
"Naura di makan Naura, jangan sungkan-sungkan." ujar Tere ibunya Alex.
Setelah perdebatan yang tidak ada ujungnya itu, mereka memutuskan makan karena kalau diteruskan juga tidak akan menyelesaikan masalah, justu menambah masalah yang ada.
"Iya Tante, Naura tidak akan sungkan." ujar Naura.
"Bagus. Ini ada lobster, kamu suka lobster kan, ambil saja!" ujar Tere lagi sambil mendekatkan lobsternya pada Naura.
Sedikit banyaknya Tere sudah tahu makanan kesukaan Naura dan dia juga suka masak untuk Naura jika Naura datang ke rumahnya. Walau di pertemuan pertamanya pilihannya bukan jatuh pada Naura, tapi setelah mengenal dekat Naura, dia suka pada Naura. Ternyata naura anak yang baik dan yang terpenting dia cinta pada Alex dan bisa membuat Alex bahagia.
"Terima kasih Tente," balas Naura.
"Sama-sama, makan yang banyak ya!" ujarnya lagi dan Naura menganggukkan kepalanya.
"Calon menantu itu jangan dimanja Tere, nanti makin ngelunjak!" ujar Mawar yang diam-diam memperhatikan mereka dan dia benar-benar tidak suka melihat Tere melayani Naura. Harusnya Naura yang melayani Tere dan bukan sebaliknya.
"Bukan dimanja Mbak, aku juga hanya mengambilkan makanan dan kebetulan makanannya ada di dekatku. Tidak apa-apa dong aku mendekatkannya pada Naura." ujar Tere membela diri.
"Makanannya juga tidak begitu jauh dari Naura, memang dasar calon menantu kamu itu manja. Kebiasaan dilayani kali ya! Padahal di sini ada Alex loh. Harusnya dia itu melayani Alex, bukannya malah menunggu dilayani. Enggak yakin aku, dia bisa jadi istri yang baik untuk Alex nanti." ujarnya lagi sambil mengambil makanan untuk suaminya.
Alex yang hendak mengambil sayur meletakkan sendokknya kembali. Ini tantenya yang satu ini julit sekali. Padahal dia sendiri tidak pernah mempermasalahkan itu. Apalagi hanya perkara makan, mau dilayani atau enggak itu bukan suatu masalah bagi Alex.
"Tante yang tahu baik buruknya Naura adalah aku dan soal melayani makan, itu bukan patokan bagiku Naura bisa jadi istri yang baik atau tidak. Aku punya tangan dan aku bisa ambil makananku sendiri. Udah deh ya, Tante lebih baik urus diri Tante sendiri dan keluarga Tante, soal Naura biar menjadi urusanku saja." ujar Alex membela kekasihnya.
"Wow ... mentang-mentang sudah jadi CEO, sombongnya selangit dan berani merintah Tante. Heh Alex dengarkan Tante baik-baik ya, tante barkata seperti ini juga demi kebaikan kami, bukan kebaikan Tante. Tante hanya enggak mau kamu salah pilih istri." ujar Mawar lagi dan benar-benar tidak mehargai keberadaan Naura. Tere sendiri sampai merasa tidak enak pada calon menantunya.
Tere juga sangat sadar Naura punya banyak kekurangan, tapi bukan berarti dia harus fokus pada kekurangan Naura saja dan menghalangi kebahagiaan anaknya. Toh dia juga dulu saat baru menikah dengan papanya Alex, memiliki banyak kekurangan, tapi seiring berjalannya waktu, dia belajar jadi istri yang lebih baik lagi.
"Alex bukan sombong Tante, untuk apa juga aku sombong pada Tante. Aku hanya enggak mau saja gara-gara Tante, kekasihku jadi tidak nyaman. Cukup Frans saja yang sudah membuat kami tidak nyaman dan menghadirkan masalah dalam hubungan kami." ujar Alex akhirnya. Dia benar-benar sudah tidak tahan melihat kakuan ibu dan anak yang suka sekali mengusik hidupnya.
Mawar menatap tidak terima pada keponakannya, sedangkan Frans dia cuek saja. Dia yakin selama ada mamanya, dia pasti aman karena mamanya pasti akan jadi orang terdepan memberi pembelaan padanya.
"Maksud kamu apa? Dan kenapa kamu jadi bawa-bawa nama Frans? Frans diam saja dari tadi. Kamu ini ya kalau tidak mengusik Frans tidak bisa kali ya? Padahal Frans sudah rela jadi nomor 2 demi kamu. Kamu ini benar-benar sepupu yang tidak tahu terima kasih." ujarnya semakin tidak suka saja pada keponakannya. Dari dulu dia memang tidak suka pada Alex, selain karena Alex sering berantem dengan Frans, Alex juga jadi kesayangan mendiang ayah mertuanya dulu.
Alex menghembuskan nafasnya kasar. Jika saja perempuan di depannya ini bukan tantenya, Alex pasti sudah berkata kasar. Mereka suka sekali menguji kesabaran Alex.
"Untuk apa juga aku berterima kasih pada orang yang ingin menghancurkan karirku juga ingin menghancurkan hubunganku dengan pacarku. Asal Tante tahu ya, ini anak kesayangan Tante sudah melakukan sesuatu yang hampir saja membuat hidupku berantakan. Untung ada pacarku yang menyelamatkanku, kalau tidak hubungan keluarga kita akan hancur karena aku tidak akan memaafkannya dan akan membalasnya lebih dari apa yang dia lakukan. Tante bisa tanya dia apa yang sudah dia lakukan." seru Alex.
Walau Alex sangat marah pada tante dan sepupnya dia masih bisa menahan diri untuk tidak mengatakan semuanya dihadapan keluarganya, karena Alex masih memikirkan perasaan ayahnya serta papanya Frans. Biar bagaimana pun mereka adalah adik kakak dan selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Alex tentunya tidak ingin gara-gara anak-anak mereka hubungan mereka jadi tidak baik.
Mawar menatap pada anaknya, dan tidak hanya Mawar Tere dan yang lainnya juga menatap padanya. Mereka penasaran apa yang sudah dilakukan Frans.
__ADS_1
Frans yang sedari tadi masih bisa cuek jadi sedikit was-was. Sepertinya Alex sudah tahu kelakuannya. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus kabur sebelum diintrogasi oleh keluarganya terutama papanya. Papanya itu masih bersikap netral, beda dengan mamanya yang selalu berpihak pada Frans.
Frans menatap pada sepupunya dan diam-diam mengepalkan kuat tangannya.
'Dasar tukang ngadu, kayak anak kecil saja!' batin Frans kesal. Lihat saja dia tidak akan diam saja, dia pasti membalas Alex.
Frans kemudian bangun dari duduknya membuat semua keluarganya kembali menatap padanya.
"Ribut saja dari tadi, nafsu makanku sudah hilang, gara-gara kalian!" seru Frans kemudian buru-buru meninggalkan meja makan. Dia harus cepat-cepat kabur, sebelum diintrogasi keluarganya.
Alex menatap kesal pada sepupunya, dia sangat yakin kalau Frans pasti sengaja pergi itu. Alex sangat tahu seperti apa tabiat sepupunya. Jika ketahuan salah dia akan menghindar dan orang seperti itu tidak layak jadi peminpin.
"Udah semua ... lebih baik kita lanjut makan lagi saja dan aku berharap jangan lagi ada yang bersuara, terutama kamu Mawar. Jangan sampai yang lainnya juga ikut pergi, gara-gara kamu!" ujar Om tua Alex. Dia bukan tidak tahu kalau hubungan Alex dan Mawar juga Frans tidak begitu baik, hanya saja dia tidak mau ikut campur terlalu dalam. Bisa-bisa hubungan mereka akan semakin berantakan kalau ada pihak lain yang masuk. Orang tua Alex saja lebih memilih diam karena mereka juga sadar kalau mereka sampai ikutan hanya akan menimbulkan perpecahan saja.
"Iya," ujar Mawar terpaksa. Dia sadar posisinya sudah mulai terjepit untuk itu lebih baik mengalah saja demi kebaikannya. Nanti saja dilanjutkan lagi.
***
"By!" panggil Alex. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Kenapa Mas?" tanya Naura.
"Gimana menurut kamu keluargaku, kamu tidak kapok kan bertemu dengan mereka?" tanya Alex. Jujur saja ada perasaan tidak enak di hati Alex karena perkataan tantenya. Apalagi saat Alex mengutarakan niatnya ingin segera menikahi Naura dan Mawar dengan teganya menuduh Naura sudah hamil duluan.
"Tentu saja aku tidak kapok Mas dan aku cukup nyaman bersama mereka. Aku akui tante Mawar memang sempat membuatku kesal, tapi itu bukan satu masalah besar bagiku. Tante Tere dan yang lainnya sangat baik padaku dan aku mau fokus pada mereka saja." ujar Naura apa adanya membuat Alex merasa lega.
Alex kemudian manarik tangan kanan Naura dan menggenggamnya erat.
"Terima kasih ya By. Benar kata kamu sebaiknya kamu fokus pada bunda dan yang lainnya saja. Tante Mawar tidak usah diperdulikan. Hanya saja atas nama tante Mawar aku minta maaf ya By dan aku berharap apapun yang dia katakan jangan kamu masukkan ke dalam hati. Anggap saja angin lalu."
"Iya Mas, aman kalau soal itu. Lagian aku juga dulunya begitu jadi aku juga tidak akan terlalu menganggap serius omongannya. Hanya saja aku jadi membayangkan, kalau misalkan tante Mawar bertemu dengan mommy dan tante Dira pasti heboh deh mereka. Eh tapi bisa jadi juga mereka jadi bestie karena mereka itu satu kan frekuensi." ujar Naura jadi membayangkan omongan julit Mawar dibalas dengan omongan yang tidak kalah julitnya.
"Benar juga ya By. Eh tapi jangan sampai lah mereka jadi besti, negeri saja aku kalau bundaku yang mereka jadikan bahan gosip. Kasihan bundaku."
"Ya enggak mungkinlah tante Tere mereka jadikan bahan gosip Mas. Aku pasti akan jadi orang pertama yang membela tante Tere." ujar Naura mantap.
Calon mertuanya baik begitu, Naura pastinya tidak akan terima kalau ada yang menjelekkannya.
"Cie yang perhatian sama calon mertua." goda Alex.
"Iya dong. Eh tapi Mas kita jadi enggak ada bicara apa-apa dengan mas Frans." ujar Naura. Frans memang sengaja memilih pergi setelah dia tiada jadi ikut makan malam.
__ADS_1
"Tidak apa-apa By, masih banyak waktu. Seenggaknya kamu sudah tahu keluargaku dan kuargaku juga sudah tahu tentang rencana pernikahan kita."
"Iya sih Mas, tapi aku khawatir saja dia berbuat lebih nekad lagi. Soalnya aku bisa melihat tatapan marahnya pada Mas Alex dan bukan tatapan khawatirnya." ujar Naura tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya.
"Itu tidak akan terjadi Sayang, kamu percaya padaku karena aku pastinya akan lebih berhati-hati lagi setelah ini dan kamu juga jangan sampai goyah dan terpengaruh omongan orang lain."
"Iya Mas, aku tidak akan goyah karena aku sayang Mas Alex." ujar Naura dan diakhiri dengan senyum manisnya.
Alex juga ikut tersenyum dan membawa tangan Naura ke bibirnya.
"Aku juga sangat sayang pada kamu By, now and forever." balas Alex dan mereka sama-sama tersenyum.
***
"Cie cie yang bulan depan mau lamaran resmi." ujar Mayu menggoda Naura yang tengah asik memainkan ponselnya.
Naura seketika mengalihkan pandangannya dan menatap Mayu. Setelah kedatangan Naura di acara keluarga Alex. Minggu depannya orang tua Alex dan Alex mendatangi Naura dan mengutarakan niat baiknya secara pribadi.
Baik Naura dan orang tuanya menerima niatan baik Alex dan setelah itu langsung gerak cepat saja. Mereka langsung mengadakan pertemuan keluarga dan menentukan tanggal lamaran resmi. Naura dan Alex tentu saja sangat senang karena tanggal menuju hari bahagia mereka sudah di depan mata. Mereka sudah tidak sabar.
"Cie cie yang bulan depan mau wisuda," balas Naura lagi.
Lamaran Naura memang sengaja diadakan keesokan harinya setelah wisuda, dan itu atas keinginan Alex dan Naura.
Mayu tersenyum.
"Benar juga ya Nau, enggak terasa sebentar lagi kita akan wisuda dan gue benar-benar tidak menyangka kita akan segera menikah. Jujur saja kadang gue merasa apa yang gue alami saat ini seperti mimpi dan gue enggak mau bangun dari mimpi indah ini." ujar Mayu.
"Sama, gue juga dan semoga saja mimpi indah ini akan selalu bersama kita ya May."
"Amin." ujar Mayu mantap dan mereka sema-sama tersenyum.
"Sebentar May," ujar Naura begitu mendengar ponselnya berbunyi.
Mayu mengangguk.
Naura tersenyum begitu melihat Alexlah yang menghubunginya.
Naura buru-buru menjawab telepon kekasihnya.
Senyum di wajah Naura seketika memudar begitu mendengar suara Alex yang tidak biasa.
__ADS_1
"Tolong aku By!" ujar Alex lirih.