Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Keputusan Alga dan yang Lainnya


__ADS_3

Alga, Mayu dan teman-teman mereka serta nenek Iroh sudah berkumpul bersama di rumah Mayu. Mereka mau mencari jalan keluar bersama atas masalah yang yang menimpa Mayu dan Alga.


Mayu duduk diantara neneknya dan Alga. Nenek Iroh menggenggam tangan cucunya sedangkan Alga mengusap sayang rambut Mayu. Mereka berusaha membuat Mayu merasa tenang dan nyaman.


"Huh!" Rangga menghembuskan nafasnya kasar dan meletakkan ponselnya kembali begitu dia membaca gosip terbaru tentang Alga, Mayu dan Rahel. Keadaannya benar-benar semakin parah karena banyak judul artikel yang berlebihan yang sengaja memperkeruh keadaan. Mana banyak orang yang percaya dan membuat keadaan semakin panas.


"Gosipnya semakin enggak masuk akal ya Ngga?" ujar Yudha dan ikut meletakkan ponselnya juga.


"Ya dan yang menyebalkan lagi, kebanyakan hanya menyalahkan Mayu, walau ada beberapa juga yang mejelekkan Alga tapi tetap saja yang paling banyak komentar negatifnya tertuju pada Mayu. Ini benar-benar enggak adil. Mayu jelas-jelas hanya korban di sini.." ujar Rangga.


"Hal seperti itu sudah biasa terjadi Kak Rangga. Jika ada isu perselingkuhan seorang artis maka sudah pasti pihak cewek yang paling disalahkan. Kak Rangga enggak perlu heran lagi soal itu." ujar Lora.


"Benar juga dan yang menyerangnya kebanyakan cewek lagi. Mereka bersikap seakan jadi pembela kebenaran padahal sebenarnya mereka sendirilah yang membuat kacau keadaan. Mereka berkomentar seenak jidat mereka sendiri tanpa mencari tahu dulu kebenarannya. Kesal aku. Mana ini Rahel juga sengaja menghilang lagi, seolah dia sudah tahu hal ini akan terjadi." ujar Rangga lagi.


"Nah itu dia sih yang patut kita pertanyakan Ngga, gue malah jadi curiga jangan-jangan yang sengaja membuat gosip soal Alga dan Mayu yang main belakang adalah dari pihak Rahel sendiri. Begitu juga dengan teror yang tiba-tiba datang ke rumah Mayu, bisa jadi dari pihak Rahel sendiri yang sengaja kompor." ujar Yudha.


"Benar juga ya Kak, dengan begitu gosipnya akan semakin panas lagi dan Rahel akan diundang lagi oleh pihak televisi dan youtube untuk klarifikasi. Apalagi kalau dia klarifikasi sambil nangis, udah deh orang-orang pasti akan semakin marah pada Mayu. Sementara dia cuannya akan semakin mengalir deras." ujar Shinta.


"Gue setuju sama lo Shin. Gue cukup mengikuti gosip yang diciptakan olah Rahel, dan gue lihat viewersnya mulai menurun, makanya enggak menutup kemungkin, dia akan membuat gosip baru lagi yang tentunya bisa menaikkan viewers lagi." ujar Irpan.


"Itu dia Pan, namanya artis kan, banyak yang suka menghalalkan segala cara demi menaikkan viewers dan popularitas." ujar Shinta lagi.


"Pendapat kalian cukup masuk akal, kalau menurut lo sendiri gimana Al?" tanya Rangga.


Alga yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia tampak menarik nafas pelan dan menghembuskan dengan perlahan.


"Gue juga setuju dengan pendapat kalian, selain itu mungkin tujuan Rahel yang lainnya biar Mayu menyerah pada gue atau sebaliknya." ujar Alga.


"Nah itu gue juga setuju Al. Semakin parah gosip ini, maka posisi Mayu akan semakin sulit. Selain itu Mayu juga sangat dirugikan di sini, namanya jadi dicap jelek oleh orang-orang dan itu tentu sangat merugikan Mayu. Tidak hanya Mayu yang sangat dirugikan di sini tapi Maga Wear juga pastinya. Hari ini saja, toko terpaksa ditutup cepat. Kita juga enggak melayani pesanan on line. Selain itu review negatif soal Maga Wear juga semakin menjadi, padahal selama ini kita sudah berjuang mati-matian demi menaikkan nama Maga Wear, dan kalau begini terus, ya Maga Wear bisa bangkrut. Jika Maga Wear bangkrut otomatis Mayu lagi kan yang paling dirugikan." jelas Alga.


"Nah itu maksud gue, kenapa gue bilang tujuan mereka supaya Mayu menyerah. Tentu Mayu harus memilih antara gue atau nama baik Mayu dan juga bisnisnya, karena soal gosip kami ada main di belakang Rahel, tentu hanya bisa diselesaikan dengan 2 cara. Cara yang pertama berbohong kalau hubungan kami hanya sekedar hubungan rekan kerja, dan kalau berbohong sudah pasti akan ada ganjarannya, yang mana kami akan semakin sulit bertemu dan gue juga pastinya harus keluar sebagai model Maga Wear, karena kalau kami ketahuan bertemu lagi sudah pasti kena gosip lagi, otomatis Mayu lagi yang diserang. Cara yang kedua ya dengan jujur dan mengakui semuanya, tapi tetap saja resikonya akan lebih besar lagi karena sudah pasti gue dan Pratama group yang kena. Saham Pratama group pasti akan turun karena selama ini dianggap melakukan pembohongan publik." jelas Alga.


"Benar sekali Al, terus lo sendiri mau pilih yang mana, bohong atau jujur?" tanya Yudha.


"Gue sebenarnya ingin jujur saja. Walau gara-gara itu gue akan banyak dibenci oleh orang kantor dan termasuk mami gue sendiri. Gue lelah dengan semua gosip-gosip tidak jelas ini dan gue ingin menghentikannya." ujar Alga apa adanya.

__ADS_1


"Gue juga setuju sih sama lo Al. Lebih baik jujur walau resikonnya berat, tapi setidaknya resiko berat itu dampaknya di awal saja, dari pada lo berbohong, ke belakangnya sudah pasti akan ada kebohongan-kebohongan lain." ujar Yudha lagi.


"Benar Al, gue juga setuju sama Yudha, lagian kalau pun saham Pratama group turun, gue yakin om David pasti bisa mengatasinya dan Pratama group enggak akan sampai bangkrut walau diperkirakan akan mengalami kerugian yang cukup besar. Soal saham naik turun itu kan sudah biasa saja bagi perusahaan besar, dan mereka pasti sudah punya cara untuk mengatasinya." tambah Rangga.


"Iya, dan sebernarnya Om David juga sudah pernah membicarakan itu dengan gue, dan dia juga bilang, apa pun keputusan gue, gue harus memberitahukannya padanya, supaya dia juga tahu menyiapkan semuanya." ujar Alga lagi.


"Baguslah kalau begitu Al, itu berarti lo dan Mayu jujur saja biar semuanya sudah jelas." ujar Yudha mantap.


Alga mengangguk dan beralih pada Mayu.


"Menurut kamu gimana Ay?" tanya Alga.


"Mayu ngikut saja Kak, Mayu yakin Kak Alga pastinya tahu apa yang terbaik untuk kita." ujar Mayu dan Alga mengangguk mengerti.


"Ok Sayang. Kalau menurut Nenek, gimana Nek?" tanya Alga lagi.


"Nenek juga terserah kalian saja Nak Alga, Nenek akan dukung-dukung saja apa pun keputusan kalian." ujar Nenek Iroh.


"Terima kasih *****. Kalau menurut kamu gimana Naura?"


"Iya Naura aku juga kesal, makanya aku maunya masalah ini harus secepatnya di selesaikan. Bila perlu malam ini juga." balas Alga.


"Kalau menurut gue jangan malam ini banget Al. Sebaiknya besok saja, biar Om David juga bisa bergerak cepat besok." ujar Rangga.


"Baiklah besok." putus Alga.


"Nak benar itu. Jadi malam in lo dan Om David juga bisa berdiskusi kembali. Di sini kita benar-benar harus saling bekerja sama karena hanya dengan kita saling bekerja sama dan tetap kompak, kita bisa mengalahkan pihak lawan." ujar Rangga lagi.


"Iya Rangga gue mengerti dan semoga saja besok berjalan dengan lancar dan hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan." ujar Alga.


"Amin." kompak Mayu dan yang lainnya.


Sementara itu di rumah mewahnya Dira tampak jalan mondar mandir, sungguh dengan adanya gosip panas perselingkuhan Alga dan Mayu, tidak menguntungkan sama sekali untuknya karena itu jelas-jelas hanya merugikan nama anaknya dan menguntungkan pihak Rahel tentunya.


Anaknya jadi dicap laki-laki yang tidak baik, sedangkan Rahel begitu dipuja-puja. Dibilang cewek paling baiklah, sabarlah dan lain sebagainya. Dira benar-benar tidak bisa terima itu. Walau bisa dibilang komenter jelek yang diterima Alga tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang diterima Mayu, tapi tetap saja, Dira tidak terima anaknya dituduh yang enggak-enggak. Apalagi Alga calon CEO, Alga harusnya menjaga nama baiknya. Tapi kalau dipikir-pikir bukankah Alga juga selama ini sudah menjaga nama baiknya dan Dira sendirilah yang menjerumuskan anaknya?

__ADS_1


Dira sampai menggaruk keras kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya dia sudah salah dalam mengambil langkah kali ini.


Dira kembali mondar mandir.


"Siapa sih yang sudah menyenyebarkan gosip-gosip perselingkuhan itu? Kurang kerjaan sekali mereka, anakku bukan tukang selingkuh!" seru Dira tanpa sadar.


Mana ini Rahel juga belum pulang-pulang dan tidak bisa dihubungi. Dira benar-benar tidak tahu harus curhat pada siapa. Sindi? Tidak mungkin, dia enggak mau ikut campur katanya dan dia juga enggak mau berurusan dengan para wartawan. Vivi? Yang ada Dira yang akan disalahkan karena sejak awal gosip Alga muncuk, Vivi langsung protes padanya. Vivi tidak suka adiknya jadi bahan gosip semua orang.


"Mami ngapain mondar mandi enggak jelas begitu Mi?" tanya Pratama yang sudah duduk di sofa sambil melipat tangannya di dadanya.


Dira menghentikan aksinya dan menoleh.


"Mami benar-benar pusing soal Alga, Pi. Mami tidak terima dia dituduh tukang selingkuh." ujar Dira kemudian duduk di samping suaminya.


"Makanya Mi, dari awal kan Papi sudah bilang, jangan selalu ikut campur soal percintaan anaknya. Apalagi kali ini yang Mami lakukan sudah melibatkan banyak orang, dan menutup mulut banyak orang itu bukanlah suatu hal yang mudah. Harusnya dari awal Mami paham akan hal itu. Sekarang Mami sendiri kan yang pusing, niatnya ingin menaikkan nama Alga tapi hasilnya Mami sendiri yang menjatuhkan nama Alga." seru Pratama.


"Terus sekarang Mami harus gimana Pi?" tanya Dira yang benar-benar buntu.


"Ya Mami minta pada Rahel supaya Rahel mau mengakui semuanya kalau apa yang dia katakan selama ini adalah sebuah kebohongan. Dia dan Alga memang pernah pacaran, tapi mereka sudah putus beberapa tahun lalu." ujar Pratama.


"Mami enggak yakin dia mau melakukan itu Pi." ujar Dira pelan. Enggak mungkin kan Rahel mau menjatuhkan namanya sendiri.


"Kalau Mami enggak yakin, Mami sendiri yang buat pengakuan ke publik kalau Mamilah dalang dari semua itu. Besok pagi, Alga mau mengakui semuanya dan setelah itu Pratama grop juga akan melakukan konfrensi pers. Mami bisa buat pengakuan saat confrensi pers." ujar Pratama.


"Enggak mau Pi. Mami enggak mungkin mengaku, nanti Mami yang akan diserang oleh semua orang." ujar Dira tidak terima.


"Ya itu resiko yang harus Mami terima. Udah papi mau tidur saja. Papi enggak mau ikut-ikutan pusing seperti Mami. Mami bisa hidup enak kok sukanya cari penyakit sendiri." ujar Pratama kemudian bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan istrinya.


"Pi tunggu, Mami belum selesai bicara Pi!" seru Dira lagi.


Pratama hanya menoleh sebentar dan kembali melanjutkan langkahnya. Biarkan saja itu istrinya pusing sendiri, biar dia tahu rasa dan lain kali jangan berbuat seenaknya lagi. Mentang-mentang anaknya pada baik, eh orang tuanya yang bertingkah. Sungguh adil memang dunia ini.


"Ah Mas pratama sangat menyebalkan. Enggak bisa ini, pokoknya aku harus bicara dengan Rahel dan minta dia buat mengaku!" gumam Dira lagi.


Dira benar-benar tidak bisa membayangkan kalau dia yang diserang, Mau ditaro dimana mukanya? Dira pasti akan sangat malu.

__ADS_1


__ADS_2