Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Truth or Dare


__ADS_3

Malam hari tiba. Mayu dan teman-temannya kembali berkumpul di halaman villa. Mereka duduk membentuk lingkaran dan di tengah mereka berdiri beberapa panitia serta beberapa alat musik untuk memeriahkan acara malam ini.


Terlihat jelas wajah bahagia mereka semua. Begitu juga dengan Mayu yang duduk di samping Alga. Mayu terlihat begitu menikmati acaranya. Mayu sangat tahu dia jarang-jarang memiliki kesempatan berkumpul bersama teman-temannya, oleh karena itu Mayu tidak mau semuanya berlalu begitu saja.


Mayu bahkan sampai melupakan kejadian cium pipi itu, dan dia kembali bersikap seperti biasanya di depan Alga. Sedangkan Alga sendiri juga sikapnya sama seperti biasanya. Dia lebih banyak diam dari pada bicara.


"Ok semua, berhubung ini baru jam 8, apa kalian setuju kalau kita lanjut main lagi?" tanya Lia selaku panitia.


"Setuju!" kompak Mayu dan temannya begitu bersemangat.


"Baiklah, berhubung kalian setuju, bagaimana kalau kita lanjut main truth or dare. Apa kalian masih setuju?" tanya Lia lagi.


"Setuju!" kompak mereka lagi. Mayu bahkan sampai bertepuk tangan karena antusiasnya. Alga sampai menggelengkan kepalanya.


"Lihat itu si Mayu, Nau! Norak banget sampai tepuk tangan begitu. Kayak enggak pernah main saja." ujar Ira menatap tidak suka Mayu.


"Iya, emang norak dan kampungan banget itu Mayu. Hanya saja yang buat gue masih enggak bisa terima, kok Kak Alga bisa betah ya duduk di sampingnya? Kak Alga kan bawaannya sangat tenang dan cool begitu." tambah Yuli.


"Kalau sudah dipelet ya pasti ngikut sajalah. Kak Alga enggak sadar dengan apa yang dilakukannya itu." ujar Naura.


"Benar sih Nau, saudara gue juga dulu ada yang kena pelet, dia jadi ngikut saja kemauan perempuannya. Hanya saja pelet itu tidak akan awet, suatu saat kak Alga juga pasti akan sadar. Eh tapi Nau, lo enggak ada niatan gitu memberitahukan tentang Mayu pada orang tua kak Alga, bukankah lo sangat dekat dengan keluarga kak Alga?" tanya Ira.


"Nanti akan ada saatnya gue beritahu pada tante Dira dan om pratama. Gue yakin begitu mereka tahu kak Alga pacaran dengan seorang gembel, pasti deh itu Mayu diusir jauh-jauh. Pus pus sana!" ujar Naura seolah mengusir seekor kucing.


"Dan kami paling menanti akan hal itu Nau." ujar Yuli. Mereka bertiga kemudian tersenyum jahat.


"Ok semua, berhubung kalian semua setuju, maka kita akan main truth or dare. Hanya saja karena di sini pesertanya sangat banyak, maka cara mainnya tidak akan putar botol atau sejenisnya, tapi dengan main musik. Saya akan jelaskan cara mainnya, jadi semuanya dengarkan saya baik-baik, saya hanya akan menjelesakannya sekali saja." seru Lia lagi.


"Iya Kak," kompak Mayu dan yang lainnya mendengarkan Lia dengan serous.


"Baik. Di sini saya ada pegang kunci. Begitu musik dimainkan maka kunci ini akan saya berikan pada Andi dan Andi akan memberikan pada teman disampingnya, begitu seturusnya sampai musik dimatikan. Nanti pemegang kunci terakhir yang akan mendapat tantangan truth or dare. Sampai di sini kalian sudah paham?"


"Paham Kak." kompak mereka lagi.


"Bagus. Musik mainkan!" ujar Lia lagi.


Yudha yang berjaga di bagian musik langsung menekan tombol playnya.


Lia memberikan kuncinya pada Andi dan Andi dengan cepat memberikan kuncinya pada teman di sebelahnya.


"Sambil goyang juga boleh banget loh. Biar enggak ngantuk." ujar Rangga sambil menggoyangkan badannya.


Mayu dan teman-tamannya menurut. Mereka menggoyangkan badan sambil nunggu giliran dan begitu kunci sampai di tangan mereka, mereka buru-buru memberikannya pada teman di sampingnya.


"Stop!" seru Yudha.


"Ok musik sudah dimatikan, siapa pemegang kunci terakhirnya? Silahkan angkat tangan!"

__ADS_1


"Saya Kak." ujar Riana sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan kuncinya.


"Ok Riana, kamu pilih truth or dare?" tanya Lia.


"Truth saja Kak," ujar Riana pelan.


"Ok Riana berhubung kamu pilih truth maka kami akan tanya satu pertanyaan pada kamu, dan kamu harus jawab jujur. Kamu siap?" tanya Lia lagi.


"Siap Kak."


"Rangga silahkan ajukan pertanyaan!"


"Ok. Untuk Riana, apa kamu ada menyukai mahasiswa dalam diam, diantara semua yang hadir di sini? Jika ada, kamu bisa sebutkan namanya!" tanya Rangga.


Riana sampai menundukkan kepalanya dan ada senyum di wajahnya.


"Ada Kak." jawabnya pelan dan menahan malu.


"Cie cie ... siapa orangnya?" teriak Mayu dan yang lainnya langsung kepo.


"Siapa namanya Riana?" tanya Rangga ikutan semangat. Dia itu paling suka melihat adik-adik tingkatnya yang saling cinlok.


"Irpan, Kak." jawab Riana sangat pelan dan wajahnya sampai terasa panas. Dia benar-benar malu.


Tidak hanya Irpan yang melotot, Mayu juga tapi beberapa detik kemudian Mayu langsung ikut bersorak bersama temannya yang lain.


"Tembak! Tembak!" seru mereka lagi dengan semangatnya.


"Kamu enggak cemburu melihat teman kamu ada yang suka?" tanya Alga.


Mayu menoleh dan alisnya seketika terangkat.


"Enggak dong, kenapa saya harus cemburu? Justru saya sangat senang melihat teman saya ada yang suka. Itu berarti teman saya emang menarik, makanya ada yang menyukainya diam-diam." ujar Mayu dengan santainya.


Alga tanpa sadar tersenyum tipis mendengarnya. Entah kenpa dia merasa senang dengan jawaban Mayu.


"Ok semua, berhubung hukumanya hanya jawab jujur saja, jadi kita tidak bisa menyuruh Riana nembak Irpan karena itu sudah masuk bagian dare. Hanya saja kita doakan bersama, semoga Riana dan Irpan cepat jadian." ujar Rangga lagi.


"Amin." seru mereka kompak.


Baik itu Riana dan Irpan sama-sama merasa lega. Irpan benar-benar tidak akan tahu harus jawab apa, jika sampai Riana menembaknya. Irpan tidak mau menyakiti hati Riana, dan Irpan juga tidak mungkin menerima Riana karena sampai saat ini di hatinya masih ada nama Mayu. Irpan juga belum ada niatan menghapus nama itu, meski dia tahu Mayu sudah ada yang punya. Irpan belum berubah pikiran, selama janur kuning belum melengkung, dia tidak akan menyerah pada Mayu.


"Ok, kita lanjut lagi ya permainannya. Musik mainkan!" ujar Lia lagi.


Riana buru-buru memberikan kuncinya pada teman yang duduk di sampingnya dan begitu seterusnya.


"Stop!" seru Yudha lagi.

__ADS_1


"Siapa yang dapat?" tanya Lia.


"Saya Kak," ujar Naura malas.


"Ok Naura kamu mau pilih truth or dare?" tanya Lia.


"Dare." jawab Naura. Dia tidak mau disuruh jawab jujur apalagi kalau itu menyangkut hal pribadinya.


"Ok Naura berhubung kamu pilih dare maka kami akan menantang kamu menari tanpa musik selama 2 menit kemudian teriak sekeras mungkin aku gila, sebanyak 3 kali." ujar Rani. Rani seakan melimpahkan semua dendamnya pada Naura melalui tantangan yang dia berikan.


"Enggak mau, saya tidak gila." ujar Naura cepat.


"Kami tahu Naura, tapi ini pilihan kamu sendiri, jadi kamu harus melakukannya. Ingat hanya tantangan bukan kenyataan. Kalian setuju kan kalau Naura harus melakukannya?" ujar Rani lagi.


"Setuju! Go Naura go Naura go!" teriak Mayu dan yang lainnya menyemangati.


"Silahkan bediri di tengah Naura dan silahkan melakukan tantangannya!" ujar Rani lagi dan tersenyum puas dalam hatinya karena Naura tidak bisa mengelak lagi.


"Iya," ujar Naura kesal. Mau tidak mau Naura terpaksa berdiri di tengah. Banyak para mahasiswa yang senyum-senyum, termasuk Shinta dan Lora. Shinta dan Lora bahkan sampai mengacungkan jempolnya pada Mayu dan Mayu juga balas mengacungkan jempolnya.


"Satu dua tiga, mulai Naura!" seru Rani lagi.


"Iya," kesal Naura kemudian menggerakkan badannya malas.


Naura menari sambil menundukan kepalanya. Dia sangat malu, harga dirinya benar-benar tidak ada karena ulah seniornya yang menyebalkan itu.


Para mahasiswa banyak yang menahan tawa melihatnya. Mayu bahkan sampai menutup mulutnya menahan tawa. Puas banget dia melihat Naura.


"Aku gila! Aku gila! Aku gila!" teriak naura kesal kemudian kembali ke tempat duduknya. Dia sangat kesal juga malu.


"Haha ...." suara tawa ngakak seketika terdengar di villa itu.


Shinta dan Lora bahkan langsung tos, puas banget mereka. Rasa kesal mereka karena ulah Naura seakan langsung dibayar lunas. Sedangkan Mayu dia juga sampai memegangi perutnya. Naura benar-benar lucu menurut Mayu. Alga juga sampai tersenyum kecil. Memang begitulah teman-temanya, jika memberi tantangan selalu enggak berperasaan, tapi tidak bisa dipunkiri disitulah letak keseruannya.


"Bagus Naura kamu akhirnya berhasil melakukan tantangannya, dan kamu benar-bebar menjiwai sekali." ujar Lia lagi dengan sadisnya. Emang salah satu senior yang paling menyebalkan ya Lia.


Naura tidak jawab apa-apa, dia hanya menatap kesal Lia dan menundukkan kepalanya. Rasa malunya belum sepenuhnya hilang.


"Ok semua kita lanjut lagi ya! Masih pada semangat kan?" ujar Rangga lagi.


"Masih Kak," seru mereka kompak.


Permainan kembali dilanjutkan, Shinta dan beberapa teman lainnya kebagian truth or Dare hanya saja kebanyakan mereka lebih memilih truth saja. Mereka lebih baik disuruh jujur dari pada diberi tantangan yang buat malu. Berkat truth jadi ketahuan kalau diantara mereka ternyata banyak yang cinlok dan itu adalah sebuah hiburan juga buat mereka. Namanya juga jiwa mudanya masih membara, paling senang kalau bahas cinta-cintaan.


"Ok selanjutnya siapa yang dapat kuncinya?" tanya Lia lagi.


"Saya Kak," ujar Mayu mengangkat tangannya pelan. Akhirnya dia ikut merasakan juga, apa yang dirasakan oleh teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2