
"Dapat berapa penjualan kita hari ini Kak?" tanya Mayu.
Mayu sengaja menyuruh Alga menghitung penjualannya sementara dia, merapikan sisa penjualannya seperti biasanya.
"620 ribu. Ini termasuk banyak atau sedikit?"
"Banyak dong. Kadang aku jualan seharian dari pagi sampai malam juga paling dapat segitu, ini hanya siang juga dapat segitu. Dan itu semua tentunya berkat Kak Alga, terima kasih Banyak Kak Alga, sering-sering ya Kak Alga temani Mayu dagang hehe ...." ujar Mayu dengan senyum cerianya.
Alga ikut tersenyum dan mengacak gemas rambut Mayu seperti biasanya.
"Pasti aku akan sering-sering temani kamu dagang Ay kalau aku tidak sibuk mengerjakan tugas. Aku suka menemani kamu jualan, dan itu ternyata cukup menyenangkan dan tidak seburuk yang aku pikirkan. Hanya saja yang membuat aku penasaran. Misalkan ini kita penjualannya sampai 620 ribu kira-kira keuntungannya dapat berapa?" tanya Alga ingin tahu.
"Sekitar 150 ribu sampai 200 Kak,"
"Lumayan juga ya, berarti penghasilan kamu kalau dihitung perbulan lumayan juga ya?" ujar Alga tidak menyangka ternyata penghasilan tidak sekecil yang dibayangkannya. Belum lagi ditambah penghasilan kreditan dan online.
"Kalau kotornya memang lumayan Kak, tapi kalau dihitung bersihnya pas-pasan saja. Sekarang ngitungnya begini saja. Hari ini Mayu ada belanja ke tanah abang, buat beli bensin habis 20 ribu, parkir 5 ribu. Ditambah lagi uang keamanan jualan di sini 10 ribu, beli minum untuk kita berdua 10 ribu, ongkos kak Alga 15 ribu. Itu yang kelihatanya saja sudah 60 ribu dan itu karena kita berdua tidak ada makan apa-apa. Coba kalau tambah untuk biaya makan kita lagi, kak Alga bisa hitung bersihnya berapa!" jelas Mayu.
"Berarti kalau dihitung semua bersihnya bisa-bisa tidak sampai 100 ribu?" ujar Alga kembali kembali tidak menyangka. Ternyata setelah dihitung semuanya penghasilan bersihnya tidak simbang dengan rasa capeknya.
Mayu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya, tapi Mayu sudah sangat bersyukur Kak. Senggaknya Mayu sama nenek sampai sekarang masih bisa makan dengan baik, tinggal di kontrakan, Mayu juga masih bisa kuliah dan satu lagi yang terpenting, kami tidak punya utang." ujar Mayu mantap.
"Ya kamu benar. Satu-satunya yang harus kita lakukan ya memang sebaiknya bersyukur, berapa pun penghasilan kita."
"Seratus buat Kak Alga." ujar Mayu mengacungkan jempolnya.
Alga dan Mayu sama-sama tersenyum dan Alga kembali mengacak gemas rambut Mayu. Pacaran dengan Mayu membuat hari-hari Alga jadi lebih berwarna, dan satu yang pasti, dia merasa beruntung meski maminya sering sekali menantang keinginannya. Andai saja maminya mau mendukung semua keinginannya maka kebahagiaan Alga akan sempurna.
***
"Dari mana saja kamu Alga? Jam sepuluh malam baru sampai di rumah. Kamu itu masih mahasiswa, bukannya belajar dulu yang diutamakan tapi malah keluyuran saja kerjaan kamu. Ingat kamu itu penerus papi kamu, harusnya kamu itu belajar lebih banyak lagi." ujar Dira begitu Alga melewati ruang utama rumahnya.
Alga menghentikan langkahnya dan menatap maminya.
__ADS_1
Alga bukannya menjawab, tapi di justru menghampiri maminya dan salim pada maminya, membuat Dira seketika melotot. Alga sudah lama sakali tidak mau salim padanya dan itu sudah bertahun-tahun lamanya.
"Selamat malam Mi. Maaf kalau Alga pulang telat, Alga hanya ingin mengistirahatkan otak saja Mi. Otakku ini lelah dipakai buat belajar terus, dan kalau aku paksakan juga hasilnya akan sia-sia Mi, pelajarannya tidak akan masuk ke otak tapi akan terlewat begitu saja." ujar Alga berusaha bersikap sesabar mungkin menghadapi maminya.
Alga mau menujukkan pada maminya kalau dia bisa berubah jadi lebih baik setelah berpacaran dengan Mayu, karena Mayu memang sacara tidak langsung mengajarkan apa arti sabar yang sesungguhnya padanya. Bagaimana Mayu yang selalu sabar menunggu pembeli, begitu juga bagaimana sabarnya dia dalam menghadapi para pembeli dan masih banyak lainnya.
"Alasan saja kamu, enggak ada itu otak lelah dalam belajar. Kamu itu jangan ngebodoh-bodohi Mami, Alga. Mami ini juga pernah kuliah dan tidak ada kata lelah dalam kamus Mami. Sekarang kamu bisa lihat sendiri kan hasilnya? Bisnis keluarga kita itu semakin maju dan cabangnya semakin banyak. Semua itu tentunya berkat campur tangan Mami. Kamu itu harusnya bisa contoh Mami dan papi, jangan karena kamu tinggal meneruskan saja, kamu jadi seenaknya. Mami yakin ini pasti karena pengaruh dari pacar tidak tahu diri kamu itu. Di itu memang benar-benar membawa pengaruh buruk pada kamu." ujar Dira.
Begitulah kalau sudah tidak suka dia hanya akan memandang dari sisi negatifnya saja.
Alga yang tadi masih berusaha sabar seketika kesabarannya meluap entah kemana.
"Mi, Mayu tidak mungkin membawa pengaruh buruk padaku. Dia saja kerjanya hanya bekerja dan kuliah. Dia bahkan tidak punya waktu untuk main ini dan itu. Lalu dimana letak sisi buruknya? Justru aku sangat berterima kasih pada Mayu, aku bahkan bisa belajar dari bawah dengan Mayu. Terutama bagaimana aku harus berhadapan dengan orang-orang dan bagaimana caraku bersaing dengan para pesaingku. Itu semua sangat berguna untukku kelak Mi." seru Alga membalas perkataan maminya.
"Enggak ada itu ceritanya belajar dengan Mayu Alga. Itu jelas-jelas bukan level kamu lagi Alga. Otak kamu itu sepertinya semakin tidak waras saja setelah pacaran dengan Mayu." geram Dira.
Gila saja itu anaknya mau belajar sama Mayu yang levelnya hanya diangka satu sedangkan mereka sudah diangka seratus. Dira semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran anaknya. Otaknya sepertinya benar-benar sudah dicuci sama Mayu. Entah apa yang dilihat Alga dari gadis itu?
"Justru karena otakku masih waras makanya aku memilih Mayu, Mi. Dia cantik, baik, penyayang, pengertian, pekerja keras, tidak lemah dan tidak mudah putus asa. Dia juga pintar mencari uang dan mengelola uang. Dia juga mahasiswa dan jurusannya sama denganku. Itu berarti di masa mendatang kami akan nyambung dalam hal pekerjaan dan sebagainya. Jadi kami juga bisa saling bekerja sama, layaknya apa yang Mami dan papi lakukan dulu. Satu lagi yang terpenting, sholatnya juga rajin. Kurangnya Mayu itu hanya satu aja Mi, dia tidak punya uang yang banyak, itu saja, dan menurutku itu bukanlah suatu kekurangan Mi, karena aku bisa dengan mudah menutupi kekurangannya." balas Alga.
Sampai kapan pun, Dira tidak akan sudi berbagi uangnya pada Mayu. Lebih baik dia berikan pada panti asuhan saja sekalian. Sudah jelas dia akan dapat banyak pahala.
"Alga juga tidak ada niatan memberikan uang Mami padanya, Mami tenang saja, dan Alga juga yakin Mayu tidak akan mau menerimanya karena dia bukanlah gadis matre. Udah ah, Alga mau ke kamar saja." ujar Alga dan tanpa menunggu jawaban maminya lagi Alga pergi meninggalkan maminya.
Dira menatap kepergian anaknya.
"Jangan harap Alga kamu bisa dapat uang yang banyak kalau masih pacaran dengan Mayu. Justru Mami akan membuat hidup kamu yang sudah susah itu akan makin susah." monolog Dira.
Selama Alga masih bersama Mayu, fasilitas Alga tidak akan dia kembalikan dan perlu dia akan melarang Rangga supaya tidak memberikan uangnya pada Alga, begitu juga dengan Yuhda, Vivi dan yang lainnya, tidak ada yang bisa memberikan uang pada Alga. Supaya Alga itu sadar kalau dia tidak akan bisa apa-apa tanpa keluarganya.
Alga membuka cepat pintu kamarnya dan mejatuhkan bokongnya di sofa kamarnya.
Alga menyenderkan badannya dan menatap langit-langit kamarnya.
'Kenapa semuanya jadi makin kacau, dan hubunganku dengan mami bukannya semakin membaik tapi malah semakin tidak terkendali saja.' batin Al.
__ADS_1
Alga menarik nafas pelan dan membuangnya dengan perlahan. Beban pikiran Alga semakin berat saja. Seberat ini ternyata jalan berliku yang harus di lewatinya. Padahal ini masih jalan pertama, belum kedua, ketiga dan seterusnya. Entah sejauh mana Alga akan bisa bertahan karena jalannya itu masih sangat panjang.
Dret dret
Alga kembali menarik nafas pelan begitu merasakan getar ponselnya.
Alga beralih mengambil ponselnya.
Alga tersenyum tipis begitu melihat nama Mayu yang menghubunginya. Tanpa pikir panjang Alga langsung mengangkatnya. Alga butuh mendengar suara kekasihnya untuk menghilangkan sedikit bebannya.
"Assalamualaikum Ay." jawab Alga.
"Waalaikumsalam. Kak Alga kenapa belum mengabariku? Apa Kak Alga belum sampai di rumah?" tanya Mayu.
"Maaf Ay aku lupa," ujar Alga apa adanya, dan itu karena maminya.
"Lupa? Jadi Kak Alga melupakanku, teganya! Padahal aku dari tadi bolak balik cek posel menunggu kabar dari Kak Alga. Aku sampai khawatir, takutnya terjadi sesuatu pada Kak Alga di jalan." protes Mayu.
Alga tanpa sadar tersenyum mendengarnya. Hanya karena kata khawatir Mayu, hari Alga yang tadinya berbeban berat kembali berbunga-bunga. Alga senang mendengar kata khawatir itu.
"Maaf Ay, aku sama sekali tidak ada maksud untuk melupakan kamu. Aku bicara sebentar sama mami. Aku bahkan baru masuk kamar dan belum sempat mandi." jelas Alga.
"Oh begitu, ya sudah tidak apa-apa. Kak Alga sebaiknya mandi saja, Mayu juga mau lanjut mengerjakan tugas lagi."
"Iya Ay, semangat mengerjakan tugasnya Ay. Hubungi aku lagi kalau kamu sudah selesai mengerjakan tugas!"
"Siap Tuan Muda, mandinya yang bersih ya Tuan Muda! Sarangheo." ujar Mayu kemudian buru-buru mematikan sambungan teleponnya.
Senyum Alga mengembang.
"Dasar," monolog Alga.
Kata-kata terakhir Mayu benar-benar bisa merubah suasana hati Alga dalam sekejab.
"Aku juga sangat mencintai kamu Ay, dan perasaanku semakin hari semakin dalam. Semoga kita segera menemukan jalan lain ya Ay." gumam Alga.
__ADS_1