
Senyum Alga seketika mengembang begitu Mayu membalikkan badannya dan jalan mendekat padanya.
Penampilan Mayu selalu buat pangling jika sudah memakai make up dan pakai gaun. Ditambah lagi gaun warna pink pastel pilihan Vivi sangat cocok dipakai Mayu. Mayu jadi terlihat cantik dan elegan.
"Cantik," ujar Alga membuat senyum Mayu ikutan mengembang. Hati Mayu seketika berbunga-bunga dipuji oleh pacar gantengnya. Apalagi penampilan Alga juga terlihat lebih ganteng dari biasanya. Alga memang sangat cocok kalau memakai setelan jas, kegantengan dan kharismanya semakin tak terbantahkan. Udah cocok jadi CEO.
"Terima kasih Kak, Kak Alga juga tampan." balas Mayu.
Alga lagi-lagi tersenyum mendengarnya. Alga juga tidak kalah senangnya dipuji ganteng oleh pujaan hatinya.
"Ehem ehem ... plis deh ya enggak usah buat drama live romantis depan kami! Tolong hargai kami yang masih jomblo ini." goda Shinta dari belakang Mayu.
Alga beralih menatap Shinta.
"Beneran masih jomblo? Kasihan ... makanya minta kejelasan dong, jangan mau digantung terus. Iya enggak Ay?" ujar Alga balas menggoda Shinta.
Senyum Mayu mengembang dan menganggukkan cepat kepalanya, sedangkan Shinta mengerucutkan bibirnya.
Alga cuek saja melihat ekspresi Shinta, dia lebih memilih fokus pada kekasihnya.
Alga kemudian mengambil sepatu Mayu yang dia bawa kemarin. Selanjutnya dia jongkok depan Mayu dan siap memakaikan sepatu Mayu.
Shinta semakin mengerucutkan bibirnya melihat adegan romantis yang dipertontonkan Alga, dan Lora hanya semakin mupeng melihatnya. Memang kekasih idaman banget itu Alga. Udah gantengnya di atas rata-rata. Hartanya tidak habis 7 turunan sangat romantis lagi pada gadis yang dicintainya. Makanya tidak heran kalau Naura sang primadona kampus masih terus mengharapkannya.
"Terima kasih Kak," ujar Mayu begitu Alga selesai memakaikannya sepatu.
"Sama-sama Sayang," ujar Alga dan mereka kembali sama-sama tersenyum.
"Kamu sudah siap kan? Apa kita sudah bisa berangkat?" tanya Alga.
"Iya sudah Kak." ujar Mayu mantap.
"Bagus. Kalau begitu ayo kita pamitan pada Nenek." ujar Alga kemudian melangkah ke arah Nenek Iroh yang sedang asik menonton televisi.
"Nenek kami pergi dulu." ujar Alga sambil mengulurkan tangannya.
"Iya kalian hati-hati ya!" ujar nenek Iroh memyambut uluran tangan Alga.
"Iya Nenek," ujar Alga sambil membawa tangan nenek Iroh ke keningnya.
Mayu juga melakukan hal yang sama, dan tidak lupa juga Mayu mengecup pipi neneknya.
"Lora, Shinta, kami pergi dulu ya. Ah iya nanti kalau Kak Rangga dan Kak Yuda sudah datang, minta barangnya diantar ke kios dulu ya. Ini hari sabtu, kios biasanya ramai, kasihan teh Irma kalau ada barang yang kosong." ujar Mayu.
__ADS_1
Kios di rumah Mayu sudah mulai mereka buka hanya saja barangnya belum terlalu banyak karena Mayu masih kurang modal. Untuk itu Mayu harus pintar membagi jumblah barang dagangannya.
"Ok May, barang yang mau dibawa ke kios yang dikarung itu saja kan?" ujar Lora.
"Iya, satu karung itu saja."
"Oklah kalau begitu." ujar Lora mantap sambil mengacungkan jempolnya.
Mayu juga ikut mengacungkan jempolnya.
"Semangat ya kalian jualannya!" ujar Mayu lagi.
"Siap May, beres kalau soal itu." ujar Shinta semangat.
"Mantap. Kalau begitu kami pergi dulu."
"Iya hati-hati kalian."
"Ok."
"Kami pergi Shinta, Lora." ujar Alga.
"Ok Kak." kompak Shinta dan Lora.
"Silahkan Ay!" ujar Alga sambil membuka pintu mobil untuk kekasihnya.
Mayu tidak langsung masuk, tapi dia menatap mobil Alga. Dia sangat kenal mobil ini, mobil yang sudah mempertemukannya dengan Alga.
"Terima kasih Kak. Ini mobil Kak Alga kan? Kok bisa Kak Alga memakai mobil ini lagi, apa Kak Alga sudah dibebaskan dari hukumannya?" tanya Mayu penasaran.
Alga tersenyum mendengarnya.
"Tidak dibebaskan sepenuhnya Ay. Untuk fasilitas mobil dan uang jajan aku sudah mendapatkannya kembali, hanya saja untuk kartu kredit dan ATM, aku belum mendapatkannya lagi." jawab Alga apa adanya.
"Lumayan dong Kak, tapi aku penasaran deh gimana ceritanya Kak Alga bisa dibebaskan dari sebagian hukumannya?" ujar Mayu.
"Nanti akan aku ceritakan. Sebaiknya kamu masuk dulu! Ini sudah jam 9, kita bisa terlambat kalau kelamaan ngobrol." ujar Alga mempersilahkan kekasihnya masuk mobil.
"Benar juga hehe ...." ujar Mayu tersenyum malu.
Alga juga ikut tersenyum dan langsung mengangkat tangannya ingin mengacak rambut Mayu. Sayangnya dia keburu sadar, jadi dia langsung mengurungkan niatnya.
Alga tentu tidak mau rambut kekasihnya yang sudah ditata rapi jadi berantakan karena ulahnya.
__ADS_1
Alga kemudian menutup pintu mobilnya dan berlari kecil ke arah kursi kemudinya.
"Sekarang Kak Alga sudah bisa cerita!" ujar Mayu begitu Alga menjalankan mobilnya.
Alga refleks menatap wajah kekasihnya.
"Sabar dong Ay, ini kita baru jalan loh. Berikan aku waktu untuk bernafas dulu." ujar Alga dan kembali fokus pada jalan yang dilewatinya.
"Hehe ... habisnya aku sangat penasaran Kak. Apa Kak Alga sampai mohon-mohon kemarin hingga akhirnya Kak Alga bisa mendapatkan hak Kak Alga kembali." ujar Mayu menatap wajah kekasihnya.
Alga kembali menatap sebentar pada Mayu.
"Tentu saja enggak Ay, itu jelas bukan aku banget. Sejak kapan seorang Alga Peratama mau mohon-mohon?" ujar Alga sambil menaikkan alisnya.
"Huh sombong." ujar Mayu membuat Alga tersenyum.
"Sesekali sombong itu enggak apa-apa Ay."
"Benar juga, sombong pangkal kaya ya Kak?" ujar Mayu.
"Enggak ada hubungannya Ay!" ujar Alga cepat.
"Hehe .... Ah iya Kak Alga belum cerita soal yang tadi." ujar Mayu mengingatkan.
"Iya Ay, ini juga aku mau cerita. Jadi sebenarnya kenapa aku bisa mendapatkan mobil ini lagi, aku mulai belajar licik Ay." cerita Alga.
Mayu refleks menatap Alga.
"Belajar licik gimana maksudnya Kak?"
"Ya belajar licik seperti apa yang sering mami lakukan pada kita. Mami bisa, aku juga pasti bisa dong. Aku juga enggak ingin diremehkan mami terus. Mentang-mentang selama ini aku jadi anak baik, dia selalu saja bersikap seenaknya padaku, makanya aku juga sudah memikirkan cara untuk membalasnya, salah satunya mengambil kembali apa yang jadi hakku." jelas Alga.
"Iya Kak Mayu mengerti, terus cara apa yang kak Alga lakukan?"
"Jadi begini Ay, kemarin malam itu, Daddy bertanya padaku, kapan aku mulai masuk kantor? Aku jawab saja setelah lulus S2. Padahal kamu juga sudah tahu kalau aku mau masuk kantor setelah kita selesai ujian semester nanti. Daddy tentu saja langsung protes karena itu jelas kelamaan. Mami juga ikutan protes dan langsung menyalahkan kamu. Aku jelas tidak terima dong kamu disalahkan, aku balas menyalahkan Mami. Aku bilang saja, aku malu pergi ke kantor naik motor, aku juga malu kalau harus ngutang di kantin kantor. Apa kata orang nanti melihat calon peminpin mereka sangat kere. Jadi kalau mereka ingan aku kerja di kantor, mobilku harus dikembalikan dan aku juga minta uang saku 10 juta perbulan, hitung-hitung sebagai gajiku selama kerja di kantor. Papi tentu saja tidak masalah dan dia langsung setuju. Hanya saja Mami sempat protes dan tidak terima aku minta uang saku 10 juta, katanya kebesaran, ya aku jawab saja aku enggak usah masuk kantor sekalian. Masalah selesai. Papi enggak terima, dan dia marah pada Mami. Jadilah mami terpaksa menyetujui keinginanku. Begitulah ceritanya Ay." cerita Alga.
"Bagus dong Kak, aku suka cara Kak Alga membalas tante Dira." ujar Mayu.
"Tentu saja Ay. Itu bahkan baru permulaan. Aku sudah mulai belajar banyak dari orang-orang sekitarku, kalau kita tidak seharusnya diam saja saat kita diperlakukan tidak adil. Kita harus bisa membalas mereka dan harus pintar main cantik juga." ujar Alga lagi.
"Setuju Kak." jawab Mayu mantap.
"Tentu saja." balas Alga dan mereka kembali sama-sama tersenyum.
__ADS_1