
Hari-hari Mayu berjalan dengan lancar. Jualannya lancar begitu juga dengan kuliahnya. Mayu tentu saja senang semua berjalan sesuai dengan yang diharapkannya, meski Mayu juga juga tidak bisa mengusir perasaan gelisahnya.
Ini sudah 5 hari sejak dia dan Alga melihat rumah tapi David belum juga ada menghubunginya. Sementara waktu Mayu tinggal 2 hari lagi sebelum membuat keputusan.
Mayu ingin merelakan rumah itu tapi dia juga tidak bisa membohongi dirinya kalau dia merasa berat merelakan rumah itu. Belum tentu Mayu bisa menemukan rumah se strategis itu dalam waktu dekat. Ditambah lagi kata teman Alga, sudah ada lagi yang menawar rumah itu.
Padahal Mayu sudah mengirim kode ke email daddynya. Rumah 2,5 m. MM. Email Mayu juga sudah dibaca tapi tidak dibalas. Mayu sangat yakin kalau daddynya pasti mengerti pesan kodenya, karena dia sendiri yang minta Mayu menggunakan kode itu, tapi entah kenapa sampai sekarang dia belum memberi kabar juga?
Mayu harus mengakui kalau menunggu itu ternyata sangat melelahkan.
Dertt dertt
Mayu seketika tersadar dari lamunannya begitu merasakan poselnya bergetar.
Mayu mengambil poselnya dan tampak senyum tipis di wajah begitu melihat Alga yang menghubunginya.
"Assalamualaikum Kak," ujar Mayu.
"Waalaikumsalam Ay. Ay kamu dimana?"
"Di kios Kak."
"Sama siapa?"
"Teh Irma Kak, kenapa?"
"Bukan apa-apa, aku hanya mau minta maaf kalau aku enggak bisa ngapel malam ini. Aku harus hadir di acara mbak Vivi."
"Iya Kak aku mengerti. Kak Alga enggak perlu minta maaf, bukankah Kak Alga sudah bilang jauh-jauh hari?" ujar Mayu meski sebenarnya dia jadi ingin sekali ikut ke acara itu dan itu bukan karena ingin bertemu keluarga Alga dan yang lainnya, tapi karena ingin bertemu dengan daddynya. Mayu sangat penasaran kenapa daddnya belum memberi kabar. Mayu juga rindu pada Daddynya.
"Iya Ay, aku memang sudah bilang, tapi sebelum pergi aku perlu memastikan kalau kamu tidak apa-apa."
"Aku tidak apa-apa Kak, santai saja." ujar Mayu yang bertentangan dengan kata hatinya.
"Baguslah kalau begitu. Ah iya Ay aku juga ingin mengingatkan kalau kamu harus tetap percaya padaku. Misalkan nanti ada yang kirim foto atau video aneh-aneh pada kamu, jangan langsung dipercaya ya Ay! Kamu tahukan orang-orang disekitarku seperti apa, dan bagaimana mana mereka yang selalu berusaha memisahkan kita. Aku enggak ingin karena foto atau video itu kamu jadi salah paham padaku, Ay." ujar Alga mengingatkan.
"Iya Kak, aku paham. Selamat bersenang-senang dengan keluarganya Kak Alga. Pokoknya Kak Alga enggak usah memilirkanku dan khawatir padaku, Kak Alga harus happy pokoknya. Aku juga di sini baik-baik saja dan bahagia tentunya. Apalagi ini hari sabtu, jualan pasti ramai, siap-siap untung banyak aku Kak." ujar Mayu pengertian.
"Iya Ay, terima kasih untuk pengertiannya. Ah iya biar kamu makin semangat lagi jalannya, aku kirimkan makanan untuk kamu. Nanti Rangga yang akan menghantarkannya."
"Enggak usah Kak. Uang kak Alga saja tidak banyak, tidak perlu lah mengirimkan makanan untuk Mayu. Sayang uangnya Kak." ujar Mayu merasa tidak enak. Mayu sangat tahu isi dompet Alga yang makin hari menipis, ditambah lagi dia juga tidak mau menerima uang pemberian Mayu. Kasihan Alga kalau tidak ada pegangan uang sama sekali.
"Makanannya tidak beli kok Ay, tenang saja. Aku minta chef di rumah kami yang memasaknya. Kamu juga tidak perlu khawatir, mami tidak akan tahu, dia terlalu sibuk mempersiapkan dirinya untuk acara nanti malam." jelas Alga.
"Oh makanan dari Kak Alga? Kalau begitu aku mau Kak, tapi kalau bisa porsinya dibanyakin ya Kak, mau aku bagi sebagian buat nenek sama teh Irma juga. Mereka juga pasti mau Kak."
"Soal itu kamu tenang saja, buat nenek akan dibuatkan di tempat terpisah. Sekalian ada Anggur dan melon Jepang, kamu mau enggak? Kami habis dikirim buah sama rekan kerja papi."
"Mau Kak, makanan mahal begitu enggak bakal nolak Mayu, tapi apa tante Dira tidak akan marah, kalau buahnya Kak Alga ambil?"
__ADS_1
"Enggak lah Ay, mami enggak pernah ngurusin soal buah, yang penting, tiap dia ingin makan buah, buah harus selalu ada, itu saja."
"Baguslah kalau begitu. Misalkan masih ada buah yang lain, enggak apa-apa banget kok Kak. Walau buah lokal juga tidak masalah sama sekali. Mayu siap menampung semuanya hehe ...." ujar Mayu malah ngelunjak membuat Alga seketika tersenyum. Inilah yang dia selalu suka dari Mayu. Mayu yang tidak ada gengsi sama sekali dan selalu jadi dirinya sendiri.
"Baiklah Ay, entar aku periksa dapur dulu ya, misal buahnya masih banyak nanti aku kirim sekalian."
"Ok Kak Alga, Mayu tunggu ya Kak."
"Iya Ay. Udah dulu ya Ay. I love you."
"I love you too Kak." ujar Mayu menutup sambungannya. Semangat Mayu kembali membara setelah bicara ditelepon dengan Alga dan untuk sejenak dia melupakan tentang daddynya.
***
Alga dan orang tuanya sudah sampai di restoran tempat dilangsungkannya acara ulang tahun Vivi serta pertemuan antara 2 keluarga besar.
Alga turun dari mobil mewah papinya dengan memakai setelan jas warna hitam. Penampilan Alga jadi terlihat semakin gagah dan ganteng. Jika Mayu melihat Mayu pasti akan terpesona, sayangnya Mayu tidak bisa ikutan.
Alga melangkah di belakang orang tuanya, dan Alga lebih memilih banyak diam dari pada bicara. Ini bukan karena Mayu tidak bisa ikut bersamanya. Soal itu Alga sudah ikhlas. Hanya saja soal tuduhan Dira tentang Alga pencuri, itu masih cukup membekas di hati Alga dan belum bisa sepenuhnya memaafkan maminya. Alga masih suka kesal kalau ingat soal itu.
Kedatangan Alga dan orang tuanya langsung di sambut oleh Vivi dan calon suami serta orang tuanya.
Alga berusaha bersikap seperti biasanya dan tersenyum seadanya pada mereka.
"Alga kamu mau kemana?" tanya Dira saat Alga ingin kembali melangkahkan kakinya.
"Duduk Mi," jawab Alga singkat.
"Baiklah Mi," ujar Alga dan memilih menurut saja, Alga malas ribut. Kasihan mbaknya kalau mereka sampai ribut. Alga tidak setega itu merusak hari spesial mbaknya.
"Begitu dong, berikaplah jadi anak yang baik. Jangan rendahan seperti pacar tidak tahu diri kamu itu." ujar Dira masih saja sempat-sempat menyindir Mayu.
"Terserah Mami saja," ujar Alga dan kembali melangkah menghampiri papinya.
Satu persatu tamu mereka mulai berdatangan, mulai dari keluarga besar kedua belah pihak. Beberapa kerabat penting termasuk Naura dan keluarganya, juga teman terdekat Vivi dan calon suaminya.
"Kak Alga!" seru Naura girang dan langsung menghampiri Alga.
Alga yang niatnya memberi salam tapi malah langsung dipeluk sama Naura.
Alga berusaha menahan rasa kesalnya dan sebisa mungkin bersikap biasa, walau sebenarnya dia ingin melepaskan pelukan Naura.
"Kak Alga benar-benar ganteng malam ini, Naura sangat suka Kak." ujar Naura dengan wajah bahagianya. Naura benar-benar senang hari ini karena Alga bisa terbebas dari yang namanya Mayu. Dia jadi bebas melakukan pendekatan dengan Alga.
"Iya, te-terima kasih."
Alga yang sebelumnya menatap kesal Naura seketika menatap fokus pada leher Naura. Kalung yang dipakai naura sama persis dengan kalau yang dijual Mayu beberapa waktu lalu.
Alga tiba-tiba menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
'Itu pasti hanya kebetulan saja, kalung seperti itu kan tidak hanya satu di dunia ini.' batin Alga yang tidak ingin berpikir macam-macam hanya karena kalung itu.
Enggak mungkin banget kan Naura ada hubungannya dengan Mayu. Alga juga sangat tahu seperti apa David yang hidupnya benar-benar fokus pada keluarga dan pekerjaannya saja.
Dia juga tak pernah ada gosip miring sedikit pun terutama menyangkut perempuan. Hobbinya juga terbilang sederhana, hanya pergi mancing ke laut bersama teman-temannya. Bukan mancing perempuan dan sejenisnya. Alga bahkan sangat kagum padanya dan ingin seperti David jika dia sudah berkeluarga nanti.
Naura yang ditatap sefokus itu sana Alga senyumnya semakin melebar, dia sangat suka jika Alfa menatap padanya. Itu berarti mata Alga masih normal lebih suka menatap cewek cantik dari pada cewek buluk seperti Mayu.
"Kak Alga kenapa menatap Naura seperti itu? Kak Alga suka ya sama Naura? Naura juga suka sama Kak Alga." ujar Naura dengan percaya dirinya dan dengan gaya centilnya.
Alis Alga seketika terangkat. Sejak kapan Alga suka pada Naura, yang Alga sukanya hanya Mayu seorang.
"Bukan Naura. Saya cukup tertarik sama kalung yang kamu pakai. Kalungnya cantik, cocok untuk kamu." ujar Alga sebisa mungkin bersikap biasa.
"Oh kalung ini Kak? Iya Kak, kalungnya memang sangat cantik, daddy yang belikan." ujar Naura dan masih ada senyum di wajahnya. Tidak apa-apa hari ini Alga hanya memuji kalungnya cantik. Itu juga sudah satu kemajuan bagi Naura. Selama ini kan, Alga tidak pernah perduli akan apa yang dia pakai.
"Oh, om David yang membelikannya. Selera om David memang tidak pernah salah, dia sangat tahu perhiasan yang cocok untuk kamu. Ya sudah kamu bisa duduk Naura, nanti kita lanjut ngobrolnya." ujar Alga mempersilahkan Naura duduk.
"Beneran Kak nanti kita lanjut ngobrol lagi?" tanya Naura antusias.
"Iya," ujar Alga biar cepat.
"Ok Kak, Naura duduk dulu ya Kak, dah Kak Alga." semangat Naura.
Alga mengangguk dan beralih menyambut tamu mereka yang lain.
"Alga, Sindi dan David belum kamu salam itu. Salam dulu mereka!" ujar Dira.
"Iya Mi," nurut Alga dan langsung menghampiri Sindi yang tengah sibuk ngobrol dengan tantenya.
"Tante," ujar Alga sambil mengulurkan tangan.
"Eh Alga," ujar Sindi dan langsung menyambut uluran tangan Alga dengan wajah senang. Namanya juga calon mantu idaman, harus bersikap baik dong.
Alga yang hendak salim seketika terdiam begitu melihat cincin yang dipakai Sindi dan cincin itu sama persis dengan perhiasan yang dijual Mayu.
Alga sampai terdiam untuk beberapa detik, sampai akhirnya Sindi sendiri yang mendekatkan tangannya ke kening Alga.
"Tante," ujar Alga dan berusaha tersenyum pada Sindi.
Aindi kembali tersenyum.
"Alga ke om David dulu Tante." ujar Alga lagi.
"Iya" ujar Sindi.
Alga beralih menatap David yang sedang ngobrol bersama papinya.
Jika sebelumnya Alga yang masih bisa berpikir positif, kali ini tidak lagi. Dua kebetulan itu terlalu mencurigakan untuk Alga. Dan Alga reflek menelan ludah gugup begitu melihat kebetulan yang ketiga.
__ADS_1
Sementara David yang sedari tadi memperhatikan Alga, seketika mengalihkan pandangannya saat Alga menatapnya. Dia sangat penasaran kenapa Alga tidak datang bersama Mayu. Padahal David sudah sangat menantikan hari ini karena ingin bertemu Mayu. Ada yang ingin dia berikan pada Mayu.