
Sindi mondar mandir di dalam kamarnya, hari sudah mau malam tapi belum ada juga tanda-tanda keberadaan Mayu. Padahal hampir semua hotel di Jakarta sudah mereka periksa. Begitu juga dengan penginapan dan yang lainnya. Bahkan rumah orang tua teman-teman Mayu juga sudah mereka cari, tapi Mayu belum juga mereka temukan.
"Arghh ... kemana perginya sih itu anak?" kesal Sindi.
Gara-gara Mayu dia benar-benar harus kerja ekstra tapi hasilnya hanya percuma.
"Mom! Mommy kenapa teriak?" ujar Naura dari luar kamarnya.
Sindi seketika terdiam. Apa yang sudah dilakukannya? Apa suaranya sekeras itu?
"Mom ... Mommy! Naura buka pintunya ya Mom?" ujar Naura dan tanpa menunggu persetujuan mommy, Naura membuka pintu kamar mommynya.
"Loh Mom, kenapa belum bersiap-siap? Sebentar lagi acaranya sudah mau mulai loh. Ini hari spesial untuk daddy, Mom. Kita juga harusnya mempersiapkan diri sebaik mungkin. Nanti daddy marah loh." ujar Naura.
'Biar saja dia marah, Mommy tidak perduli.' batin Sindi kesal.
"Mom kenapa masih diam saja sih Mom? Mommy enggak sakit kan Mom?" tanya Naura lagi mendekat pada Sindi.
"Enggak Naura, Momny baik-baik saja, ini Mommy juga sudah mau bersiap-siap." ujar Sindi akhirnya.
"Bagus lah Mom, Naura pikir Mommy sakit."
"Ah iya Mom, gimana penampilan baru Naura. Naura habis potong rambut loh Mom." ujar Naura dengan wajah cerianya dan memamerkannya rambut barunya depan mommynya.
"Kamu habis dari salon?" tanya Sindi begitu sadar dengan penampilan baru anaknya.
"Ya Mom. Daddy menyuruh Naura perawatan di salon, dan tentu saja Naura tidak akan menolak. Memang daddy David itu daddy paling baik sejagat raya. Naura sangat sayang padanya." ujar Naura lagi memuji daddynya.
Sindi mengepalkan tangannya. Apa Naura masih akan berkata seperti itu begitu dia tahu kalau daddynya itu punya anak lain selain dia? Sindi ingin sekali mengatakan semuanya pada Naura, hanya saja hari ini bukanlah waktu yang tepat. Masalah Mayu belum selesai dan Sindi ingin menyelesaikan masalah Mayu terlebih dulu. Ditambah lagi dia juga butuh alasan yang tepat supaya Naura tidak marah padanya, karena tidak bisa dipungkiri, salahnya dia jauh lebih besar dari salah David.
"Mom! Hei Mom! Kenapa Mommy diam lagi?" ujar Naura begitu melihat Sindi yang lagi-lagi terdiam.
"Tidak apa-apa Naura. Mommy hanya mau bersiap-siap. Kamu juga sebaiknya bersiap-siap!" ujar Sindi mengalihkan pembicaraan.
"Ok Mom. Ah iya Mom, Naura bagusnya pakai gaun yang mana ya Mom, gaun yang dibeli daddy kemarin atau gaun yang Mommy belikan minggu lalu? Tinggal dua gaun itu yang belum pernah Naura pakai Mom?" ujar Naura minta pendapat.
"Kamu pakai gaun yang Mommy beli saja!" suruh Sindi.
"Siap mommyku sayang, kalau begitu Naura akan pakai gaun yang dibelikan daddy saja." ujar Naura membuat Sindi sekatika menatap padanya.
"Kenapa kamu pakai itu?" tanya Sindi cepat.
__ADS_1
"Naura baru ingat Mom, ini kan acara ulang tahun daddy, jadi Naura sebaiknya pakai barang pemberian daddy dong. Biar daddy itu makin senang, gitu loh Mom." jawab Naura dengan santainya.
"Ya sudah terserah kamu saja!"
"Mommy kok marah sih?"
"Mommy enggak marah Naura, biasa saja. Kamu sebaiknya keluar, ini Mommy mau bersiap-siap!"
"Ok Mom," nurut Naura kemudian keluar dari kamar orang tuanya.
Sindi mengehembuskan nafas dalam. Dia kembali memeriksa ponselnya, dan hasilnya masih nihil, belum ada orang suruhannya yang memberi kabar padanya.
***
Rumah Alga sudah dipenuhi oleh keluarga terdekat Pratama serta David dan Keluarga. Suasananya terlihat hangat karena mereka memang dekat, satu sama lain.
"Dimana Alga, Mbak?" tanya Sindi pada Dira.
"Dia masih di kamarnya, sebentar lagi dia akan turun." jawab Dira.
"Baguslah," ujar Sindi. Sindi tampak lega, jika Alga ada di rumah itu berarti dia tidak mungkin datang bersama Mayu.
"Iya Sin, sepertinya David tidak akan memperkenalkan Mayu malam hari ini. Aku perhatikan, Alga juga tidak ada keluar rumah hari ini. Dia hanya di kamarnya saja. Itu berarti kita masih punya banyak waktu untuk menemukan keberadaan Mayu, dan seenggaknya untuk malam ini, kamu tetap aman." ujar Dira dengan suara pelan.
"Kalau soal itu kamu tenang saja. Seperti yang sudah kita rencanakan tadi siang. Aku sudah menyuruh 3 orang untuk menjaga gerbang dan aku rasa itu sudah lebih dari cukup."
"Iya Mbak kalau tiga orang sudah cukup itu. Gerbangnya juga cuma satu."
"Itu dia, selain itu aku juga sudah memberikan foto Mayu pada satpam penjaga kompleks. Jika mereka melihat Mayu, mereka harus segera melaporkannya pada kita, dan mereka juga tidak boleh mengizinkan Mayu masuk komples ini." jelas Dira lagi.
"Bagus Mbak. Mbak Dira memang selalu bisa diandalkan." ujar Sindi dan diam-diam mengacungkan jempolnya."
"Tentu saja. Sekarang sebaiknya kamu ke David saja. Jika dia bisa bersikap biasa, maka kita juga bisa. Dan jika dia bisa bersikap licik, maka kita bisa lebih licik lagi." bisik Dira lagi.
"Iya Mbak, kalau begitu aku ke David dulu Mbak."
Dira menganggukkan kepalanya.
Sindi kemudian duduk di samping David dan sebisa mungkin bersikap tenang seperti apa yang David lakukan. Dia juga sesekali tersenyum menanggapi pembicaraan David dan yang lainnya. David memang sedekat itu dengan keluarga Pratama. Bahkan bisa dibilang, Pratama lebih percaya pada David dari pada saudaranya sendiri. Makanya tidak heran dia memberikan jabatan CEO utama pada David. Padahal David hanya orang asing di keluarga Pratama, berbeda dengan Sindi, walau tidak ada hubungan Darah dengan mereka tapi orang tuanya adalah sahabat terdekat keluarga Pratama, dan persahabatan itu menurun pada Sindi dan Dira.
"Kak Alga!" seru Naura tiba-tiba begitu melihat Alga menuruni anak tangga.
__ADS_1
Pratama dan yang lainnya juga menoleh padanya.
Alga hanya memperlihatkan senyum seadanya kemudian memilih duduk di samping papinya.
"Akhirnya turun juga kamu Alga. Apa kamu itu tidak bosan di kamar terus?" ujar Jiho, omya Alga.
"Alga tidak akan bosan melakukan itu Mas, dia kan jadi berbeda sekarang. Sejak dia pacaran sama si gadis tidak tahu diri itu, bagi Alga kita-kita ini, jadi tidak asik sama sekali." ujar Ratu tantenya Alga. Akhirnya dia bisa mengeluarkan uneg-unegnya juga pada Alga. Tidak seperti saat acara kemarin, dia hanya bisa memendamnya karena tidak mau membuat masalah di pesta pernikahan Vivi.
"Benar sekali Mbak, bagi Alga yang penting itu hanya gadis gembelnya itu saja. Mbak bisa lihat sendiri kan kemarin, dia begitu sibuk meperkenalkan pacarnya pada semua tamu. Padahal apa coba yang bisa dia banggakan dari gadisnya itu. Orang tuanya saja enggak jelas asal usulnya. Jangan-jangan dia anak dari seorang pela*ur lagi." ujar Nindi tante Alga yang lain.
Alga hanya diam dan diam-diam melirik pada David. Ingan rasanya Alga berkata kalau ada ayah kandungnya Mayu di sini. Hanya saja dia tidak mungkin melakukan itu karena dia tidak berhak memberitahu identitas Mayu kecuali David sendiri. Sedangkan David diam-diam menarik nafas pelan dan mengepalkan perlahan tangannya. Dia benar-benar tidak suka mendengar hinaan yang ditujukan pada Mayu anaknya. Dia juga sebenarnya ingin sekali memberi pembelaan pada Mayu, hanya saja dia harus menunggu waktu yang tepat.
David jadi penasaran, bagaimana reaksi mereka nanti begitu tahu Mayu anak kandungnya. Apa mereka masih akab menghina Mayu juga?
Sementara Sindi dan Dira, diam-diam hanya tersenyum sinis. Apalagi saat melihat perubahan sikap David, ternyata David tidak lah setenang itu jika menyangkut Mayu, dan kenapa mereka baru menyadari itu sekarang?
"Eh tapi pacarnya si Alga itu, udah ada kemajuan loh sekarang. Dia sudah punya brand kolor sendiri." ujar Dira sengaja memancing keadaan supaya semakin panas. Dia senang melihat David yang harus menahan amarahnya. Ini balasannya karena David juga sudah membuat mereka harus menahan amarah satu harian ini.
"Iya brand kolor sendiri yang katanya berkualitas itu tapi harganya sangat murahan kan Mbak? Barang berkualitas apaan harganya hanya pulihan ribu? Barang berkualitas itu ya seperti Calvin Klein, haganya ratusan ribu bahkan sampai jutaan. Parahnya lagi mas Pratama juga diam-diam memberikan dukungan padanya dengan memesan banyak produknya dan memberikannya pada karyawannya sebagai hadiah. Dan yang lebih paranya lagi Mas David juga diam-diam mau ikutan menerima hadihnya. Aku benar-benar tidak menyangka kalian semua jadi ikutan murahan seperti gadis gembel itu." ujar tante Alga yang lain membuat David semakin mengepalkan tangannya.
Sementara Alga sampai berkali-kali menghela nafas. Ini lah alasannya kenapa Alga lebih memilih di kamarnya dari pada gabung bersama keluarganya. Pasti dia dan Mayu yang akan menjadi sasaran mereka. Terutama mami dan tantenya. Sedangkan sepupunya, mereka lebih memilih diam dan cari aman saja. Mereka tidak mau ikut-ikutan dan tidak berani membela Alga juga.
"Kami bukan ikut murahan Zura. Kamu itu jangan asal bicara saja. Udah ah dari pada kita sibuk membicarakan Alga dan kekasihnya, lebih baik kita makan saja. Aku sudah lapar." ujar Pratama memilih menyudahi pembicaraan mereka saja. Lama-lama dia kasihan juga pada Alga yang selalu jadi sasaran empuk para tante bahkan maminya sendiri.
"Benar kata Mas Tama, lebih Baik kita makan. Aku juga sudah lapar." ucap om Alga yang lain.
Mereka akhirnya memutuskan makan. Sindi dam Dira hanya memperlihatkan wajah kesalnya, gagal sudah mereka melihat wajah kesal David. Padahal mereka ingin melihat sampai sejauh mana David akan bertahan.
"Alga, ngomong-ngomong kenapa kamu enggak bawa gadis kamu itu makan malam bersama kita? Bukankah kamu selalu mengajaknya tiap kali kita ada acara keluarga?" tanya Ratu lagi di sela-sela makannya.
"Ratu, stop bahas Alga dan kekasihnya! Jangan sampai acara makan-makan ini jadi berantakan karena omongan kalian. Hargai David yang berulang tahun hari ini." tegur Pratama.
"Baik Mas," nurut Ratu membuat Alga tersenyum dan David juga bisa bernafas lega. Beda halnya dengan Sindi dan Dira yang lagi-lagi memperlihatkan wajah kesalnya.
Suasana makan mereka akhirnya berlanjut dengan suasana tenang, dan tidak ada lagi yang membahas soal Mayu. Suasana hangat pun kembali tercipta karena tidak ada lagi omongan pedas atau sindirian tidak jelas.
Setelah selesai dengan makan bersama, mereka melanjutkan dengan acara potong kue ulang tahun untuk David. Walau David sudah berumur tapi yang namanya ulang tahun, bagi mereka potong kue itu adalah suatu yang wajib.
David sudah berdiri di depan kuenya, di bagian kiri dan kanannya juga ada Naura dan Sindi. Sedangkan Alga dan yang lainnya ada duduk di depan mereka dan ada juga yang ikut berdiri di belakang sofa seperti Alga dan para sepupunya.
"Baiklah berhubung semuanya sudah siap, maka tidak ada salahnya kita menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk David. Satu dua tiga!" ujar Ratu mengajak yang lainnya bernyanyi.
__ADS_1
"Se-"
"Tunggu!" ujar David tiba-tiba membuat Alga dan yang lainnya seketika menatap padanya. Rika dan Sindi bahkan langsung was-was. Apa jangan-jangan David ingin memberi tahu soal Mayu? Tapi kan Mayu tidak ada bersama mereka? David tidak mungkin senekad itu kan?