
"Ini ya Mas ongkosnya. Terima kasih sudah menghantarkan kami sampai di tempat dalam keadaan selamat dan tidak kurang suatu apa pun." ujar Mayu sambil memberikan ongkos ojek Alga.
Alga mau ikut dagang hari ini, jadilah Mayu harus pesan ojek online.
"Iya Mbak terima kasih. Lancar jualannya Mbak!"
"Iya Mas terima kasih juga, Mas juga lancar ya, dan secepatnya dapat penumpang lagi."
"Amin. Mari Mbak!"
"Iya Mas," ujar Mayu dan beralih pada Alga yang sedang menatap padanya tanpa kedip.
"Kak Alga kenapa? Nyesal ikut Mayu jualan?" tanya Mayu.
"Tidak sama sekali, hanya saja aku tidak menyangka kalau kamu jualan di depan pabrik itu." ujar Alga menunjuk pabrik di depannya.
Mayu menoleh ke belakang.
"Iya Kak, untuk beberapa hari ini, Mayu memang pindah-pindah jualannya dan mengikuti pabrik mana saja yang gajian. Kebetulan kemarin itu pabrik itu yang gajian, makanya yang pada mau jualan pindah ke sini. Kak Alga bisa lihat sendiri udah banyak juga yang mau jualan. Satu lagi Kak, karyawan pabrik ini termasuk banyak dan itu ribuan, gajinya juga UMR Kak. Udah gitu dari informasi yang Mayu dengar, mereka sering dapat lembur. Otomatis uang mereka pasti banyak itu, dan enggak akan sayang membelanjakannya." jelas Mayu.
"Iya Mayu saya tahu, tapi kamu tahu enggak itu pabrik apa?"
"PT Sinar Pratama TBK." jawab Mayu santai tapi beberapa detik kemudian dia melotot pada Alga.
"Kak, ada nama Pratamanya, jangan-jangan?" seru Mayu begitu tersadar akan sesuatu.
Nama Pratama itu nama yang papinya Alga, tapi seingat Mayu, Pratama group itu adalah perusahaan dagang yang mana mereka memiliki 2 mall besar di Indonesia dan salah satunya adalah plaza yang letaknya tidak begitu jauh dari kampus UI.
"Jangan-jangan apa Mayu?" tanya Alga.
"Itu pabrik punya papi Kak Alga?" tanya Mayu sangat pelan, takut didengar orang di sekitar mereka.
Alga tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kamu benar, pabrik ini adalah salah bisnis milik keluargaku." jawab Alga santai.
"Serius Kak, tapi bukannya kalian pemilik mall itu ya?" tanya Mayu masih belum percaya sepenuhnya.
"Iya itu juga benar. Pliar bisnis keluargaku itu ada 5. Selain yang ke dua itu ada juga yang bergerak dalam bidang pelayanan keuangan dan yang lainnya. Sebentar lagi juga mau tambah di bidang pelayanan kesehatan, dan itu mbakku dan calon suaminya yang akan mendirikannya." jelas Alga.
Mayu kembali melotot. Pantas kekayaan keluarga Alga tidak masuk akal. Bisnisnya banyak ternyata dan enggak kaleng-kaleng.
Mayu kembali menatap Alga dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Ayo cepat bereskan dagangannya, sebentar lagi para karyawan sudah mau pertukaran shift itu." ujar Alga.
"Iya Kak, ini Mayu juga mau beberes, tapi Kak, enggak apa-apa ini Kak Alga ikut dagang di sini? Gimana kalau karyawan papi Kak Alga pada melihat Kak Alga dan mereka ngadu pada mami Kak Alga?" ujar Mayu tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya. Ngeri saja Mayu kalau sampai diserang Dira hanya karena masalah ini. Padahal jelas-jelas ini karena kemauan Alga bukan permintaan Mayu.
Alga tersenyum lebar mendengarnya.
"Karyawan sini, mana ada yang kenal aku sebagai anak dari pemilik pabrik ini, Mayu. Jangankan aku, papi saja mereka tidak kenal, karena papi sekarang pekerjaannya hanya mengurus saham saja. Mana pernah mau dia ke pabrik lagi. Papi itu tahunya periksa laporan dan terima beres saja, tapi bukan berarti dia tidak tahu apa yang terjadi di lapangan." jelas Alga.
"Begitu ya Kak, terus yang sering ke pabrik itu siapa, papa Naura?" tanya Mayu kembali mengorek informasi tentang papa kandungnya.
__ADS_1
"Itu juga jarang. Dia itu CEO utama, sudah pasti kerjanya kebanyakan di kantor pusat. Palingan kalau ada masalah besar yang bisa mengancam keuangan perusahaan, barulah dia akan turun langsung ke lapangan atau kalau ada produk baru. Itu juga kalau bawahannya kerjanya kurang memuaskan dan itu juga jarang sekali terjadi." jelas Alga lagi.
"Begitu ya Kak?" ujar Mayu. Ternyata kesempatan Mayu bertemu dengan papanya di area pabrik adalah suatu yang sangat sulit dan tidak perlu diharapkan.
"Iya Mayu, dan ini kamu kapan beberesnya, dari tadi ngebahas soal pabrik terus. Mau kerja di pabrik juga kamu?" seru Alga.
Mayu tersenyum lebar.
"Enggak lah Kak Alga, Mayu mau jadi pedagang saja. Ini juga juga mau beberes Kak. Kak Alga sabar dong, jika Mayu sudah turun tangan maka ini semua akan rapi dalam waktu singkat."
"Sombong kamu!"
"Hehe ...." Mayu hanya tertawa kecil dan sudah mulai sibuk merapikan alas jualannya. Alas jualan Mayu cukup lebar sehingga bisa memajang banyak barang.
"Aku bantu apa ini Ay?" tanya Alga.
"Kak Alga bantu buka karung saja Kak. Kak Alga bisa buka karung kan? Ingat ya Kak talinya jangan sampai salah tarik, bisa tambah susah nanti membukanya." ujar Mayu mengingatkan.
"Aku tidak sebodoh itu Mayu, kalau hanya buka karung, aku juga bisa. Ini lihat, udah langsung terbuka kan?" ujar Alga memamerkan hasil kerjanya.
"Siapa tahu Kak Alga tidak bisa, aku juga tidak menuduh loh Kak, aku hanya mengingatkan." ujar Mayu tidak mau kalah.
"Iya Ay iya. Ini tiga karungnya mau dibuka?"
"Tentu saja Kak. Ini cuacanya lagi bersahabat jadi lebih baik semuanya dipajang saja!" ujar Mayu beralih mengeluarkan barang dagangan dari dalam karing.
"Harusnya kamu pakai meja saja Ay dan diberi rak juga, jadi akan terlihat rapi dan pembelinya juga tidak perlu jongkok." saran Alga.
Alga yang sedang membantu mengeluarkan dagangan Mayu terdiam dan menatap Mayu. Mana ngerti jualan beginian dia, belanja saja jarang, apalagi jualan. Biasanya juga tinggal terima bersih saja.
"Jualan begini tidak sulit kok Kak, nanti Mayu ajari, yang penting Kak Alga mau dulu. Kak Alga juga enggak perlu malu, yang jualan pakaian dalam biasanya kebanyakkan cowok kok jadi santai saja. Lagian ini pekerjaan halal, kalau tadi pekerjaan haram ya wajar Kak Alga malu." ujar Mayu meyakinkan Alga.
"Iya Ay, aku coba ya, tapi kalau misalnya pembelinya pada nawar gimana?"
"Ya bilang saja harga pas. Lagian Kan Kak Alga ganteng, tinggal bilang saja pada pembelinya, kalau mau dapat pacar atau suami ganteng seperti Kak Alga, belanjanya enggak boleh nawar."
Alga sampai tersenyum dan mengacak gemas rambut Mayu.
"Mana bisa begitu Ay, ngaco aja kamu!" gemas Alga.
"Aku enggak ngaco Kak. Nanti deh Mayu akan buktikan, biar Kak Alga percaya. Ah iya ini isi karung yang satu lagi, Kak Alga saja ya yang merapikkannya! Aku mau ambil raknya kak. Ini baju tidur enggak kelihatan cantiknya kalau tidak dipajang." ujar Mayu.
"Iya. Eh tapi tunggu dulu, ini harganya berapa saja?"
"Ah iya sampai lupa aku." ujar Mayu kemudian memberi tahu harga barangnya. Walau barangnya banyak tapi harganya tidaklah terlalu banyak, dan itu dari 5000 sampai 50 ribuan saja.
"Udah hapal kan kak Alga, kalau masih lupa, WA Mayu saja!"
"Iya Ay, sudah."
"Bagus kalau begitu aku pergi ya Kak?"
"Iya kamu hati-hati dan jangan lama-lama!"
__ADS_1
"Ok Kak. Honey bunny sweety semangat ya jualanya buat modal kawin haha ...." ujar Mayu tertawa ngakak kemudian pergi meninggalkan Alga.
Alga juga tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya.
***
"Yuk yuk mari yuk yang mau kolor dan bhnya silahkan saja! Harganya murah dan bisa dapat bonus foto dari kembarannya Alghazali lagi!" seru Mayu memperomosikan jualannya.
Alga hanya senyum-senyum saja mendengarnya. Ini pacarnya benar-benar enggak ada jaimnya sama sekali.
"Mbak, kalau baju tidur yang ini berapaan harganya?" tanya salah satu calon pembeli Mayu.
"Yang itu 45 ribu saja Mbak. Murah saja Mbak, bahannya bagus dan enggak tembus pandang."
"Enggak kurang lagi Mbak?" tanyanya.
"Coba tanya Kakak saya saja Mbak, masih bisa kurang enggak itu!" ujar Mayu dan itu sengaja. Sudah beberapa pembeli yang mau nawar, semuanya gagal menawar karena ketampanan Alga. Ketampanan Alga benar-benar bisa Mayu manfaatkan kali ini.
"Mana kakaknya? Loh, ini kakaknya Mbak?" ujarnya tampak terkejut melihat Alga.
"Iya Mbak, kan sudah saya bilang, jika belanja sama saya, bisa dapat bonus foto dari kembarannya Alghazali. Kakak saya sangat mirip Alghazali kan? Hanya saja jangan diviralkan ya Mbak, saya enggak mau kakak saya masuk tv. Saya belum siap kakak saya jadi artis Mbak."
"Si Mbak bisa saja. Kalau begitu saya mau baju tidur yang ini deh Mbak, tapi minta bonus foto ya!"
"Ok Mbak!" ujar Mayu langsung semangat 45.
Gara-gara Alga pembeli Mayu jadi ramai dan hampir semuanya minta foto.
Alga mulai risih, tapi dia berusaha menahannya. Semua ini demi Mayu.
"Mbak, kira-kira kalau saya ngelamar jadi calon kajak iparnya diterima enggak Mbak?" tanya pembeli Mayu.
Alga sampai terkejut mendengarnya, sedangkan Mayu hanya senyum-senyum saja.
"Diterima saja Mbak, tapi dengan satu syarat, Mbak borong semua jualan saya." ujar Mayu mantap.
"Ya enggak borong semuanya juga dong Mbak, bisa tekor saya."
"Yang namanya cinta itu kan harus rela berkorban dong Mbak. Apalagi kakak saya ini produk unggulan Mbak, dan ketampanannya ini asli, bukan plastik."
"Si Mbak bisa saja. Mbak kakaknya sering-sering ya diajak jualan, besok kalau dia ada saya mau beli lagi."
"Siap Mbak," ujar Mayu mengacungkan jempolnya.
"Ay!" panggil Alga begitu para pembeil Mayu sudah sepi.
Julan depan pabrik memang tidak lama dan itu cukup 1 sampai 2 jam saja karena begitu karyawan sudah pulang semua, maka area pabrik juga akan sepi.
"Kenapa Kak?" tanya Mayu sambil merapikan jualannya.
"Apa kamu tidak cemburu, para cewek-cewek itu minta foto dan ada juga yang terang-terangan minta nomor ponsel dan mau jadi pacarku?" tanya Alga mengutarakan uneg-uneg yang sedari tadi di tahannya.
"Kak Alga maunya Mayu cemburu atau tidak?"
__ADS_1