Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Nyonya Dira Ingin Bertemu


__ADS_3

Mayu pulang ke rumah dengan senyum tulus di wajahnya dan sangat berbeda dengan hari kemarin. Hari ini jualan Mayu lakunya cukup banyak walau kredit semua.


Ada 3 tempat yang Mayu datangi hari ini dan hampir semuanya mau beli hanya saja kebanyakan kredit, karena itu juga Mayu tidak sempat cek lokasi tempat jualan baru. Meski begitu itu bukanlah suatu penyesalan bagi Mayu, masih ada hari esok dan setidaknya untuk urusan kredit baju sudah aman terkendali. Mulai besok Mayu tinggal nagih, dan rencana Mayu saat hari libur nanti, dia mau menawarkan dagangan lagi. Siapa tahu ada lagi yang mau beli atau nambah kredit.


Mayu sangat sadar, dia pasti akan lebih capek karena harus nagih di tiga tempat sekaligus dan itu jaraknya lumayan jauh, tapi itu bukanlah masalah bagi Mayu, yang penting dia ada penghasilan tetap dan tidak pusing kalau mau bayar kontrakan nanti.


"Assalamualaikum Nenek," ujar Mayu.


"Waalaikumsalam Nak. Kamu sudah pulang?"


"Iya Nek sudah, maaf ya Nek, Mayu pulang telat hari ini. Jualannya lagi lumayan ramai Nek." ujar Mayu sambil salim. Ini memang sudah jam sembilan malam dan Mayu baru sampai di rumah.


"Iya Nak tidak apa-apa, yang penting kamu selamat sampai di rumah.


"Mayu pasti akan selamat Nek, Allah itu maha pelindung Nek. Ah iya, hari ini wajah Nenek terlihat cerah, apa jualannya juga ramai hari ini?" ujar Mayu menatap neneknya.


"Tidak ramai Nak, orang-orang sini belum ada yang mau beli, hanya saja tadi teman kamu, Lora dan Shinta datang, mereka beli banyak jualan Nenek. Mereka berdua belanjanya sampai 50 ribu. Lumayan lah Nak." cerita nenek Iroh.


"Wah benar sekali, lumayan banget itu Nek," ujar Mayu tersenyum. Mayu tersenyum bukan karena uangnya tapi karena melihat wajah neneknya yang tidak lagi sedih. Mungkin besok Mayu akan pikirkan caranya, supaya ada lagi yang mau beli jualan neneknya. Mayu ingin mengukir senyum setiap hari di wajah neneknya.


"Iya Nak." ujar Nenek Iroh dan membalas senyum cucunya. Nenek Iroh juga merapikan rambut Mayu yang berantakan, dan mereka kembali sama-sama tersenyum.


"Ah iya, Nenek belum makan kan, Mayu tadi ada beli ayam bakar untuk kita Nek. Kata orang-orang sih, harganya memang murah tapi rasanya, enak Nek. Mantap pokoknya." ujar Mayu.


Senyum nenek Iroh memudar dan menatap cucunya.


"Kenapa beli makan di luar lagi sih Nak, kalau udah terlalu malam kan bisa masak telur ceplok saja. Itu juga sudah enak kok. Apalagi kalau Mayu yang masak, nenek pasti suka."


"Mayu beli di luar kan baru hari ini Nek, yang kemarin itu ditraktir Kak Alga, Nek. Enggak apa-apalah kita menikmati hasil kerja keras kita sesekali Nek, ingat Nek harta itu tidak dibawa mati."


"Kamu benar Nak, tapi banyak orang loh di luar sana yang mati karena kelaparan."


"Kita tidak akan kelaparan Nek, percaya pada Mayu, Nek. Ingat Nek, kita itu punya Allah. Burung saja yang tidak menanam dan menuai, Dia beri makan, bukankah kita jauh lebih berharga dari burung? Ditambah lagi kita juga masih trrus berusaha mencari makan, kita juga tidak malas-malasan. Allah itu tidak akan melupakan kita Nek, Dia pasti memberikan rejeki untuk kita. Apa lagi pada Mayu ini sangat cantik jelita dan imut ini Nek." ujar Mayu sambil menunjukkan wajah imutnya.


Nenek Iroh tersenyum lebar.


"Kamu ini Nak, ada saja. Udah ah ayo kita makan, Nenek sudah lapar."

__ADS_1


"Nah gitu ding Nek. Ok nenekku sayang." ujar Mayu semangat dan merangkul bahu neneknya.


Setelah makan, Mayu lanjut mengerjakan tugas kuliahnya. Hari ini Mayu mau libur jualan online dulu, Mayu ingin istirahat. Mayu begitu lelah selama 2 hari ini. Lagian kalau pun dia jualan di tiktok, belum tentu juga ada yang mau nonton, kemarin saja hanya APP yang jadi penonton setianya. APP tidak mungkin setiap hari menonton live serta memborong jualannya bukan?


Sementara itu pemilik aku APP alias Alga, sudah dari tadi bolak balik mengecek ponselnya. Hanya saja Mayu belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Mayu kamu kemana, kamu baik-baik saja kan Mayu?" monolog Alga.


Alga khawatir pada Mayu. Ponsel Mayu juga belum ada online lagi dan dihubungi pun tidak diangkat.


Alga memejamkan sejenak matanya dan membayangkan wajah gadis yang dicintainya.


'Maafkan aku Mayu. Ini semua memang salahku.' batin Alga.


***


"Neng Ibu mau melunaskan angsuran baju Ibu saja ya Neng. Suami Ibu marah, Ibu kredit baju. Katanya kredit baju itu dosa Neng. Maaf ya Neng." ujar pelanggan pertama Mayu saat Mayu menagih kreditan baju.


"Iya Ibu tidak apa-apa." ujar Mayu masih berusaha berpikir positif.


Begitu Mayu mendatangi rumah kedua, dia juga sama mau melunasi kreditannya. Mayu tidak lagi bisa berpikir positif. Mayu sangat yakin kalau orang itu pasti sudah mempengaruhi pelanggannya lagi, dan benar saja sampai semua selesai Mayu tagih, semuanya melunasi kreditan bajunya.


'Kenapa sih itu orang jahat banget ya Allah. Apa salah Mayu padanya hikss ....' batin Mayu menangis.


Mayu sampai jongkok di balik tembok rumah orang dan menghapus air matanya yang masih saja jatuh tanpa bisa dia cegah.


'Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan orang itu ya Allah? Niatku hanya untuk mencari sesuap nasi bukan mencari kekayaan.' batin Mayu lagi.


Padahal pekerjaan yang Mayu jalani selama ini bukanlah suatu yang mudah. Dia tidak hanya harus menahan rasa lelahnya, tapi dia juga harus membuang jauh-jauh rasa gengsi dan malunya. Mayu juga berusaha menutup rapat kupingnya saat mendengar omongan tidak tentangnya, karena tujuan Mayu hanya untuk menghasilkan uang halal demi dia dan neneknya.


Mayu buru-buru menghapus air matanya saat melihat seorang laki-laki paruh baya berdiri di depannya.


Mayu sempat takut laki-laki itu berbuat jahat padanya. Mayu sampai memegang kuat tasnya. Mayu takut tasnya diambil oleh laki-laki itu. Isi tasnya cukup banyak saat ini dan bisa gawat kalau orang itu sampai mengambilnya.


"Saya bukan perampok, saya hanya ingin menyampaikan kalau Nyonya ingin bertemu dengan kamu." ujar laki-laki itu seolah tahu apa yang dipikirkan Mayu.


Mayu seketika mengangkat kepalanya. Ada kelegaan di hatinya.

__ADS_1


"Nyonya siapa?" tanya Mayu.


"Nyonya Dira."


Alis Mayu seketika terangkat. Jangan-jangan orang yang sudah berbuat tega padanya adalah Dira. Dia kan sangat kaya dan berkuasa. Kenapa Mayu baru menyadarinya sekarang?


"Ikut saya!" ujar laki-laki paruh baya itu lagi.


Mayu menatap laki-laki itu. Mayu kemudian mengikutinya. Mayu rasa dia memang perlu bicara dengan Dira.


"Masuk!" suruh laki-laki itu lagi sambil membuka pintu bagian belakang mobil mewah Dira.


Mayu mengangguk kemudian masuk mobil mewah itu.


"Kita mau kemana Pak?" tanya Mayu menatap laki-laki paruh baya itu.


"Nanti juga kamu akan tahu." ujarnnya tanpa menoleh pada Mayu dan tetap fokus pada setirannya.


Mayu menarik nafas pelan dan mulai berpikir.


'Apa kira-kira tujuan tante Dira ingin bertemu denganku. Haruskah aku mengatakannya pada kak Alga atau kak Rangga?' batin Mayu.


"Tentang nyonya Dira yang ingin bicara dengan kamu, jangan sampai ada yang tahu termasuk tuan muda Alga. Jangan sampai nyonya dira semakin marah jika kamu melanggarnya." ujar pak supir itu lagi seakan tahu apa yang dipikirkan Mayu.


"Baik Pak," ujar Mayu akhirnya dan tidak jadi memberitahukan Alga prihal Dira.


***


"Masuk saja, Nyonya Dira ada di meja nomor 3." ujar pak supirnya begitu mereka sampai di sebuah kafe 24 jam.


"Baik Pak," nurut Mayu.


Mayu menarik nafas pelan dan membuangnya dengan perlahan. Mayu tidak bisa memungkiri kalau dia ada perasaan gugup bertemu dengan Dira, tidak seperti saat mereka pertama kali bertemu, Mayu yang biasa saja.


Mayu lagi-lagi menghela nafas begitu melihat Dira sedang duduk di meja nomor 3 dan tatapannya langsung tertuju pada Mayu yang baru saja masuk kafe.


"Selamat pagi Tante. Ada apa Tante ingin bertemu dengan saya?" tanya Mayu berusaha bersikap sebiasa mungkin.

__ADS_1


"Duduk kamu!" ujar Dira dingin dan tidak bersahabat sama sekali.


__ADS_2