
"Lisa, kita pulang yuk Cantik!" ujar Mayu sambil mengulurkan tangannya.
"Dedek!" seru Lisa menunjuk ke arah bayi yang baru lahir itu.
"Ya dedeknya di sini. Besok Lisa bisa ke sini lagi sama grandma melihat dedeknya." ujar Mayu lagi dan disambut dengan gelengan cepat Lisa.
"Nono Bubun, Lica au dedek. Dedek bawa puyang lumah Lica." ujar Lisa dan memegang erat boks bayi itu.
"Enggak bisa dong Sayang, dedeknya kan dedek Kakak Rio. Kakak Rio bisa marah kalau dedeknya diambil. Mau lisa dimarah kakak Rio?"
"Iya Lisa, ini dedek Kakak Rio. Lisa enggak boleh bawa pulang. Nanti dedek nangis." ujar Rio.
"Nono angis. Dedek bobok. Lica au dedek, Lica nono unya dedek." ujar Lisa bersikukuh dan semakin kuat memegang boks bayinya.
"Adiknya lisa kan ada Lina, Cantik. Nanti adik Linanya sedih loh enggak diajak main." ujar Alga berusaha membujuk anaknya.
"Nono Yayah, dedek Lina udah becal, nono dedek bayi. Lica au dedek bayi." ujar Lisa enggak mempan sama sekali dengan bujukan ayahnya.
"Kode itu Al, Mayu. Lagian Lisa bentar lagi 3 tahun loh, sudah bisa punya adik itu." ujar Vivi membuat Alga dan Mayu menatap padanya.
"Kami juga sudah berusaha Mbak, tapi Allah belum menghendaki, kami bisa apa?" ujar Alga apa adanya.
Alga dan Mayu juga berencana ingin punya anak lagi dari Lisa umur 2 tahun tapi usaha mereka belum juga membuahkan hasil. Padahal Alga dan Mayu sudah konsultasi ke dokter, hasil pemeriksaannya memang baik, tapi Mayu belum hamil juga sampai sekarang. Mayu bahkan sering makan makanan yang bisa membuatnya cepat hamil tapi hasilnya belum juga terlihat.
"Begitu ya Al. Kalian yang sabar ya dan tetap berusaha saja pokoknya!" ujar Vivi lagi.
"Iya Mbak, itu sudah pasti Mbak." ujar Alga dan kembali pada anaknya yang tampak serius menatap keponakannya yang baru lahir itu.
Alga memilih mendekati Lis dan mengusap pelan rambut panjang anaknya.
Lisa menoleh padanya.
"Yayah, Lica au dedek. Dedek bawa punya Yayah!" ujar Lisa dengan wajah memelasnya.
Alga menatap kasihan sekaligus gemas pada anaknya. Andai saja bisa, dia juga ingin melakukannya.
"Lisa, dedeknya enggak boleh dibawa pulang Cantik. Dedeknya bisa nangis kalau dibawa pulang." ujar Alga kembali berusaha membujuk anaknya.
__ADS_1
"Dedek nono angis, dedek bobok Yayah." balas Lisa lagi.
"Iya sekarang dedeknya memang enggak nangis, tapi kalau dedeknya haus atau lapar ya dia akan nangis." ujar Alga lagi.
"Acuh mamam Yayah, acih cucu. Cucu Lica manyak." ujar Lisa lagi membuat Alga tersenyum tipis. Ini anaknya pintar sekali jawabnya.
"Dedeknya belum bisa mamam atau minum susu. Dedeknya belum ada giginya, jadi bisanya mimik saja." ujar Alga lagi.
"Dedek mimik bubun, Yayah." ujarnya lagi menuduh Mayu membuat para orang dewasa itu tersenyum termasuk Alga.
"Enggak bisa mimik bunda Cantik, mimik bunda kan sudah dihabiskan sama Lisa. Dedek bisa mimiknya sama aunty Vivi. Aunty VIvi belum boleh pulang, dia masih sakit. Makanya dedeknya juga harus di sini sama aunty Vivi." ujar Alga lagi.
"Lica dicini jaja cama dedek. Lica Au jaga dedek." ujar Lisa lagi tetap teguh pada pendiriannya.
"Enggak bisa cantik. Lisa belum mandi, ini bajunya juga belum diganti. Lisa juga belum minum susu."
"Lisa nono minum cucu, Lica au dedek jaja." ujar Lisa lagi dan kali ini pesona susunya juga bisa dikalahkan sama si bayi mungil itu.
Alga menarik nafas pelan dan beralih pada istrinya. Dia bingung bagaimana lagi cara membujuk anaknya.
"Udah Yah, biarkan saja. Kita pulangnya kalau Lisa sudah tidur saja." ujar Mayu yang tidak ingin memaksa anaknya. Mayu tidak mau Lisa sampai menangis kalau terus dipaksa.
"Suruh antar bibi saja Al. Benar kata Mayu, kalian pulang kalau Lisa sudah tidur saja." ujar Dira mendukung menantunya.
Alga beralih menatap anaknya.
"Oe oe oe ...."
Bayi mungil itu tiba-tiba menangis dengan kerasnya membuat Alga dan Lisa terkeju.
"Dedek ... dedek ini Akak Lica. Akak Lica nono puyang Dedek. Dedek angan angis!" ujar Lisa berusaha menenangkan adik sepupunya.
Dira yang sedari tadi berdiri dekat Lisa langsung turun tangan dan mencari tahu penyebab cucunya menangis.
"Yayah nih, puyang-puyang, angis dedek!" ujar Lisa malah menyalahkan ayahnya membuat Alga terdiam. Kenapa jadi dia yang disalahkan? Bukankah bayi menangis itu hal yang wajar saja?
***
__ADS_1
"Dedek, Lica au dedek huwa ...."
Lisa menangis keras begitu dia tidak menemukan adanya bayi mungil itu. Lisa masih ingat saja padanya, padahal biasanya ingatanya kuat kalau menyangkut pisang dan makanan enak saja.
"Lisa dedeknya masih di rumah sakit Cantik. Lisa mandi dulu ya. Setelah itu makan, baru deh kita ke rumah sakit jenguk dedek. Bunda ada masak sup wortel sama kentang loh. Lisa suka wortel kan? Wortel enak tenan. " ujar Mayu berusaha membujuk anaknya.
"Nono, Lica au dedek. Dedek Bubun!" seru Lisa sambil menangis dan air matanya sampai mengalir banyak membuat Mayu tidak tega.
"Iya kita pasti akan jenguk dedek, tapi Lisa harus makan dulu. Lisa bisa sakit kalau tidak makan. Ada pisang juga loh. Pisangnya banyak lagi, nanti Lisa bagi dedek pisangnya satu." ujar Mayu masih berusaha membujuk anaknya dan kali ini sedikit berhasil begitu Lisa mendengar pisang banyak.
"Picang manyak Bubun?" ujarnya menatap Mayu.
"Iya banyak, satu plastik. Mau Lisa?" ujar Mayu lagi. Biarlah kali ini dia memberikan anaknya pisang banyak saja supaya tidak menangis.
"Au Bubun. Lica bagi dedek, dedek Lina, akak Lio cama akak Leihan." ujarnya masih ingat saja sepupunya yang lain membuat Mayu tersenyum.
"Iya nanti Lisa bagi pisangnya pada mereka. Yuk kita ambil pisangnya yuk!"
"Yaya Bubun," ujar Lisa kali ini mau menurut dan itu membuat Mayu lega.
Alga yang diam-diam memperhatikan mereka, mangacungkan jempolnya. Dia juga merasa tidak tega pada anaknya, dan semakin berharap semoga Lisa bisa secepatnya punya adik.
Setelah anak Vivi lahir, hampir setiap hari ada saja drama Lisa yang enggak mau pergi meninggalkan adik sepupnya. Terkadang mau les saja, Dira harus berusaha keras membujuknya. Begitu sampai di tempat les dia memang melupakan sejenak adik sepupunya tapi saat pulang dia selalu minta bertemu dengan bayi mungil itu.
Begitu juga saat Vivi sudah pulang ke rumah, Alga dan Mayu bahkan sampai ikut menginap di rumah mbaknya gara-gara Lisa.
"Bun mau sampai kapan kita harus menumpang ?" ujar Alga sambil memperhatikan anaknya yang tengah asik menatap adik sepupunya yang tengah dijemur sama omanya. Lisa bahkan tidak masalah walau kalau Dira lebih perhatian pada adik sepupunya itu. Dia tidak cemburu.
"Aku juga enggak tahu ini Yah," ujar Mayu. Walau Vivi dan keluarga tidak keberatan mereka menumpang tapi tetap saja bagi mereka lebih nyaman di rumah sendiri.
"Semoga saja kamu bisa secepatnya hamil ya Bun. Aku benar-benar enggak bisa membayangkan kalau anaknya Rangga dan Lora lahir, dan Lisa kembali enggak mau pisah. Kita akan merepotkan banyak orang Bun. Mana Lisa kalau menangis kelihatan sedih banget, air matanya langsung banyak mengalir." ujar Alga.
"Aku aminkan Yah. Aku juga berharap hal yang sama, tapi kalau pun harapan kita tidak kesampaian untuk waktu yang lama, kita harus tetap sabar dan bahagia ya Yah. Aku enggak ingin perkara kita enggak bisa nambah anak, malah mengurangi sukacita dalam rumah tangga kita. Aku sangat bersyukur walau anak kita hanya punya Lisa, Yah." ujar Mayu dan itu afalah ungkapan dari hati terdalamnya.
Mayu benar-benar tidak ingin gara-gara mereka belum mendapatkan anak lagi, mereka malah berantem.
"Iya Bunda, Ayah juga sangat bersyukur walau kita hanya punya Lisa, dan kalau pun sampai akhirnya nanti kita hanya bisa punya Lisa, aku tidak masalah Bun. Mungkin rejeki kita memang punya anak satu saja." ujar Alga mantap.
__ADS_1
"Sama Yah. Peluk Yah!" ujar Mayu dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Alga membawa istrinya kepelukannya dan memeluknya erat. Dia sangat mencintai wanita dalam pelukannya ini dan alga sangat bahagia bersama Mayu dan ditambah Lisa tentunya.