Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Mayu Menghilang


__ADS_3

"Dimana Mayu?" tanya Sindi tanpa basa-basi.


Lora yang sedang sedang sibuk merapikan barang-barang toko, hanya menatap bingung pada Sindi. Dia tidak kenal pada Sindi, tapi dari cara Sindi bertanya sepertinya dia sangat kenal pada Mayu.


"Saya tanya dimana Mayu?" tanya Sindi lebih keras lagi dan menatap kesal pada Lora.


"Tante biasa saja dong, saya tidak budek. Mayu enggak ada di rumah." ujar Lora tidak kalah kesalnya, dan balas menatap tidak suka pada Sindi.


Padahal dari penampilan Sindi terlihat sangat berkelas, tapi cara bicaranya sangat berbanding terbalik dengan penampilannya.


"Enggak mungkin dia tidak ada di rumah, jangan bohong kamu!" balas Sindi lagi.


Ini hari minggu, sudah pasti Mayu akan di rumah. Kemana lagi dia kalau tidak di rumah? Alga juga masih di hotel.


"Saya tidak bohong Tante, Mayu memang tidak ada di rumah. Lagian Tante ini siapa sih?"


"Siapa saya bukan urusan kamu dan saya tidak ada hubungannya dengan kamu. Saya hanya perlu Mayu. Suruh Mayu keluar!" printah Sindi.


"Tante, sudah berapa kali saya bilang, Mayu tidak ada di rumah, kalau Tante tidak percaya, Tante lihat saja sendiri. Untuk apa juga saya bohong sama Tante, enggak ada untungnya buat saya." balas Lora.


"Kemana dia?" tanya Sindi lagi.


"Saya tidak tahu pastinya dia pergi kemana. Hanya saja dia bilang pada kami kalau dia dan neneknya, pergi mengunjungi saudaranya." jawab Naura. Ini Naura tidak berbohong, Mayu memang berkata seperti itu pada Lora dan yang lainnya.


"Siapa saudaranya?"


"Ya mana saya tahu Tante. Saya memang teman Mayu tapi tidak semua saudaranya juga dong harus saya tahu. Jangankan saudara Mayu, saudara saya saja, saya tidak kenal semuanya." jawab naura lagi.


"Yakin kamu tidak tahu? Kamu jangan coba-coba membohongi saya ya?" ujar Sindi dan menatap tajam Lora.


"Ya ampun Tante, sudah berapa kali saya bilang, untuk apa saya membohongi Tante? Enggak ada untungnya sama sekali buat saya Tante. Capek deh." ujar Naura dan menatap kesal Sindi. Sindi benar-benar menguji kesabarannya.


"Ya sudah kamu telepon Mayu sekarang, kamu tanyakan dia ada dimana?" suruh Dira.


"Enggak mau saya Tante, saya saja tidak tahu tante siapa. Nanti kalau Mayu tanya, saya harus jawab apa. Lagian Mayu juga jarang-jarang ini pergi, dan saya tidak mau mengganggu waktunya kecuali kalau ada sesuatu yang sangat penting." balas Lora.


Sindi menatap kesal Lora dan mengepalkan kuat tangannya. Tanpa bicara lagi, dia kemudian pergi meninggalkan Lora.


Lora lagi-lagi memperlihatkan wajah bingungnya.


"Dasar manusia aneh!" gumam Lora.


"Eh jangan-jangan ibu itu mamanya kak Alga lagi? Tapi kenapa dia tiba-tiba mencari Mayu, bukankah semalam dia juga habis bertemu dengan Mayu?" gumam Lora lagi.


"Tahu ah!" ujar Lora sambil mengangkat bahunya. Dia memutuskan tidak mau ambil pusing soal ibu itu.


Sementara itu Sindi sudah sampai dalam mobilnya. Sindi terlihat sangat kesal. Sindi yakin, Mayu pasti sengaja pergi untuk menghindarinya atau Dira.


Sindi kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Dira.


"Hallo Sin, gimana?" tanya Dira.


"Mayu dan neneknya tidak ada di rumah Mbak, sepertinya dia sengaja kabur untuk menghindar dari kita." ujar Sindi.


"Kabur?"


"Iya Mbak. Aku yakin Mayu juga pasti sedang merencanakan sesuatu ini Mbak. Kita harus gimana ini Mbak?" tanya Sindi.


Dira menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


"Begini saja Sin, kamu sebaiknya masuk lagi ke rumah Mayu. Tanyakan pada mereka siapa nama ibu kandung Mayu. Sekalian minta ditunjukkan fotonya juga. Dengan begitu akan ketahuan Mayu itu anak kandung David atau bukan!" suruh Dira.


"Baik Mbak." ujar Sindi.


Sindi mematikan sambungan teleponnya dan kembali keluar dari mobilnya.


"Ada apa lagi Tante?" ujar Lora begitu melihat Sindi kembali masuk toko.


"Begini, saya hanya ingin menanyakan satu hal. Siapa nama ibu kandung Mayu?" tanya Sindi.


Lora kembali menatap heran Sindi. Sebenarnya ini Sindi siapa sebenarnya, kenapa dia ingin tahu nama ibu kandung Mayu?


Lora tiba-tiba melotot begitu sadar satu hal.


'Jangan-jangan ibu ini, istrinya papa kandung Mayu?' batin Naura.


"Hei kenapa kamu diam saja? Cepat katakan siapa nama ibu kandung Mayu! Jangan bilang kamu tidak tahu soal itu!" seru Sindi lagi.


Lora menelan ludahnya. Dia benar-benar ragu mengatakannya, dan Lora juga tidak ingin Mayu kembali dapat masalah hanya karena dia memberitahukan siapa nama ibu kandung Mayu.


"Hei kamu tidak budek kan? Cepat beritahu saya, siapa nama ibu kandung Mayu!" seru Sindi lagi dan nada suaranya semakin meninggi.


"I-itu Ta-"


"Tante Sindi? Ada apa Tante Sindi datang ke sini." ujar Rangga yang baru datang bersama Yudha.


Lora refleks menghembuskan nafas lega, sedangkan Sindi malah sebaliknya. Sindi tampak gugup. Padahal Sindi sengaja datang cepat untuk menghindari bertemu dengan Rangga dan Yudha.


"Saya hanya disuruh Dira menemui Mayu. Udah saya pulang!" ujar Sindi dan buru-buru keluar dari toko itu. Sindi benar-benar tidak mau, Rangga dan Yudha curiga padanya.


Baik Rangga, Yudha dan Lora hanya menatap bingung kepergiannya.


"Kak Rangga kenal sama tante itu?" tanya Lora.


"Oh dia maminya Naura, aku pikir dia istri papa kandung Mayu. Aku sampai takut tadi. Takut salah jawab juga aku." cerita Lora.


"Ya enggaklah Yang, dia itu istri om David. Memangnya dia tanya apa pada kamu?"


"Nama ibu kandung Mayu, Kak?." jawab Naura.


"Nama ibu kandung Mayu? Untuk apa dia ingin tahu nama ibu kandung Mayu?"


"Ya aku enggak tahu Kak, makanya aku sampai mikir macam-macam. Mana sebelumnya juga dia bersikukuh ingin bertemu Mayu. Kak Rangga, sebaiknya beritahu kak Alga deh. Aku takutnya terjadi sesuatu. Mayu juga tumben-tumbenan loh pergi sama nenek dan itu juga sangat tiba-tiba." ujar Lora lagi.


"Kamu benar Ay. Alga harus tahu ini. Aku juga curiga terjadi sesuatu." ujar Rangga kemudian mengambil ponselnya.


"Hallo Ngga, ada apa?" tanya Alga begitu sambungan teleponnya terhubung.


"Lo dimana?"


"Masih di hotel, kenapa?"


"Tante Sindi datang ke rumah Mayu, Al. Dia menanyakan nama ibu kandung Mayu dan dia juga ingin bertemu dengan Mayu. Untungnya Mayu tidak ada di rumah, dia pergi bersama nenek. Apa tadi malam terjadi sesuatu? Ini tumbenan banget loh, tante Sindi datang ke sini. Jika memang terjadi sesuatu, beritahu kami saja Al, siapa tahu kami bisa bantu." ujar Rangga.


"Oh itu, tidak terjadi apa-apa kok Rangga, lo tenang saja. Mayu dan Nenek juga ada di tempat aman sekarang. Hanya saja untuk hari ini, mereka berdua memang sedang tidak bisa diganggu. Begitu juga kalau ada orang yang datang ke rumahnya dan menanyakan keberadaan Mayu, bilang saja Mayu lagi berkunjung ke rumah saudaranya." jelas Alga. Alga juga tidak mau Rangga jadi curiga soal hubungan Mayu dan Sindi.


"Iya Alga. Suyukurlah kalau Mayu dan nenak ada di tempat aman. Hanya saja kalau misalkan terjadi sesuatu bilang saja pada kami, sebisa mungkin kami pasti akan membantu." ujar Rangga.


"Iya Rangga beres kalau soal itu."

__ADS_1


"Ok Al, gue tutup teleponnya. Gue mau lanjut kerja lagi."


"Iya,"


Rangga menutup sambungan teleponnya dan kembali menatap Lora.


"Kemungkin memang ada terjadi sesuatu, tapi sepertinya ini masalah keluarga. Kita sebaiknya tak perlu terlalu ikut campur, kecuali kalau Alga atau Mayu sendiri yang minta bantuan kita, dan doakan yang terbaik saja untuk mereka. Semoga masalah mereka cepat selesai." ujar Rangga.


"Iya Kak. Eh tapi Kak, ibu yang tadi itu beneran ibunya Naura?" ujar Lora.


"Iya Yang, kenapa?"


"Benar-benar persis Naura ya. Wajah dan penampilanya sangat cantik tapi perkataannya sangat jauh dari kata cantik."


"Yang, jangan mulai gosip deh!" tegur Naura.


"Hehe ... Maaf Kak." ujar Lora.


Sementara itu Sindi lagi-lagi terlihat kesal dalam mobilnya. Usahanya yang ingin mengetahui nama ibu kandung Mayu seketika gagal karena kedatangan Rangga dan Yudha.


Sindi menghembuskan nafasnya kasar, dia tidak mungkin kembali ke rumah itu.


Perhatian Sindi seketika teralih begitu mendengar ponselnya berbunyi.


Sindi buru-buru menjawabnya begitu tahu kalau yang menghubunginya adalah Dira.


"Hallo Mbak,"


"Iya Sindi. Gimana apa kamu sudah tahu siapa nama ibu kandung Mayu?"


"Belum Mbak. Rangga dan Yudha keburu datang, dan aku yang tidak ingin mereka jadi curiga memilih pergi saja. Kemana lagi ya Mbak kita haru mencari tahu nama ibu kandungnya?" ujar Sindi.


"Ya satu-satunya cara dari identitasnya di kampus atau dari rekening banknya. Ya sudah kamu sebaiknya pulang saja, kita akan bahas ini di rumah. Soal nama ibu kandungnya Mayu biar orang suruhanku saja yang mengurusnya." ujar Dira.


"Baik Mbak." ujar Sindi. Sindi kembali mematikan sembungan teleponnya kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Mayu.


***


"Gimana Mbak, apa mereka sudah memberi kabar?" tanya Sindi.


Dira yang sedari tadi asik memainkan ponselnya hanya menggelengkan kepalanya.


"Belum Sin. Ini hari minggu masalahnya, kampus dan bank pada libur jadi mereka juga tidak bisa bekerja dengan cepat."


"Harusnya kita lakukan ini dari kemarin ya Mbak."


"Ya, harusnya sih begitu, dan setelah melihat apa yang dilakukan Mayu, aku jadi yakin Sin kalau dia memang anaknya David. Jika dia bukan anak David, dia tidak mungkin berusaha kabur dari kita." ujar Dira.


"Iya Mbak, juga berpikir hal yang sama. Hanya saja kita juga tidak bisa melakukan apa-apa karena kita belum punya buktinya. Mana itu Mayu juga sudah kabur duluan lagi. Dan yang aku takutkan lagi dia dan David sedang menyusun rencana."


"Nah itu juga yang sedang aku pikirkan Sin. Kita sudah berusaha bergerak secepet mungkin, eh ternyata mereka juga melakukan hal yang sama. Dan yang membuatku sangat penasaran kira-kira apa ya yang akan mereka lakukan?"


"Aku juga enggak tahu Mbak. Pusing banget aku, Mbak. Mana aku juga bingung, bagaimana caranya memberitahukan ini semua pada Naura. Dan aku maunya Naura tahunya ini semua dari aku Mbak, bukan dari David. Aku benar-benar tidak ingin Naura kecewa padaku kalau dia tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu."


"Benar juga. Naura juga harus tahu soal Mayu. Kamu bisa memberi tahunya setelah ini Sin dan menurut Mbak lebih cepat lebih baik."


"Inginnya juga begitu Mbak, tapi kan bukti-bukti juga belum ada, dan Naura tidak akan percaya begitu saja kalau tidak ada bukti. Selain itu aku juga benar-benar bingung harus memulainya dari mana."


Dira menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


"Gimana ya? Eh sebentar Sin, ada pesan masuk dari orang suruhanku." ujar Dira begitu mendengar ponselnya berbunyi.


Sindi menganggukkan kepalanya.


__ADS_2