
"Mayu, hari ini Budhe mau melunasi angsuran baju Budhe." ujar budhe Sumi tetangga Mayu.
"Boleh banget, Budhe. Apa Budhe mau ambil angsuran yang lain?" tanya Mayu sambil membuka catatannya.
"Tidak dulu May, Budhe mau libur dulu. Nanti saja kalau sudah mau ambil angsuran lagi, Budhe ke kontrakan kamu."
"Iya Budhe tidak apa-apa Budhe. Semuanya tinggal delapan belas ribu Budhe."
"Ini ya May 20 ribu, kembaliannya buat beli permen kamu saja."
"Iya Budhe, terima kasih banyak Budhe. Ditunggu pesanannya kembali Budhe!" ujar Mayu seperti biasanya.
"Iya May,"
"Mayu lanjut ke yang lain Budhe."
"Iya May."
Mayu lanjut jalan ke rumah sebelahnya. Mayu yang semula tampak biasa saja jadi bingung begitu rumah sebelahnya juga mau melunasi angsurannya. Begitu juga saat Mayu menagih yang lain, mereka semua juga melunasi angsurannya dan tidak pagi pesan apapun pada Mayu.
Satu sisi Mayu merasa senang, uang angsurannya jadi terkumpul dan Mayu bisa belanja lagi, tapi kalau mereka semua tidak ada yang pesan lagi, percuma juga Mayu belanja banyak, siapa yang akan membelinya?
Mayu jadi pusing sendiri, untuk beberapa hari ke depan penghasilannya pasti akan berkurang banyak.
Sembari melangkah Mayu berpikir. Apa jangan-jangan ada seseorang yang mempengaruhi mereka supaya tidak lagi belanja pada Mayu? Rasanya benar-benar janggal kalau mereka semua tiba-tiba tidak mau pesan barang lagi pada Mayu. Mayu sangat tahu seperti apa para tetangganya dan biasanya mereka baik-baik pada Mayu.
Bruk!
"Eh!"
Mayu yang tidak fokus jalan sambai menabrak seseorang.
Beruntung Mayu ditolong cepat oleh orang yang menabraknya, jadi tubuh Mayu tidak sampai jatuh.
"Pan! Terima kasih Pan." ujar Mayu begitu dia kembali berdiri tegak.
"Iya May sama-sama. Pagi-pagi sudah ngelamun saja kamu May. Jangan bilang ini karena tidak ada lagi yang mau pesan barang sama kamu." tebak Irpan.
Mayu seketika menatap Irpan.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu Pan?" tanya Mayu cepat.
Irpan menatap Mayu dan menarik nafas pelan.
"Sebenarnya aku hanya asal tebak saja. Hanya saja kemarin aku sempat dengar gosip para ibu-ibu tetangga kita, kalau mereka mau berhenti mengangsur barang sama kamu. Alasannya apa aku tidak tahu." jawab Irpan apa adanya.
Gantian Mayu yang menarik nafas pelan.
"Itu dia Pan, tiba-tiba para tetangga kita hari ini melunasi angsurannya, dan mereka juga tidak mau lagi pesan barang padaku. Aku benar-benar bingung Pan kenapa mereka tiba-tiba begitu. Aku juga curiga kalau ada seseorang yang mempengaruhi mereka." ujar Mayu dengan raut wajah sedihnya.
"Kamu yang sabar ya May. Setelah mendengar cerita kamu, aku juga yakin kalau ada seseorang yang mempengaruhi mereka, kalau tidak, enggak mungkin semuanya kompakan begitu tidak mau pesan barang pada kamu. Sementara kita tahu selama ini juga hubungan kamu dan tetangga kita juga baik-baik saja, dan mereka juga selalu puas dengan barang dagangan kamu."
"Itu dia Pan, tapi siapa ya kira-kira orangnya? Tega banget dia mematikan rejekiku yang tidak seberapa." ujar Mayu.
"Kemungkinan orang yang melakukannya ya orang yang tidak suka pada kamu May. Selama ini kamu ada musuh tidak?"
Mayu kembali menatap Irpan kemudian menggelengkan kepalanya.
"Seingatku kalau tetangga kita, aku tidak ada musuh Pan, kecuali kalau di kampus. Itu juga yang suka cari masalah hanya Naura saja. Kak Lia dan kak Rani juga udah enggak pernah cari masalah lagi karena kami memang jarang bertemu akhir-akhir ini." ujar Mayu apa adanya.
"Coba diingat lebih dalam lagi May! Bisa saja kamu tidak sadar, karena banyak orang itu yang mau jadi musuh dalam selimut. Apa lagi akhir-akhir ini kak Alga sering ke sini, naik mobil mewahnya, kamu pasti enggak tahu kan kalau kamu sempat digosipin karena itu. Aku yakin pasti ada satu, dua yang sirik pada kamu karena hal itu." ujar Irpan mengingatkan.
"Dari mana kamu tahu Pan, kalau aku digosipkan soal Kak Alga?" tanya Mayu penasaran.
"Aku memang tidak pernah dengar, tapi kemarin mama sempat tannya padaku soal mobil mewah yang suka parkir di depan kontrakan kamu itu. Mama juga tanya apa benar pemiliknya pacar kamu? Mama sampai bertanya seperti itu pasti karena gosip yang dia dengar bukan? Kalau enggak ada gosip, Mama tidak mungkin tahu soal itu." jelas Irpan.
"Benar juga ya Pan. Terus bagaimana dong Pan caranya mencari tahu musuh dalam selimut itu? Aku benar-benar tidak mau seperti ini terus Pan. Jika para tetangga kita tidak mau pesan barang padaku, bisa-bisa uang tabunganku semakin hari semakin habis, karena tidak bisa dipungkiri satu-satunya penghasilan tetapku ya dari angsuran barang tetangga." tanya Mayu minta pendapat.
"Kalau aku boleh saran, sebaiknya kamu tanya baik-baik pada salah satu tetangga kita. Bicara empat mata dengannya dan tanya dia apa alasan dia tidak mau pesan barang lagi pada kamu. Satu lagi cari tetangga yang benar-benar bisa kamu percaya dan yang selama ini benar-benar perduli pada kamu." saran Irpan.
"Saran kamu boleh juga Pan. Baiklah aku akan tanya pada salah satu tetangga kita dan semoga saja dia mau ngaku ya Pan. Terima kasih banyak ya Pan, kamu selalu ada untukku disaat aku butuh teman curhat dan minta pendapat."
"Iya May, aku merasa senang bisa ada untuk kamu disaat kamu sedang butuh. Semangat terus ya May, dan jangan segan minta bantuan padaku kalau kamu memang butuh bantuan." ujar Irpan mantap.
"Iya Irpan sekali lagi terima kasuh Irpan. Kalau begitu aku lanjut jalan lagi Pan."
"Iya May, hati-hati!"
Irpan menatap punggung Mayu yang perlahan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Kasihan banget kamu May, padahal kamu orang baik tapi entah kenapa ada saja orang yang jahat pada kamu May. Andai saja aku punya uang yang banyak May, maka aku akan dengan senang hati menyewakan kios untuk kamu supaya kamu bisa jualan dengan nyaman dan punya tetap penghasilan tetap.' batin Irpan.
Irpan benar-benar merasa kasihan pada gadis yang sampai saat ini masih menjadi penghuni hatinya itu. Sayangnya Irpan juga tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Mayu. Dia hanya seorang mahasiswa biasa. Dia tidak punya harta banyak serta kekuasaan.
Sementara itu May sudah sampai di rumah samping rumah kontrakannya atau lebih tepatnya rumah budhe Sumi.
"Budhe!" panggil Mayu.
"Ah iya May, kenapa May, apa ada yang tertinggal?" tanya budhe Sumi seperti biasanya.
"Tidak ada yang tertinggal Budhe. Hanya saja Budhe, maukah Budhe tolong Mayu kali ini saja Budhe. Mayu benar-benar butuh bantuan Budhe." ujar Mayu dengan wajah memelasnya. Mayu sangat berharap budhe Sumi mau membantunya.
"Minta tolong apa itu May, jika Budhe bisa bantu, Budhe pasti bantu." ujar Budhe merasa tidak tega pada Mayu.
"Begini Budhe ini masalah angsurang yang sudah Budhe lunasi dan Budhe yang tidak ingin memesan barang lagi. Sebenarnya itu bukan karena kemauan Budhe sendiri kan Budhe, tapi karena pengaruh orang lain? Tolong jawab jujur Budhe, siapa yang sudah mempengaruhi Budhe? Ini biar Mayu tidak bertanya-tanya dan menunggu sesuatu yang tidak pasti. Budhe sangat tahu seperti apa hidup Mayu. Mayu dan nenek Iroh sangat bergantung pada penjualan itu Budhe." ujar Mayu.
Budhe sumi mendekat pada Mayu dan mengusap pelan lengan Mayu. Budhe Sumi juga kasihan pada Mayu karena dia sangat tahu bagaimana beratnya hidup Mayu.
"Kamu benar Mayu, Budhe melakukannya karena terpaksa. Budhe tidak mau dianggap sok suci dan pahlawan kesiangan, karena itu Budhe harus samaan dengan yang lain. Budhe juga tidak mau dijauhi para tetangga karena hal ini. Hanya saja ini rahasia kita ya Mayu, Budhe juga minta tolong pada kamu jangan beritahukan pada siapa pun kalau Budhe yang memberitahukannya pada kamu." ujar budhe Sumi. Dia tidak tahan menyembunyikannya dari Mayu.
"Soal itu Budhe tenang saja, ini rahasia kita Budhe. Sekarang Budhe bisa beritahukan Mayu siapa orangnya!"
"Budhe sebenarnya tidak kenal siapa orangnya, dia bukan orang RT sini. Hanya saja orang itu datang pada kami, dia memberikan kami uang sebanyak 300 ribu dan dia menyuruh kami supaya tidak lagi pesan barang pada kamu. Karena itulah semuanya, pada melunasi angsuran dan tidak mau pesan lagi pada kamu. Budhe benar-benar minta Maaf ya Mayu harus ikut-ikutan sama yang lain dan tidak bisa bantu kamu lagi. Budhe enggak mau jadi bahan gosip tetangga yang lain." ujar budhe Sumi apa adanya.
Mayu menarik nafas pelan. Terjawab sudah rasa curiganya.
"Iya Budhe tidak apa-apa. Terima kasih banyak atas infonya Budhe."
"Iya sama-sama. Kamu yang sabar ya Mayu dan harus tetap semangat. Kamu juga harus percaya Mayu saat pintu rejeki yang satu ditutup, selama kita masih mau berusaha, akan banyak pintu rejeki lain yang terbuka. Kamu harus percaya itu." ujar budhe Sumi lagi.
"Iya Budhe, sekali lagi terima kasih Budhe. Mayu pulang dulu Budhe."
"Iya hati-hati."
Mayu keluar dari rumah budhe Sumi. Dia tidak langsung masuk rumah kontrakannya.
Mayu menarik nafas pelan dan membuanya dengan perlahan.
'Ya Allah, apa salah Mayu, kenapa orang itu tega sekali pada Mayu, ya Allah.' batin Mayu.
__ADS_1