Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Mayu, David dan Naura


__ADS_3

"Mayu mau jalan-jalan kemana? Mau main golf, pantai atau naik helikopter?" tanya David sambil menyetir mobilnya.


Hari ini David bebas jalan-jalan bersama anak-anaknya dan itu tanpa supir atau bodyguardnya.


Mata Mayu membesar mendengarnya. Semua tawaran David sangat menarik baginya, dan dia ingin semua itu. Apa lagi yang naik helikopter Mayu ingin sekali. Hanya saja Mayu takut Naura tidak menyukainya.


"Mayu ngikut Naura saja Dad. Bagi Mayu kemana pun itu tempatnya sama saja, asal perginya bersama Daddy." putus Mayu akhirnya.


"Yakin lo ngikut gue? Nanti lo protes lagi." ujar Naura yang duduk di samping daddynya.


"Yaki Naura. Gue jarang sekali jalan-jalan, jadi kemana pun itu tempatnya gue pasti suka." ujar Mayu apa adanya.


"Baguslah. Kalau begitu kita ke pantai saja Dad. Naura kangen snorkeling." ujar Naura.


"Ok Sayang." jawab David.


"Beneran mau snorkeling Naura? Gue mau ya, nanti ajari gue Naura! Gue belum pernah snorkling. Eh tapi gue enggak bisa berenang. Bisa snorkeling enggak sih kalau enggak bisa berenang?" ujar Mayu antusias.


"Ogah. Siapa lo?" ujar Naura dengan sadisnya.


"Naura jangan begitu dong sama kakaknya Cantik! Kasihan Mayu." ujar David dan beralih menatap Mayu dari kaca spion.


"Bisa kok Mayu, nanti kita berlatih sebentar biar Mayu terbiasa menggunakan alatnya. Nanti Daddy yang bantu Mayu." ujar David lagi membuat Mayu tersenyum senang.


"Makasih banyak Dad. Daddy memang yang terbaik, bukan seperti si pemilik aura gelap." ujar Mayu dan langsung dapat tatapan tajam dari Naura.


"Heh lo itu jangan bilang gue aura gelap lagi ya! Lo itu yang aura gelap!" ujar Naura tidak terima.


"Enak saja lo bilang gue aura gelap. Aura gue bersinar terang ya." balas Mayu tidak mau kalau.


"Enggak, aura gue yang lebih bersinar terang!" ujar Naura tidak mau kalau.


"Aura gue!" seru Mayu lagi.


"Aura gue! Ayo kita buktikan, aura siapa yang lebih terang!" tantang Naura akhirnya.


"Ok siapa takut?" balas Mayu. Sedangkan David no komen mendengar perdebatan kedua anaknya.


"Ok. Kita lihat saja nanti, aura siapa yang lebih terang dan gue pastikan lo akan kalah." seru Naura dan menatap remeh pada Mayu.


"Jelas-jelas lo yang kalah!" balas Mayu lagi.


"Lo Mayu!"


"Lo Naura!"


"Lo!"


"Lo!"


"Naura, Mayu sampai kapan kalian akan terus berdebat. Lama-lama pusing juga Daddy mendengar perdebatan tak jelas kalian. Umur Daddy yang harusnya bertambah jadi berkurang gara-gara kalian." ujar David akhirnya angkat suara juga.


"Ya jangan dong Dad, umur Daddy enggak boleh berkurang!" kompak Naura dan Mayu membuat David tersenyum.


"Kenapa enggak boleh. Kalian takut banget ya kehilangan Daddy?" tanya David.


"Tentu saja." jawab Mayu dan Naura kembali kompak membuat David lagi-lagi tersenyum.


"Kalau kalian enggak mau umur Daddy berkurang makanya jangan berdebat terus. Kalan itu harus akur!" ujar laki-laki paruh baya itu.

__ADS_1


"Mayu duluan yang mulai Dad." tuduh Naura.


"Lo Naura!" balas Mayu lagi.


"Lo Mayu!"


"Aduh Naura, Mayu, kenapa jadi berdebat lagi. Ini umur Daddy udah berkurang 5 menit lagi ini." ujar David lagi membuat Mayu dan Naura seketika terdiam, tapi beberapa detik kemudian mereka tertawa.


"Daddy bisa saja. Daddy ternyata bisa bercanda juga ya?" ujar Mayu.


"Lo baru tahu Ya, Daddy ini paling best tahu, Daddy idaman pokoknya." ujar Naura membuat David kembali tersenyum kecil.


"Terima kasih untuk pujuan Naura." ujar David.


"Sama-sama Dad. Tambah uang jajan ya Dad!"


"Enggak ada itu tambah uang jajan. Kalau mau tambah uang jajan, belajar berbisnis saja kamu seperti Mayu." saran David.


"Benar itu Dad. Lo, jadi reseller Maga Wear saja Naura. Lumayan loh untungnya. Apalagi sekarang Maga Wear mulai naik daun." ujar Mayu.


"Ogah gue ngumpulin uang receh."


"Sombong banget lo!"


"Baru tahu lo." balas Naura lagi.


"Naura, jangan mulai lagi Cantik! Mau kamu umur Daddy berkurang lagi?" ujar David.


"Enggak Dad. Ok Dad, Naura berhenti berdebat dengan Mayu." ujar Naura akhirnya.


"Begitu dong, itu baru anak cantiknya Daddy."


"Naura, jangan mancing terus. Nanti enggak selesai-selesai berdebatnya Naura!" seru David mulai lelah.


"Iya Dad, Naura berhenti."


"Gitu dong." ujar David dan menggelengkan kecil kepalanya. Dia merasa pusing sekaligus lucu melihat kedua anak gadisnya, dan ini benar-benar pengalaman baru baginya. David juga harus mengakui kalau dia sangat menyukai pengalaman barunya.


***


"Wow kita naik speed boat." ujar Mayu girang begitu melihat speed boat mewah di depannya.


"Jangan norak Mayu, biasa saja!" ujar Naura.


"Gue enggak norak ya, gue hanya terlalu senang saja." ujar Mayu memudian beralih pada David.


"Makasih ya Dad, sudah mengajak Mayu naik speed boat. Mayu sangat senang Dad, ini pengalaman pertama Mayu naik speed boat. Mayu tidak akan pernah melupakan ini." ujar Mayu senang.


"Baguslah kalau kamu senang. Itu berarti Daddy enggak sia-sia membawa kamu jalan-jalan. Ayo naik!" ujar David sambil mengulurkan tangannya membantu Mayu naik speed boat.


"Iya Dad." ujar Mayu menyambut uluran tangan daddynya.


"Naura ayo!" ujar David lagi dan kembali mengulurkan tangannya pada Naura.


"Iya Dad." nurut Naura.


Setelah kedua anaknya naik, David juga ikut naik.


"Dad, Mayu mau foto!" ujar Mayu semangat.

__ADS_1


"Nanti saja kalau sudah mau sampai, di sana pemandangannya akan lebih bagus."


"Ok Dad, nanti Mayu foto sama Daddy ya!"


"Iya," ujar David membuat senyum mengembang seketika terbit di wajah Mayu. Akhirnya dia bisa foto juga dengan daddynya.


"Loh, ini Daddy yang mau membawa speed boatnya?" ujar Mayu begitu melihat David yang duduk di depan stir sementara si pemilik duduk santai di sampingnya.


"Iya Mayu, Daddy itu pintar tahu bawa speed boat. Jangankan speed boat, bawa helikopter saja dia biasa." ujar Naura.


"Serius? Hebat banget Daddy." ujar Mayu kagum.


"Iya dong, harus itu. Apa kalian sudah siap berangkat?" ujar David.


"Iya sudah Dad." jawab Naura.


"Ok, ayo kita let's go!" seru David kemudian menjalankan perlahan speed boatnya dan makin lama makin cepat.


"Aa keren banget Daddy!" teriak Mayu girang. Mayu sangat suka naik speed boat walau anginnya dangat kencang. Ini benar-benar pemgalaman yang luar biasa dalam hidup Mayu, ditambah lagi dia perginya bersama daddy dan adik tirinya.


"Udah gue bilang jangan terlalu norak, Mayu!" seru Naura lagi.


"Biarkan saja." ujar Mayu cuek. Dan kembali teriak dengan wajah bahagianya.


"Wow pemandangan lautnya begitu indah. Terima kasih ya Allah, terima kasih Daddy dan terima kasih juga Naura." ujar Mayu malah makin menjadu teiaknya.


Naura hanya memperlihatkan wajah malasnya.


"Gue bener-benar senang deh Nau, mimpi apa ya gue bisa naik speed boat sekeren ini? Dan ini semua bisa terjadi berkat lo Nau, sekali lagi terima kasih ya Naura." ujar Mayu tulus.


"Iya," ujar Naura malas.


Mayu tidak perduli dengan wajah malas Naura. Dia lebih perduli pada pemandangan lautnya yang sangat indah. Mayu baru tahu kalau Jakarta ada pemandangan laut seindah ini, dia pikir hanya di Bali saja adanya.


Mayu kemudian merentangkan tangannya dan memejamkan matanya, dia mau menikmati salah satu ciptaan Tuhan yang begitu indah.


Naura diam-diam melirik pada Mayu. Dia bisa melihat wajah bahagia Mayu, padahal apa yang mereka alami saat ini, sangatlah biasa bagi Naura.


"Lo beneran suka naik speed boat Mayu?" tanya Naura.


Mayu membuka matanya.


"Tentu saja. Lo enggak pernah merasakan jadi gue sih, jangankan naik speed boat, naik perahu kayu yang ada di ancol juga baru sekali gue. Itu juga udah senang banget gue. Apa lagi ini naik speed boat." cerita Mayu dengan wajah bahagianya.


"Memang kasihan sih hidup lo, tapi kok lo bisa terlihat ceria terus?" ujar Naura mulai penasaran.


"Itu karena gue selalu bersyukur Naura. Gue memang pernah merasakan hidup susah, tapi gue yakin, di luar sana banyak yang hidupnya lebih susah dari gue, karena sesusah-susahnya gue, gue masih bisa sekolah dan hidup di tempat yang layak. Lo sih jarang-jarang mau melihat ke bawah, makanya lo enggak pernah merasa puas dengan hidup lo. Padahal bisa dibilang, hidup lo itu hampir sempurna, hanya saja lo enggak pernah bersyukur untuk itu." jelas Mayu membuat Naura seketika terdiam.


Benar kata Mayu, dia jarang sekali bersyukur dalam hidupnya, dia juga masih suka sirik pada orang lain terutama Mayu. Padahal bila dibandingkan dengan Mayu, hidupnya itu jauh lebih beruntung. Dia punya orang tua lengkap dan harta yang berlimpah, sedangkan Mayu dia bisa hidup enak juga baru-baru ini saja, selebihnya hidupnya penuh dengan penderitaan.


"Lo kenapa diam Naura, lo merasa tersindir ya? Maafkan gue kalau lo merasa tersindir, tapi enggak ada salahnya loh kalau lo mau belajar bersyukur. Percaya pada gue, lo pasti akan jauh lebih bahagia kalau lo mau bersyukur." ujar Mayu lagi.


"Iya gue akan belajar." ujar Naura akhirnya membuat Mayu tersenyum.


"Nah begitu dong, ini baru Naura yang cantik jelita dan memiliki au-"


"Lo bilang aura gelap lagi, gue lempar lo ke laut, tahu rasa lo!" seru naura cepat memotong ucapan Mayu.


"Hehe ... damai Naura!" ujar Mayu sambil menujukkan jari salam damainya.

__ADS_1


__ADS_2