Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Kado Tanda Cinta


__ADS_3

"May tunggu!" Mayu yang hendak kembali gabung bersama teman-temannya seketika menoleh.


"Kenapa Pan?"


Irpan berlari kecil dan menyamai langkahnya dengan Mayu.


"Aku dengar dari Shinta katanya kamu semalam tenggelam ya May, kok basa? Kamu ngapain ke area kolam malam-malam?" tanya laki-laki berparas tampan itu. Irpan cukup terkejut begitu mendengar kabar Mayu tenggelam, dan dia juga merasa kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk Mayu.


Mayu menarik nafas pelan. Mayu kemudian menceritakan semuanya dari awal sampai dia akhirnya tenggelam.


"Jadi begitu ceritanya Pan, dan aku yakin pasti pemilik suara itu memang sengaja melakukannya untuk memancingku ke area kolam." cerita Mayu.


"Setuju aku May, itu pasti ulah seseorang yang memang ingin mencelakakan kamu. Tapi siapa ya kira-kira pelakunya? Aku lihat panitianya juga diam-diam saja dan seolah tidak terjadi apa-apa. Aku juga bisa tahu karena Shinta keceplosan, kalau enggak, aku enggak akan tahu atas musibah yang menimpa Mayu." ujar Irpan.


Mayu lagi-lagi menarik nafas pelan.


"Memang masalahnya enggak mau diperpanjang Pan dan dianggap sudah selesai. Panitianya enggak mau merusak acara makrab, dan mereka juga enggak pihak kampus sampai tahu masalah ini." jawab Mayu apa adanya.


"Kok begitu May, ini enggak adil dong namanya. Bisa dibilang ini adalah suatu bentuk kejahatan, dan pelakunya sudah selayaknya mendapat hukuman atas apa yang sudah dilakukannya. Harusnya kamu protes dong May, jangan diam saja!" ujar Irpan. Dia benar-benar merasa ini tidak adil buat Mayu. Mayu sampai menderita, sementara pelakunya masih bebas berkeliaran, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kamu benar Pan, aku juga merasa ini tidak adil buatku, tapi aku juga cukup sadar diri. Siapalah aku, iya kan? Selain itu aku juga benar-benar tidak mau merusak acara makrab kita. Kamu tahu lah, banyak peserta makrab yang tidak suka padaku, dan aku juga tidak mau, rasa tidak suka mereka semakin besar karena itu." jelas Mayu.


Irpan menatap tidak tega gadis yang dicintainya. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Mayu. Apalagi untuk para mahasiswa seumuran mereka yang kebanyakan masih suka labil dan gampang emosi.


Irpan menepuk pelan lengan Mayu.


"Iya May aku mengerti, kamu yang sabar ya May, aku yakin suatu saat nanti keadilan akan berpihak pada kamu. Tetap semangat Mayu!"


"Iya Irpan, aku akan tetap seangat kok, yang terpenting sekarang aku sudah baik-baik saja dan tidak kurang suatu apa pun. Lagian kak Rangga juga sudah janji akan tetap mencari pelakunya."


"Baguslah kalau begitu."


"Ah iya Pan, kamu tahu enggak siapa orangnya yang pertama kali menolongku kemarin?" tanya Mayu dan menatap jahil laki-laki berparas tampan itu.


"Tidak, siapa memangnya yang menolong kamu?"


"Riana, Pan. Dia langsung nyebur kemarin begitu melihatku, dia juga rela kedinginan demi aku. Riana ternyata baik ya Pan cie cie," ujar Mayu diakhiri dengan menggoda Irpan.


Alis Irpan sampai terangkat.


"Kenapa kamu jadi cie ciein aku?" tanya Irpan bingung.


"Enggak usah pura-pura enggak tahu gitu deh, Pan. Riana itu kan suka sama kamu, kenapa tidak disikat saja. Nanti keburu diambil orang loh Pan. Nanti kamu nyesal lagi." ujar Mayu kembali menggoda teman baiknya.


"Aku tidak akan menyesal Mayu, justru aku malah ikut mendoakan semoga secepatnya Riana ditembak olah laki-laki yang benar-benar suka padanya." ujar Irpan mantap.

__ADS_1


Alis Mayu kembali terangkat.


"Kenapa begitu, kamu tidak ada rasa ya sama dia? kenapa tidak belajar mencintainya saja sih Pan. Sayang loh."


Irpan menatap Mayu dan menarik nafas pelan.


"Sebenarnya aku sudah jatuh cinta pada seseorang May dan itu sudah lama. Jadi aku tidak mungkin membuka hati untuk Riana, apalagi dalam waktu dekat ini." jujur Irpan.


Mata Mayu membesar dan menatap tersenyum pada Irpan.


"Seriusan Pan, kamu jatuh cinta pada seseorang? Siapa orangnya, apa aku kenal padanya?"


Irpan menganggukkan kepalanya.


"Iya kamu sangat kenal orangnya." jawab Ipan pelan.


"Siapa, Shinta, Lora atau siapa?"


"Nanti suatu saat kamu akan tahu Mayu, kamu doakan saja ya, semoga suatu saat nanti cintaku dibalas sama dia. Saat ini aku hanya ingin memantapkan diri untuk dia, karena aku hanya ingin dia yang jadi pendamping hidupku kelak." ujar Irpan sambil menatap dalam Mayu.


Mayu tersenyum tipis mendengarnya.


"Iya Irpan, aku pasti akan ikut mendoakan semoga cinta kamu terbalas. Cie Irpan ternyata bisa sweet juga. Pasti beruntung banget itu cewek yang berhasil mendapatkan cinta kamu, Pan, dan kalian hidup bahagia deh untuk selamanya." ujar Mayu tulus.


'Semoga saja ya May doa kamu dikabulkan dan kita bisa hidup bahagia selamanya.' batin Irpan dan tanpa sadar menatap tersenyum pada Mayu.


"Kenapa Pan senyum-senyum saja, apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Mayu.


"Enggak, aku hanya mau bilang, Mayu terlihat lebih cantik hari ini." ujar Ipan seperti bercanda padahal itu tulus dari dalam hatinya.


"Ah si Irpan jadi malu deh hehe ...." ujar Mayu pura-pura Malu dan menutup wajahnya pakai tangannya.


Mereka kemudian tertawa bersama.


Sangat berbeda dengan Alga yang menatap kesal pada Mayu dan Irpan dari tempat duduknya. Alga benar-benar tidak suka melihatnya, hatinya terasa panas membara.


"Ehem tatapannya biasa saja dong, seperti mau makan orang hidup-hidup saja!" sindir Yudha. Yudha bisa melihat tatapan cemburu itu, tapi Alga selalu saja tidak mau mengakuinya kalau dia suka Mayu.


Alga beralih menatap Yudha. Alga hanya menarik nafas pelan tanpa mau bicara apa-apa. Malas dia berdebat dengan Yudha. Yudha memang lebih pendiam dari Rangga, tapi Yudha juga lebih nyolot dari Rangga.


"Untuk semuanya! Kumpul kembali di halaman depan, acara akan kembali kita lanjutkan!" ujar Rangga memecah keheningan antara Alga dan Yudha.


Di hari kedua acara mereka memang sudah tidak banyak lagi. Mereka hanya akan tukar kado dan dilanjutkan dengan pengenalan organisasi. Setelahnya acara bebas sambil menunggu makan siang. Setelah makan siang acara akan ditutup dan mereka akan pulang ke Jakarta.


***

__ADS_1


"May lo dapat kado apa May?" tanya Shinta sambil membuka kadonya. Begitu panitia membubarkan acara mereka langsung buru-buru buka kado. Mereka penasaran sama isi kadonya.


"Topi dong. Tahu saja gue butuh topi baru buat dagang." ujar Mayu dan langsung memakai topinya.


"Lo dapat apa Shin?' tanya Mayu balik.


"Dapat mouse gue. Lumayanlah nanti kalau sudah bisa beli laptop gue enggak perlu beli mausenya lagi. Lo dapat Lor?" tanya Shinta beralih pada Lora.


"Dapat jam gue." ujar Lora memperlihatkan jam mejanya.


"Nah itu bagus itu Lor, biar lo ke depannya enggak jam karet lagi." ujar Shinta.


"Gue enggak jam karet ya, gue hanya jam orang Indonesia."


"Sama saja Lora." ujar Mayu.


"Hehe ...."


"Hei! Siapa ini yang ngado kolor dan bh, enggak kira-kira banget dah ah." protes Andi memamerkan kadonya.


Mayu seketika memahan tawa mendengarnya. Mayu yakin itu adalah kadonya.


Lora dan Shinta seketika menoleh padanya.


"Itu pasti kado dari lo kan May?" tuduh Lora.


Mayu menganggukjan kepalanya sambil menahan tawa.


"Ada-ada saja sih lo May, kalau perempuan yang dapat sih enggak masalah, tapi kan kalau laki-laki yang dapat kan kasihan." ujar Shinta.


"Habisnya gue enggak ada persiapan, jadi gue ambil yang ada saja, tapi itu yang bagus kok, harga modalnya saja 110 ribu, lebih mahal dari harga yang ditetapkan panitia." ujar Mayu membela diri. Tukar kado mereka memang dijatah paling mahal 100 ribu saja.


"Seriusan May, kalau begitu gue mau minta tukar saja ah. Gue kayaknya lebih butuh itu dari pada jam ini." ujar Lora dan langsung menghampiri Andi.


"Andi, dari pada kadonya lo buang, tukar sama kado gue saja, ini." ujar Lora menawarkan kadonya.


"No no no kadonya mau gue berikan pada calon ayang beb gue saja." ujarnya kemudian berlutut depan Noni.


Noni sampai menatap heran padanya. Begitu juga dengan lora dan yang lainnya.


"Non, mungkin ini terlalu tiba-tiba buat kamu dan kita juga belum lama saling kenal, tapi satu hal yang harus kamu tahu, sejak pertama kali kita bertemu di kampus, bayang wajah kamu langsung terekam jelas dalam benakku. Aku jadi setiap hari memikirkan tentang kamu dan setiap kali berada dekat kamu, jantungku selalu berdebar lebih cepat dari biasanya. Kolor dan bh ini juga sebagai lambang cintaku pada kamu. Aku mau jadi kolor dan bh buat kamu, yang akan selalu memberi kenyamanan pada kamu, dimana pun dan kapan pun. Noni maukah kamu jadi pacarku? Jika kamu mau terimalah kadoku ini untuk kamu, tapi kalau kamu tidak mau, kamu bisa berikan pada siapa pun perempuan yang ada di sini. Aku ikhlas." ujar Andi mengungkapkan perasaannya.


Noni menatap malu sekaligus gemas pada Andi, bisa-bisanya Andi nembak dia pakai kolor dan bh, padahal di sekitar villa ini banyak sekali bunga. Hanya saja kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga kata Andi, tanpa kolor dan bh, hidup Noni pasti tidak nyaman, dan dia pasti akan selalu butuh kedua benda itu kemana pun dia pergi.


"Terima! Terima! Terima!" teriak Mayu dan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2