Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Penyesalan Dira


__ADS_3

"Dimana Rahel?" tanya Dira begitu dia sampai di apartemen Rahel dan manager Rahel membukakan pintu untuknya.


Dira benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi, sebelum Alga mengakui semuanya dia harus membuat Rahel mengaku terlebih dulu, karena ini semua salahnya dan Rahel, bukan salah Alga.


"Rahel di Bogor tante dan dia tidak pulang semalam. Dia masih ada acara bersama keluarganya." jawab manager Rahel.


"Tidak pulang? Lalu kenapa kamu ada di sini? Rahel enggak mungkin pulang ke Bogor tanpa kamu! Kamu jangan coba-coba membohongi saya ya! Rahel pasti di dalam kan?" seru Dira menatap tadak percaya pada manager Rahel.


"Saya hanya disuruh Rahel membersihkan apartemennya Tante, katanya setelah pulang dari Bogor dia mau singgah dulu di apartemen. Saya beneran tidak bohong pada Tante, Rahel benar-benar tidak ada di sini Tante." ujarnya lagi.


"Saya tidak percaya. Awas kamu!" seru Dira lagi dan mendorong kasar manager Rahel. Dira sangat yakin Rahel tidak mungkin pulang ke Bogor.


Manager Rahel memilih diam dan mengalah. Dia juga membiarkan Dira masuk. Rahel memang tidak ada di apartemen mau dia Dira cari sampai ke sudut manapun dia tidak akan menemukan Rahel.


"Rahel keluar kamu! Saya mau bicara dengan kamu Rahel!" seru Dira.


Tidak ada jawaban dari Rahel.


"Rahel keluar saya bilang Rahel!" ujar Dira lagi sambil melangkah ke arah kamar Rahel.


Tanpa meminta izin terlebih dulu, Dira membuka kamar itu dan kamar itu kosong tidak ada Rahel di sana. Kasurnya juga sangat rapi ketahuan kalau sebelumnya kasur itu baru di bersihkan.


Dira menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya Rahel memang beneran tidak ada di apatemennya.


"Tidak ada kan Tante, saya kan sudah bilang pada Tante kalau Rahel tidak ada di apartemen dan dia juga sedang tidak ingin diganggu untuk saat ini." ujar manager Rahel lagi begitu Dira membalikkan badannya.


"Pulang jam berapa Rahel dari Bogor?" tanya Dira lagi.


"Saya tidak tahu Tante, dia belum menghubungi saya lagi. Kemungkinan sore dia akan pulang. Jadwalnya hari ini hanya satu, dan itu live jam 8 malam di salah satu stasiun televisi. Jika Tante mau, Tante bisa datang menemuinya di sana nanti." ujarnya lagi.


"Enggak perlu!" ujar Dira cepat. Itu jelas-jelas sudah terlambat.


Dira kemudian pergi meninggalkan apartemen Rahel. Apa yang harus dia lakukan sekarang, dia tidak mungkin menyusul Rahel ke Bogor.


Perjalanan Jakarta ke Bogor itu memakan waktu 2 jam itu juga kalau tidak macat, dan kalau pulang pergi otomatis butuh waktu paling sedikit 4 jam dan itu percuma saja, Alga pasti sudah mengaku pada para wartawan.


'Apa sebaiknya aku meminta Alga menunda dia mengaku dan itu sampai Rahel pulang? Ya aku sebaiknya melakukan itu saja.' batin Dira bicara dengan dirinya sendiri.


Dira kemudian mempercepat langkahnya. Dia harus secepatnya bertemu dengan Alga sebelum semuanya terlambat.

__ADS_1


***


"Jalan Pak!" seru Dira begitu dia sudah duduk di dalam mobilnya.


Dira menyenderkan tubuhnya dan berpikir dengan keras.


'Apa jangan-jangan Rahel sengaja menghindar dan sedang merencanakan sesuatu? Tidak biasanya dia tidak mau mengangkat teleponku dan pergi tanpa memberitahukannya padaku.' batin Dira.


'Awas saja kalau kamu melakukan sesuatu tanpa sepetahuanku Rahel. Aku pastikan akan membuat hidupmu lebih menderita lagi.' batin Dira lagi dan mulai curiga pada Rahel.


'Apa Rahel tidak tahu kalau Alga mengakui semuanya? Jika Alga mengakui semuanya maka baik dia atau Alga akan sama-sama hancur di sini? Apa jangan-jangan memang itu yang diinginkan Rahel? Ya Rahel tidak mungkin mau hancur sendiri, makanya dia memilih menghindar.' monolog Dira lagi.


Dira tanpa sadar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lagi-lagi dia semakin sadar kalau dia sudah salah dalam mengambil keputusan kali ini. Andai saja dia tidak terlalu mengikuti egonya serta rasa gengsinya. Semua ini tidak akan terjadi karena Dira juga harus mengakui kalau Mayu itu ternyata lebih baik dari pada Rahel. Rahel memang sama pekerja keras seperti Mayu, tapi pergaulannya itu terlalu luas. Apalagi kalau sudah ketemu sama teman-teman sesama modelnya, dia terkadang mer*kok dan minum minuman beralkohol. Dia juga suka pergi ke club malam. Dira tentu tidak ingin punya menantu seperti itu. Dira saja enggak mau me*okok apalagi minum-minuman beralkohol. Dia juga tidak suka pergi ke club malam. Itu jelas bukan dunia Dira.


"Nyonya sudah sampai di rumah." ujar pak supir menyadarkan lamunan Dira.


"Ah Iya Pak." ujar Dira kemudian buru-buru keluar dari mobilnya.


Dira tidak masuk rumah tapi dia berlari ke rumah Sindi. Dia berharap Alga masih ada di rumah dan belum pergi.


"Alga!" seru Dira begitu dia sampai.


"Dimana Alga?" ujar Dira dan tidak perduli dengan teguran David.


"Itu!" ujar David menujuk ke arah tangga.


"Alga!" seru Dira lagi dan berjalan cepat menghampiri anaknya.


Alga hanya menatap bingung kedatangan Dira, apalagi penampilan Dira pagi ini tidak serapi biasanya. Ini tumbenan sekali, maminya kan paling perduli sama penampilan.


"Kita harus bicara Alga!" ujar Dira lagi sambil menarik tangan Alga.


Alga tidak berusaha melawan dan memilih ngikut saja. Melihat penampilan maminya yang tidak biasa, Alga yakin pasti ada hal penting yang ingin disampaikan maminya. Sedangkan David dia juga memilih diam dan tidak komentar apa-apa karena dia juga berpikir hal yang sama dengan Alga.


"Mami mau bicara apa?" tanya Alga begitu mereka sampai di halamsn belakang rumah David.


"Ini soal gosip terbaru kamu itu Alga, mami tidak terima kalau kamu dituduh tukang selingkuh." ujar Dira.


"Apalagi Alga, Mi. Alga bahkan mau marah rasanya karena Alga bukan tukang selingkuh." balas Alga.

__ADS_1


"Iya Alga, Mami paham itu. Untuk itu kita harus menghentikan gosip itu Alga." ujar Dira lagi.


"Rencana Alga juga mau begitu Mi, Alga mau mengakui semuanya."


"Jangan kamu yang mengaku Alga, tapi biar Rahel saja yang mengaku kalau ini semua adalah cerita karangannya saja." ujar Dira lagi.


"Terus Mami pikir Rahel akan mau mengakuinya begitu saja? Alga tidak yakin itu, justru Alga takut Rahel akan sengaja mengarang cerita yang lain, membuat keadaan akan semakin parah lagi. Oleh karena ini, Alga mau mengaku secepatnya sebelum keadaan akan lebih parah lagi dari apa yang terjadi saat ini. Alga tidak ingin Mayu mendapatkan ujaran kebencian lebih lama Mi. Mayu tidak salah apa-apa dan dia tidak sepantasnya menerima itu semua. Lagian Mami tenang saja, aku dan om David sudah mempersiapkan semuanya. Mungkin Pratama group akan mengalami penurunan saham tapi itu tidak akan lama. Kami sudah punya cara lain untuk menaikkan saham kita lagi." jelas Alga.


"Benar begitu Alga?" ujar Dira memastikan.


"Ya, Mami kayak enggak tahu dunia bisnis saja. Naik turun saham itu kan soal biasa saja Mi, hanya saja Mami jangan lah berbuat hal seperti ini lagi. Alga benar-benar enggak suka jadi bahan gosip orang-orang Mi." seru Alga.


"Iya Alga, Mami salah, Mami juga enggak kepikiran kalau akan akan seperti ini akhirnya. Semua yang terjadi di luar dugaan Mami Alga." ujar Dira mengaku.


"Baguslah kalau Mami sadar kalau apa yang Mami lakukan salah dan Alga sangat berharap ini terakhir kalinya Mami mengganggu hubungan Alga dan Mayu." ujar Alga lagi.


"Iya Alga." ujar Dira pelan tapi itu sungguhan.


"Ya sudah Alga pergi."


"Iya Alga, semoga semuanya berjalan dengan lancar." ujar Dira lagi.


"Iya, amin." ujar Alga.


Alga tidak lupa salim pada maminya sebelum dia pergi meninggalkan Dira. Alga benar-benar berharap kalau setelah ini maminya benar-benar kapok dan tidak lagi mengganggu hubungannya dengan Mayu.


***


Alga menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beruntung memang dia tinggal di kompleks elit jadi bisa aman dari para wartawan. Tidak seperti Mayu yang mau keluar rumah saja sulit karena disekitar rumahnya masih banyak para wartawan. Itu juga salah satu alsan kenapa Alga tidak ingin menundanya lagi. Kasihan Mayu dan Mayu tidak mungkin melakukan kelarifikasi sendirian, takutnya Mayu akan semakin diserang. Apalagi kalau Mayu sampai salah bicara, yakin deh itu akan semakin digoreng oleh para netizen.


Begitu Alga sudah mau sampai, dia menghubungi Mayu supaya Mayu tahu bersiap-siap karena begitu Alga sampai mereka langsung melakukan wawancara.


"Apa kata kak Alga, May?" tanya Naura saat Mayu meletakkan ponselnya kembali.


Naura memang sengaja menginap di rumah Mayu bersama Shinta dan Lora juga. Mereka tidak tega meninggalkan Mayu dan nenek saja di rumah, sementara di luar banyak wartawan yang menunggu. Takutnya Mayu butuh sesuatu dan dia tidak mungkin keluar rumah.


"Dia sudah mau sampai katanya." jawab Mayu.


"Baguslah kalau begitu ayo kita bersiap-siap!"

__ADS_1


Mayu mengangguk.


__ADS_2