
"Kak, kita ke kamar nenek dulu ya!" pinta Mayu begitu mereka sudah masuk lift.
Mayu kembali teringat pada neneknya dan rasa tidak tenang kembali menyerangnya.
"Nenek ya Ay, boleh. Eh tapi, apa tidak sebaiknya kita ganti baju dulu Ay, biar lebih nyaman dan segar?" ujar Alga. Raut wajahnya langsung berubah dan ini karena dia sudah tahu apa yang terjadi pada nenek Iroh. Rangga yang memberitahukannya padanya.
"Tidak usah deh Kak. Mayu benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan nenek. Mayu ingin mastikan keadaannya kalau dia baik-baik saja." ujar Mayu yang sudah tidak sabar.
"No Ay. Aku ingin kita ganti baju dulu, aku sudah tidak betah Ay. Aku butuh mandi dan aku rasa kamu juga sama." ujar Alga sengaja mencari alasan.
Mayu menatap suaminya, sesungguhnya dia ingin protes karena tidak biasanya Alga mau menunda, jika itu berhubungan dengan nenek Iroh. Hanya saja karena Mayu tidak ingin mereka berantem di hari pertama mereka menjadi suami istri, Mayu memilih menurut saja.
"Baiklah Kak," ujar Mayu dan disambut senyum lega Alga.
"Bagus, ini baru istri pintar. Sini peluk dulu!" ujar Algakemudian membawa Mayu ke dalam pelukannya.
'Maafkan aku Ay,' batin Alga.
Lift terbuka dan mereka kembali melangkah bersama. Alga juga menggenggam erat tangan istrinya.
Alga kemudian membuka perlahan pintu kamar mereka.
"Selamat datang di kamar pengantin kita Ay!" ujar Alga lagi.
Mayu tampak takjub melihat kamar mereka yang tampilannya sudah berbeda. Kamarnya dihias cantik dengan bunga-bunga yang segar dan itu mulai dari pintu sampai ke kasur. Di kasur juga ada tulisan happy weadding.
"Kak ini benaran kamar kita?" tanya Mayu seakan tidak percaya karena sebelumnya kamar mereka tidak seperti ini.
"Tentu saja ini kamar kita Ay. Di hotel ini hanya kita yang menikah hari ini. Gimana apa kamu suka?" tanya Alga.
Mayu mengangguk mantap.
"Suka sekali Kak, terima kasih banyak Kak." ujar Mayu tulus.
"Baguslah kalau kamu menyukainya. Aku juga sangat menyukainya tapi rasa sukaku masih lebih banyak untuk kamu." ujar Alga lagi.
"Apa sih Kak?" ujar Mayu malu dan memukul pelan perut suaminya.
Alga tersenyum dia kemudian menarik pinggang Mayu dan menghapus jarak diantara mereka.
Deg deg deg
Jatung Alga dan Mayu sama-sama berdebar lebih cepat dari biasanya. Mayu sampai menelan ludahnya karena rasa gugup kembali menyerangnya mengingat ini adalah malam pertama mereka.
'Apa Kak Alga akan meminta haknya malam ini juga?' batin Mayu. Mayu sudah mempersiapkan dirinya dan dia tidak akan menolak kalau pun Alga memintanya karena itu memang haknya Alga. Hanya saja Mayu mau melakukannya jika dia sudah bertemu dengan neneknya dan memastikan dia baik-baik saja.
"Cup,"
Mayu yang terlalu asik dengan pikirannya tidak sadar kalau Alga sudah menyatukan bibir mereka.
Mayu sempat terkejut hanya saja dia langsung membalas ci*man Alga. Mayu memejamkan matanya dan Alga juga melakukan hal yang sama. Ci*man Alga terkesan lembut tapi menuntut. Dia juga menarik dagu Mayu dan menyesap dalam bibir istrinya. Mayu sampai kewalahan mengimbanginya tapi dia juga sangat menikmati apa yang dilakukan Alga.
Kaki kiri Mayu sampai terangkat dan ci*man mereka terkesan begitu romantis. Alga semakin mengeratkan pelukannya dipunggang istrinya dan Mayu membalasnya dengan melingkarkan tangannya di leher suaminya.
Setelah beberapa menit bibir mereka saling menyatu, Alga melepas tautan bibir mereka dan membawa Mayu ke dalam pelukannya. Sesungguhnya Alga masih menginginkannya dan dia juga tidak ingin sekedar c*uman saja. Hanya saja Alga juga tidak ingin jadi suami yang egois karena saat ini ada seseorang yang sangat membutuhkan istrinya.
Alga melepas pelukannya dan menatap istrinya penuh cinta. Alga kembali mengecup dalam kening Mayu.
"Terima kasih Ay, sekarang kami bisa mandi!" ujar Alga dan disambut dengan anggukan Mayu.
__ADS_1
Ada tanda tanya dibenak Mayu melihat sikap Alga yang begitu santai tapi dari tatapan matanya terlihat berbeda. Alga juga tidak mengajaknya mandi bersama, padahal sebelumnya Alga sempat menggodanya kalau dia ingin mandi bersama dengan Mayu dan Mayu tidak boleh menolaknya.
"Ay! Kenapa masih diam saja? Jangan sampai aku membawa kamu ke kasur ya Ay!" ujar Alga menggoda istrinya dan langsung mendapat tatapan protes dari Mayu.
"Ihh enggak!" ujar Mayu cepat. Tentu saja Mayu tidak mau mereka langsung naik ke kasur. Mayu tidak percaya diri dengan bau keringatnya, selain itu dia juga masih memikirkan neneknya.
"Kenapa enggak? Kamu enggak mau tidur satu kasur denganku ya Ay?" ujar Alga lagi dan pura-pura memperlihatkan wajah sedihnya.
"Bukan begitu Kak, kita kan mau ke kamar nenek." ujar Mayu apa adanya. Mana mungkin Mayu tidak mau tidur satu kasur dengan suaminya. Sekali pun Mayu gugup, Mayu juga tidak bisa membohongi dirinya kalau dia ingin tidur dipelukan suaminya itu.
"Jadi kamu mau tidur satu kasur denganku. Aku juga sangat mau tidur satu kasur dengan kamu Ay. Berarti mulai malam ini kita tidur di kasur ya Ay. Terus kita peluk-pelukan, cium-cium*n, sa-" ujar Alga lagi dan langsung dipotong oleh Mayu.
"Apaan sih Kak!" ujar Mayu malu dan kembali melanjutkan langkahnya.
Alga hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Andai saja hari ini tidak ada masalah, maka Alga pastikan malam ini akan menjadi malam yang paling indah bagi mereka.
Alga buru-buru keluar kamar kembali begitu dia mendapat telepon dari ibunya Rangga. Alga takut Mayu mendengar pembicaraan mereka.
***
"Loh Kak kenapa pakai jaket?" tanya Mayu bingung begitu Alga memberinya jaket dan membantu memakaikannya.
"Tidak apa-apa Ay, di luar dingin. Aku tidak mau kamu masuk angin." ujar Alga yang belum juga memberitahu Mayu kemana tujuan mereka. Tujuan Alga bukan mau memberikan surprise atau sejenisnya, tentu saja untuk menemui nenek Iroh.
Mayu tidak lagi protes dan ngikut saja. Begitu juga saat Alga membawanya keluar kamar kemudian mengunci kamar mereka.
Mereka jalan bersama ke arah lift dan Alga memilih merangkul istrinya.
Mayu kembali menatap bingung Alga, begitu Alga menekan tombol lantai dasar. Mereka nvapain ke lantai dasar? Seingat Mayu Neneknya ada di lantai 1 bukan lantai dasar. Sedangkan Alga memilih diam saja karena dia juga bingung bagaimana caranya mengatakannya pada Mayu.
"Kak, ini kita beneran ke lantai dasar?" tanya Mayu akhirnya.
"Iya Ay,"
"Kita ngapain ke lantai dasar Kak?" tanya Mayu lagi.
"Nanti juga kamu akan tahu. Ayo!" ujar Alga lagi.
Mayu mengangguk dan mereka melangkah keluar bersama dari lift.
Mayu lagi-lagi menatap bingung Alga, begitu Alga membawanya ke pintu ke luar dan begitu mereka sampai di luar ada mobil yang menunggu mereka.
"Loh!" seru Mayu tanpa sadar begitu melihat melihat ada Rangga dibalik kursi kemudi dan di sampingnya ada Lora kekasihnya. Lora dan Rangga hanya tersenyum tidak enak pada Mayu. Ada perasaan bersalah di hati mereka karena menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi pada Mayu. Hanya saja mereka tidak punya pilihan karena itu permintaan nenek Iroh sendiri. Selain itu mereka juga tidak ingin merusak momen hari bahagia Mayu.
"Sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Mayu lagi begitu Rangga sudah menjalankan mobilnya. Perasaan Mayu langsung tidak enak dan berbagai pikiran negatif kembali menguasai dirinya.
Alga tidak langsung menjawab dia meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.
Mayu menatap tangannya yang digenggam Alga dan beralih menatap Alga.
Alga balas menatap istrinya, ini saatnya istrinya tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kita mau menjenguk nenek Ay. Nenek sempat mengeluh sakit perut dan bandannya ngedrop hingga dia terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Kata dokter dia kelelahan. Maaf kami terpaksa menyembunyikan ini dari kamu. Kami hanya enggak ingin merusak momen bahagia kita Ay. Maafkan juga atas keegoisanku." jelas Alga membuat Mayu langsung berkaca-kaca. Terjawab sudah perasaan tidak enaknya ternyata terjadi sesuatu pada neneknya.
"Nenek!" lirih Mayu dan air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.
Alga membawa istrinya ke dalam pelukannya dan mengusap pelan punggung Mayu.
"Saya juga minta maaf Mayu karena menyembunyikan soal nenek Iroh dari kamu. Kami melakukan juga karena permintaan nenek Iroh sendiri sebelum dia jatuh tidak sadarkan diri." ujar Rangga.
__ADS_1
Mayu yang sebelumnya memeluk Alga langsung mengangkat wajahnya dan menatap Rangga begitu mendengar neneknya tidak sadarkan diri.
"Tidak sadarkan diri gomana maksudnya Kak, apa nenek sebelumnya sempat pingsan?" tanya Mayu dan rasa khawatirnya semakin menjadi saja.
"Iya Mayu, dia sempat kehilangan kesadarannya hingga dia mendapatkan perawatan khusus. Hanya saja sekarang keadaan sudah ada peningkatan, dia sudah sadar dan sudah bisa bicara." ujar Rangga apa adanya.
Sebelumnya Rangga bahkan sangat takut karena nenek Iroh, tidak lagi bisa bicara. Mulutnya sampai terbuka dan nafasnya juga sudah susah. Rangga tahu nenek Iroh sudah berumur, tapi dia benar-benar tidak ingin nenek Iroh pergi di hari bahagia cucunya. Rangga enggak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Mayu kalau sampai itu terjadi.
"Hikss ... hikss ...."
Mayu tidak lagi sanggup berkata-kata dan hanya tangis yang keluar dari mulutnya. Setelah mendengar cerita Rangga, Mayu sangat yakin kalau keadaan nenek pasti lebih parah dari sakitnya sebelumnya.
Alga lagi-lagi membawa Mayu ke dalam pelukannya. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya.
"Kamu yang sabar ya Ay dan harus kuat juga. Kita akan doakan bersama untuk kesembuhan nenek, Ay." ujar Alga dan sambil mengusap rambut istrinya.
Mayu hanya mengangguk.
***
"Nenek ... Hikss ...." lirih Mayu dan lagi-lagi menangis begitu melihat neneknya yang berbaring tidak berdaya dan harus dipakaikan alat bantu pernapasan serta selang infus.
Alga mendekat pada istrinya dan mendekatkan mulutnya ke telinga Mayu.
"Aku tahu kamu sedih Ay, tapi jangan perlihatkan tangis kamu di depan nenek dan jangan sampai juga nenek mendengar kamu menangis. Nenek bisa ikutan sedih Ay dan itu hanya akan membuat keadaannya semakin drop." ujar Alga mengingatkan.
Mayu mengangguk dan menghapus air matanya yang susah sekali berhenti turunnya. Mayu kembali melangkah ke ranjamg neneknya dan berhenti tepat di samping ranjang nenek Iroh.
Mayu menyentuh perlahan tangan neneknya karena tidak ingin membangunkan neneknya.
'Nenek cepat sembuh dan jangan tinggalkan Mayu Nenek! Mayu belum siap kehilangan Nenek.' batin Mayu dan menangis dalam diamnya.
Mayu lagi-lagi menghapus air matanya yang terus jatuh. Alga juga dengan setia berada di samping istrinya dan mengusap sayang lengan Mayu.
Mayu tidak ingin mengganggu isirahat neneknya, karena itu dia memilih duduk di sofa dan menghampiri ibunya Rangga dan Yudha. Sebelumnya hanya mereka berdua yang menunggu nenek Iroh di rumah sakit, yang lainnya bukan tidak mau, tapi karena dilarang oleh dokter. Pasien butuh istirahat dan tidak boleh dijenguk oleh orang banyak. Itu juga alasannya kenapa Naura dan yang lainnya tidak ikut menyusul walau mereka ingin. Mereka juga khawatir pada nenek Iroh.
"Budhe terima kasih ya Budhe sudah mau mau menjaga nenek selama Mayu tidak ada." ujar Mayu.
"Iya Mayu sama-sama. Semoga nenek kamu cepat sembuh ya! Kamu juga harus tetap semangat pokoknya. Mungkin ini adalah ujian pertama pernikahan kamu tapi Budhe yakin kamu pasti bisa melewatinya. Kamu adalah perempuan kuat Mayu." ujar Tuti menyemangati istri majikannya yang sekarang sudah menjadi majikannya juga. Hanya saja panggilannya tetap Mayu dan itu karena kemauan Mayu sendiri.
"Iya Budhe, sekali lagi terima kasih Budhe." ujar Mayu.
"Iya Mayu, kalau begitu kami pulang dulu ya, kalian juga pasti ingin istrirahat." ujarnya lagi.
"Iya Budhe kalian hati-hati." ujar Mayu.
Setelah Rangga dan yang lainnya pergi, tinggallah mereka bertiga saja di ruangan VVIP itu. Nenek Iroh tidur di ranjangnya, sedangkan Alga dan Mayu tidur bersama di ranjang satu lagi. Ranjang yang biasanya disediakan untuk keluarga yang menunggu pasien.
Mayu tidur menghadap Alga dan Alga menghadap pada istrinya.
Jika sebelumnya Alga yang merasa bersalah pada istrinya, kali ini Mayulah yang merasa bersalah. Ini malam pertama mereka, malam yang seharusnya menjadi malam yang tidak bisa dilupakan tapi mereka malah tidur di rumah sakit.
"Maaf ya Kak, kita terpaksa tidur di rumah sakit dan tidak ada malam pertama untuk kita." ujar Mayu menatap suaminya.
Alga balas menatap istrinya dan mengusap pipi Mayu yang jaraknya begitu dekat dengannya.
"Tidak apa-apa Ay, kamu tidak perlu minta maaf, aku tidak masalah sama sekali dan bagiku ini tetap malam pertama yang sangat berkesan dan tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Bagaimana aku yang harus bersikap dewasa di saat kita menghadapi masalah dan bagaimana aku yang harus menurunkan egoku demi kamu. Aku sangat berharap kita akan terus seperti ini ya Ay, walau sebesar apa pun itu masalahnya yang akan kita hadapi kedepannya." ujar Alga.
"Iya Kak, terima kasih. Aku sangat bahagia memiliki suami seperti Kak Alga. I love you suami." ujar Mayu dan itu berhasil membuat Alga tersenyum.
__ADS_1
"I love you too istri." balas Alga kemudian mengecup dalam kening istrinya.