
"Kak Alga kenapa senyum-senyum?" tanya Mayu menatap heran pada suaminya. Dari mereka bangun dan sampai mereka selesai sholat, Alga suka sekali memamerkan senyumnya. Untung Mayu tidak punya penyakit diabetes, jika punya bisa-bisa penyakitnya kambuh karena senyum suaminya.
Mayu sampai bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Jangan-jangan dia sudah membuat hal aneh tanpa dia sadari.
"Bukan apa-apa Ay, aku hanya lagi bahagia saja. Ingat loh Ay senyum itu ibadah." ujar Alga dengan santainya dan kembali memamerkan senyumnya.
"Iya aku tahu Kak, tapi kalau Kak Alga kebanyakan senyum juga bisa dianggap gila." seru Mayu dengan sadisnya membuat senyum Alga seketika memudar.
"Kamu ngatain aku gila Ay?" tanya Alga tidak terima. Tega sekali ini istrinya.
"Bukan ngatain Kak, aku hanya mengingatkan saja. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik loh Kak." ujar Mayu lagi.
"Aku tahu Ay dan secara tak langsung kamu ngatain aku gila itu Ay, tapi tidak apa-apa, aku memang sedang tergila-gila pada kamu. Apalagi setelah apa yang kita lakukan semalam. Aku sangat bahagia juga puas Ay. Kita ulang lagi yuk Ay!" ujar Alga kemudian mengedipkan matanya membuat Mayu tersenyum malu.
Mayu jadi teringat dengan apa yang mereka lakukan semalam. Apalagi Alga juga sangat mengerti dirinya, membuat Mayu semakin berbunga-bunga karena ulah suaminya.
Selain ini dan apa yang terjadi semalam, sekaligus sebagai pembuktian kalau apa yang sempat membuat Mayu galau, tidak benar. Suaminya benar-benar normal.
"Jangan ngaco deh Kak, ini sudah pagi Kak. Sudah saatnya kita beraktivitas. Aku juga mau membuat sarapan untuk Kak Alga." ujar Mayu.
Mayu ingin belajar jadi istri yang baik untuk suaminya.
"Tidak perlu Ay, kamu buat sarapannya besok-besok saja. Saat ini aku lebih butuh kamu Ay. Aku ingin dipeluk kamu lagi." ujar Alga sambil mengode Mayu supaya naik ke kasur.
Alga menepuk kasur kosong di sebelah. Kasur yang sudah mereka bersihkan. Enggak betah juga mereka tidur ditemani bunga-bunga.
"Tapi Kak," ujar Mayu. Mayu sebenarnya tidak masalah menemani Alga, tapi dia tidak enak pada mertuanya. Apa kata mertuanya nanti, melihat sang menantu bangunnya siang. Mayu harusnya tahu diri.
"Tidak ada tapi-tapian Ay. Mami dan yang lainnya juga pasti mengerti kalau kita bangun siang. Namanya juga pengantin baru. Lagian tenaga kamu juga enggak terlalu diperlukan di dapur. Ada banyak pekerja di rumah ini dan ada chef juga. Saat ini akulah yang paling membutuhkan kamu Ay. Mengerti lah Ay. Pliss!" ujar Alga menujukkan wajah memohonnya tapi terkesan memaksa.
"Baiklah," ujar Mayu akhirnya. Dia tidak tahan melihat wajah memohon suaminya. Lagian kalau boleh jujur Mayu juga masih menginginkan pelukan suami tampannya. Pelukan Alga itu, bisa membuat Mayu lupa waktu sengking nyamannya.
Mayu kemudian tidur di samping Alga dan menghadap pada Alga. Alga juga memberikan tangan kirinya untuk bantal Mayu.
Alga kembali tersenyum dan membawa Mayu ke dalam pelukannya.
"Akhirnya pelukan ini benar-benar menjadi milikku Ay dan aku sangat berharap untuk selamanya, hanya aku yang menjadi pemilik pelukan ini." ujar Alga.
"Dan aku juga berharap hal yang sama Kak. Jangan sampai ada orang ketiga diantara kita. Aku juga enggak mau dipoligami sekalipun Kak Alga mampu." balas Mayu.
"Aku juga tidak ada keinginan melakukan itu Sayang, karena aku yakin aku tidak akan bisa berbuat adil." ujar Alga mantap.
"Good aku pegang kata-kata Kak Alga."
"Iya Ay," ujar Alga. Alga melepas pelukannya dan kembali mengecup dalam kening Mayu.
Alga melepas pelukannya dan menatap wajah istrinya yang begitu dekat dengannya. Mayu juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Untuk beberapa detik mereka saling pandang penuh cinta dan berakhir dengan saling tersenyum. Terlihat sekali kalau mereka sedang berbunga-bunga.
"Ay!" panggil Alga.
"Kenapa Kak?"
"Apa kamu menyesal setelah apa yang kita lakukan semalam?" tanya Alga.
"Tentu saja enggak Kak, justru aku sangat bahagia." ujar Mayu apa adanya.
"Yakin kalau kamu sangat bahagia?" tanya Alga lagi.
"Sangat yakin dong Kak. Sebenarnya aku ingin membuat pengakuan Kak." ujar Mayu. Berhubung waktunya sangat tepat, Mayu ingin jujur pada Alga soal apa yang sempat mengganggu pikirannya.
"Pengakuan apa itu Ay?" tanya Alga.
"Jadi begini Kak, sebenarnya kemarin itu aku dan Naura sempat membahas tentang malam pertama gitu, dan aku mengaku pada Naura kalau Kak Alga belum menyentuhku. Nah dari situ Naura langsung mempertanyakan soal kak Alga. Dia takut Kak Alga tidak normal. Ya aku juga sampai kepikiran, mengingat sikap Kak Alga selama di rumah sakit juga terkesan biasa saja. Kak Alga juga tidak pernah mau melakukan lebih dari sekedar kiss." jelas Mayu membuat senyum Alga mengembang.
Pikiran istrinya konyol sekali. Mayu tidak tahu saja bagaimana tersiksanya Alga tiap malam selama mereka di rumah sakit. Bagaimana dia yang setiap malam bermain solo di kamar mandi dan itu setelah Mayu tidur tentunya.
"Jadi gara-gara itu kamu jadi sering ngelamun kemarin Ay?" tanya Alga dan diangguki oleh Mayu.
Alga lagi-lagi tersenyum mendengarnya. Wajar saja Naura meragukannya dan Mayu juga sampai kepikiran. Alga rasa, pasti sangat jarang laki-laki yang seperti dia yang bisa menahan diri begitu lama dengan status mereka yang sudah sah jadi suami istri. Kecuali kalau laki-laki itu ada kelainan atau tidak ada cinta dalam pernikahannya.
"Sebenarnya aku juga mau buat pengakuan Ay." ujar Alga akhirnya.
"Sebenarnya aku memang sengaja menjaga jarak dengan kamu selama di rumah sakit. Menjaga jarak bukan berarti tidak mau dekat dengan kamu tapi aku menjaga jarak dalam artian tidak ingin melakukan lebih dari sekedar kiss karena kalau kita sampai melakukan lebih dari sekedar kiss, sudah pasti aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku memang bisa saja menyentuh kamu saat di rumah sakit, kita bisa melakukannya di sofa atau kamar mandi dan nenek juga tidak akan melihatnya. Hanya saja karena aku tahu kita sama-sama belum pernsh melakukannya. Aku ingin melakukannya di tempat yang nyaman dan spesial Ay. Aku mau apa yang kita lakukan meninggalkan kesan manis dan yang akan menjadi kenangan manis seumur hidup kita. Aku tidak ingin apa yang kita jaga selama ini, terjadi begitu saja, tanpa meninggalkan kesan apa-apa." jelas Alga dan kali ini gantian Mayu yang tersenyum.
Apa yang dikatakan Alga, mambuat Mayu semakin kagum pada suaminya dan dia juga sangat setuju dengan Alga.
"Kak Alga sudah berhasil Kak. Aku benar-benar terkesan dengan apa yang kak Alga lakukan dan apa yang kita alami. Terima kasih ya Kak sudah melakukan semua yang terbaik untukku dan maafkan aku yang sempat berpikir negatif pada Kak Alga." ujar Mayu dan diangguki oleh Alga.
Alga mengusap sayang wajah istrinya.
"Iya Ay, aku seneng kalau kamu merasa terkesan dengan apa yang sudah aku lakukan. Hanya saja hati ini sulit memaafkan kamu Ay, pikiran kamu itu sungguh kelewatan, Sayang." ujar Alga membuat Mayu memanyunkan bibirnya dan Alga tersenyum senang dalam hatinya.
"Kok gitu sih Kak? Tahu gitu aku enggak usah minta maaf saja." ujar Mayu.
"Ya enggak bisa gitu dong Ay, kalau salah ya harus minta maaf dan kalau tidak dimaafkan berjuang lah sampai dimaafkan." ujar Alga yang ada modus dibalik kata-katanya.
"Caranya?"
"Suaminya dirayu gitu Ay atau dikiss juga boleh, dib*lai lebih bagus lagi." ujar Alga menggoda istrinya.
"G*nit!" ujar Mayu tapi ada senyum di wajahnya.
"G*nit sama istri sendiri halal loh Ay. Ah iya sebenarnya masih ada satu cara lagi biar dimaafkan." ujar Alga lagi.
__ADS_1
"Apa itu?"
"Tambah 3 ronde lagi Ay!" ujar Alga sambil mengedipkan matanya.
"Enggak ada ya, satu saja!" ujar Mayu cepat dan langsung mendapat senyum penuh arti dari Alga.
"Mantap berarti kita lanjut satu ronde lagi ya Ay!" ujar Alga menatap genit pada Mayu dan beralih memeluk erat pinggang Mayu.
"Eh, maksudnya?" keget Mayu.
"Enggak ada maksud apa-apa Ay, aku hanya mau mengambil satu ronde yang kamu maksud." ujar Alga dan tanpa menunggu jawaban Mayu, Alga langsung menyatukan bibirnya dengan Mayu.
Mayu kembali terkejut karena gerakan Alga yang begitu tiba-tiba, hanya saja beberapa detik kemudian dia tersenyum tipis dibaik ci*man mereka. Suaminya ini memang jago sekali modusnya tapi Mayu suka. Hingga terjadilah pagi yang panas diantara dua anak manusia itu.
***
"Ehem ... ehem tahu deh yang pengantin baru, enggak tahu pagi kayaknya." sindir Dira, begitu Alga dan Mayu keluar dari lift. Gara-gara Alga yang minta nambah, jam 10 pagi mereka baru keluar dari kamar. Itu juga karena perut Mayu sudah keroncongan.
"Bukan tidak tahu pagi Mi, tapi kami terlalu asik buat cucu untuk Mami. Mami bukannya minta cucu cewek. Nanti kalau cucunya enggak jadi Mami lagi yang ngomel." ujar Alga dengan santai dan tidak perduli dengan sindirian Dira. Beda halnya dengan Mayu yang merasa tidak enak pada mertunya. Mayu juga takut dituduh menantu pemalas. Dira memang baik padanya, tapi bukan berarti Mayu bisa seenaknya. Semua ada aturannya.
"Ya Mami memang minta cucu Alga tapi kamu itu harusnya tahu waktu juga dong. Istri kamu itu bisa sakit kalau tidak dikasih makan. Seenggak isi perut dulu, setelah itu kalau mau lanjut lagi silahkan!" ujar Dira yang hanya menyalahkan anaknya saja karena dia yakin penyebab Alga dan Mayu terlambat makan pasti karena Alga.
"Benar juga ya Mi. Baiklah Mi, kami mau makan dulu nanti lanjut lagi." ujar Alga mantap.
"Lanjut lagi! Enggak ada itu ya Alga. Kamu ini sekalinya diberi jatah jadi enggak bisa berhenti. Beri Mayu waktu bernafas dong Alga! David juga sudah mencari kalian. Kalian harus ke sana. Ingat malam ini pengajian untuk Naura." ujar Dira mengingatkan.
"Iya Mi, ini rencananya kami juga mau ke sana. Ya sudah kamu makan dulu ya Mi."
"Iya, tapi ingat ya Alga, kalau makan ya makan bukan yang lain-lain!" seru Dira lagi membuat Alga gemas sendiri. Ini maminya pikiranya kenapa jadi seakan menuduh Alga laki-laki m*sum. Padahal Alga bukan begitu, dia juga tahu tempat dan tahu kapan waktunya.
"Iya Mi iya. Udah ya Mi ya, kapan makannya kami ini?" seru Alga.
"Iya Alga, kalian bisa makan." ujar Dira dan ada senyum di wajahnya. Senang dia bisa menggoda anaknya.
Sementara itu Mayu tampak lega di wajahnya. Dira ternyata tidak marah padanya, bahkan menyindirnya pun tidak. Dia hanya menyindir Alga saja.
"Kamu kenapa Ay?" ujar Alga yang bisa melihat perubahan raut wajah istrinya.
"Enggak apa-apa Kak, aku hanya lega saja, mami tidak marah padaku." ujar Mayu apa adanya.
"Tentu saja Mami tidak marah pada kamu Ay, kamu kan menantu kesayangannya. Lagian dia juga pasti paham kok. Dia juga pernah pengantin baru Ay."
"Iya aku tahu Kak, tapi aku harusnya tahu diri dong, jangan karena mami tidak marah aku malah jadi seenaknya." ujar Mayu lagi.
"Bukan seenaknya Ay. Kan tidak setiap hari juga kita begini. Mami itu juga sudah sangat tahu seperti apa kamu. Udah kita enggak perlu bahas mami lagi, kita sebaiknya makan Ay. Lapar banget ini Ay." ujar Alga diakhiri dengan wajah memelasnya.
"Jelas saja lapar, udah waktunya makan tapi malah masih kerja keras." sindir Mayu.
__ADS_1
"Itu karena kamu buat candu Ay," bisik Alga dan diakhiri dengan mengecup pipi istrinya. Wajah Mayu sampai memerah karenanya.