Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Cinta


__ADS_3

"Naura!" seru Mayu girang kemudian memeluk Naura dari samping.


"Senang banget kelihatannya. Pasti habis dapat hadiah dari Kak Alga." tebak Naura.


"Lebih dari hadiah hehe ...." ujar Mayu dan diakhiri dengan tawa kecilnya.


"Apa itu?" kepo Naura.


"Rahasia," ujar Mayu dan masih ada senyum di wajahnya.


"Ihh Mayu, beritahu gue dong! Enggak asik banget sih lo!" protes Naura.


Mayu lagi-lagi tersenyum kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Naura.


"Kak Alga ternyata normal, sangat normal malah. Kami habis itu." bisik Mayu membuat Naura seketika menatap menggoda padanya.


"Cie cie yang sudah tidak perawan. Selamat ya!" goda Naura dan langsung mendapat pukulan gemas dari Mayu.


"Enggak perlu diucapkan selamat juga kali Naura. Aneh-aneh saja lo!" protes Mayu.


"Iya Mayu iya, yang sudah tidak perawan jadi galak ya." ujar Naura lagi dan kembali mendapat protes dari Mayu.


"Naura, tidak perawan jangan disebut terus dong! Kalau ada yang dengar kan malu-maluin!" seru Mayu lagi.


"Siap Nyonya. Ngomong-ngomong Kak Alga pasti h*t banget ya. Minta berapa ronde dia? Jadi ingin deh." goda Naura lagi.


"Enak saja, lakukan sama mas Alex sana!" seru Mayu tidak terima.


"Tanpa lo suruh pun kami pasti akan melakukannya sama mas Alex, Mayu." ujar Naura mantap.


"Bagaimana kalau Mas Alex tidak meminta?" tanya Mayu.


"Ya gue akan serang duluan dia. Mana kuat dia dengan godaan gue." ujar Naura lagi dengan percaya dirinya. Naura sangat tahu seperti apa calon suaminya. Kena sentuhan sedikit saja langsung on dia.


"Ngaco lo! Memangnya lo enggak malu gitu?" ujar Mayu.


"Ya enggak lah, kenapa harus malu, sama suami sendiri ini. Orang malu enggak dapat enak Mayu." balas Naura lagi.


"Benar juga tapi kok gue masih suka malu ya?"


"Lo bukan suka malu tapi malu-maluin!" seru Naura lagi.


"Dasar adik tidak sopan!"


"Hehe ...."


Mayu juga ikut tersenyum.


"Eh May!" panggil Naura.


"Kenapa?"


"Enggak apa-apa, hanya mau manggil saja." ujar Naura santai.


"Aneh-aneh saja lo!"


"Hehe ... Sebenarnya gue hanya gugup saja May. Waktu lo nikah gugup juga enggak sih?" tanya Naura.


"Tentu saja gue gugup. Apa lagi waktu ijab kabul, gue gugupnya bukan main. Hanya saja semua rasa gugup itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan rasa bahagianya. Apalagi setelah para saksi mengatakan sah. Rasa gugupnya langsung hilang dan digantikan dengan rasa bahagia juga lega." jelas Mayu.

__ADS_1


"Benar juga ya May. Gue jadi enggak sabar deh. Benar-benar enggak kerasa ya May sebentar lagi kita berdua akan sah jadi istri. Gue jadi berharap deh May semoga kita hamilnya barengan dan anak kita jenis kelaminnya sama. Biar mereka juga bisa sahabatan seperti kita. Pasti menyenangkan sekali May." ujar Naura jadi berandai-andai.


"Iya kalau sahabatan. Bagaimana kalau mereka malah berantem kayak kita dulu?" ujar Mayu teringat dengan masa lalunya bersama Naura.


"Ya jangan sampai lah May. Pokoknya kita nanti harus ajarkan mereka supaya saling sayang dan enggak boleh saling iri." ujar Naura tentu Naura tidak mau apa yang mereka alami dialami juga oleh anak-anak mereka. Cukup dia saja yang pernah jadi orang bodoh dan egois.


"Iya, buatlah kalau mereka saling sayang dan tidak saling iri, tapi bagaimana kalau ujung-ujungnya mereka menyukai cowok yang sama? Kalau soal hati kan kita tidak bisa mengaturnya." ujar Mayu lagi.


"Waduh. Kalau soal itu gue juga langsung angkat tangan sih May. Jangan sampailah anak kita nanti mencintai orang yang sama. Membayangkannya saja sudah pusing duluan gue May." ujar Naura dan Mayu tersenyum mendengarnya.


"Pokoknya jangan sampai ya Nau!"


"Iya Itu yang kita harapkan. Ah iya May, kira-kira nanti lo mau punya menantu seperti apa?" tanya Naura membuat Mayu seketika memberikan tatapan protesnya.


"Ngaco saja lo Naura, pikirannya jangan kejauhan dong! Punya anak saja belum udah memikirkan menantu saja." seru Mayu dan mereka kembali tertawa ngakak. Begitulah kalau sudah bersama, ada saja obrolan mereka.


***


Acara pengajian Naura sudah selesai. Begitu juga dengan acara siraman. Acara siraman tidak kalah meriah dengan acara siraman Mayu waktu itu, ya walaupun para groomsmen Alex tidak mungkin datang menghampiri acara Naura, tapi tidak mengurang sedikitpun kebahagiaan mereka. Senyum bahagia juga tidak pernah hilang dari wajah cantik Naura.


Senyum itu juga menular pada orang tuanya. Mereka bahagia melihat anak bungsu mereka yang kini sudah menemukan kebahagiaannya dan dengan begitu tugas utama mereka sebagai orang tua kini sudah selesai. Sudah saatnya mereka juga fokus pada kebahagiaan mereka.


David memang sudah menerima Sindi selayaknya istrinya. Rasa cintanya juga sudah tumbuh untuk Sindi dan itu karena Sindi yang sudah menunjukkan perubahannya. David menyukai istrinya yang sekarang. Istrinya yang baik dan menyayangi kedua anaknya walau salah satunya bukan anak kandungnya.


Bisa dibilang David jatuh cinta pada istrinya memang terlambat sekali. Hampir 20 tahun mereka hidup bersama dan itu tanpa cinta karena cinta David hanya untuk mendiang Marisa mamanya Mayu. Dia mulai bisa membuka hatinya setelah minta maaf pada mendiang Marisa serta meminta izin juga restu padanya dan itu tanpa diketahui oleh Sindi tentunya. Hanya saja David tidak menyesalinya karena Sindi memang pantas mendapatkan hukuman itu.


Kini kehidupan David sudah bahagia dan kehidupan rumah tangganya juga sudah dipenuhi dengan rasa cinta dan itu semua berkat anak sulungnya tentunya. Banyak orang berkata Mayu adalah gadis yang beruntung bisa diangkat anak oleh David. Padahal Davidlah yang beruntung memiliki anak seperti Mayu karena Mayulah yang membawa kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangganya. Kebahagiaan yang tulus dan bukan dibuat-buat.


"Dad hei Dad! Mayu dan Naura memanggil kita, ayo kita foto dulu dengan mereka!" ujar Sindi.


"Eh iya Mom," ujar David.


Sindi memilih menggandeng tangan suaminya dan David lagi-lagi tersenyum padanya. Sindi juga balas tersenyum. Dia sangat mencintai David yang sekarang, David yang kelihatan sekali lebih sayang dan perduli padanya.


"Mom!" panggil David begitu mereka selesai melakukan sesi foto.


"Kenapa Dad?" tanya Sindi dan kembali menggandeng tangan suaminya.


"Mayu dan Naura kan sebentar lagi mau pergi bulan Madu, bagaimana kalau kita juga pergi bulan madu?" ujar David. David ingat dia jarang sekali pergi jalan-jalan berdua dengan Sindi. David ingin melakukannya, David ingin melakukan banyak hal dengan Sindi. Walau dibilang sudah terlambat, tidak apa-apa dari pada tidak sama sekali.


"Pergi bulan madu Dad?" tanya Sindi seakan tidak percaya. Bisa dibilang ini kejadian langka karena baru kali ini David mengajaknya bulan madu duluan.


"Iya bulan madu." ujar David lagi.


"Mau Dad," ujar Sindi senang dan langsung memeluk suaminya.


David tersenyum dan balas memeluk istrinya.


"Mom, Dad, tahu tempat dong. Mayu yang baru nikah saja enggak begitu." ujar Mayu dari belakang mereka. Mayu tentu saja tidak serius mengatakan itu. Dia juga pastinya melihat mommmy dan daddynya mesra dan terlihat bahagia.


David dan Sindi melepas pelukan mereka dan menatap tersenyum pada Mayu.


"Tentu saja kamu enggak begitu, suami kamu kan enggak ada di sini. Kasihan baru nikah saja harus pisah." ujar Sindi menggoda anaknya.


Mayu mengerucutkan bibirnya. Dia memang terpaksa berpisah dengan Alga karena Alga ikut acara siraman di kediaman Alex.


"Udah, jangan manyun begitu, nanti cantiknya hilang loh. Sini, Mayu sama Daddy saja!" ujar David kemudian merangkul anak sulungnya.


Mayu kembali tersenyum.

__ADS_1


"Ok Dad, Mommy kita tinggal saja ya Dad." ujar Mayu.


"Jangan dong Sayang nanti kalau mommy kamu ngambek daddy yang repot. Daddy yang enggak punya teman tidur." ujar David dan merangkul istrinya juga membuat Sindi tersenyum.


"Benar itu Dad. Jangan dengarkan itu anak kamu. Dia itu sirik dengan kebahagiaan kita Dad." balas Sindi.


"Hei, enggak ya! Justru Mayu ikut bahagia dengan kebahagiaan Mommy dan Daddy. Mommy dan Daddy harus tetap bersama ya, sampai maut memisahkan. Mayu cinta Mommy dan Daddy." ujar Mayu cepat.


"Kami juga cinta kamu Mayu." kompak David dan Sindi. Mereka bertiga kemudian saling tersenyum membuat yang melihatnya juga ikut tersenyum.


***


"Loh Kak Alga ngapain ke sini?" ujar Mayu begitu dia membuka pintu kamar Naura dan mendapati Alga berdiri di depan pintu.


Mayu memang minta izin padanya kalau dia mau menemani Naura tidur di hotel malam ini. Mayu dan teman-temannya memang sengaja melakukan itu. Ini tradisi mereka untuk melepas malam terakhir teman mereka sebelum dia sah menjadi istri.


"Aku juga tidur Ay. Aku tidak bisa tidur tanpa kamu, kamu tidur denganku saja ya Ay! Pliss!" pinta Alga dengan wajah memelasnya. Ini dia tidak modus. Alga juga sudah mencoba memejamkan matanya tapi tidak bisa tidur juga. Alga sudah terbiasa tidur sambil memeluk Mayu.


Mayu menatap tidak tega pada suaminya suaminya. Dia juga ingin menemani Alga tidur, tipi dia tidak enak pada Naura dan teman-temannya. Mayu juga tidak ingin disebut ingkar janji karena mereka memang sudah berjanji untuk itu.


"Ay!" panggil Alga lagi.


"Gimana ya Kak, aku sudah janji pada Naura dan yang lainnya. Aku juga tidak ingin Naura ngambek Kak. Enggak apa-apa ya Kak, malam ini saja." ujar Mayu merasa tidak enak.


"Tapi Ay, aku benar-benar enggak bisa tidur Ay. Ini aku tidak modus Ay, aku juga sudah mencobanya tapi benar-benar enggak bisa. Aku juga tiba-tiba gelisah Ay dan tidak tahu gelisah karena apa." ujar Alga apa adanya.


Mayu menarik nafas pelan, dia sangat mengerti kegelisahan Alga karena dia juga sering mengalaminya jika tidak bisa tidur.


"Aku coba tanyakan pada Naura dan yang lainnya dulu ya Kak dan semoga saja mereka tidak keberatan." ujar Mayu akhirnya meminta izin. Mayu juga tidak ingin jadi istri yang berdosa karena menolak keinginan suaminya demi teman-temannya.


"Iya Ay," ujar Alga dan Mayu kembali menghampiri Naura dan yang lainnya.


Siapa yang datang May?" tanya Lora.


"Kak Alga," ujar Mayu.


"Oh," ujar Lora sangat paham karena tidak hanya Alga para groomsmen Alex juga tidur di hotel semua. Ini hotel om tuanya Alex dan hotel ini dikhususkan untuk tamu-tamu Alex selama 2 hari.


"Nau, teman-teman sebenarnya gue ingin mengatakan sesuatu." ujar Mayu lagi.


"Apa itu May?" ujar Naura.


"Begini, Kak Alga minta gue tidur di kamar kami, boleh enggak kalau gue tidak ikut tidur bersama kalian?" tanya Mayu pelan membuat Naura dan yang lainnya saling menatap dan tersenyum menggoda pada Mayu.


"Cie cie yang sudah punya suami memang beda ya. Kalau gue sih silahkan saja Mayu, enggak apa-apa lagi. Kami juga sangat mengerti. Sebagai seorang istri tentu lo tidak bisa sebebas kami." ujar Shinta.


"Iya May, enggak apa-apa kok. Toh disini juga masih ada Ira dan yang lainnya. Kalau lo mau ke kamar lo, silahkan saja!" ujar Naura pengertian.


"Beneran nih tidak apa-apa?" tanya Mayu memastikan.


"Iya Mayu, tidak apa-apa." ujar Naura lagi membuat Mayu tersenyum lega.


"Terima kasih pengertiannya Naura. Kalau begitu gue pergi dulu!"


"Iya,"


"Mayu, yang mantap ya goyangannya, biar keponakan kami cepat jadi." seru Yuli dan disambut dengan sorakan yang lainnya.


Bukan Mayu yang mengacungkan jempol tapi Alga lah yang melakukannya dari depan pintu membuat sorakan di kamar itu semakin menjadi.

__ADS_1


Alga dan Mayu tersenyum saja melihat tingkah mereka.


__ADS_2