Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Belanja Berdua


__ADS_3

Mayu keluar dari ruang admistrasi dengan wajah sedihnya. Dira benar-benar melakukan ancamannya. Beasiswa Mayu sudah dihentikan dan mulai semester 2 nanti Mayu terpaksa bayar uang kuliahnya.


'Tidak apa-apa Mayu, kamu masih bisa mengajukan UKT dan semoga saja diterima.' batin Mayu menyemangati dirinya sendiri.


Mayu menghembuskan nafas kuat. Dia harus tetap semangat, dia pasti bisa.


Mayu kembali melanjutkan langkahnya, dia tidak boleh lambat. Untuk sekarang ini, biar lambat asal selamat tidak berlaku lagi bagi Mayu, semua harus cepat dan tepat.


"Mayu tunggu!" seru Alga saat Mayu ingin menjalankan motornya.


Mayu menoleh dan seketika tersenyum tidak enak pada Alga, karena terlalu bersemangat, Mayu jadi lupa pamitan pada Alga.


"Maaf Kak, Mayu buru-buru jadi lupa menghampiri Kak Alga ke ruang bem." jujur Mayu.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Kamu mau pulang kan? Aku ikut ya?" ujar Alga.


"Ikut? Memangnya Kak Alga tidak ada kegitan hari ini? Bukankah kak Alga dan anggota bem lainnya sedang sibuk-sibuknya?" tanya Mayu.


"Sudah tidak lagi Mayu. Programnya sudah selesai kemarin, dan sudah kami serahkan pada panitia yang ditunjuk. Untuk kegiatan kali ini aku selaku presiden bem tidak boleh ikut jadi panitia, dan kami juga sengaja melibatkan lebih banyak mahasiswa dan mahasiswi seangkatan kamu." jelas Alga.


"Oh," ujar Mayu mengerti. Mayu memang tidak mau ikut kegiatan bem atau kegiatan kampus lainnya. Mayu terlalu sibuk cari uang.


"Hanya oh saja?" protes Alga.


"Terus Mayu harus jawab apa dong Kak?" ujar Mayu balik bertanya.


"Tidak apa-apa. Udah ah lebih baik kita pulang saja!" ujar Alga kemudian naik motor Mayu.


"Eh Kak Alga tunggu! Ini Kak Alga beneran mau naik motor Mayu?" tanya Mayu masih belum bisa percaya.


"Iya beneran. Dari pada saya naik angkot, kan lebih baik naik motor kamu. Lagian saya juga tidak tahu angkot nomor berapa yang lewat perumahan tempat saya tinggal." jujur Alga.


Seumur hidup Alga dia belum pernah naik angkot, naik bus juga hanya hitungan jari saja, itu juga hanya untuk kegiatan sekolah atau kuliah.


Mayu tersenyum mendengarnya.


"Dasar tuan muda,"


"Tuan muda yang turun tahta ya Ay?"


"Nah itu dia. Eh tapi ini, Mayu bukan mau menolak, Kak Alga. Kak Alga kan enggak punya helm. Mayu takut kena foto Kak. Bisa gawat kalau Mayu kena tilang, uang Mayu bisa habis saat bayar pajak motor nanti." ujar Mayu apa adanya.


"Ah iya, helm ya? Sebentar aku ambil helm dulu. Aku bawa helm tadi pagi. Kamu tunggu di sini dan jangan kemana-mana, ok!" ujar Alga dan kembali turun dari motor Mayu.


Mayu menatap Alga yang berlari kecil ke arah motor Rangga. Perasaan Mayu campur aduk melihatnya. Satu sisi Mayu tidak menyangka, sisi lain dia kasihan tapi sisi lainnya ada rasa kagum juga. Perasaan saat Mayu pertama kali bertemu Alga, sikap Alga seperti orang sombong tapi semakin Mayu mengenalnya, ternyata Alga orangnya baik dan jauh dari kata sombong. Benar kata orang di luar sana, jangan terlalu cepat menilai orang lain.


"Mayu jangan diam saja, ayo jalan!" ujar Alga yang sudah kembali naik motor Mayu, dan sudah memakai helmnya.


"Ok Kak, tapi ini beneran Mayu yang bawa? Kenapa enggak Kak Alga saja yang bawa?"


"Tidak kamu saja, saya mau tahu seperti apa rasanya dibonceng sama cewek cantik." ujar Alga dengan santainya.


Mayu tersenyum.

__ADS_1


"Kak Alga jadi suka gombal deh." protes Mayu.


"Saya tidak gombal, bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu cantik jelita." ujar Alga mengingatkan.


Senyum Mayu semakin lebar.


"Kak Alga masih ingat saja. Baiklah kali ini biar Mayu yang bonceng Kak Alga, tapi lain kali kita gantian ya Kak?"


"Ok, tidak masalah." ujar Alga mantap.


"Terus ini, Kak Alga mau diantar kemana? Kalau ke rumah Kak Alga, maaf-maaf saja ini Kak, Mayu tidak bisa. Mayu mau belanja terlebih dulu, dan rumah Kak Alga arahnya berlawanan dengan tanah Abang."


"Aku ikut kamu tanah abang dan aku juga mau ikut kamu jualan."


Mayu melotot mendengarnya.


"Kak Alga serius? Di tanah abang itu enggak enak Kak, panas udah gitu banyak orang lagi."


"Tidak masalah Mayu. Aku mau melihat seperti apa itu pasar dan aku mau belajar. Lagian aku bukan anak manja."


"Iya bukan anak manja, tapi Kak Alga itu anak mami. Kak Alga tahu enggak apa itu anak mami?"


"Ya tahulah, tapi bagiku mau anak mami, anak mama, anak ibu dan anak yang lainnya sama saja. Semuanya itu perempuan dan mereka semua mengandung selama 9 bulan."


"Benar juga."


"Tentu saja benar. Ayo jalan, dari tadi ngobrol terus, enggak jalan-jalan ini kita!"


"Iya Kak Alga." nurut Mayu.


***


Alga mengulurkan tangannya membuat Mayu seketika mengerutkan keningnya.


"Kak Alga mau minta apa?" tanya Mayu tidak mengerti maksud Alga.


"Tangan kamu Ay!" gemas Alga.


"Tangan Mayu? Memangnya kenapa dengan tangan Mayu?" tanya Mayu semakin bingung.


Alga sampai menggelengkan kepalanya. Ini Mayu terkadang polosnya suka kelewat, tapi Alga berusaha maklum, dia tahu Mayu baru kali ini pacaran.


"Maksudnya ini Ay! Ayo jalan!" ujar Alga meraih tangan Mayu dan menggenggamnya.


"Oh itu," ujar Mayu tersenyum malu, baru mengerti dia maksud Alga.


Mayu menatap tangannya yang digenggam Alga. Sungguh Mayu masih antara percaya dan tidak percaya. Ini benar-benar terlalu cepat untuk Mayu, hanya saja Mayu juga tidak bisa memungkiri kalau hatinya merasa senang.


Mayu dan Alga kemudian jalan sambil bergenggaman tangan masuk tanah abang. Sesekali mereka akan saling menatap dan mereka sama-sama tersenyum. Beginilah kalau cinta lagi bersemi, hanya jalan masuk tanah abang saja rasanya sudah membahagiakan.


"Kak Alga, genggaman tangannya sebaiknya dilepas saja ya Kak. Di sini terlalu ramai orang dan jalannya juga sempit, susah Kak." ujar Mayu yang sebenarnya tidak rela melepas genggaman tangan Alga.


"Ya sudah tidak apa-apa tapi kamu jalan duluan saja!" ujar Alga.

__ADS_1


"Ok Kak," ujar Mayu mantap.


Alga benar-benar setia berada di belakang Mayu dan menjaga Mayu. Alga juga bersedia membawa barang belanjaan Mayu yang semakin lama semakin berat karena belanjaan Mayu semakin banyak.


"Kak Alga masih kuat enggak? Kalau sudah tidak kuat biar Mayu saja yang bawa sebagian Kak, Mayu masih kuat kok." ujar Mayu merasa tidak tega melihat Alga yang keringatnya sudah bercucuran.


"Aku masih kuat Mayu, aku ini laki-laki, bawa barang 20 kg saja masa tidak kuat. Aku hanya kepanasan saja, benar kata kamu di sini hawanya terlalu panas." ujar Alga dengan keringat yang bercucuran.


"Bagaimana kalau Kak Alga tunggu di dekat parkiran saja. Dekat parkiran itu kan ada tukang jualan es. Kak Alga bisa istirahat dulu di situ sambil minum es." saran Mayu.


"Tidak usah aku mau ikut saja. Aku lebih tenang kalau ada dekat kamu." ujar Alga. Alga juga tidak tega pada Mayu. Dan Alga baru tahu kalau pekerjaan Mayu ternyata lebih berat dari yang dipikirkannya, dan Alga semakin dibuat kagum saja oleh kekasihnya ini. Alga sendiri belum tentu bisa melakukan ini semua.


"Baiklah kalau Kak Alga ingin ikut Mayu. Kita juga sudah mau selesai kok, Mayu tinggal beli pesanan Lora saja dan itu tempatnya tidak jauh dari pintu keluar." ujar Mayu.


Alga mengangguk mengerti.


***


"Kasihan sekali ini tuan muda, keringatnya sampai bercucuran kemana-mana." ujar Mayu sambil mengusap keringat di wajah Alga.


"Kamu juga keringatnya kemana-mana." ujar Alga tidak mau kalah kemudian menarik tisu Mayu dan mengusap keringat Mayu.


Alga dan Mayu saling menatap dan sama-sama tersenyum. Ada-ada saja memang tingkah mereka. Padahal mereka bisa bisa mengusap keringat masing-masing tapi ini malah saling mengusap.


"Apa Kak Alga kapok ikut aku belanja?" tanya Mayu setelah selesai mengusap keringat Alga.


"Selama itu bersama kamu, aku tidak akan kapok." ujar Alga mantap.


Mayu tersenyum.


"Iya Kak Alga tidak kapok, tapi bagaimana kalau tante Dira melihat, bisa dib*nuh aku. Anak kesayangannya dibawa ke pasar dan dijadikan kuli." ujar Mayu.


"Itu berarti mami tidak boleh melihat kita karena aku tidak mau jadi duda perjaka."


"Ya Engak jadi duda juga Kak Alga, kita kan belum nikah." protes Mayu.


"Kalau begitu kapan kita nikah?" tanya Alga dengan santainya.


"Nanti kalau Kak Alga sudah tidak kere lagi dan sudah jadi CEO." ujar Mayu tidak kalah santainya.


"Baiklah calon istri." ujar Alga sambil menundukkan kepalanya.


"Belum jadi calon istri juga Kak Alga, masih lama!" ujar Mayu salah tingkah.


Alga tersenyum kemudian mencubit gemas pipi Mayu.


"Iya Ay iya, aku hanya bercanda. Jangan nangis dong!" goda Alga. Sepertinya setelah mereka jadian, menggoda Mayu sudah jadi hobby baru Alga.


"Mayu enggak nangis ya Kak Alga, biasa saja." ujar Mayu sambil mengusap pipinya yang dicubit Alga.


"Oh biasa saja ya? Berarti hanya perasaanku saja yang tidak biasa pada kamu?"


"Au ah gelap." ngalah Mayu.

__ADS_1


Alga kembali tersenyum lebat kemudian mengacak gemas rambut Mayu. Alga benar-benar suka menghabiskan waktunya dengan Mayu walau harus panas-panasan di pasar.


__ADS_2