
"Nau, Alex telepon." seru Mayu begitu mereka sudah di mobil dan dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Benar-benar tertarik kayaknya dia sama lo May, Garcep sekali sekali dia." ujar Naura.
"Belum tentu tertarik juga Naura, mungkin hanya penasaran saja, terus ini gue gimana, gue biarkan saja atau diangkat?" tanya Mayu minta pendapat Naura.
"Ya lo angkat saja dan jawab singkat saja. Bila perlu pancing soal pacar, biar lo ada alasan memberitahu dia kalau lo sudah punya pacar. Dengan begitu dia juga jadi tidak berharap pada lo." saran Naura.
"Benar juga ya. Baiklah gue akan jawab teleponnya." ujar Mayu kemudian menjawab telepon Alex.
Naura mengangguk dan memberi kode Mayu supaya meloudspeaker panggilannya.
Mayu balas mengangguk.
"Assalamualaikum Mas," ujar Mayu.
"Waalaikumsalam Mayu. Maaf saya mengganggu. Apa kamu sudah sampai di rumah?" tanyanya.
"Belum Mas, saya masih di jalan bersama Naura. Mas ada perlu apa menelepon saya?" ujar Mayu balas bertanya.
"Saya hanya mau membicarakan lebih lanjut soal kerja sama kita. Kira-kira kapan kita bisa bertemu?"
"Kalau soal itu saya tidak tahu Mas. Soal sepatu itu saya harus membicarakannya sengan tim saya dulu dan belum bisa dalam waktu dekat ini juga karena Maga Beauty juga mau meluncurkan produk parfume jadi kami mau fokus pada itu dulu." ujar Mayu berusaha mencari alasan. Padahal untuk produk parfume adalah tugas Naura dan timnya, bagian Mayu hanya membantu pemasaran saja.
"Begitu ya, berarti kamu belum ada rencana membuat sepatu dalam waktu dekat?" tanya lagi.
"Belum Mas, Saya dan tim juga baru sekedar rencana saja, dan kami belum ada membahas soal desain dan yang lainnya. Nanti saja kalau sudah fiks, tim saya akan menghubungi Mas lagi." ujar Mayu dan berusaha bersikap sebiasa mungkin karena ini menyangkut pekerjaan, jadi dia harus profesional.
"Begitu ya? Ya sudah tidak apa-apa, saya tunggu kabar baiknya."
"Iya Mas. Ya sudah ya Mas, ini saya dan Naura sudah mau sampai di rumah." ujar Mayu berusaha mencari alasanan menyudahi pembicaraan mereka.
"Eh Mayu tunggu, buru-buru sekali kamu! Nanti saja kalau kamu sudah sampai di rumah. Saya masih ingin mendengar suara kamu." ujarnya lagi membuat Naura seketika memperlihatkan wajah tidak sukanya. Semakin terlihat jelas kalau itu cowok ada rasa tertarik pada Mayu. Wajar saja memang dia tertarik pada Mayu mengingat Mayu juga punya banyak sekali kelebihan. Hanya saja Mayu kan sudah punya pacar. Eh, tapi cowok itu belum tahu kalau Mayu sudah punya pacar.
"Maaf sekali Mas saya harus mematikan sambungan teleponnya, kebetulan sekali pacar saya telepon. Saya harus mengangkatnya. Saya enggak mau dia sampai marah gara-gara ponsel saya sibuk. Sekali lagi maaf banget ya Mas." ujar Mayu dan buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Ini Mayu tidak bohong atau sengaja melakukannya, Alga memang menghubunginya.
Mayu menarik nafas cepat dan membuangnya dengan cepat. Alga benar-benar datang di saat yang sangat tepat. Jangan-jangan dia ada firasat lagi?
Tanpa menunggu lebih lama lagi Mayu menjawab video call Alga. Sedangkan Naura juga tampak lega di wajahnya. Alga tahu saja kapan waktu yang tepat menghubungi Mayu.
__ADS_1
"Assalamualaikum Kak," ujar Mayu begitu muncul wajah ganteng pacarnya.
"Waalaikumsalam Ay. Telepon kamu sibuk, kamu habis teleponan sama siapa?" tanya Alga langsung to the poin dan Mayu refleks menelan ludahnya. Dia harus jawab apa pada Alga? Haruskah dia bohong atau jujur?
"Itu Kak, mas Alex anaknya kenalan om Pratama dan yang memiliki pabrik sepatu." ujar Mayu memilih jujur. Mayu enggak ingin berbohong karena kalau sudah mulai berbohong, pasti akan ada kebohongan yang lain lagi.
"Mas? Orangnya masih muda?" tanya Alga lagi.
"Masih Kak, lebih tua 2 tahun dari Kak Alga. Dia baru menyelesaikan S2nya katanya." jawab Mayu lagi membuat raut wajah Alga jadi berbeda.
"Apa orangnya ganteng?" tanya Alga cepat.
"Ya kalau cowok sudah pasti ganteng lah Kak." jawab Mayu apa adanya.
"Ganteng mana sama aku?" tanya Alga tidak menyerah.
"Ya ganteng Kak Alga lah. Menurut Mayu Kak Alga adalah orang paling ganteng nomor 2 di dunia ini." ujar Mayu cepat dan tanpa ragu.
"Kenapa hanya nomor 2, nomor satunya siapa?" tanya Alga tidak terima.
"Ya tentu saja daddy David." jawab Mayu cepat dan Alga langsung salah tingkah mendengarnya. Gara-gara si Alex dia hampir saja cemburu buta pada calon mertua sendiri.
"Itu Kak Alga tahu. Pasti Kak Alga tadi sempat cemburu ya?" tuduh Mayu yang sangat tahu perubahan wajah Alga.
"E-enggak, kenapa aku harus cemburu?" ujar Alga gensi.
"Yakin?" ujar Mayu lagi dan menatap fokus pada Alga.
"Ya aku cemburu." ujar Alga memilih mengaku membuat Mayu tersenyum. Naura juga ikut tersenyum tipis dan dia sudah terbiasa sekali mendengar obrolan manis antara Alga dan Mayu.
"Nah gitu dong, ngaku saja kalau lagi cemburu."
"Iya Ay. Terus itu tadi Alex bicara apa saja dengan kamu, kenapa dia menelepon kamu malam-malam dan bukannya kalian habis bertemu?" tanya Alga beruntun membuat Mayu was-was. Untuk kali ini Mayu jelas tidak mau membuat Alga cemburu karena Mayu tidak mau pacarnya jadi kepikiran.
"Itu Kak, dia hanya membicarakan soal kerja sama karena kami mau membuat sepatu Maga Wear. Hanya saja pembicaraannya enggak lama kok dan itu karena Kak Alga telepon. Aku juga bilang padanya kalau pacarku telepon." jelas Mayu.
"Yakin kamu bilang padanya kalau pacar kamu telepon?" tanya Alga memastikan. Sejujurnya Alga sempat was-was karena Alex menghubungi Mayu, tapi begitu Mayu mengatakan pacarnya telepon, tentu itu menjadi kelegaan tersendiri di hati Alga. Itu berarti Alex itu sudah tahu kalau Mayu sudah punya pacar.
"Yakin banget dong Kak, kalau Kak Alga tidak percaya tanya saja pada Naura!" ujar Mayu sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah Naura.
__ADS_1
"Mayu enggak bohong Kak Alga dan Kak Alga enggak perlu khawatir soal si Alex itu. Aku tidak akan membiarkannya mendekati Mayu karena aku juga maunya hanya Kak Alga saja yang jadi kakak Iparku." ujar Naura dan langsung mendapat acungan jempol dari Alga.
"Mantap, itu baru calon adik ipar yang best." ujar Alga.
"Tentu saja Naura gitu loh." ujar Naura malah narsis. Alga dan Mayu juga tersenyum menanggapinya.
Mayu kembali mengarahkan kamera ponselnya padanya.
"Udah jelas kan Kak? Lagian Kak Alga juga enggak perlu mikir macam-macam soal aku, aku enggak semudah itu berpaling dari kak Alga. Stok laki-laki seperti Kak Alga sangat jarang di dunia ini, tentu aku juga enggak mau jadi orang bodoh karena berpaling dari Kak Alga." ujar Mayu mantap membuat Alga tersenyum senang.
"Pacarku makin pintar saja gombalnya. Andai kamu di dekatku Ay, udah aku peluk kamu sampai enggak bisa nafas." ujar Alga.
"Mati dong." balas Mayu.
"Ya jangan mati dong Ay! Aku enggak mau jadi duda." ujar Alga cepat membuat Mayu tertawa.
"Ya enggak jadi duda juga dong Kak, kan kita belum nikah."
"Jangan bilang ini kode ay, biar aku nikahin kamu." ujar Alga.
"Ya kalau pun kode, enggak mungkin juga kan Kak Alga nikahin aku sekarang." ujar Mayu tidak mau kalau.
"Tentu saja bisa, zaman sekarang ini ada loh Ay nikah via video call." balas Alga.
"Memang ada Kak Alga, tapi secanggih-canggihnya zaman, belum ada loh malam pertama via video call." ujar Naura ikutan nimbrung membuat Alga dan Mayu tertawa ngakak.
"Benar juga ya, untuk apa nikah kalau enggak bisa malam pertama?" ujar Alga.
"Itu Kak Alga tahu." ujar Naura lagi.
"Kalau begitu kita tidak jadi nikah sekarang Ay, nikahnya nanti saja kalau sudah bertemu." ujar Alga dan Mayu hanya tersenyum.
"Lagian siapa juga yang mau nikah dengan Kak Alga via video call? Udah deh Kak kita ganti topik saja!" ujar Mayu.
"Siap Sayang." ujar Alga.
Mereka masih lanjut video call sampai Mayu di rumah. Alga bahkan tidak matikan sambungan vidio callnya saat Mayu cuci muka, gosok gigi dan ganti baju. Hanya saja Mayu sengaja membalikkan poselnya biar suaranya saja yang kedengeran.
Begitu memang kalah lagi LDR, ponsel sampai panas buat teleponan. Apalagi Mayu dan Alga tidak punya banyak waktu untuk video call. Selain karena kesibukan, karena pebedaan waktu yang cukup jauh dan itu sekitar 6 jam.
__ADS_1