
Alga buru-buru keluar dari ruang miting begitu miting selesai. Alga sudah tidak tahan berada di ruangan itu, dan itu karena Rahel tentunya. Rahel yang sering sekali menatap terang-terangan padanya, dan Alga benar-benar tidak nyaman dengan tatapan itu.
Mantan pacarnya benar-benar berubah. Entah itu karena pengaruh maminya atau karena pengaruh dia yang sudah masuk dunia entertainment, Alga tidak tahu. Yang Alga tahu dunia entertainment itu juga tidak kalah kejamnya dengan dunia bisnis, yang mana orang-orang suka menghalalkan segala cara demi keinginannya bisa tercapai.
Alga meletakkan kasar berkas dan laptop di atas mejanya kemudian duduk kasar di kursinya dan menyenderkan tubuhnya.
Alga kembali duduk tegak begitu merasakan getaran ponselnya.
Alga merogoh sakunya, dan dia sangat berharap kalau Mayu lah yang menghubunginya. Alga benar-benar butuh asupan dari kekasih hatinya. Sayangnya harapan Alga tidak terjadi, yang menghububunginya justru maminya, dan Alga hanya semakin kesal saja.
Alga membiarkan telepon maminya dan setelah teleponnya berakhir, Alga memilih menonaktifkan ponselnya. Alga malas dihubungi maminya lagi, karena Alga sudah tahu, pasti tujuan maminya menghubunginya tidak jauh-jauh dari yang namanya Rahel.
Setelah beberapa menit, Alga menyimpan kembali ponselnya dan lajut kerja lagi.
Alga memulainya dengan membuka laptopnya dan hendak memeriksa hasil rapat mereka kembali.
"Permisi Mas Alga,"
Alga yang baru mulai fokus pada layar laptopnya seketika menoleh begitu mendengar namanya disebut.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Alga pada karyawan yang berdiri di dekatnya.
"Begini Mas Alga, saya di suruh pak Arif untuk menyampaikan pesan dari ibunya Mas Alga. Mas Alga disuruh mengaktifkan ponselnya, dia ingin menelepon Mas Alga katanya." ujarnya.
Alga tanpa sadar menggenggam kuat pulpen yang dipegangnya. Benar-benar deh itu maminya, mengganggu pekerjaannya saja. Padahal selama ini dia paling repot menyuruh Alga bekerja dan sekarang dia juga yang mengganggunya. Entah apa maunya maminya itu?
"Baik Pak, saya akan mengaktifkan ponsel saya." ujar Alga akhirnya. Alga tentu tidak mau gara-gara dia, karyawan laan jadi terganggu pekerjaannya.
"Iya Mas Alga. Permisi Mas Alga."
Alga menganggukkan kepalanya.
Alga kembali mengambil ponselnya dan memilih pergi ke toilet.
Alga juga sengaja pergi ke toilet khusus untuk para dewan direksi dan jajarannya. Dia anak magang spesial ini, tidak akan ada yang berani melarangnya, dan kenapa Alga memilih ke sana, tentu saja karena dia tidak mau ada karyawan yang mendengar percakapnnya dengan maminya.
"Hallo Mi," ujar Alga begitu sambungan telepon mereka terhubung.
"Kamu kemana saja Alga, dan kenapa kamu menonaktifkan ponsel kamu? Kamu ini benar-benar ya, buat Mami emosi saja." ujar Dira dan langsung mengomel pada anaknya.
"Enggak salah Alga yang membuat Mami emosi? Justru Mami ya yang sudah membuat Alga emosi. Mami benar-benar sudah mengganggu ketenangan Alga dalam bekerja." balas Alga.
"Mami enggak ada ya Alga mengganggu pekerjaan kamu. Gimana ceritanya Mami bisa mengganggu pekerjaan kamu? Mami hanya di rumah. Bicara kamu itu jangan terlalu berlebihan Alga." balas Dira lagi.
__ADS_1
Alga hanya mengusap dadanya, benar-benar ini maminya, pintar sekali membuat alasan, padahal Alga jalas-jelas merasa terganggu karena ulahnya.
"Ya sudah terserah Mami saja mau bicara apa. Sekarang apa tujuan Mami menelepon Alga?" ujar Alga memilih mengalah saja.
"Kamu antar Rahel pulang!" ujar Dira dengan santainya tapi tidak terdengar santai di telinga Alga.
"Kenapa Alga yang mengantarnya pulang? Mi ini jam kerja Alga, dan Alga enggak mungkin keluar saat jam kantor! Mami ini kalau menyuruh Alga jangan sesuka hati mami saja! Pikir dong Mi! Satu lagi, jangan sampai mami menyuruh karyawan lain supaya melakukan apa yang Mami suruh! Alga enggak akan mau pulang ke rumah lagi kalau sampai Mami melakukannya. Ini Alga enggak main-main loh Mi. Mami tahu kan Alga sekarang punya ATM dan kartu kredit, Alga bisa tidur dimana saja sesuka hati Alga!" kesal Alga dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Baik Alga atau Dira sama-sama kesal. Alga kesal karena pemintaan aneh maminya, sedangkan Dira merasa kesal karena anaknya tidak mau menurutinya. Jika sudah seperti ini, siapa yang salah, Alga atau maminya?
Alga kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantongnya. Alga memutuskan mencuci wajahnya sebelum dia keluar kamar mandi. Alga benar-benar butuh sesuatu untuk menormalkan otaknya kembali.
***
"Mayu!" panggil Naura begitu dia masuk rumah Mayu.
"Hai Nau, lo sudah datang. Sini deh Nau, Mbak Dona sudah mengirimkan beberapa desain untuk bikin. Bantu pilih dong Nau, lo sukanya yang mana?" ujar Mayu.
"Kalian jadi membuat bikini? Katanya mau menunggu tempat baru selesai." ujar Naura jalan mendekat kearah Mayu.
"Produksinya memang setelah tempat baru selesai Nau, tapi sebelum produksi kami ingin membuat beberapa contoh terlebih dulu. Kali ini, kami ingin mempersiapkan lebih baik lagi dari sebelumnya." jelas Mayu.
"Oh. Memang sebaiknya begitu sih." ujar Naura sambil mengamati desain yang ada di meja Mayu.
"Bikini model bokser ini suka gue, sama yang pakai tali juga bagus ini. Untuk bhnya juga cukup unik dan sepertinya nyaman saat dipakai." ujar Naura menunjukkan 2 desain yang dia suka.
"Ok, berarti hampir semuanya suka yang model bokser, kalau begitu kami akan buat contoh untuk model bokser." ujar Mayu sambil memisahkan desain pilihannya.
"Ah iya May, sekalian sama rok pantainya juga!" saran Naura.
"Boleh juga itu, gue juga suka kalau rok pantai."
"Itu dia, dan nanti untuk pemotretannya kita buat di pantai Bali, keren itu pasti. Gue yang bayarain tiket lo deh. Untuk penginapan dan yang lainnya juga aman. Lo tinggal pilih mau nginap di villa daddy atau Kak Alga, terserah saja." ujar Naura lagi
"Mau banget sih gue, tapi gue enggak yakin Kak Alga akan mengizinkan gue pemotretan pakai bikini. Untuk bagian bawahnya oklah masih tertutup karena pakai rok pantai, tapi kan bagian atasnya masih terbuka." ujar Mayu.
"Emang itu kak Alga posesif banget deh. Padahal kan ini demi bisnis lo juga. Atau begini saja May, untuk atasannya buat saja bikini yang medel muslimah gitu, tapi untuk tangannya, lengan pendek saja. Siapa tahu banyak yang suka bikini seperti itu. Di negara kita kan, kebanyakan orang masih belum terbiasa pakai bikini yang terbuka, seperti lo contohnya." jelas Naura.
"Boleh juga ide lo Nau. Baiklah gue akan minta mbak Dona membuat beberapa desain lagi." putus Mayu.
"Mantap. Eh sekalian sama celana pantai untuk cowoknya juga May, biar couple gitu." saran Naura lagi.
"Boleh itu. Semua saran lo gue tampung ya, nanti kami akan miting lagi untuk keputusan finalnya."
__ADS_1
"Sip, dan lo jangan sungkan minta bantuan gue kalau lo butuh bantuan."
"Ok Naura, adik gue tersayang yang unyu-unyu tapi kalau dilihat dari sedotan." ujar Mayu dan langsung dapat tatapan protes dari Naura.
"Kurang asem lo. Ah iya May, lo udah mendengar gosip terbaru belum?"
"Gosip apaan itu, gosip artis?" tanya Mayu menatap Naura.
"Bisa dibilang begitu," ujar Naura membuat kening Mayu berkerut. Sejak kapan mereka perduli soal gosip artis? Mayu nonton televisi saja jarang ada waktu, kecuali neneknya tuh yang akhir-akhir ini hampir setiap saat nonton televisi.
"Ini gosip soal mantan Kak Alga Mayu, dia kan artis juga sekarang." ujar Naura lagi seakan mengerti kebingungan Mayu.
"Oh soal Rehel. Gosip apaan itu?"
"Gosip kurang menyenangkan sih untuk lo, tapi lo juga harus tahu karena gosip ini bisa dibilang penting juga untuk lo."
"Iya Naura, apa gosipnya?"
"Jadi begini Mayu, gue sempat mendengarkan pembicaraan mommy dan tante Dira. Kata tante Dira, dia mau menjadikan Rahel, brand ambassador Pratama gurup. Itu berarti kesempatan Rahel bisa bertemu dengan kak Alga, tidak hanya di rumah saja tapi di kantor juga." jawab Naura dan Mayu refleks menghembuskan nafasnya kasar. Segitu niatnya Dira ingin mendekatkan Rahel dan Alga.
"Lo yang sabar ya Mayu. Itu tante Dira memang benar-benar menyebalkan deh."
"Ya mau gimana lagi Nau, gue memang harus sabar karena gue juga enggak ada hak untuk melarang Rahel jadi brand ambassador Pratama group. Jangankan gue, Kak Alga saja enggak ada hak."
"Itu dia, tapi lo tenang saja, kita kan punya daddy David Antonius selaku CEO Pratama group. Lo bisa minta bantuannya supaya mengawasi si Rahel itu."
Mayu kembali menghembuskan nafasnya kasar.
"Tapi kan Daddy sibuk Nau, dia pasti tidak punya waktu untuk mengawasi Rahel."
"Hai Mayu, lo ini jiwa miskinnya belum hilang juga ternyata ya. Untuk mengawasi Rahel itu kan enggak harus Daddy yang turun tangan Mayu, dia bisa menyuruh orang lain. Gimana sih lo?" seru Naura membuat Mayu tersenyum karena sadar akan kepolosannya.
"Benar juga, gue enggak kepikiran sampai ke sana. Terima kasih ya Naura, lo memang paling bisa diandalkan."
"Tentu saja Naura gitu loh." ujar Naura dengan gaya sombongnya.
"May ada yang mencari lo." ujar Lora tiba-tiba.
"Siapa?" tanya Mayu.
"Enggak kenal gue. Orangnya cantik dan wajahnya cukup familiar gitu. Mirip artis, tapi lupa gue namanya." ujar lora lagi.
Mayu dan Naura seketika saling menatap, jangan-jangan Rahel? Untuk apa Rahel datang ke rumahnya?
__ADS_1