Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Mayu vs Sindi


__ADS_3

Alis Mayu ikut terangkat melihat daddynya melotot. Jangan-jangan ada kabar mengejutkan yang disampaikan Sindi.


David menelan ludahnya dan sebisa mungkin bersikap biasa saja. Sindi tidak boleh curiga, bisa gawat kalau sampai Mayu ketahuan secepat ini.


"Aku sudah selesai makan dan saat ini sedang dalam toilet. Kamu silahkan pesan makan saja, nanti aku yang datang ke meja kamu. Perutku sedang tidak baik hari ini." jawab David dengan nada suara seperti biasanya.


"Perut Daddy sakit? Kenapa tidak bilang! Daddy harus cek ke rumah sakit setelah ini!" ujar Sindi tidak ada rasa curiga sama sekali.


"Hanya sakit perut biasa saja, dibawa istirahat juga pasti sembuh. Ya sudah ya, aku selesaikan dulu urusanku dalam kamar mandi."


"Iya."


David mematikan cepat sambungan teleponnya dan menatap Mayu.


"Buka cepat tas kamu Mayu! Daddy harus pergi sebelum Sindi curiga. Sindi ada di restoran ini sekarang!" ujar David dan beralih mengambil tas laptopnya.


"I-iya Dad," ujar Mayu tampak gugup.


Sindi ada di restoran yang sama dengannya, ini jelas lebih gawat dari yang Mayu pikirkan. Pantas saja daddynya sampai melotot.


Mayu membuka cepat tasnya begitu juga dengan David. David kemudian memasukkan dengan terburu-buru semua isi tasnya ke dalam tas Mayu. Beberapa gepok bahkan ada yang terjatuh, tapi David membiarkannya saja.


"Uang ini jumblahnya 300 juta, ini juga ada cek sebesar 500 juta, dan ini 2 jam tangan Daddy yang bisa kamu jual. Nanti Daddy akan kabari lagi, kalau Daddy bisa bertemu kamu. Daddy pergi Mayu, jaga diri kamu baik-baik. Daddy sayang kamu." ujar David dan diakhiri dengan mengecup kening Mayu.


Tanpa menunggu Mayu, David langsung berlari ke arah pintu, dan membuka cepat pintu ruangannya.


David menatap sekitarnya sebelum dia keluar, setelah memastikan tidak ada Sindi disekitar mereka, barulah dia keluar tanpa meloleh lagi pada Mayu.


David kembali melangkah cepat ke arah toilet. Dia sudah cukup tahu soal restoran ini, dan dia sudah tahu dimana letak toiletnya.


Mayu menatap pintu yang sudah ditutup daddynya. Perasaan Mayu masih campur aduk. Satu sisi dia takut ketahuan tapi sisi yang lain, dia merasa sedih karena harus berpisah dengan Daddynya secepat ini. Padahal masih banyak sekali yang ingin Mayu sampaikan padanya.


Mayu tiba-tiba menggelengkan kepalanya, dia tidak seharusnya bersedih. Setidaknya dia sudah bisa melepas rindu dengan daddynya walau hanya sebentar. Dan satu lagi yang terpenting, Daddy juga sudah menyelesaikan masalah terbesarnya.


Mayu menatap cek dan jam tangan di tangannya. Tatapan Mayu beralih pada uang yang ada dalam tasnya. Mayu merapikan uang-uangnya dan mengambil uang yang jatuh. Setelah memastikan semua uang masuk tasnya, Mayu menutup rapat tas ranselnya.


"Terima kasih Dad, Mayu juga sayang Daddy." ujar Mayu.

__ADS_1


Sementara itu David sudah keluar dari kamar mandi. David masuk kamar mandi hanya sekedar membasahi tangannya saja. Menurut David itu sudah cukup sebagai syarat kalau dia memang habis dari kamar mandi.


David kemudian melangkah keluar dari kamar mandi dengan langkah tegap, seolah tidak terjasi apa-apa sebelumnya, dan sembari melangkah dia menelepon Sindi menanyakan nomor mejanya.


"Baik, ini aku sudah mau sampai." ujar David menutup sambungan teleponnya kembali.


Sindi melambaikan tangannya dari kursinya dan David mbalasnya dengan senyum tipis.


Alis Sindi tiba-tiba terangkat begitu dekat dengan David, membuat David sedikit gugup, tapi semaksimal mungkin dia bersikap seperti biasa.


"Tumben kamu bawa tas," ujar Sindi begitu David duduk.


"Oh iya, sebelumnya aku mau mengecek email sambil makan, tapi karena perutku rasanya tidak enak, aku mengurungkan niatku." bohong David sambil megang kuat tas laptopnya. Somoga Sindi tidak curiga kalau tas itu kosong dan tidak ada laptop di dalamnya.


"Harusnya Daddy kalau makan itu ya makan saja. Jangan biasakan makan sambil kerja Dad. Lagian kalau ada kerjaan penting, kenapa makannya tidak makan di kantor saja. Daddy tinggal pesan makanan yang Daddy mau." ujar Sindi.


"Aku ada pertemuan penting jam 2 nanti, makanya aku sekalian makan di luar saja." ujar David, dan kali ini dia tidak bohong. Itu juga alasannya kenapa dia minta ketemu Mayu jam 12 saja, niatnya biar ada waktu lebih banyak ngobrol dengan Mayu, tapi semuanya jadi kacau karena kedatangan Sindi.


"Oh, terus perut Daddy gimana? Apa masih sakit, kalau masiih sakit sebaiknya pertemuannya ditunda saja. Mereka juga pasti mengerti kalau Daddy sakit." ujar Sindi perhatian.


"Sudah lumayan, aku tidak apa-apa. Aku juga harus profesional, aku enggak mungkin membatalkanya hanya karena masalah kecil. Kasihan mereka sudah datang jauh-jauh dari luar kota."


"Iya," ujar David milih nurut saja, dan ada perasaan lega di hatinya setidaknya Sindi tidak curiga sana sekali padanya.


***


Mayu sudah menghabiskan semua makanan yang tersisa. Mayu juga sudah membayarnya dan barang-barangnya juga sudah dia rapikan.


Mayu mau keluar tapi dia ragu bagaimana kalau daddy atau Sindi masih ada dalam restoran dan mereka melihat Mayu. Daddy mungkin pasti akan bersikap biasa, tapi Mayu yakin Sindi juga melakukan hal yang sama.


Mayu menatap jam di ponselnya ini sudah setengah jam dari daddynya pergi.


"Semoga saja mereka sudah pergi." monolog Mayu. Mayu yang tidak ingin menunggu lebih lama lagi akhirnya memutuskan keluar.


Mayu melangkahkan kakinya sebiasa mungkin dan tidak mau melirik kiri dan kanan. Seolah tidak ada hal yang perlu dia khawatirkan.


Mayu tampak lega, begitu dia sampai di pintu keluar dan tidak ada suara Sindi yang memanggilnya. Itu berarti kemungkinan besar Sindi tidak melihatnya atau dia memang sudah pergi.

__ADS_1


"Mayu!" panggil seseorang begitu Mayu sudah sampai di parkiran.


Tidak hanya Mayu yang menoleh tapi David yang sudah mau masuk mobilnya pun ikut menoleh begitu mendengar nama Mayu disebut.


Deg deg deg


Jantung Mayu seketika berdebar dengan cepat begitu melihat Sindi berdiri tidak jauh darinya. Mayu menelan ludahnya, dia terlalu cepat keluarnya. Coba saja dia bisa bersabar sedikit lagi, dia tidak akan bertemu dengan Sindi dan daddynya.


"Kenapa Tante?" tanya Mayu sebisa mungkin bersikap biasa.


"TIdak apa-apa, saya hanya ingin memastikan kalau kamu benar-benar Mayu si gadis tidak tahu diri yang saya kenal. Hebat ya kamu sekarang, sudah bisa makan di restoran mahal. Saya jadi penasaran orang bodoh mana yang rela memberikan uang miliyaran pada kamu. Jangan-jangan kamu menjual keperawanan kamu lagi, lalu berbohong pada Alga kalau ada seseorang yang sayang pada kamu dan mau memberi kamu uang. Saya benar-benar tidak menyangka, wajah kamu doang yang terlihat lugu, tapi otak kamu itu sangat busuk dan licik, tapi saya yakin suatu saat nanti Alga pasti akan tahu semua kebusukan kamu itu. Alga itu orang baik dan dia tidak pantas mendapatkan gadis seperti kamu." ujar Sindi dengan tatapan sinisnya.


Tidak hanya Mayu yang mengepalkan tangannya tapi David juga. David benar-benar tidak suka mendengar kata-kata isterinya. Ingin rasanya dia marah, tapi untuk saat ini dia tidak bisa melakukan itu, karena dia belum berbuat banyak Mayu.


Sama halnya dengan Mayu, dia juga ingin balas marah pada Sindi tapi karena melihat ada daddynya Mayu berusaha menahan dirinya karena biar bagaimana pun Sindi adalah isteri daddynya.


Mayu hanya menghembuskan nafasnya kasar dan lebih memilih melanjutkan langkahnya saja. Saat ini ada yang jauh lebih penting dari pada meladeni omongan Sindi.


"Kenapa kamu pergi? Kamu pasti tidak bisa menjawab bukan karena apa yang saya katakan adalah kebenaran. Dasar pe*acur!" seru Sindi.


Mayu tak tahan lagi mendengarnya, kata-kata Sindi sudah sangat keterlaluan.


Mayu membalikkan badannya dan menatap tajam pada Sindi.


Mayu kemudian tepuk tangan depan Sindi membuat Sindi menatap heran padanya.


"Wow hebat banget ya saya. Saya yang hanya gadis miskin dan penjual kolor pinggir jalan bisa menjual kep*rawanan saya dengan harga milyaran. Selegit itu kah keper*wanan saya sampai ada orang yang mau membeli semahal itu? Berarti saya termasuk gadis mahal dong? Kira-kira dulu tante nilai keperawanannya berapa, triliunan kah atau malah dikasih geratisan? Sebentar deh dilihat dari wajah Tante, Mayu yakin keperawanannya paling dikasih geratisan, kalah dong sama Mayu yang harganya milyaran. Katanya perempuan mahal, mahal dari mananya?" balas Mayu.


Mayu tidak lagi memikirkan kalau Sindi adalah istri daddynya. Salah Sindi sendiri sudah membangunkan singa yang tertidur.


Tatapan Sindi sangat marah pada Mayu, sangat berbeda dengan David yang diam-diam tersenyum tipis. Dia senang melihat Mayu yang berani melawan pada Sindi. Akhirnya Sindi dapat lawan yang tepat juga.


"Kamu! Berani kamu berkata seperti itu pada saya? Dasar gadis tidak tahu sopan santun! Awas saja, akan saya adukan kamu pada Alga dan mbak Dira. Gadis tak punya sopan santun seperti kamu, tidak pantas sama sekali masuk keluarga Pratama." marah Sindi. Dia tidak terima dengan apa yang dikatakan Mayu.


Mayu balas tersenyum sinis.


"Yang mulai duluan Tante, yang mau ngadu juga Tante. Udah ah, malas Mayu kalau main mengadu, kayak anak kecil. Mayu bukan anak kecil lagi Tante. Mayu sudah mengerti pacaran Tante, pacarannya sama anak pemilik saham lagi. Hebat kan Mayu? Kenapa? Tante sirik ya sama Mayu? Katanya perempuan mahal? Perempuan mahal kok sirik sama gadis gembel. Enggak kebalik tuh? Bye!" ujar Mayu dengan wajah mengejeknya kemudian pergi meninggalkan Sindi.

__ADS_1


"Awas kamu Mayu!" marah Sindi dan mengepalkan kuat tangannya. Sedangkan David, sekuat tenaga dia menahan dirinya agar tidak tersenyum lebar. Puas sekali dia mendengar apa yang dikatakan Mayu.


__ADS_2