
"Mayu tunggu!"
Mayu yang hendak masuk kamar mandi menoleh.
Mayu langsung membalikkan badannya dan tersenyum begitu melihat Naura yang memanggilnya. Udah berapa hari ini Mayu ingin bicara dengan Naura tapi belum juga ada kesempatan.
Kebetulan sekali ini Naura duluan yang menyapanya, Mayu tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya. Mayu memang ingin mendekati Naura untuk mencari tahu lebih dalam tentang papa kandungnya.
"Iya Naura ada apa?" tanya Mayu.
"Plak!" Mayu sangat terkejut saat Naura tiba-tiba menamparnya.
"Hei Naura!" seru Mayu tidak terima dan memegang pipinya yang ditampar keras Naura. Rasanya lumayan sakit. Pipi putih Mayu sampai memerah.
"Kenapa, lo mau gue tampar lagi, iya? Tamparan itu sangat pantas untuk lo yang sudah main licik!" seru Naura marah.
"Maksud lo main licik apa Naura?" tanya Mayu bingung. Perasaan Mayu tidak ada urusan apa-apa dengan Naura. Sebelumnya bahkan mereka tidak kenal dan hanya sekedar tahu nama saja.
"Enggak usah pura-pura enggak tahu deh lo. Gue tahu, lo pasti sudah main dukun kan?" tuduh Naura.
"Main dukun buat apa Naura?" tanya Mayu semakin bingung atas tuduhan tidak berdasar Naura.
"Tentu saja untuk memenangkan hati kak Alga. Lo pasti sudah ngedukuni dia, makanya dia mau menerima lo, kalau tidak, enggak mungkin kak Alga mau sama cewek udik kayak lo! Ngaku saja deh lo!" ujar Naura menatap tajam Mayu.
Mayu balas menatap tajam Naura, dia tidak terima sama sekali dengan tuduhan Naura. Naura tidak tahu saja kejadian sebenarnya kalau dia juga sangat terpaksa nembak Alga, dan itu demi bayar ganti rugi serta beasiswanya.
"Hei Naura kalau nuduh orang itu, jangan sembarangan dan seenaknya! Mana buktinya kalau gue main dukun? Gue pikir dengan wajah cantik lo, otak lo juga ikut cantik dan modren, tapi ternyata salah besar, dan lo masih percaya saja sama yang namanya dukun." balas Mayu tidak terima.
__ADS_1
Mayu tidak akan diam begitu saja saat ada orang yang mengatainya. Dia sudah terbiasa keluar masuk pasar, dan dia sudah biasa mengahadapi orang-orang bermulut pedas seperti Naura. Selama Mayu ada diposisi benar, dia tidak takut pada siapa pun.
"Tentu saja gue percaya sama yang namanya dukun karena dari dulu sampai sekarang dukun itu masih ada, dan biasanya orang-orang yang suka ke dukun itu adalah orang-orang udik seperti lo. Udah deh lebih baik lo ngaku saja, jangan sampai perbuatan licik lo gue beritahukan pada kak Alga." ancam Naura.
"Beritahukan saja sana, enggak takut gue, dan gue yakin kak Alga tidak akan percaya sama lo! Kak Alga itu bukan orang bodohll yang bisa dengan mudahnya mempercayai omongan orang lain tanpa ada bukti." balas Mayu.
"Oh jadi lo nantangin gue. Mentang-mentang kak Alga sudah menerima cinta lo, lo merasa jadi cewek paling jago gitu? Hei Mayu dengar baik-baik ya gue itu sudah kenal kak Alga lebih lama dari lo, dan gue sangat tahu seperti apa kak Alga. Kak Alga mau menerima lo juga paling untuk menjadi pelampiasan se*snya saja. Lumayan kan dia bisa dapat gratisan tiap hari, dari pada harus bayar. Dasar cewek murah*n, tidak punya harga diri." ujar Naura tidak berperasaan sama sekali dan sengaja memancing kemaran Mayu..
Plak!
Mayu tanpa sadar menampar keras Naura. Dia benar-benar tidak terima dengan apa yang dikatakan Naura. Apa yang dikatakan Naura itu terlalu kejam. Bisa-bisanya dia menuduh Mayu sekejam itu. Seumur hidup Mayu, jangankan melakukan itu, kiss saja Mayu tidak pernah.
Matu menatap tajam Naura dan nafasnya cepat. Mayu juga mengepalkan kuat tangannya, dia sedang berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. Mayu masih memikirkan kalau ini kampus, dia tidak seharusnya melakukan kekerasan.
"Huwa!" Naura tiba-tiba menangis hingga mengundang perhatian orang-orang sekitar mereka.
Naura tersenyum licik saat para mahasiswa mulai memperhatikan mereka. Naura menyentuh pipinya yang ditampar Mayu.
"Kenapa lo tampar gue Mayu? Jika permintaan gue terlalu berlebihan, lo harusnya bilang baik-baik pada gue, tanpa harus menampar gue. Lo benar-brnar cewek kasar Mayu. Asal lo tahu Mayu, seumur hidup gue baru kali ini gue ditampar, dan ini rasanya sangat sakit Mayu hikss ...." ujar Naura sambil menangis, melancarkan aksinya.
Mayu kembali melotot mendengarnya dan dia bisa melihat senyum licik itu. Apa Naura memang sengaja melakukan ini untuk mempermalukannya?
"Ya ampun Nau, apa yang terjadi Nau, kenapa lo menangis Nau? Apa benar Mayu menampar lo Nau?" tanya Ira pura-pura terkejut. Padahal dia juga sangat tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Iya Ra, Mayu menampar Gue. Padahal gue hanya minta izin padanya supaya tidak melarang gue berteman dengan kak Alga, karena biar bagaimana pun, gue sudah berteman lama dengan kak Alga dan dia juga tetangga gue." lirih Naura.
Ira beralih menatap kesal Mayu.
__ADS_1
"Ya ampun Mayu, kenapa lo itu kasar banget? Kami semua tahu kalau lo sudah jadian dengan kak Alga, tapi tidak segitunya juga Mayu. Jangan karena lo sudah jadi pacar kak Alga, lo merasa jadi paling berhak atas kak Alga, Mayu." ujar Ira menyalahkan Mayu.
"Benar itu Mayu. Lagian lo itu baru pacarnya kak Alga, bukan istrinya. Ditambah lagi, kak Alga juga belum cinta sama lo, tapi kelakuan lo berasa jadi cewek paling sok iya saja." ujar salah satu mahasiswi yang lain yang termasuk penggemar Alga juga dan tidak terima Alga jadian dengan Mayu.
"Iya benar, jangan terlalu sombong lah Mayu. Apa hebatnya sih lo bila dibandingkan dengan Naura? Padahal baru juga jadian, dan gue yakin kak Alga juga paling hanya mau menjadikan lo mainannya saja." ujar yang lain.
"Benar itu, dan tenyata Mayu tampangnya doang sok alim tapi dalamnya ternyata sangat jahat dan tidak punya hati." seru yang lainnya lagi.
Hampir semua mahasiswi yang ada di situ menatap tidak suka pada Mayu. Mayu benar-benar tidak ada harga dirinya di hadapan mereka.
Mayu hanya diam dan semakin mengepalkan kuat tangannya. Mayu tidak mungkin membalas omongan mereka semua dan kalau pun dia mau membela diri akan percuma saja. Para mahasiswi itu tentu akan lebih percaya pada Naura. Sedangkan Naura tersenyum puas dalam hatinya senang dia, rencananya berjalan dengan lancar dan melihat Mayu tidak berkutik sama sekali.
'Ini baru permulaan Mayu dan gue pastikan lo akan semakin menderita jika tetap mempertahankan hubungan lo dengan kak Alga. So, kalau lo mau hidup tenang, cepatlah putuskan kak Alga!' batin Naura.
Mayu akhirnya hanya menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Naura dan yang lainnya.
"Huu!" teriak Naura dan yang lainnya. Naura benar-benar tersenyum puas melihat Mayu tidak berdaya.
Mayu terus berjalan sambil menundukkan kepalanya. Mayu sekuat tenaga menahan air matanyanya agar tidak terjatuh. Mayu benar-benar tidak mau menangis karena mereka. Inilah yang Mayu takutkan dari awal jika dia jadi kekasih bayaran Alga dan akhirnya terjadi juga. Mayu juga yakin selama dia masih jadi kekasih bayaran Alga, hidupnya pasti tidak akan tenang. Menjadi kekasih seorang tuan muda itu bukanlah suatu yang mudah, walau hanya kekasih bayaran.
Langkah Mayu terhenti saat tidak sengaja menabrak seseorang. Mayu tetap menundukkan kepalanya, dan tanpa mau repot-repot menatap orang itu, Mayu melangkah ke kanan. Orang itu juga ikut melangkah ke kanan. Mayu beralih melangkah ke kiri. Orang itu juga melakukan hal yang sama. Sepertinya dia memang sengaja ingin menghalangi jalan Mayu.
Mau tidak mau Mayu mengangkat kepalanya dan menatap orang itu.
Tatapan Mayu kembali ingin marah begitu melihat wajah pelakunya. Mayu sangat kesal dan satu-satunya orang yang tidak ingin Mayu temui saat ini adalah orang ini. Orang berwajah malaikat tapi sangat kejam, dan siapa lagi kalau bukan Alga.
Mayu mendorong keras tubuh Alga kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat. Mayu tidak perduli Alga akan marah atau menghukumnya. Mayu benar-benar muak melihat wajah itu.
__ADS_1
"Eh!" kaget Mayu saat Alga tiba-tiba menarik tangannya dan menggenggamnya erat. Alga juga menatap tajam padanya. Untuk sesaat Mayu seakan terhipnotis dengan tatapan mata itu juga genggaman tangan Alga. Padahal dia ingin marah, tapi mulutnya seakan terkunci, dan Mayu juga akhirnya ngikut saja saat Alga menarik tangannya.