
Hari demi hari berlalu proses renovasi rumah baru Mayu berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan jualannya, serta kuliahnya dan hubungannya dengan Alga.
Mayu tentu saja merasa senang karena semua berjalan dengan lancar, meski ada satu yang tidak lancar dan itu adalah pertemuannya dengan David. Ini sudah sebulan lebih sejak pertemuan terakhir mereka, tapi David belum juga mengajaknya bertemu lagi, dan Mayu tidak mungkin mengajaknya bertemu duluan karena itu terlalu beresiko.
David sesekali memang masih memberi kabar padanya entah itu dari nomor baru atau nomor temannya, tapi itu semua masih kurang bagi Mayu. Mayu ingin menatap daddynya juga mendengar suaranya. Mayu juga ingin memeluk erat daddynya dan menyampaikan rasa terima kasihnya.
'Dad, Mayu yakin daddy pasti punya alasan kenapa belum mau bertemu Mayu lagi, dan apapun itu alasan daddy Mayu akan terima Dad. Dan yang penting bagi Mayu, daddy tetap sehat dan tidak melupakan Mayu. Mayu sangat merindukan daddy.' batin Mayu.
"Ay! Ay!" panggil Alga.
"Ah iya dad eh Kak maksudnya hehe ...." jawab Mayu dan seketika tersenyum malu begitu sadar dia salah sebut.
Alis Alga terangkat menatap kekasihnya.
"Kamu lagi memikirkan daddy kamu Ay? Apa kamu merindukannya." tebak Alga.
Mayu menghembuskan nafas kasar.
"Bohong kalau aku bilang enggak Kak. Ini sudah sebulan lebih kami tidak bertemu, dan belum ada tanda-tanda kalau daddy ingin bertemu lagi. Padahal Mayu sangat ingin melihat dan mendengar suaranya walau hanya sebentar saja." lirih Mayu.
Alga ikut menghela nafas dan mendekat pada kekasihnya. Alga membawa Mayu ke dalam pelukannya. Dia sangat mengerti perasaan Mayu.
Alga sangat tahu alasan David, kenapa dia belum mau bertemu Mayu lagi, dan itu sudah pasti karena maminya. Alga sempat mendengar pembicaraan Dira di telepon beberapa waktu lalu. Dira yang sempat marah-marah pada orang suruhannya karena belum juga menemukan sosok yang memberikan uang pada Mayu. Dan Alga rasa David pasti mengetahui itu, makanya dia berusaha menghindari bertemu dengan Mayu untuk sementara.
Kelakuan maminya itu memang sangat berlebihan menurut Alga, tapi Alga juga tidak bisa menghentikannya karena dia sangat paham seperti apa karakter maminya. Maminya yang tidak akan mau berhenti sebelum tujuannya tercapai.
"Kamu yang sabar ya Ay, mungkin daddy kamu berusaha menghilangkan jejak untuk sementara. Jadi dia lebih memilih cari aman saja, dari pada nanti kalian ketahuan, bisa berabe kan semuanya." ujar Alga sambil mengusap sayang rambut Mayu.
"Iya Kak, Mayu pasti sabar kok. Hanya saja, Mayu terkadang suka kesulitan mengontrol perasaan rindu Mayu, yang tiba-tiba datang Kak." ujar Mayu apa adanya.
"Iya Ay, aku sangat mengerti perasaan kamu. Kamu bawa dalam doa sholat kamu saja Ay, supaya jalan kamu bertemu dengan daddy kamu dipermudah." ujar Alga lagi.
"Iya Kak, itu pasti Kak." ujar Mayu.
Alga mengecup rambut Mayu dan kembali mengusap rambut Mayu pelan.
'Aku janji Ay, aku juga akan cari cara jalan lain yang bisa mempertemukan kamu dengan om David, tanpa ada yang curiga.' batin Alga.
"Wah ... wah pantas saja enggak turun-turun dari tadi, ternyata lagi asik pacaran di atas." seru Rangga dari arah tangga.
Alga dan Mayu seketika menoleh dan Alga tetap mempertahankan posisinya.
"Sirik saja lo mblo." ujar Alga cuek.
__ADS_1
Rangga seketika mengerucutkan bibirnya dan Mayu hanya memperlihatkan senyumnya.
"Ada apa Kak Rangga mencari kami?" tanya Mayu sambil melepas pelukan Alga.
"Itu May teman-teman kamu dan perabotan rumah kamu sudah datang. Barang-barangnya juga sudah diturunkan dari mobil. Hanya saja mereka tidak harus meletakkan dimana barang-barangnya." jawab Rangga.
Berhubung rumah Mayu sudah selesai di renovasi, Mayu meminta teman-temannya untuk membantunya bersih-bersih juga memindahkan barang-barangnya. Teman-teman Mayu tentu saja menyambutnya dengan senang hati dan mereka tidak masalah sama sekali membantu Mayu dan neneknya pindahan.
"Oh mereka sudah datang Kak. Ok Kak kami juga akan segera turun." ujar Mayu dan beralih pada Alga.
"Ayo Kak!" ujar Mayu.
Alga mengangguk. Alga menggenggam tangan Mayu dan mereka turun bersama ke lantai satu.
Proses renovasi rumah Mayu memang terbilang cepat dan hanya butuh waktu 5 mingguan0 saja. Selain tukangnya memang banyak dan cukup ahli juga di bidangnya. Ditambah lagi bentuk rumah Mayu juga tidak terlalu ribet, terutama untuk lantai 2 dan 3.
Untuk lantai 2 mereka membuat balkon dan ada tamannya. Selebihnya hanya ruangan kosong yang dibagi beberapa bagian serta tambahan 1 kamar mandi. Begitu juga dengan lantai tiga. Sebagian hanya ruangan kosong dan sebagian lagi dibuat taman dan tempat menjemur baju.
Mayu sengaja belum membuat kamar tambahan karena memang mau menjadikan rumahnya tempat usaha dan Mayu butuh banyak ruangan kosong untuk menyimpan barang-barangnya.
"Mayu!" seru Lora dan langsung berlari ke arah Mayu begitu Mayu sampai di lantai satu.
Lora memeluk erat sahabatnya.
Mayu tersenyum mendengarnya.
"Iya Lora terima kasih ya."
"Sama-sama Mayu. Aih Mayu, senang deh gue kalau ada teman gue yang sukses begini. Semoga sukses lo nular ke gue ya Mayu!" ujar Lora lagi.
"Amin." ujar Mayu mantap.
Lora melepas pelukannya dan tersenyum pada Mayu. Mayu juga balas tersenyum.
"Lora gantian dong, gue juga mau meluk Mayu." ujar Shinta yang sudah berdiri di samping Lora.
"Iya Shinta," ujar Lora dan mempersilahkan Shinta.
Shinta seketika tersenyum lebar dan membawa Mayu ke dalam pelukannya.
"Selamat ya May atas rumah barunya. Semoga rumah barunya berkah dan mendatangkan rejeki yang berlimpah. Lo dan nenek juga selalu diberi kesehatan dan kebahagian juga tentunya. Good job May." ujar Shinta melepas pelukannya dan mengacungkan jempolnya pada Mayu.
Mayu tersenyum lebar.
__ADS_1
"Iya Shinta terima kasih, dan gue juga mendoakan, semoga suatu saat nanti lo juga punya rumah sendiri." ujar Mayu.
"Amin." ujar Shinta semangat.
Mayu kembali tersenyum dan beralih pada Irpan yang berdiri di samping neneknya.
Irpan juga tersenyum pada Mayu.
Mayu melangkah mendekati Irpan.
Irpan mengulurkan tangannya dan Mayu menyambutnya hangat.
"Selamat untuk rumah barunya ya May. Semua rumah barunya membawa kebahagiaan yang berlimpah dan semua yang terbaik tentunya." ujar Irpan tulus dan menjabat erat tangan Mayu.
"Iya Pan terima kasih ya."
"Sama-sama May." ujar Irpan dan menatap tersenyum pada Mayu.
"Ehem ehem ... jabatan tangannya udahan dong, ada yang membara ini!" goda Yudha membuat semua mata seketika menatap pada Alga.
"Eh maaf ... maaf." ujar Irpan merasa tidak enak dan seketika melepas jabatan tangannya.
"Tidak apa-apa Irpan, santai saja." ujar Alga dan memberi pukulan gemas pada Yudha. Kompor banget memang ini Yudha.
Yudha hanya tertawa ngakak dan menujukkan salam damainya.
Mayu dan yang lainnya hanya tersenyum melihatnya.
"Bercandanya udahan dulu ya, sebaiknya kita rapikan dulu barang-barangnya!" ujar nenek Iroh yang diam saja dari tadi.
"Ok Nenek!" kompak Mayu dan yang lainnya.
Masing-masing mereka langsung mengerjakan bagian masing-masing.
Rangga dan Yudha merapikan bagian dapur. Mereka juga membuat rak dari kayu supaya dapur Mayu terlihat bagus dan rapi.
Irpan dan Alga membantu mengangkat lemari dan barang-barang besar lainnya. Sedangkan Lora dan Shinta merapikan barang-barang kecilnya. Nenek Iroh juga membantu melipat baju. Sementara Mayu yang memberi arahan.
Mayu tersenyum senang melihat teman-temannya bekerja dengan semangat. Padahal Mayu tidak membayar mereka tapi mereka tetap bekerja dengan setulus hati.
"Ah iya May, beberapa waktu lalu sempat loh ada seorang bapak yang menawarkan uang seratus juta padaku, supaya mau memberitahukan siapa yang memberikan kamu uang." ujar Irpan tiba-tiba membuat Mayu, dan yang lainnya seketika menoleh padanya.
"Serius kamu Pan?" tanya Mayu cepa.
__ADS_1