
"Shinta dimana Mayu?" tanya Rangga saat dia tidak menemukan adanya Mayu di kelasnya.
"Katanya ke perpustakaan Kak," jawab Shinta.
"Saya habis dari perpustakaan dan tidak menemukan Mayu di sana."
"Tidak ada?" bingung Shinta. Shinta enggak mungkin salah dengar, Mayu sendiri yang bilang padanya kalau dia mau ke perpustakaan, Mayu mau meminjam buku.
"Iya tidak ada, dan saya juga tidak ada berpapasan dengannya saat di jalan." jawab Rangga lagi.
"Coba hubungi dia saja Kak!"
"Tidak diangkat Shin, kalau diangkat untuk apa saya capek-capek mencari dia ke sini." jawab Rangga lagi.
"Kenapa tidak diangkat, kalian berantem?" tanya Shinta menatap Rangga.
"Untuk apa saya berantem dengan Mayu, Shinta. Tidak ada alasan bagi kami untuk berantem. Udah ah saya mau cari dia lagi. Kamu kalau bertemu dengannya, langsung hubungi saya saja. Ada masalah penting yang harus saya bicarakan dengannya."
"Masalah penting apa Kak?" tanya Shinta.
"Kepo kamu," ujar Rangga kemudian pergi meninggalkan Shinta.
"Dasar kak Rangga, enggak asik." ujar Shinta kemudian menyingkirkan bukunya dan beralih mengambil ponselnya.
Shinta ingin menghubungi Mayu, dia tidak yakin Mayu tidak mau mengangkat ponselnya.
Tut tut tut
Shinta mengerutkan keningnya. Mayu tidak mengangkat teleponnya. Shinta kembali mencoba menghubungi Mayu dan hasilnya sama saja, tidak ada jawaban dari Mayu.
'Kak Rangga, tidak bohong ternyata.' batin Shinta.
"Eh Lor, lo ada melihat Mayu di kantin?" tanya Shinta cepat begitu melihat Lora masuk kelas.
"Tidak ada, tapi gue melihat Mayu jalan ke arah mushala tadi. Mungkin dia lagi di mushala, kenapa?" jawab Lora kemudian duduk di depan Shinta.
"Tidak apa-apa, Kak Rangga baru saja datang mencarinya, dan saat gue hubungi Mayu tidak mengangkat teleponnya. Ngapain ya tu anak di mushala, ini kan baru jam 10 lewat 15, belum waktunya sholat?" ujar Shinta tampak berpikir.
"Mungkin Mayu lagi ada masalah. Lo tahu Mayu kan, kalau lagi ada masalah dia akan menghabiskan waktunya di mushala atau perpustakaan. Dia kan jarang banget mau cerita masalahnya pada orang lain termasuk kita." tebak Lora yang sudah sangat paham sifat Mayu yang satu itu.
"Benar juga tapi masalahnya apa ya? Kemarin juga gue perhatikan dia banyak diamnya, dan kalau tidak salah dia juga lama di mushala."
"Mungkin lagi ada masalah dengan Kak Alga." jawab Lora singkat dan kembali makan jajanan yang dibawanya.
"Kalau ada masalah dengan Kak Alga enggak mungkin seperti itu deh Lor. Lo sangat tahu Mayu, soal laki-laki itu hanya nomor sekian saja baginya. Sekali pun laki-lakinya se keren kak Alga. Biasanya dia suka galau kalau menyangkut uang saja." ujar gadis berparas ayu itu.
__ADS_1
"Benar juga, masalah terbesar Mayu kan enggak pernah jauh-jauh dari yang namanya uang. Ah iya begini saja, nanti pulang kuliah kita ke kontrakannya saja, kita coba cari tahu dari nenek Iroh. Sekalian temu kangen juga dengan nenek Iroh, udah lama juga kita bertemu dengannya." usul Lora.
"Boleh juga, gue juga kangen Nenek Iroh. Kita bawa apa ya ke sana?"
"Tidak usah bawa apa-apa saja, lebih baik kita bantu melariskan jualannya saja. Dia kan enggak jauh beda dengan Mayu. Dia akan lebih senang kita belanja 20 ribu dari pada bawa makanan seharga 20 ribu." ujar Lora.
"Benar juga enggak jauh beda sama lo dan nyokap lo kan?"
Lora tersenyum lebar.
"Tahu saja lo, namanya juga pedagang sejati cuy." ujar Lora santai. Dan tanpa mereka sadari niatan baik mereka yang tidak seberapa, itu bisa mendatangkan kebahagiaan orang lain.
Sementara itu Rangga masih mencari keberadaan Mayu dan belum juga menemukan Mayu. Rangga sampai mencari ke kantin, kamar mandi, taman, dan kembali lagi ke perpustakaan tapi belum juga menemukan Mayu.
Rangga melirik jam tangannya, 10 menit lagi dia ada kelas. Rangga akhirnya menyerah mencari Mayu, dia harus segera ke kelas. Rangga takut terlambat, dosennya kali ini sangat disiplin. Terlambat 2 menit saja, dia tidak akan mengizinkan mahasiswanya masuk.
"Gimana, apa lo sudah bicara dengan Mayu?" tanya Alga begitu Rangga masuk kelas.
Rangga menggelengkan kepalanya.
"Enggak Al, gue tidak menemukannya. Gue tanya temannya juga tidak tahu Mayu ada dimana." jawab Rangga apa adanya.
Alga hanya diam. Kemana perginya itu gadis pencuri hatinya. Alga juga sudah menghubunginya sampai berkali-kali tapi Mayu tidak mengangkat teleponnya.
***
Mayu yang tidak mendengar panggilan Alga langsung tancap gas saja. Mayu buru-buru, Mayu ada banyak rencana hari ini yang ingin dilakukannya.
"Aih!" seru Alga. Tampak kesal di wajah Alga, jika saja tidak ada pertemuan di BEM hari ini, Alga pasti akan mengejarnya. Gadis itu benar-benar sudah membuat pikiran Alga tidak bisa tenang satu harian ini. Alga ingin bicara dengan Mayu.
Mayu terus menjalankan motornya. Mayu mau menuju kawasan pabrik terlebih dulu. Mayu ada dapat informasi kalau daerah pabrik, saat tanggal gajian sering ada penjual dadakan seperti halnya pasar malam. Mayu ingin memastikan itu. Lumayan kalau dia bisa jualan di sana.
Mayu menghentikan motornya begitu dia sampai pos satpam. Selama itu demi uang halal, Mayu tidak kenal kata gengsi atau malu.
"Maaf Mbak, di sini sedang tidak ada lowongan." jawab satpam itu sebelum Mayu menanyakan apa yang ingin ditanyakannya.
Mayu sampai tersenyum. Mayu sangat maklum untuk gadis seusia dia memang cocok kerja di pabrik. Mayu juga sebenarnya mau kerja di pabrik, tapi kerja dipabrik banyak yang sistim shift dan dan kalau tidak sistim shift udah pasti jam kerjanya sari pagi sampai sore. Sementara Mayu kuliahnya juga dari pagi sampai siang. Waktunya yang tidak memungkinkan untuk dia kerja di pabrik.
"Saya tidak mau tanya lowongan kok pak satpam yang ganteng. Saya hanya mau tanya Pak, di sini tanggal gajiannya tanggal berapa ya Pak, ini bukan saya berencana mau rampok atau nyopet Pak, tapi saya hanya mau ikut jualan saja depan pabrik ini." ujar Mayu.
"Oh itu. Di sini gajiannya setiap tanggal 5, tapi terkadang diundur jika tanggal 5 bertepatan dengan hari merah." jawabnya.
"Terima kasih infonya Pak, kalau untuk hari ini kira-kira pabrik mana yang gajian ya Pak?"
"Pakrik Taro kalau tidak salah, hanya saja di sana gajiannya sistim transfer dan karyawannya juga tidak begitu banyak."
__ADS_1
"Tapi suka ada yang dagang gitu enggak Pak depan pabriknya?"
"Iya suka ada tapi hanya beberapa orang saja, mungkin karena lakunya juga hanya satu dua, jadi ya mereka malas. Tidak seimbang rasa capek sama hasilnya. Belum lagi kalau mereka tinggalnya jauh, uang bensin dan makan saja kadang tidak ketutup." ujarnya.
Mayu mengangguk mengerti.
"Benar juga Pak, tapi dari pada tidak jualan iya kan? Walau untungnya hanya 5000 atau sepuluh ribu juga sudah lumayan."
"Kalau hanya segitu, mendingan kerja dipabrik dong Mbak. Apa lagi Mbak masih muda. Gaji pabrik sekarang bisa sampai 4 juta loh Mbak. Kerja di pabrik juga tidak begitu capek dan jam kerjanya juga hanya 7 jam." ujar satpamnya.
"Saya kuliah Pak, dan kuliah saya dari pagi sampai siang."
"Oh mbaknya kuliah, baguslah Mbak, mantap Mbak. Kalau begitu dagangnya di depan pabrik kramik itu saja Mbak, di situ setiap sore sampai malam itu selalu ramai yang jualan."
"Yang jalan utama itu kan Pak? Bukannya disitu banyak tokonya ya Pak?"
"Iya, memang banyak toko tapi kalau sudah sore akan banyak penjual lain yang jualan depan toko itu. Disitu lumayan ramai Mbak, apalagi dari tanggal satu sampai tanggal 15, udah seperti pasar ramainya Mbak. Mbak tinggal tanyakan pemilik tokonya saja, siapa tahu ada yang mau sewa depan tokonya pada Mbak, atau mbak temui keamanannya saja. Biasanya mereka suka bantu cari tempat, tapi ya gitu jangan lupa memberikan uang rokok. Enggak apa-apalah berkorban sedikit." jelasnya.
"Boeh juga itu Pak, kalau begitu saya mau kembali nanti sore, mau melihat seperti apa situasinya."
"Iya Mbak. Semangat Mbak."
"Terima kasih Pak Satpam yang ganteng dan baik hati." ujar Mayu.
Satpamnya tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada Mayu.
Mayu kembali menjalakan motornya, dia mau ambil dagangannya terlebih dulu. Selama masih diberi kesehatan, Mayu akan tetap dagang walau tempat jualannya belum tahu dimana.
***
Alga turun dari mobilnya. Alga menatap sekitarnya dan menarik nafas pelan. Alga sudah melewati jalan itu sebanyak 2 kali tapi dia tidak juga menemukan Mayu. Alga rasa dia tidak mungkin salah tempat, dia masih ingat jelas kalau dia pernah bertemu Mayu dan melihat Mayu jualan di tempat ini.
Alga memutuskan menemui salah satu penjual pinggir jalan itu.
"Mau beli sepatu Mas, silahkan pilih saja Mas! Ukurannya masih lengkap Mas, tinggal pilih sesuai selera saja." ujar penjualnya begitu Alga mendekat.
"Maaf Pak, saya bukan mau beli tapi saya hanya ingin bertanya. Apa Bapak kenal Mayu, dia juga suka jualan di sini dan jualannya itu kolor dan bh?" ujar Alga diakhiri dengan suara pelan. Malu juga dia menyebutkan barang terakhir itu.
Penjual itu refleks menatap Alga dari atas sampai bawah. Dari tampangnya sepertinya bukan penagih utang atau memiliki kelainan.
"Mayu yang cantik jelita itu kan, yang jualan sambil kuliah dan kuliahnya di UI?" ujarnya memastikan.
"Iya benar sekali Pak. Dia jualan dimana ya Pak?" jawab Alga mantap. Alga yakin Mayu yang dimaksud sudah pasti orang yang sama.
"Sebenarnya, dia kemarin itu jualan persis di sebelah saya ini. Tempat yang masih kosong ini adalah tempatnya. Hanya saja dia tidak bisa lagi jualan di sini." jawabnya apa adanya.
__ADS_1
Alis Alga seketika terangkat
"Kenapa tidak bisa Pak?" tanya Alga cepat.