kalau Kamu praktek secara langsung."


"Nanti saja Om setelah selesai ujian semester bulan depan. Alga sekalian mau lanjut magang dan persiapan skripsi." jawab Alga.


"Baguslah, terus S2nya mau lanjut dimana?"


"Sebelumnya ingin lanjut di London Om, tapi sekarang Alga jadi bingung." ujar Alga apa adanya.


"Apa itu karena pacar kamu?" tanya David lagi.


"Ya begitulah Om. Menurut om, jika disuruh milih antara karir atau cinta, Om pilih yang mana?"


David seketika terdiam. Dia juga pernah di posisi itu hanya saja kasusnya sedikit berbeda, dan David sangat menyesal sudah membuat keputusan yang salah.


"Om akan pilih cinta, tapi mengingat usia kamu yang masih sangat muda, tidak ada salah kalau kamu mengejar karir kamu terlebih dulu. Yang namanya jodoh itu tak akan kemana, yang penting antara kamu dan pacar kamu itu, saling setia, saling jujur dan saling percaya. Satu lagi yang terpenting, jangan lakukan sesuatu yang bisa merusak masa depan pacar kamu. Apalagi kalau sampai membuatnya hamil, sebelum kalian sah jadi suami istri. Sebisa mungkin jangan pernah lakukan itu." ujar David dan tersirat pesan khusus dari apa yang diucapkannya.


Alga kembali menatap David. Apa yang dikatakan David, memang benar adanya tapi Alga jadi berpikir jauh karena itu.


'Apa jangan-jangan om David pernah menghamili pacarnya dan itu adalah mamanya Mayu? Tapi kalau dilihat dari tanggal lahirnya Mayu dan Naura, perbedaan umur mereka hanya hitungan bulan saja. Tidak mungkin kan om David menghamili dua wanita sekaligus dalam waktu yang berdekatan? Terlebih lagi om David dan tante Sindi menikahnya bukan karena dijodohkan, tapi mereka memang sempat berpacaran. Itu berarti bukan dia dong yang menghamili mamanya Mayu.' batin Alga. Alga jadi semakin bingung.

__ADS_1


"Alga!" panggil Davin menyadarkan lamunan Alga.


"Eh, iya Om?"


"Kamu kenapa bengong? Jangan bilang kamu sudah melakukan sesuatu yang di luar batas dengan pacar kamu?" tanya David lagi. Dia ingin tahau sudah sejauh mana hubungan antara Alga dan Mayu.


"Tentu saja enggak Om, Alga bukan laki-laki seperti itu, terutama bagi perempuan yang Alga sayang. Tugas Alga itu menjaganya bukan merusaknya." ujar Alga mantap.


David tampak lega mendengarnya.


"Bagus Alga, itu baru namanya laki-laki sejati, pertahankan!" ujar David mengacungkan jempolnya.


"Terima kasih Om."


"Iya Sama-sama. Ngomong-ngomong kemana pacar kamu, kenapa kamu tidak mengajaknya?" tanya David lagi membuat Alga lagi-lagi menatapnya.


Ini tumbenan sekali bukan? Satu-satunya orang yang menanyakan soal pacarnya hanya David. Padahal selama ini, David mana pernah perduli sedikit pun soal pacarnya atau pacar kakaknya.


Jika sudah begini yang ada Alga jadi curiga kembali.


"Sebenarnya saya ingin mengajaknya Om, tapi om tahulah bagaimana mami. Dia itu paling benci sama orang miskin om. Jadi dari pada kedatangannya juga hanya akan jadi bahan ejekan mami dan yang lainnya, lebih baik dia tidak diajak saja. Dia juga bisa fokus jualannya. Apa lagi kalau malam minggu, dagangan dia itu biasanya laris om." jelas Alga.


David mengangguk mengerti.


"Baguslah. Kalau begitu, Om gabung dengan yang lainnya dulu, kamu bisa lanjutkan tugas kamu." ujar David.


"Iya Om," ujar Alga. Alga masih menatap David sampai David bergabung dengan omnya. Alga kembali menarik nafas pelan.


Dari pembicaraan mereka, kecurigaan Alga hanya sekedar beberapa persen saja. Raut wajah David juga terlihat biasa saja dan sulit bagi Alga untuk mengartikannya.


'Masih banyak hari untuk aku bisa menyelidikinya, dan dengan perlahan tanpa ada yang tahu.' batin Alga membuat keputusan.


Sementara itu di tempat yang berbeda dan diwaktu yang sama, tampak Mayu sedang menikmati makanan yang dikirim Alga.


Makanannya sangat enak-enak, dan semuanya makanan ala restoran. Ada spageti carbonara, baked salmon, pesto chicken baked dan tumis brokoli udang. Mayu benar-benar suka semuanya sampai-sampai tanpa sadar Mayu tersenyum tidak jelasnya. Pacarnya itu memang paling bisa memuat Mayu senang dan membuat malam minggu Mayu tetap berwarna meski tidak ada Alga di sampingnya.


"May jangan senyum-senyum sendiri May, itu makan tidak akan berubah jadi Alga walau kamu terus tersenyum seperti orang gila." ujar Irma sambil memasukan uang hasil penjuannya ke dalam tas pinggangnya.


Mayu menoleh dan kembali tersenyum lebar.


"Si Teteh bisa saja. Ah iya teh mumpung enggak ada yang beli, sini makan sama Mayu. Ambil saja itu kursinya!" ujar Mayu.


"Ok May," ujar Irma dan menarik kursinya ke samping Mayu.

__ADS_1


"Ini sendoknya Teh!" ujar Mayu lagi sambil memberikan sendok.


"Iya May, terima kasih."


"Sama-sama Teh."


"Teteh makan salmonnya ya May, boleh kan?"


"Silahkan saja Teh, mau makan yang mana saja terserah, jangan sungkan-sungkan. Bebas saja sama Mayu." ujar Mayu sambil makan spageti.


"Ok May. Makanannya benar-benar menggugah selera ya May. Jangan-jangan pacar kamu itu punya usaha restoran ya May?" ujar Irma sambil makan.


Mayu tersenyum.


"Bukan teh, salah satu usaha orangtuanya itu jualan minyak goreng." ujar Mayu yang tidak ingin mengatakan siapa Alga sebenarnya.


"Oh orang tuanya juga pedagang? tapi tampangnya enggak kayak anak pedagang ya May? Tampangnya itu seperti anak pengusaha. Dia tidak hanya ganteng tapi penampilanya itu juga ada wibawanya. Pintar kamu cari pacar May. Jangan sampai dilepas, May." ujar Irma dan ikut makan spageti yang dipegang Mayu.


Mayu tersenyum lebar mendengarnya.


"Si Teteh bisa saja. Berarti menurut Teteh, Mayu cocok tidak sama dia?"


"Ya sangat cocok lah May. Selain kalian sama-sama mahasiswa UI, kalian juga tampan dan cantik. Kamu itu sangat cantik lo May, wajah kamu itu ada indonya. Hidung kamu juga mancung, mata kamu besar dan alisnya juga lentik. Kalau kamu mau, kamu bisa loh jadi artis atau selebgram." ujar Irma.


"Ini Teteh muji Mayu biar bukan karena ingin naik gaji kan?" goda Mayu.


"Ya enggak lah May, Teteh bukan penjilat. Teteh serius dengan apa yang teteh katakan May. Kamu pasti enggak tahu kan kalau para penjual sekitar sini itu banyak loh yang suka sama kamu. Sayangnya pawang kamu itu juga tampangnya enggak ada lawan, jadi ya mereka nyerah duluan sebelum bertarung."


"Haha .... Teteh ini paling bisa deh, tapi beneran kok Teh, Kak Alga itu memang terkenal pangeran kampus. Banyak sekali yang suka padanya, tapi entah kenapa pilihannya jatuh pada Mayu."


"Ya sudah pasti karena kamu cantik May, dan cantiknya kamu itu alami loh. Yang Kedua sudah pasti karena kamu baik, apa adanya, enggak neko-neko, pekerja keras, sholatnya juga rajin. Bisa masak dan sayang keluarga. Kamu itu tidak hanya cocok dijadikan pacar May, tapi cocok dijadikan calon istri juga. Tentu Alga bisa melihat semua itu, makanya dia itu bucin banget sama kamu. Teteh saja sangat salut loh sana kamu, dan enggak ada alasan bagi Teteh enggak suka sama kamu. Ini Teteh beneran serius loh May." ujar Irma.


"Ah si Teteh, bisaan bangat deh memuji Mayu. Terbang ini Mayu." ujar Mayu lebay membuat Irma juga tersenyum lebar.


Senang Mayu punya karyawan seperti Irma, da walau setatusnya hanya karyawan tapi bagi Mayu Irma sudah seperti tetehnya sendiri.


"Eh sebentar Teh, ada pesan. Teteh lanjut makan lagi saja, ini sepagetinya masih banyak ini Teh." ujar Mayu memberikan wadah sepagertinya pada Irma.


"Iya May," ujar Irma.


Mayu beralih mengambil ponselnya kemudian membuka isi pesan.


Mata Mayu seketika membesar melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2