Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Mencari Rumah


__ADS_3

"Kamu serius si Mayu itu mencairkan cek senilai 550 juta? Siapa uang memberikan dia cek itu? Cepat kamu cari tahu!" ujar Dira cepat dan masih tampak syok di wajahnya. Bagaimana mungkin Mayu memiliki cek senilai 550 juta?


"Saya tidak bisa mencari tahunya lebih dalam lagi Nyonya. Pihak bank tentu tidak akan mau memberitahukan informasi tentang nasabahnya pada pihak luar. Mungkin Nyonya bisa menyuruh orang lain melalui orang dalam." jawabnya.


"Iya saya tahu itu, kamu ada di bank apa?" ujar Dira.


"B*I, Nyonya."


Dira ya tampak berpikir, siapa kira-kira yang bisa membantunya?


Dira tanpa sadar tersenyum penuh arti, begitu teringat seseorang yang bisa dengan mudah membantunya mencari tahu lebih dalam, soal rekening yang dimiliki Mayu.


"Bagus, saya sudah menemukan orangnya. Kamu lebih baik ikuti dia lagi. Dan segera beritahu saya kalau ada hal mencurigakan dari gerak geriknya."


"Baik Nyonya."


Dira mematikan sambungan teleponnya dan langsung menghubungi temannya. Temannya yang bekerja di bank B*I, yang menduduki jabatan penting di sana.


Permintaan Dira tentu saja dengan mudah dikabulkan oleh temannya, dan setelah menunggu beberapa menit, Dira langsung mendapatkan informasi yang ingin di dapatkannya.


Hanya saja hasilnya benar-benar membuat Dira semakin syok. Saldo rekening Mayu, jumblah lebih dari satu Miliyar, itu rasanya benar-benar tidak mungkin.


Dira sampai bekacak pinggang dan raut wajahnya masih tampak syok. Bagimana mungkin seorang Mayu si penjual kolor murahan bisa punya uang 1 milyar?


"Sumber uangnya tidak hanya dari satu orang saja, tapi dari beberapa orang. Dia juga pernah menabung dalam bentuk uang cash, dan yang paling banyak dari cek yang dicairkan. Cek pertama dari pihak grand jam ternama, dan 2 cek lainnya dari pihak grand perhiasan ternama."


Apa yang dikatakan temannya itu masih terekam jelas dalam benak Dira. Itu berarti kemungkinan besar, sumber uang Mayu berasal dari seseorang yang sengaja menjual barang.


"Apa jangan-jangan Alga mencuri jam papinya dan perhiasanku? Sepertinya begitu dan itu biar aku tidak curiga." gumam Dira dan tanpa pikir panjang, Dira langsung berlari ke kamarnya. Entah kenapa pikirannya selalu mengatakan kalau uang itu Mayu dapatkan, pasti dari Alga. Meski hatinya sedikit ragu juga karena ada uang cashnya dan Alga tidak mungkin memiliki uang cash sebanyak itu.


"Tapi bisa saja kan Alga menjual perhiasan dan minta pembayarannya secara cash." monolog Dira lagi seakan mendukung apa yang dipikirkannya.


Dira membuka cepat pintu kamarnya. Tujuan pertama langsung tertuju pada tempat penyimpanan jam tangan suaminya.


Dira membuka cepat kotak jamnya dan menatapnya satu persatu.


"Ini masih ada, ini juga ada, dan ini juga ada." monolog Rika kemudian menggaruk kasar kepalanya. Jam tangan mewah Pratama jumblah lebih dari dua puluh, dan itu tentu bukan dia atau Pratama saja yang membelinya, tapi lebih banyak dari hadih rekan kerja Peratama.

__ADS_1


Apa lagi kalau pratama ulang tahun, pasti ada saja yang memberikan kado jam tangan mewah. Dan Dira tentu tidak akan ingat semua jam tangan pemberian itu. Beda halnya dengan Alga yang memiliki jam tangan mewah hanya hitungan biji saja.


Tatapan Dira beralih pada tempat perhiasannya dan Dira semakin pusing lagi karena perhiasannya juga tidak kalah banyaknya. Tidak jauh berbeda dengan Pratama, Dira juga sering sekali diberi hadiah perhiasan. Dan Dira kebiasaan, hanya perhiasan yang nilai milyaran saja, dia tempatkan di tempat sepesial, selebih asal dia masukkan saja ke dalam kotak masing-masing.


'Bagaimana aku bisa tahu, Alga sudah mengambil barang-barangku atau tidak?' batin Dira.


"Ah CCTV!" gumamnya semangat. Dira bisa, mengeceknya dari CCTV dan CCTV tidak akan bisa berbohong seperti Alga yang Dira yakini akhir-akhir ini suka berbohong padanya.


Sementara itu Alga dan Mayu, sudah sampai di rumah pertama.


Dilihat dari lokasi rumanya cukup strategis. Letaknya memang tidak di pinggir jalan raya besar. Hanya jalan ke rumah itu juga sudah dilewati angkot, meski yang lewat hanya satu jenis angkot saja. Di sepanjang jalan juga sudah dipenuhi oleh orang dagang, dan dagangan mereka beragam-ragam jenisnya.


Mayu sebenarnya langsung suka begitu melihat lokasinya, dan Mayu rasa tempatnya itu cocok untuk dia buka usaha pakaian dalam dan baju tidur. Hanya saja harganya yang tidak cocok menurut Mayu. Rumah itu dihargai 2,5 milyar dan parahnya itu rumah baru setengah jadi saja. Baru lantai satunya yang terlihat rapi, untuk lantai 2 masih sangat berantakan dan belum jelas mau dibentuk seperti apa.


Untuk lantai satunya Mayu cukup suka karena ada toko dan garasinya. Dan untuk tokonya itu cukup luas ukuranya 4×4 dan itu langsung menyatu dengan rumah. Dalam rumah juga masih satu ruang kosong, satu kamar, dapur dan kamar mandi.


Jika di lihat dari lantai satu Mayu sebenarnya suka meski rumah itu belum dicat karena memang belum jadi. Mayu dengar, pemiliknya memang terpaksa menjualnya karena suaminya pindah tugas ke luar kota dan mereka juga kekurangan dana.


"Gimana menurut kamu Ay?" tanya Alga.


"Kalau menurutku ini termasuk sangat murah Ay, dan ini kamu bisa dapat harga semurah ini, karena kamu berhubungan langsung dengan pemiliknya. Jika rumah ini sudah dibeli oleh temanku dan dia melanjutkan membangun rumah ini, harga jual dari rumah ini katanya bisa mencapai 4 milyar, dan kamu tahulah harga rumah pasti akan semakin mahal apalagi kalau pinggir jalan. Ini juga karna aku yang minta tolong padanya, kalau enggak dia tidak akan semudah itu melepas rumah ini padaku, atau kamu mau kita lihat rumah yang satunya lagi sebagai bahan perbandingan?" jelas Alga.


"Boleh deh Kak, sekalian aku mikir juga. Soalnya uangku juga kurangnya masih banyak banget Kak, lebih dari setengahnya." ujar Mayu apa adanya. Itu juga yang Mayu pikirkan dari tadi, jika uangnya sudah cukup mau harga tiga milyar pun tidak masalah. Sayangnya uangnya belumlah sebanyak itu.


"Kamu bisa bicarakan dengan daddy kamu dulu Ay, dan aku juga pasti akan cari cara untuk membantu kamu. Yakinlah Ay, kita pasti akan menemukan jalannya." ujar Alga berusaha menyemangati Mayu.


Seandainya saja dia tidak dihukum, Alga tidak akan perlu pikir panjang untuk membeli rumah ini untuk Mayu.


"Iya Kak, terima kasih ya Kak. Semangat untuk kita Kak!" ujar Mayu menunjukkan kepalan tangannya.


"Iya Ay semangat!" ujar Alga dan ikut menunjukkan kepalan tangannya.


Mereka kemudian sama-sama tersenyum.


***


Alga dan Mayu kembali melanjutkan perjalanan untuk melihat rumah kedua.

__ADS_1


Rumah kedua besarnya juga tidak kalah jauh dengan rumah pilihan pertama. Hanya saja rumah itu rumah biasa dan bukan rumah toko. Untuk lokasi juga cukup strategis tidak jauh beda dengan pilihan pertama, tapi harganya itu 3 milyar membuat Mayu seketika lemas.


"Gimana Ay?" tanya Alga minta pendapat kekasihnya.


"Aku suka Kak, tapi lagi-lagi harganya tidak masak diakal. Bahkan kalau dihitung, rumah yang pertama lebih murah meski baru setengah jadi. Untuk rumah ini juga aku pasti harus renovasi lagi kalau mau buat buka usaha. Malah kalau dihitung lebih mahal renovasi rumah ini dari pada rumah pertama. Untuk rumah pertama aku bisa cat saja untuk sementara. Nanti jika sudah ada uang, baru lanjut bangun lagi." jelas Mayu.


"Kamu benar Ay, tapi kata temanku untuk rumah pinggir jalan memang kebanyakam harganya di atas 2 miliar, jika ingin rumah yang nyaman, kecuali kalau kamu mau rumah masuk gang atau beli rumah perumahan. Itu harganya masih banyak yang di bawah 1 milyar, atau kamu mau beli perumahan saja?" ujar Alga.


"Aku pikir-pikir dulu deh Kak, sekalian aku juga ingin bicarakan dengan daddy baiknya gimana." putus Mayu.


"Ok Ay. Berarti antara rumah pertama atau kedua, kamu mau yang mana, supaya aku minta waktu selama seminggu pada temanku?"


"Rumah yang pertama saja Kak, aku lebih nyaman dengan rumah pertama. Aku juga lebih suka sama bentuk rumah itu." jujur Mayu.


"Aku juga Ay. Aku bahkan sudah bisa membayangkan kamu buka usaha 2 sekaligus di sana. Bagian toko untuk usaha pakaian dalam dan baju tidur. Untuk garasi bisa buat buka sembako atau konter pulsa."


"Benar juga ya Kak, tapi lagi-lagi uangnya yang buat pusing. Semoga ada keajaiban ya Kak."


"Amin."


Setelah selesai melihat rumah, Mayu dan Alga masih lanjut belanja ke tanah abang kemudian lanjut jualan seperti biasanya.


Saat jualan jika ada kesempatan, Mayu selalu mengecek ponselnya. Ini bukan karena dia menunggu pesan atau telepon dari Alga, tapi Mayu menunggu pesan dari daddynya. Mayu ingin sekali bicara dengan daddynya untuk memastikan kelanjutan rumah itu.


'Ya Allah, jika rumah itu memang ditakdirkan untuk Mayu, permudahkanlah jalannya ya Allah, tapi kalau tidak, tunjukkan lah rumah lain yang cocok untuk Mayu. Walau Mayu sebenarnya ingin rumah itu ya Allah. Maafkan Mayu, yang sedikit maksa ya Allah.' batin Mayu.


Sementara itu, Alga baru saja sampai di rumahnya. Alga memang sengaja pulang cepat karena malas disalahkan terus sama maminya.


"Alga!" panggil Dira.


Alga yang hendak masuk lift seketika menghentikan langkahnya.


"Iya, Mi kenapa?" ujar Alga bersikap santai seperti biasanya.


"Jujur pada Mami, kamu curi perhiasan Mami yang Mana?" ujar Dira langsung menuduh dan menatap tajam anaknya.


Alga seketika melotot mendengarnya. Atas dasar apa Dira menuduhnya pencuri? Ini benar-benar gila. Maminya benar-benar merendahkan harga dirinya.

__ADS_1


__ADS_2