Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Syukuran Rumah Baru


__ADS_3

"Tentu saja sangat serius. Keesokan harinya bahkan ada seorang perempuan lagi yang menawarkan uang 200 juta, tapi aku tetap bilang enggak tahu. Selain aku memang enggak tahu siapa papa kandung kamu, aku juga tidak akan buka mulut tentang papa kandung kamu. Aku sudah janji pada kamu." ujar Irpan lagi.


Mayu tersenyum mendengarnya. Senang dia mendengar apa yang dikatakan Irpan.


"Terima kasih ya Pan."


"Sama-sama." jawab Irpan.


"Sama kami juga ada loh May, kami bahkan sampai dirayu-rayu dan diiming-imingi ini dan itu, tapi kami pura-pura enggak tahu saja. Tawaran uangnya memang cukup besar tapi bagi kami persahabatan kita nilainya jauh lebih besar." ujar Lora sambil memasukkan baju ke dalam lemari.


"Benar sekali May, ya walaupun gue akui, gue sempat tergiur juga, tapi gue tidak akan ingkar janji, karena bagi gue persahabatan jauh lebih penting dari pada uang." tambah Shinta membuat senyum Mayu semakin lebar.


"Terima kasih ya teman-teman, gue terharu loh. Kalian memang teman yang paling best." ujar Mayu sambil mengacungkan jempolnya.


"Lo juga teman yang best kok May. Ah iya soal tawaran usaha bersamanya masih kami tunggu loh May." ujar Shinta.


"Beres kalau soal itu. Setelah acara syukuran nanti, kita akan adakan miting bersama. Kak Rangga dan Kak Yudha juga mau gabung katanya. Gue yakin, kita pasti bisa sukses bersama." ujar Mayu mantap.


"Kak Alga enggak ikutan juga May?" tanya Lora.


"Bulan depan setelah selesai ujian semester, saya sudah harus ngantor Lora, dan ada banyak hal yang harus saya pelajari. Saya hanya bisa jadi tim pendukung kalian saja." ujar Alga yang sedari tadi menjadi pendengar setia.


"Loh kok sudah ngantor saja Kak, bukannya Kak Alga baru semester 5?" ujar Shinta.


Alga tersenyum tipis mendengarnya.


"Ya kamu benar dan bulan depan saya baru masuk semester 6, tapi ya begitulah resikonya kalau mau jadi peminpin. Disaat orang lain masih bisa menikmati masa santai, tapi kami sudah tak punya waktu lagi untuk itu. Kami dituntut harus bisa ini dan itu. Belum lagi tanggung jawabnya juga sangat besar." jelas Alga.


"Benar juga ya Kak. Memang kelihatanya sih enak, tidak perlu melamar kerja lagi dan jika butuh sesuatu tinggal printah saja, tapi mereka tidak tahu saja bagaimana perjuangan untuk bisa mencapai titik itu. Rasanya pasti seperti kaki di kepala dan kepala di kaki, ya Kak?" ujar Shinta lagi.


"Gimana ceritanya kaki di kepala dan kepala ada di kaki Shinta? Kamu itu kalau bicara yang masuk akal sedikit lah, dan jangan terlalu lebay!" protes Rangga dari arah dapur.


"Tahu ini si Shinta, kalau mau memuji ya to the poin saja, enggak enggak usah pakai perumpamaan tidak jelas!" ujar Irpan ikutan protes sambil menata lemari televisi.

__ADS_1


"Hehe ... biar terlihat keren gitu, eh jatuhnya malah kayak orang bego ya." ujar Shinta malah tertawa.


"Bukan jatuhnya kayak orang bego Shinta, memang kelihatan bego beneran kok." ujar Yudha sambil memilih paku.


"Yah Kak Yudha, mulutnya kenapa jahat sekali? Kak Yudha mending diam saja deh, dari pada sekalinya ngomong tapi nyakitin." protes Shinta cepat membuat Mayu dan yang lainnya seketika tertawa mendengarnya.


Nenek Iroh juga ikut senyum-senyum sambil menggelengkan kepalanya. Senang dia mendengarkan pembicaraan cucunya dan teman-temannya.


"Yudha itu tidak jahat kok Shinta, dia itu hanya cari perhatian kamu saja itu. Kamu tahu enggak, dari tadi dia suka cari-curi pandang gitu sama kamu. Dia bahkan sempat berbisik pada saya, katanya kamu sangat cantik hari ini." ujar Alga lagi sengaja menggoda temannya.


"Hei Alga, kalau bicara itu kenapa benar sekali?" tambah Rangga membuat Yudha seketika mengetok kepalanya karena salah tingkah.


Mayu dan yang lainnya kembali tertawa.


"Jangan dengarkan apa kata mereka Shinta. Ngaco saja ini mereka." ujar Yudha.


"Benar juga enggak apa-apa Kak Yudha, Kak Yudha juga sangat ganteng hari ini hihi ...." ujar Shita kemudian berlari ke kamar karena salah tingkah dengan kata-katanya sendiri.


"Cie cie Yudha di bilang ganteng nie. Ayo gas terus, jangan kasih kendor!" seru Alga semangat membuat Mayu dan yang lainnya kembali tertawa.


Beberapa jam kemudian semua barang-barang Mayu sudah tertata rapi. Barang-barangnya tidaklah terlalu banyak, jadi rumah Mayu masih terlihat sangat lapang. Tapi itu bukanlah masalah bagi Mayu, soal perabotan nanti saja dia beli satu-satu, lama-lama akan penuh juga.


"Terima kasih ya teman-teman untuk bantuannya. Kalian semua memang terbaik." ujat Mayu.


"Sama-sama Mayu." kompak mereka.


***


Keesokan harinya, Alga dan yang lainnya kembali datang ke rumah Mayu, dan kali ini bukan mau bersih-bersih lagi, tapi mau mengadakan syukuran rumah baru Mayu.


Tamu yang diundang Mayu cukup banyak. Ada sekitar 30 anak panti asuhan. Ada beberapa teman kampusnya seperti Riana pacarnya Irpan dan teman-temannya, juga ada Andi dan yang lainnya. Tetangga Mayu di kontrakan juga hampir semuanya dia undang, termasuk orang tua Irpan, Irma juga tidak ketinggalan. Begitu juga dengan beberapa tetangga di rumah barunya serta pak RT dan pak ustad juga datang.


Mayu sengaja mengundang banyak tamu karena dia dan neneknya dari dulu memang ingin sekali berbagi. Makanya saat ada kesempatan Mayu tidak ingin menyia-nyiakannya, meski sisa uang tabungan Mayu juga tidak banyak lagi.

__ADS_1


Reaksi para tamu Mayu cukup beragam melihat rumah baru Mayu yang terbilang besar. Banyak juga yang memperlihatkan wajah terkejutnya karena mereka benar-benar tidak menyangka, Mayu tiba-tiba punya rumah, hanya dalam waktu singkat.


Banyak yang berpikir kalau rumah itu diberikan oleh Alga. Mengingat status Alga yang notabennya adalah anak konglomerat. Banyak juga yang memberi pujian pada Alga dan keluarganya. Mereka salut melihat Alga yang begitu royal pada kekasihnya. Mereka jadi mengambil kesimpulan kalau Alga sangat cinta pada Mayu dan Mayu sangat beruntung memiliki Alga.


Mayu dan Alga hanya tersenyum saja menanggapi perkataan mereka, seolah membenarkan apa yang mereka katakan. Dan menurut Mayu itu memang lebih baik dari pada mereka tahu soal ayah kandung Mayu.


"Mayu selamat ya. Budhe benar-benar tidak menyangka kalau kamu akhirnya punya rumah secepat ini. Rumah kamu sangat bagus Mayu. Kamu memang sangat beruntung Mayu, dan budhe rasa ini adalah buah dari kesabaran kamu. Budhe ikut bahagia untuk kamu Mayu." ujar Budhe Sumi tetangga lama Mayu.


"Iya Budhe, terima kasih Budhe." ujar Mayu.


"Sama-sama Mayu. Budhe mau ke nenek kamu dulu."


"Iya Budhe," ujar Mayu.


Mayu kembali menyalami tamu-tamunya yang lain dan Mayu memperlihatkan senyum bahagia juga senyum tulusnya.


Mayu sangat bahagia melihat semua tamu-tamunya. Ini benar-benar salah satu mimpi Mayu yang menjadi nyata.


'Dad, terima kasih banyak Dad sudah mewujudkan impian terbesar Mayu dan itu disaat nenek masih hidup. Seandainya daddy ada di sini, aku pasti akan dengan senang hati mengumumkan pada semuanya kalau aku sangat bangga punya papa seperti daddy. I love you so much Dad.' batin Mayu.


Mayu seketika menoleh saat Ada yang menarik lengannya.


Mayu tersenyum begitu melihat nenek Irohlah pelakunya.


Nenek Iroh juga balas tersenyum haru padanya.


"Mayu, Nenek sangat bahagia." ujar Nenek Iroh sambil melihat tamu-tamu mereka yang sudah memenuhi rumahnya.


"Iya Nek, Mayu juga sangat bahagia. Selamat untuk kita berdua ya Nek. Akhirnya kita bisa tinggal di rumah yang sangat nyaman dan tanpa perlu memikirkan uang kontrakan lagi." balas Mayu.


"Iya Mayu. Mayu sampaikan juga rasa terima kasih nenek pada papa kamu dan bilang padanya kalau nenek sudah memaafkannya. Sampaikan juga padanya kalau Nenek ingin sekali bertemu dengannya sebelum ajal menjemput Nenek." ujar nenek Iroh tulus.


Setelah mengetahui cerita sebenarnya dan melihat apa yang dilakukan David pada Mayu, maka tidak ada lagi alasan bagi nenek Iroh untuk membencinya.

__ADS_1


"Iya Nek, Mayu pasti akan menyampaikannya pada daddy, dan semoga Mayu juga secepatnya bisa bertemu lagi dengan daddy ya Nek."


"Amin."


__ADS_2