Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Mayu Sakit


__ADS_3

Alga membuka perlahan matanya dan senyum seketika terbit di wajahnya begitu sadar kalau Mayu memeluknya.


Alga memiringkan wajahnya kemudian mengecup dalam rambut kepala Mayu. Ini rasanya benar-benar nyaman dan Alga tidak ingin menyudahinya. Sayangnya azan sebentar lagi akan berkumandang dan Alga tidak mau melewatkan sholat subuhnya.


"Ay!" panggil Alga membangunkan Mayu sambil mengusap sayang rambut panjang istrinya.


Mayu tidak terusik sama sekali. Tidurnya sangat nyenyak.


"Ay!" panggil Alga lagi, kali ini tangannya memainkan hidung mancung Mayu.


Mayu yang merasa terganggu membuka perlahan matanya. Matanya begitu berat dan sulit terbuka.


"Kak," ujar Mayu dengan suara paraunya begitu sadar kalau Alga yang membangunkannya.


"Bangun Ay, sebentar lagi azan!" suruh Alga.


"Iya," ujar Mayu singkat dan mengangkat perlahan kepalanya. Mayu kembali memejamkan matanya begitu rasa pusing kembali menyerangnya. Kepalanya juga sangat berat.


"Ay kamu kenapa, pusing?" tanya Alga yang bisa melihat perubahan wajah istrinya yang lain dari biasanya.


Mayu membuka cepat matanya. Dia tidak mau ketahuan pusing. Dia takut Alga malah marah begitu tahu Mayu baru selesai bekerja jam 1 dini hari. Alga memang tidak mau Mayu terlalu bekerja keras. Karena itu juga dia meminta Rangga dan Yudha bertahan di sana sampai keadaan Maga Wear sudah mencapai target yang mereka harapkan. Mayu dan teman-teman rencananya akan membangun pabrik Maga Wear serta kantor, tentu itu membutuh kerja keras serta pemikiran cerdas Yudha dan yang lainnya.


"Enggak kok Kak, aku hanya masih ngatuk saja." bohong Mayu.


"Ah iya kamu masih kerja semalam. Kamu selesai kerja berapa Ay? Maaf ya aku ketiduran. Harusnya kamu membangunkanku saja kalau sudah selesai." ujar Alga dan ikut bangun menyusul istrinya.


"Eh itu, aku enggak tahu Kak, aku enggak melihat jam semalam." bohong Mayu.


"Enggak apa-apa kok Kak, aku mengerti. Ya sudah kak Alga ambil wudhu duluan." ujar Mayu lagi sambil menahan rasa pusingnya dan sebisa mungkin bersikap biasa dihadapan Alga.


"Ok, tapi sebelumnya kiss pagi dulu dong Ay! Biasa!" ujar Alga lagi menggoda istrinya seperti biasa.


Mayu menatap Alga dan mengangguk perlahan. Mayu tahu Alga tidak akan beranjak dari kasur sebelum Mayu memberikan kiss yang Alga minta. Mayu sangat paham kebiasan suaminya.


Alga tersenyun kecil dan tanpa menunggu lebih lama lagi dia menyatukan bibirnya dengan bibir Mayu. Alga hanya bermain sebentar dengan bibir istrinya. Dia takut enggak bisa menahan diri kalau terlalu lama. Apalagi ini sudah pagi, Alga sangat suka melakukan itu. Setamina juga biasanya lebih kuat kalau pagi.


Alga beralih mengecup dalam kening istrinya dan dia juga tidak lupa memainkan hidungnya dengan hidung Mayu.


Mayu hanya tersenyum melihat tingkah suaminya walau rasa pusing belum kunjung hilang.


"Wajah kamu kayaknya pucat deh Ay dan tidak secerah biasanya. Apa ini karena tidak aku suntikkan vitamin semalam?" ujar Alga dan langsung mendapat pukulan gemas dari Mayu. Suaminya ini dari mereka menikah isi otaknya enggak pernah bisa jauh-jauh dari yang satu itu.


"Apaan sih Kak, ini udah mau azan juga. Sebaiknya Kak Alga ambil wudhu jangan sampai kita enggak sholat karena Kak Alga." ujar Mayu kembali mengingatkan suaminya.


"Kita pasti sholat Ay, tapi setelah sholat kita itu ya Ay, sekali saja Ay. Kangen Ay!" ujar Alga lagi tidak menyerah.


Mayu menggelengkan kepalanya, tiap hari bersama juga masih kangen saja ini Alga.


"Ay, ayolah Ay! Ingat loh Ay, menolak keingi-"


"Iya Kak Alga Iya!" poting Mayu cepat dan itu berhasil membuat Alga tersenyum lebar.


"Gitu dong Ay. Ya sudah aku wudhu dulu." ujar Alga dan dengan semangat beranjak dari karusnya tapi sebelumnya dia menyempatkan memberi kecupan di pipi Mayu.


Mayu lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Semudah itu membangkitkan semangat Alga.

__ADS_1


"Ackh!"


Mayu tanpa sadar mengaduh saat dia bangun, rasa pusingnya juga seakan ikut bangun dan semakin menyerang. Mayu tidak jadi beranjak dari kasurnya, dia memijat perlahan pelipisnya. Ini tumbenan sekali rasa pusingnya menyerang lama biasanya tidaklah selama ini.


Setelah merasa lebih baik, Mayu perlahan bangun dari duduknya dan lagi-lagi rasa pusing itu kembali menyerang hanya saja tidak separah sebelumnya.


Mayu berusaha menahannya. Dia tidak mau Alga kembali curiga padanya. Apalagi Mayu mendengar suara pintu kamar mandi dibuka.


Mayu berusaha tersenyum saat Alga jalan mendekat padanya. Dan Alga juga melakukan hal yang sama.


"Loh Ay, sajadah dan mukena kamu belum diambil?" ujar Alga.


Biasanya saat Alga wudhu Mayu akan selalu menyiapkan sajadan dan mukena karena sejak menikah Alga lebih sering sholat subuh di rumah. Hanya sesekali saja dia ikut papinya ke masjid. Mayu juga tidak begitu mempermasalahkannya yang penting Alga tidak meninggalkan kewajibannya.


"Eh belum Kak, maaf Kak." ujar Mayu begitu sadar dengan kesalahannya.


"Tidak apa-apa Ay. Sebaiknya kamu ambil wudhu saja biar aku saja yang ambil sajadah dan mukenanya." ujar Alga dan tidak mempermasalahkannya sama sekali.


"Iya Kak," nurut Mayu.


Mayu melangkah dengan perlahan. Semakin dia melangkah rasa pusingnya kembali menyerang. Mayu sampai berpegangan pada benda disekitarnya karena takut jatuh. Alga yang hendak mengambil sajadah sampai menatap bertanya-tanya pada istrinya. Tidak biasanya Mayu begitu. Apa Mayu sakit dan berusaha menyembunyikan sakitnya dari Alga?


Setelah ini Alga akan introgasi istrinya. Alga tidak suka melihat Mayu menyembunyikan apapun dari dia.


***


"Ay!" panggil Alga begitu mereka selesai sholat. Mayu salim padanya dan Alga mengecup kening istrinya.


"Kenapa Kak?" ujar Mayu.


"Wajah kamu beneran pucat, kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Alga. Alga tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya.


"Enggak Ay, putihnya itu beda loh. Aku sangat tahu kamu pakai lipstik atau enggak dan kalau pun kamu tidak pakai lipstik, tidak akan seputih ini. Ngaku saja padaku Ay, aku paling enggak suka loh kamu bohong, apalagi sampai menyembunyikan sakit kamu." ujar Alga lagi dan memaksa istrinya biar mengaku.


Mayu menatap ragu pada suaminya. Apa sebaiknya dia mengaku saja? Apalagi kini kepalanya semakin berat dan rasa pusingnya belum juga hilang. Mayu takut sakitnya semakin parah. Alga pasti akan semakin marah padanya.


"Se-sebanarnya aku merasa pusing Kak dan kepalaku juga berat. Sepertinya ini gata-gara aku kurang istirahat." ujar Mayu akhirnya memilih mengaku saja.


Alga menghembuskan nafasnya kasar mendengar pengakuan istrinya. Benar kan dugaannya kalau Mayu menyembunyikan sakitnya.


"Kalau pusing kenapa enggak bilang saja dari tadi Ay! Bagaimana kalau kamu sampai jatuh, dan kepala kamu kebentur. Itu akan lebih sakit lagi Ay! Ya sudah kamu lebih baik tidur lagi saja! Sajadah dan mukenanya biar aku saja yang lipat!" ujar Alga perhatian. Alga paling tidak bisa melihat istrinya sakit walau sakitnya ringan saja.


"Iya Kak," nurut Mayu. Dia membuka pelahan mukenanya dan memberikannya pada Alga.


"Eh Ay, kamu tidak apa-apa?" ujar Alga dan menahan cepat tubuh Mayu yang mau jatuh.


"Tidak apa-apa Kak. Makasih Kak." ujar Mayu lagi dan suaranya terdengar berat. Kelihatan kalau dia menahan sakit.


"Jangan enggak apa-apa terus dong Ay, kalau memang sakit katakan saja!" ujar Alga dan suaranya sedikit meninggi. Ini karena dia terlalu khawatir pada istrinya.


Wajah Mayu tambah pucat mendengar nada suara Alga yang sangat berbeda dari biasanya. Bisa dibilang ini pertama kalinya suara Alga meninggi padanya.


"Maaf Ay, aku enggak sengaja Sayang. Aku terlalu khawatir sama kamu." ujar Alga lagi begitu sadar dengan perubahan raut wajah istrinya dan kali ini nada suaranya kembali melembut.


"Iya Kak tidak apa-apa," ujar Mayu pelan.

__ADS_1


"Sekali lagi aku minta maaf ya Ay. Ya sudah aku antar kamu ke kasur saja Ay." ujar Alga dan tanpa menunggu persetujuan istrinya dia mengangkat tubuh Mayu dan membawanya ke kasur.


Mayu hanya diam saja dan menatap wajah suaminya. Dia senang melihat perhatian Alga, tapi disisi yang lain, dia juga tidak ingin melihat Alga khawatir terlalu berlebihan. Padahal sakit Mayu tidaklah separah itu dan hanya pusing biasa saja.


Alga kemudian meletakkan tubuh Mayu dengan perlahan di atas kasur. Setelah itu dia juga menarik selimut untuk istrinya.


"Kamu tidur lagi saja Ay. Cepat sembuh sayang!" ujar Alga dan tidak lupa meninggalkan satu kecupan di kening Mayu.


Mayu mengangguk pelan, perhatian yang Alga berikan membuat Mayu merasa tenang dan nyaman.


Mayu kembali memejamkan matanya dan Alga memilih membereskan peralatan sholat mereka.


Setelah semuanya beres Alga kembali duduk di kasur dan menatap Mayu yang sudah kembali tertidur.


Alga beralih menatap jam dan menujukkan pukul 5 pagi.


Alga akhirnya memilih keluar kamar saja dan membuat bubur dan sup iga untuk Mayu. Biasanya Mayu suka sup iga kalau kurang enak badan.


***


"Alga, kamu bawa apa itu?" tanya Dira dari arah tangga.


Alga menghentikan langkahnya dan menoleh pada maminya.


"Ini sup iga dan bubur untuk Mayu, Mi. Dia kurang enak badan, sepertinya dia kelelahan." jawab Alga apa adanya.


"Makanya Alga, istri kamu itu jangan diajak begadang dan kerja keras terus. Beri juga dia sedikit waktu. Mami tahu kamu lagi senang-senangnya tapi ya minta jatahnya kira-kira juga dong!" ujar Dira malah menyalahkan Alga.


"Iya Mi iya. Ya sudah Alga ke kamar dulu!" ujar Alga dan kembali melangkahkan kakinya. Sepertinya maminya ada benarnya juga, Alga yang telalu senang dengan hobby barunya sampai tiap malam minta jatah, bahkan paginya juga masih minta. Suka lupa diri Alga kalau sudah menyangkut yang satu itu. Belum lagi Alga juga hampir membentak istrinya karena terlalu khawatir. Suami macam apa dia? Alga jadi merasa bersalah pada istrinya.


Alga membuka perlahan pintu kamarnya dan menutupnya dengan kaki. Alga kemudian meletakkan nampannya di atas meja dan menatap Mayu yang masih setia memejamkan matanya.


Alga mengusap sayang rambut Mayu dan kembali mengecup kening Mayu. Mayu jarang sekali sakit karena itu Alga jadi suka khawatir berlebihan.


"Ay!" panggil Alga membangunkan istrinya.


Alga sebenarnya tidak tega tapi Mayu juga harus sarapan. Perutnya harus terisi biar kesehatanya juga cepat pulih kembali.


Mayu membuka perlahan matanya dan menatap Alga tepat di matanya.


"Ah iya Kak, sudah pagi ya?" ujar Mayu. Wajah Mayu tak lagi sepucat sebelumnya dan sakit kepalanya juga sudah hilang begitu juga dengan rasa pusingnya. Sepertinya memang benar sakitnya karena kurang tidur saja.


"Iya sudah Ay, ini sudah jam setengah 7. Gimana, apa kamu masi merasa pusing?" tanya Alga menatap intens istrinya.


Mayu menggelengkan kepalanya.


"Aku merasa jauh lebih baik Kak dan sudah tidak pusing lagi. Ini beneran Kak, aku tidak bohong." ujar Mayu apa adanya.


"Iya Ay, aku percaya. Wajah kamu juga tidak lagi pucat. Sebaiknya kamu sarapan saja, ini aku bawa sup iga dan bubur untuk kamu." ujar Alga menunjuk makanan yang dibawanya.


"Loh Kak, makanannya dibawa ke kamar. Mayu sudah enggak sakit lagi Kak." ujar Mayu cepat dan langsung bangun dari posisi tidurnya.


"Tidak apa-apa Ay, makanannya sudah aku buat dan kamu sebaiknya hargai kerja keras suami kamu ini! Aku membuatkan ini tulus untuk kamu dan aku juga sangat berharap kamu bisa memakannya dengan lahap." ujar Alga membuat Mayu tersenyum dan tidak ada alasan baginya untuk menolak.


"Baiklah Kak, aku makan ya. Teima kasih suamiku yang paling tampan. Aku sangat senang. I love you suamiku." ujar Mayu dan tidak lupa menghadiahi Alga kecupan di bibir membuat si empunya bibir tersenyum dan mengusap sayang rambut panjang Mayu.

__ADS_1


"I love you too isteriku dan jangan sakit-sakit lagi ya!"


Mayu mengangguk dan tersenyum pada Alga. Alga juga balas tersenyum dan mengecup pipi istrinya. Pipi yang sudah kembali merona.


__ADS_2