
"Selamat pagi Alga," sapa Rahel.
Alga yang hendak menuruni anak tangga seketika menoleh.
Alga tanpa sadar menarik nafas pelan, padahal dia sengaja keluar cepat dari kamarnya untuk menghindari Rahel tapi tetap saja mereka bertemu.
"Pagi," jawab Alga pelan dan kembali melangkahkan cepat kakinya.
"Kamu mau kemana Alga?" tanya Rahel lagi dan langsung mengikuti langkah Alga.
"Kerja," Lagi-lagi Alga hanya menjawab singkat.
"Kerja? Ini baru jam setengah 6 kamu mau kerja dimana? Bukankah kantor kalian masuknya jam 8?" tanya Rahel tidak menyerah.
"Bukan urusan kamu." ujar Alga lagi dan semakin mempercepat jalannya meninggalkan Rahel. Alga sudah bilang sebelumnya kalau dia akan semakin jarang di rumah, selama Rahel di rumahnya dan Alga tidak main-main soal itu.
Langkah Rahel terdiam, begitu mendengar suara tidak bersahabat Alga. Hatinya merasa sedih mendengarnya. Selama kenal Alga, baru kali ini dia mendengar suara Alga sedingin itu.
"Kenapa kamu sangat berubah Alga? Aku tahu aku salah tapi tidak bisakah kamu mendengar penjelasanku sekali saja. Aku dulu memilih pergi bukan karena kemauanku Alga, tapi aku diancam oleh mami kamu dan aku enggak punya pilihan lain. Dan satu hal yang harus kamu tahu Alga, dari dulu sampai sekarang, nama kamu masih tertulis indah di hati ini." monolog Rahel.
Sementara itu Alga sudah sampai di luar rumahnya. Tanpa sadar dia kembali menarik nafas pelan. Gara-gara maminya dia jadi tak nyaman tinggal di rumahnya sendiri dan entah sampai kapan akan seperti ini? Mana mbaknya juga tidak lagi tinggal di rumahnya, Alga jadi tidak punya teman untuk dia bisa minta bantuan.
"Hei Al, lo mau kemana?" tanya Rangga saat Alga mau membuka pintu mobilnya.
"Mau ke rumah Mayu. Mau numpang sarapan di sana gue." jawab Alga.
"Tumben. Enggak biasanya lo memilih sarapan di rumah Mayu."
"Ya lo tahulah ada Rahel di rumah, gue malas sarapan dengannya, dan sudah pasti mami akan mencari celah supaya gue bisa ngobrol dengan Rahel." jelas Alga.
"Benar juga. Lo yang sabar ya Al dan gue dukung keputusan lo. Jadi Rahel itu juga akan sadar kalau dia sudah tidak ada lagi kesempatan balikan dengan lo, sekali pun nyonya Dira sudah memberikan restunya." ujar Rangga.
"Iya Ngga. Kalau begitu gue pergi dulu."
"Iya hati-hati!" ujar Rangga kemudian membukakan pintu gerbang untuk Alga.
Rangga melambaikan tangannya, selanjutnya dia juga meneruskan kegitannya yang mau melakukan olahraga pagi.
***
"Terima kasih Kak. Kak Alga hati-hati ya dan semangat kerjanya!" ujar Mayu sambil salim.
"Iya Ay, kamu juga yang semangat ya belajarnya, biar cepat pintar." ujar Alga kemudian mengecup kening Mayu.
"Siap Kak Alga. Mayu pasti akan semangat, kan sudah ada asupan vitamin dari ayang." ujar Mayu dengan wajah cerianya membuat Alga tersenyum.
"Bisa saja kamu,"
"Iya dong. Ya sudah ya Kak Mayu turun."
"Ok," ujar Alga.
"Seperti biasa ya Kak, kabari Mayu kalau Kak Alga sudah sampai di kantor!"
__ADS_1
"Siap Ayang, aku pasti akan mengabari kamu. Kamu sebaiknya masuk!"
"Kak Alga saja yang pergi duluan!" seru gadis rambut ekor kuda itu.
"Enggak Ay, kamu saja yang masuk duluan. Aku masih ingin menatap kampus kesayangan kita." ujar Alga bersikukuh.
"Baiklah Kak. Ya sudah ya Kak, Mayu masuk dulu. Dah Kak Alga!" ujar Mayu sambil melambaikan tangannya.
Alga balas melambaikan tangannya dan menatap Mayu sampai hilang dari pandangannya. Salah satu hal yang Alga syukuri dibalik masalah yang dihadapinya, dia jadi semakin banyak lagi waktu dengan Mayu.
'Semoga kita bisa terus seperti ini ya Ay, dan kamu juga tidak lelah karena masalah yang terus datang silih berganti.' batin Alga.
Alga kembali menjalankan mobilnya.
Sementara itu Mayu sudah sampai di area kampus. Dia melangkah seperti biasanya dan tatapan matanya fokus menatap ke depan serta jalan yang dilewatinya.
"Mayu!"
Mayu menghentikan langkahnya kemudian menoleh begitu mendengar ada yang memanggilnya.
"Hai Naura," ujar Mayu dan langsung tersenyum begitu melihat adiknya.
"Selamat pagi kakak Mayu," ujar Naura dan langsung menggandeng tangan Mayu.
"Selamat pagi juga adik Naura. Apa daddy ada titipan untuk gue?" balas Mayu sambil menengadahkan tangannya.
"Daddy hanya titip salam saja dan semangat belajar katanya." ujar Naura.
"Ah, Daddy enggak asik ih." ujar Mayu sambil menurunkan tangannya kembali.
Naura juga mengeratkan gandengan tangan pada Mayu dan tanpa perduli dengan tatapan beberapa mahasiswa yang menatap heran pada mereka. Mayu dan Naura terkenal dengan musuh bebuyutan di kampus, jadi saat melihat mereka terlihat akrab, rasanya masih aneh.
"Jadi lo sudah tahu kalau mantannya kak Alga datang? Ya begitulah kami hanya bicara biasa saja dan hanya kenalan, setelah itu kak Alga langsung membawa gue pergi. Hanya saja gue enggak bisa sepenuhnya tenang deh Nau, menurut gue, dia itu lebih membahayakan dari lo. Mana dia juga tinggal satu rumah dengan kak Alga. Gue enggak bisa membohongi diri gue sendiri kalau gue takut mereka CLBK." curhat Mayu.
"Ya jangan sampai dong May mereka CLBK. Pokoknya lo juga harus lebih perhatian lagi pada Kak Alga, dan jangan berikan celah sedikit pun pada si Rahel itu. Gue juga pasti akan membantu lo, dan gue akan lebih sering lagi mendatangi rumah kak Alga untuk memantau si Rahel itu." seru Naura.
"Benaran lo mau bantu gue?" tanya Mayu.
"Tentu saja karena gue juga maunya lo itu yang akan jadi nyonya Alga." ujar Naura mantap.
"Kenapa lo ingin gue yang jadi nyonya Alga?"
"Alasannya realistis saja sih May, ya biar harta warisan gue tetap utuh gitu loh. Secara kan kalau lo dapat suami tajir seperti kak Alga tentu lo enggak akan butuh lagi harta dari daddy , dan gue yakin kak Alga juga enggak akan tergoda sama harta warisan dari Daddy. Nah kalau lo dapat suami yang ekonominya pas-pasan, harta warisan gue bisa terancam dan gue pastinya enggak mau dong itu terjadi." ujar Naura dan langsung dapat pelototan dari Mayu.
"Kurang asem ya lo, gue pikir lo benar-benar perduli pada gue, enggak tahunya, isi otak lo itu enggak bisa jauh-jauh dari yang namanya uang." protes Mayu.
"Hehe ... Ya kan gue harus berpikir realistis Mayu, gimana sih lo? Tapi gue juga beneran perduli kok May sama lo, dan ini bukan soal harta saja, gue memang beneran ingin kak Alga itu jadi kakak ipar gue. Kak Alga baik dan lo juga baik, dan menurut gue kalian itu pasangan yang cocok. Ini gue serius May." ujar Naura lagi.
"Iya Naura, terima kasih ya lo sudah perduli pada gue dan kak Alga. Lo memang adik yang manis, senang gue punya adik seperti lo."
"Dan gue benar-benar dapat musibah, punya kakak seperti lo." ujar Naura dan lagi-lagi dapat pelototan dari Mayu.
"Canda Kakak Mayu, jangan terlalu gampang baper lah!" ujar Naura lagi dan kali ini Mayu tersenyum menanggapinya. Senang dia bercanda dengan Naura.
__ADS_1
"Ah iya Nau, gue penasaran pada Rahel itu, sebenarnya dia orangnya seperti apa?" tanya Mayu lagi.
"Yakin lo ingin tahu? Nanti lo merasa minder lagi?"
"Yakin dan gue enggak akan minder, secara gue anaknya daddy David Antonius dan kakaknya Naura." ujar Mayu mantap dan gantian Naura yang tersenyum.
"Nah itu, bagus itu, pertahankan!"
"Siap!"
"Jadi begini Mayu, Rahel itu bisa dibilang lebih berprestasi sedikit lah di atas lo. Dari SMA dia itu sudah menjabat jadi wakil ketua OSIS, dia itu wakilnya kak Alga dan mungkin dari situlah cinta mereka mulai tumbuh, hingga akhirnya mereka jadian. Rahel itu juga dulunya terkenal baik di sekolahan dan enggak neko-neko. Dia juga pekerja keras, enggak jauh berbeda dengan lo. Makanya enggak heran walau dia masih SMA tapi dia sudah bergabung dengan salah satu agenci top model Indonesia." jelas Naura.
"Jadi dia seorang orang model, pantas saja tubuhnya sangat bagus dan cara berpakaiannya juga sangat enak dipandang mata."
"Ya, kalau enggak salah mamanya seorang desainer makanya enggak heran anaknya seorang model."
"Benar juga, keren memang dia."
"Dan lo juga enggak kalah kerennya May, dan gue juga sangat bangga pada lo."
"Iya Naura, terima kasih Naura."
"Sama-sama Mayu. Bagi traktiranya dong, kan gue sudah muji lo." ujar Naura dan langsung dapat tatapan protes dari Mayu.
"Jadi lo enggak ikhlas muji gue?"
"Setengah ikhlas Mayu." ujar Naura.
"Udah ah malas gue sama lo!"
"Hehe ...." Naura hanya tertawa kecil menanggapinya.
***
"Alga duluaan ya Om, Alga mau ikut miting dengan para brand ambasador. Alga harus mempersiapkan diri." ujar Alga setelah dia selesai makan siang di ruangan David.
"Iya Alga, semangat untuk kamu!"
"Iya Om. Permisi Om," ujar Alga.
Alga kemudian keluar dari ruangan David, dan melangkah ke arah kubikelnya. Alga tidak punya ruangan sendiri dan mejanya juga terkadang suka berpindah-pindah dan itu karena Alga memang harus mempelajari banyak hal dan itu mulai dari hal terkecil sampai hal terbesar.
Sampai di mejanya, Alga tidak langsung pergi, dia menyempatkan mengirim pesan pada Mayu. Setelah mendapat pesan balasan dari Mayu, barulah dia mengumpulkan berkas-berkas mitingnya.
Alga menumpuk semua mapnya yang sudah disiapkannya jadi satu. Tidak lupa juga dia mengambil laptopnya. Selanjutnya Alga mengangkatnya dan membawanya ke ruang miting. Cukup repot memang Alga membawa semua itu dan itu karena dia belum memiliki sekretaris, tapi itu bukan masalah bagi Alga, namanya juga karyawan magang, jadi dia harus mandiri.
Alga menganggukkan kepalanya saat dia melewati beberapa karyawan lain. Walau dia hanya karyawan magang tapi dia cukup dihormati dan itu karena semua karyawan sudah tahu siapa dia.
"Mas Alga, mau dibantu bawa berkasnya?" tanya salah satu karyawan saat dia berpapasan dengan Alga.
"Tidak usah biar saya saja. Mapnya tidak berat ini." ujar Alga menolak dengan sopan.
"Baik Mas," ujarnya dan diam-diam tersenyum tipis. Dia tersenyum bukan karena bisa memandang wajah gantang Alga, tapi Alga memang sosok calon bos idaman. Meski dia anak bos besar, tapi sikapnya selalu sopan dan tidak pernah menganggap rendah orang lain. Dia juga tidak bossy, padahal dia bisa menyuruh siapa saja untuk membawa berkasnya, hanya saja dia tidak pernah melakukan itu. Dia juga memiliki disiplin kerja yang tinggi.
__ADS_1
Sementara itu Alga sudah sampai depan lift. Dia kemudian memencet tombol lift. Setelah lift terbuka, Alga kembali memencet tombol lifit untuk lantai tujuannya.
Alga merapikan berkasnya kembali sebelum dia keluar dari lift. Begitu lift terbuka Alga kembali melangkahkan kakinya. Langkah kaki Alga tiba-tiba berhenti dan tampak terkejut di wajah begitu melihat 2 orang di depannya.