
"Kamu lagi mengerjakan apa?" tanya Alga sambil memperhatikan buku di hadapan Mayu.
"Tugas Kak?" jawab Mayu apa adanya.
"Tugas? Kenapa tugasnya tidak dikerjakan di rumah? Apa kamu tidak ada waktu lagi mengerjakan tugas di rumah? Harusnya live jualannya dikurangi saja, bila perlu tidak usah setiap hari. Jadi tugas kamu juga bisa dikerjakan dengan baik. Ingat kamu harus mendahulukan yang paling penting dan utama terlebih dahulu dan sebagai mahasiswi kamu harus mendahulukan pelajaran kamu terlebih dulu." ujar Alga mengingatkan.
"Iya Kak Mayu tahu, hanya saja Mayu belum beli bukunya, dan kalau mau pinjam buku lagi, Mayu harus mengembalikan dulu buku yang Mayu pinjam, sedangkan buku itu juga belum selesai Mayu baca. Makanya Mayu pilih mengerjakannya di kampus saja, mumpung ada buku gratis hehe ...." ujar Mayu diakhiri tawa khasnya.
"Oh jadi karena buku makanya kamu mengerjakannya di kampus?" ujar Alga mulai maklum.
"Iya Kak. Ah iya Kak Alga juga kan jurusan manajemen bisnis. Kak Alga masih ada buku bekas waktu smester 1 enggak Kak? Mayu mau dong Kak. Lumayan Kak, Mayu engak perlu beli buku lagi." ujar Mayu diakhiri senyumannya.
Alga balas tersenyum.
"Memangnya kamu mau buku bekasku?"
"Ya mau banget lah Kak, apalagi gratis iya Kan. Bagi Mayu mau buku bekas atau baru sama saja, malah kadang lebih suka buku bekas karena di bagian pentingnya suka diberi tanda sama pemilik sebelumnya." ujar Mayu apa adanya.
"Kamu benar sekali. Baiklah nanti aku antar semua ke rumah kamu. Aku ada banyak buku di rumah dan itu masih lengkap dari smester 1 sampai 4, ada catatannya juga dan masih lengkap. Nanti akan aku bawa semuanya ke rumah kamu, termasuk 5 buku terpenting untuk anak manajemen, salah satunya buku manajemem sumber daya manusia dan yang lainnya. Supaya kamu juga tidak perlu bolak balik pinjam ke perpustakaan." ujar Alga.
"Kenapa semuanya Kak, apa lagi 5 buku penting itu, bukankah Kak Alga akan terus membutuhkan buku itu sampai tamat kuliah?" tanya Mayu.
"Kamu benar, tapi aku gampang saja, aku tinggal minta dibelikan yang baru. Kalau masalah buku, sekali pun aku sedang dihukum, papi itu pasti akan langsung membelinya, jika aku meminta. Tenang saja kalau masalah itu."
"Iya Kak, syukurlah kalau begitu. Mayu jadi tenang mendengarnya." ujar Mayu lega.
"Beneran kamu tenang, tapi aku kok enggak bisa tenang ya?" ujar Alga menatap serius Mayu.
"Enggak tenang kenapa Kak?" tanya Mayu penasaran.
"Jantungku tiba-tiba berdebar dengan cepatnya, apalagi saat berdekatan dengan kamu, Ay." ujar Alga kemudian mengedipkan matanya.
"Kak Alga apaan sih hihi ...." ujar Mayu tertawa dan refleks menutup mulutnya takutnya orang sekitarnya terganggu karena suaranya.
__ADS_1
Alga ikut tertawa. Senang dia bisa balas menggoda Mayu.
"Ah iya Kak Alga, boleh Mayu bertanya sesuatu?" tanya Mayu setelah tawanya mereda.
"Silahkan saja Ay!"
"Hari ini kan, untuk pertama kalinya Kak Alga datang ke kampus nebeng motor kak Rangga dan itu sangat berbeda dengan Kak Alga yang biasanya. Mayu yakin pandangan para mahasiswa juga pasti berbeda pada Kak Alga. Bagimana perasaan Kak Alga?" tanya Mayu.
Alga menatap ke depan dan menarik nafas pelan.
"Sebenarnya awalnya rasa percaya diriku sempat menurun. Apalagi ada beberapa mahasiswa yang memang tidak suka padaku dan langsung menatap remeh aku. Begitu juga dengan mereka yang biasanya menatap kagum jadi biasa saja. Hanya saja setelah aku berpikir lebih dalam lagi, ini sebenarnya bagus untukku, dan bisa dibilang ini sangat berguna untuk melatih mentalku. Apa yang aku alami saat ini, bisa dibilang belum ada apa-apanya begitu aku masuk dunia kerja nanti, terlebih aku memang sudah ditargetkan akan menjadi peminpin perusahaan besar. Menjadi peminpin perusahaan besar itu aku rasa bukanlah suatu hal yang mudah, dan pasti akan ada naik turunnya, juga tidak bisa menghindar dari yang namanya masalah. Nah dengan apa yang aku alami saat ini, setidaknya aku sudah ada bekal nantinya dan tidak terlalu kaget lagi. Apalagi musuh dunia bisnis itu bisa dibilang lebih kejam dari mami, yang mana mereka kadang sampai nekad berbuat kejahatan besar, hanya karena uang." jelas Alga.
Mayu kembali tersenyum mendengarnya.
"Mayu setuju sekali Kak, dan Mayu sangat bersyukur Kak Alga justru berpikir ke arah sisi positifnya atas apa yang menimpa Kak Alga. Kak Alga memang hebat, dan Mayu yakin, Kak Alga pasti jadi peminpin hebat."
"Dan kamu akan jadi istri hebat, peminpin hebat nantinya." ujar Alga mantap.
"Enggak mau kalau hanya jadi istri hebat, peminpin hebat Kak Alga. Mayu juga mau jadi pebisnis hebat. Mayu mau punya pabrik kolor dan bh, dan mayu juga mau punya toko yang yang besar, yang menjual lengkap pakaian dalam dan baju tidur." ujar Mayu berandai-andai.
"Terima kasih Kak Alga hehe ... Keinginan Mayu terlalu tinggi ya Kak?"
"Tidak juga, sangat wajar kalau kamu memiliki keinginan yang tinggi, ditambah lagi saat ini kamu juga sedang berusaha keras untuk menggapainya. Jadi anggap saja itu semua sebagai penyemangat untuk diri kamu sendiri, yang parah itu bercita-cita tinggi tapi kerjanya hanya malas-malasan. Itu tidak boleh." ujar laki-laki berparas tampan itu.
"Iya Kak." ujar Mayu dan kembali menatap Alga.
'Jadi seperti ini rasanya punya pacar? Tenyata sangat menyenangkan ya, aku jadi ada teman untuk berbagi cerita dan bisa minta pendapat juga.' batin Mayu.
Mayu belum tahu sisi galaunya saja, namanya juga baru jadian.
"Ah Iya Mayu, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan." ujar Alga tiba-tiba.
"Apa itu Kak?" tanya Mayu penasaran
__ADS_1
Alga menatap Mayu dan menghela nafas.
"Jadi begini Mayu, sebenarnya ulang tahun mami tidak lama lagi, dan mami mau untuk ulang tahunnya kali ini, dia mau dirayakan di restoran saja. Mami mengundang kamu Mayu. Aku senang-senang saja dia mengundang kamu, tapi kamu tahukan mamiku itu seperti apa. Aku yakin banget tujuan utamanya mengundang kamu pasti ingin mempermalukan kamu. Aku bingung Mayu, sebenarnya aku tidak ingin kamu datang, tapi aku yakin jika kamu tidak datang, mami akan terus menjadikan itu alasan untuk menyalahkan kita. Parahnya lagi dia melakukan playing victim karena itu." ujar Alga.
"Kalau begitu Mayu datang saja Kak, lumayan juga kan Mayu bisa makan enak dan gratis lagi. Mayu tidak apa-apa kok Kak kalau pun Mayu dipermalukan, Mayu tidak akan bun*h diri karena itu. Justru Mayu akan menjadikan itu sebagai penambah semangat Mayu." ujar Mayu mantap dan apa adanya.
Ditambah lagi ini kesempatan Mayu bisa bertemu papa kandungnya lagi. Mayu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu sekali pun dia akan dipermalukan. Mayu juga sudah ada rencana untuk papa kandungnya.
"Iya kamu tidak apa-apa dipermalukan Mayu, tapi aku tidak bisa melihat kamu dipermalukan Mayu. Hatiku merasa marah Mayu."
"Mayu tahu Kak, tapi kita harus bisa menahan diri Kak. Ingat Kak itu demi kebaikan kita dan tidak akan selamanya seperti itu Kak. Roda itu pasti akan berputar dan ada saatnya kita di atas nanti. Percaya pada Mayu Kak." ujar Mayu berusaha meyakinkan Alga.
Alga kembali menghela nafas.
"Aku pasti akan selalu percaya pada kamu Mayu."
"Nah gitu dong Kak. Ini baru Kak Alga."
"Iya Mayu, dan berhubung kamu sudah setuju mau datang. Berarti kita harus mempersiapkan diri kamu terlebih dulu selanjutnya baru kado. Dan berhubung pacar ganteng kamu ini lagi miskin sekarang, kita harus menyiapkan gaun murah tapi terilhat mewah dan elegan."
"Kalau masalah gaun, Kak Alga enggak usah khawatir Kak. Mayu sebenarnya punya beberapa gaun yang mewah dan elegan, hanya saja modelnya sudah lumayan jadul Kak karena gaun itu bekas mendiang ibunya Mayu, tapi Kak Alga tenang saja. Gaun itu sangat cocok dan pas untuk Mayu. Mayu juga yakin penampilan Mayu tidak akan kalah dengan Naura dan yang lainnya." ujar Mayu mantap, dan inilah rencana Mayu untuk papa kandungnya. Mayu sangat berharap papa kandungnya Mayu masih ingat gaun itu. Gaun yang dia belikan dulu untuk mendiang ibu kandungnya Mayu.
"Bagus lah kalau kamu sudah punya gaun, bagaimana dengan sepatu dan tasnya?"
"Untuk sepatu dan tas, enggak apa-apalah Mayu pakai yang Kak Alga beli waktu itu. Gaunnya panjang ini, dan tasnya juga masih sangat baru dan cocok juga untuk gaun yang akan Mayu kenanakan nantinya."
"Lalu untuk perhiasannya gimana, kamu tidak mungkin pakai perhiasan itu terus?"
"Mayu tidak pakai perhiasan juga tidak apa-apa Kak. Mayu ini sudah cantik, dan tanpa perhiasan pun tidak akan mengurangi kecantikan Mayu." ujar Mayu dengan percaya dirinya.
"Kamu ini bisa saja," ujar Alga tersenyum kemudian mengacak gemas rambut Mayu.
Alga dan Mayu sama-sama tersenyum lebar.
__ADS_1
'Beruntungnya aku memiliki kamu Mayu, kamu begitu pengertian dan selalu membuatku nyaman.' batin Alga.