Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Ban Motor Kempes


__ADS_3

Mayu melirik ke segala arah parkiran motor, tapi tidak ada yang gerak geriknya mencurigakan.


"Nyebelin banget sih yang sudah mengepeskan ban motorku, aku doakan bokongnya bisulan, biar tahu rasa." gumam Mayu kesal.


Mayu menatap sekelilingnya, tidak orang yang dia kenal untuk dia minta tolong. Mau tidak mau Mayu membawa 2 kantong keresek besar belanjaannya ke salah satu warung orang yang dia kenal.


"Aa Ujang!" panggil Mayu sambil mengusap keringatnya.


"Eh ada neng Mayu, kenapa Neng, mau beli minum?"


"Enggak A, Mayu mau titip belanjaan dulu A, boleh kan A?"


"Silahkan saja Neng. Letakkan di dalam saja biar aman."


"Iya A, terima kasih ya A."


"Sama-sama Neng. Kenapa, masih ada belanjaan yang ketinggalan?"


"Enggak A, ada orang jahat yang sengaja mengepeskan ban motor Mayu, A."


"Lah, kok bisa?"


"Enggak tahu itu A. Nyebelin banget kan A? Mana tambal bannya lumayan jauh lagi," ujar Mayu mengadu. Mayu kesal dan ingin marah, tapi enggak tahu harus marah pada siapa.


"Sabar Neng Mayu, Aa hanya bisa bantu dalam doa. Semangat Neng Mayu!"


"Iya A. Mayu pergi dulu A,"


"Iya, hati-hati Neng!"


"Iya A."


Mayu mengusap keringatnya yang bercucuran semakin derasnya. Ini baru sampai di luar parkiran tapi tenaga Mayu sudah terkuras banyak.


Mayu menarik nafas pelan dan kembali mendorong motornya. Menurut Mayu orang yang sudah mengepeskan ban motornya benar-benar tidak punya hati, tega-teganya dia membuat hidup Mayu yang susah jadi lebih susah lagi.


Sementara itu si pelaku sedang tertawa senang dalam mobilnya.


"Lihat itu Lia, Mayu benar-benar seperti gembel yang sedang dorong motor." ujar Rani. Rani benar-benar senang melihat Mayu sengsara.


"Benar sekali. Emang enak dorong motor, mana panas banget lagi, kasihan. Itu akibatnya kalau tidak tahu diri." ujar Lia merasa puas bisa membalas Mayu dengan cara yang tidak diketahui oleh Mayu.


"Tentu saja enggak enak bangetlah. Eh Lia, ayo kita datangi bengkel terdekat dan kita sogok mereka supaya tidak mau melayani Mayu. Biar enggak bisa pulang sekalian itu Mayu." ujar Rani dengan teganya.


"Ayo, biar tahu rasa itu orang, dan biar dia sadar dia itu siap. Memberi pelajaran pada Mayu kecil saja bagi kita." ujar Lia dengan sombongnya.


Lia kembali menjalankan mobilnya, tapi sebelum pergi jauh meninggalkan Mayu, Lia dan Rani kembali menatap mengejek pada Mayu.


Sementara itu Mayu masih terus mendorong motornya dan sesekali mengusap keringatnya. Mayu sangat kepanasan dan dia juga haus, tapi semua ditahannya, Mayu hanya ingin secepatnya sampai di tambal ban terdekat.


Mayu merasa lega setelah 15 menit mendorong motor sampai juga dia di bengkel terdekat.


"Bang tolong isi angin!" ujar Mayu sambil mengusap keringatnya yang bercucuran.

__ADS_1


"Maaf ya Mbak, mesin pengisi anginnya lagi rusak."


Mayu refleks menoleh pada abangnya.


"Seriusan Bang? Ini hanya isi angin saja Bang. Bannya memang sangat kempes tapi ini bukan bocor." seru Mayu cepat.


"Iya Mbak saya tahu, mau bocor atau enggak tetap saja mengisi angin harus pakai mesin, sedangkan mesinnya lagi rusak. Saya saja lagi pusing banget Mbak, harusnya saya sudah dapat uang banyak, tapi karena mesin rusak boro-boro dapat uang banyak, uang buat makan saja saya belum dapat Mbak." bohongnya.


Mayu menarik nafas cepat. Kenapa hari ini dia sial sekali?


"Baiklah Bang tidak apa-apa, semoga mesinnya secepatnya bisa diperbaiki ya Bang. Bang tempat isi angin selain di sini dimana lagi ya Bang?"


"Di seberang jalan itu juga ada Mbak, tuh sudah kelihatan juga sepanduknya. Hanya saja jalannya pakai pembatas, Mbak tidak mungkin bisa bawa motornya ke sana, tempat mutar baliknya juga lumayan jauh. Ah iya kalau tidak salah di dekat rumah makan Padang Pariaman juga ada bengkel lagi Mbak, Mbak bisa isi angin di sana saja!"


"Jauh enggak ya Bang dari sini?"


"Tidak jauh, hanya sekitar 300 meter saja."


Mayu kembali menatap abangnya, kalau naik motor ya memang itu tidak jauh, tapi kalau jalan kaki sambil dorong motor ya itu lumayan jauh.


"Baiklah Bang saya ke sana saja. Terima kasih Bang informasinya."


"Iya Mbak sama-sama."


Abang bengkelnya menatap kepergian Mayu, dia sebenarnya tidak tega, tapi dia sudah terlanjur terima uang dari orang yang tidak dikenalnya dan jumblahnya bukan 2 ribu tapi 2 ratus ribu. Dia tidak mungkin ingkar janji pada pemberi uang itu.


Mayu mendorong motornya makin lama makin pelan, keringatnya juga semakin banyak bercucuran. Mayu yang sudah tidak tahan memutuskan untuk membeli air mineral terlebih dulu. Mayu takut dehidrasi.


Setelah membeli minum dan meminumnya sampai habis. Mayu kembali menatap motornya.


'Kamu gadis kuat Mayu, bukan gadis lemah. Ini hanya perkara ban kempes Mayu ' batinnya lagi.


Mayu masih ingat dulu juga dia pernah mengalami kejadian yang lebih parah dari ini. Kejadiannya persis saat dia pulang belanja, rantai motornya putus di jalan tanjakan. Mayu yang tidak begitu mengerti soal motor, sampai bingung karena motornya masih bisa digas tapi tidak bisa jalan lagi. Hampir saja waktu itu motor Mayu mundur, tapi untung ada bapak-bapak tiba-tiba berlari menghampiri Mayu dan menahan motor Mayu. Mayu tidak bisa membayangkan kalau bapak itu tidak ada, bisa jadi Mayu ikut kebalik bersama motornya karena jalan tanjakannya memang lumayan tinggi. Selain itu Mayu juga masih harus dorong motornya lumayan jauh karena tidak ada bengkel di sekitar jalan itu.


Begitu banyak kejadian menyedihkan yang Mayu alami selama ini, tapi dia tetap kuat dan tidak pernah mengeluh karena Mayu sadar, sesusah-susahnya dia, masih banyak orang yang lebih susah dari dia.


"Huh!"


Mayu menghembuskan nafas kasar, dia merasa lega akhirnya dia sampai juga di bengkel selanjutnya.


"Mbak isi angin, Mbak!" ujar Mayu, kebetulan hanya ada seorang perempuan yang sedang duduk di bengkel itu.


"Maaf banget Mbak, suami saya baru saja pergi belanja. Saya tidak mengerti cara isi angin Mbak." ujarnya tidak sepenuhnya bohong.


"Mbak seriusan tidak bisa isi angin? Hanya isi angin motor ini saja Mbak. Tolonglah saya Mbak! Saya sudah capek banget. Saya dorong motor sudah lebih dari 500 meter, Mbak." ujar Mayu memelas dan ini bukan dibuat-buat. Mayu memang sudah capek. Kedua ban motornya itu sangat kempes dan itu cukup susah mendorongnya.


"Serius Mbak, saya benar-benar tidak mengerti cara isi angin. Kalau Mbak Mau, Mbak bisa tunggu suami saya saja. Biasanya dia belanja palingan hanya sejam atau 2 jam. Tidak lama Mbak."


Mayu kehabisan kata mendengarnya. Waktu 1 atau 2 jam itu sangat berharga untuk Mayu. Apalagi ini sudah jam 3, jam berapa lagi dia akan sampai di rumah? Padahal Mayu masih ingin lanjut dagang lagi.


"Baiklah Mbak saya cari bengkel lain lagi saja. Saya tidak mungkin menunggu Mbak."


"Iya Mbak, maaf ya Mbak."

__ADS_1


"Iya Mbak,"


Mau tidak mau Mayu kembali mendorong motornya. Sesekali Mayu berhenti dan mengusap keringatnya yang bercucuran.


'Ya Allah tolonglah Mayu, Mayu hanya ingin bisa secepatnya sampai rumah. Mayu juga tidak ingin membuat nenek khawatir.' batin Mayu.


Mayu paling tidak mau membuat neneknya khawatir. Neneknya bisa drop lagi kalau khawatir berlebihan.


Mayu menghentikan mendorong motornya begitu mendengar ponselnya berbunyi.


Mayu hanya hanya mengusap keringatnya begitu melihat nomor baru yang menghubunginya.


"Hallo dengan Mayu di sini. Mayu lagi bicara dengan siapa ya?" ujar Mayu seperti biasanya dan sebisa mungkin bersikap biasa. Biasanya jika nomor baru yang menghubunginya suka memesan barang pada Mayu, untuk itu Mayu berusaha bersikap seramah mungkin.


"Alga!"


Mata Mayu sekatika membola.


"Kak Alga? Tuan Muda?" tanya Mayu memastikan.


"Iya." jawabnya singkat padat dan jelas.


Alis Mayu terangkat. Ada apa Alga meneleponnya, ini tumbenan sekali? Mayu juga tidak perlu bertanya dari mana Alga dapat nomornya, karena nomornya sudah ada di grup mahasiswa baru, dan Alga bisa dengan mudah mendapatkannya.


"Ada apa Kak Alga menelepon saya, apa Kak Alga butuh bantuan saya? Maaf sekali Kak, saat ini Mayu tidak bisa membantu, Mayu sedang kesusahan Kak, dan sedang membutuhkan bantuan." ujar Mayu sekalian curhat.


"Kamu kenapa?"


"Ban motor saya kempes keduanya Kak, dan dari tadi tidak ada bengkel bisa isi angin." cerita Mayu.


"Kamu dimana?"


"Tanah Abang Kak."


"Ya sudah kamu tunggu saya di sana, saya akan jemput."


"Serius Kak?" tanya Mayu seakan tidak percaya.


"Iya. Aktifkan saja GPS kamu!"


"Siap Kak. Thank you so much honey bunny sweety. Kak Alga memang best." ujar Mayu girang. Mayu benar-benar tidak menyangka Alga mau membantunya.


"Jangan lebay."


"Hehe ..."


Setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Alga. Mayu langsung menitipkan motornya. Selanjutnya Mayu mau ambil belanjaannya.


Mayu sampai berlari, takutnya Alga duluan sampai.


Langkah Mayu seketika berhenti begitu dia melewati bengkel pertama kali dan mendapati si abangnya sedang mengisi angin ban motor orang lain.


'Bukannya katanya mesinnya sedang rusak, lalu itu kenapa dia bisa isi angin?' batin Mayu.

__ADS_1


Mayu menatap abang bengkelnya, pemilik bengkel itu sampai menundukkan kepalanya tidak berani menatap Mayu.


'Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.' batin Mayu lagi.


__ADS_2