
Mayu yang sedang asik memeriksa tugas di laptopnya seketika menoleh saat ada yang meletakkan box cake di depannya.
Alis Mayu terangkat begitu melihat Naura lah pelakunya.
"Titipan dari Daddy." ujar Naura jutek.
"Serius? Tapi lo enggak tabur racun di atasnya kan?" tanya Mayu.
"Menurut lo?" ujar Naura tambah jutek kemudian pergi meninggalkan Mayu.
Mayu hanya tersenyum. Dia kemudian membuka perlahan tutup boxnya.
Senyum Mayu seketika mengembang begitu melihat cake mini bertuliskan, semangat Mayu!
Cakenya memang hanya cake sederhana tapi rasa bahagianya tidak lah sesederhana itu. Mayu sangat senang mendapat perhatian kecil dari daddynya.
Mayu menoleh ke belakang dan menatap pada Naura.
"Naura!" panggil Mayu.
Naura melirik malas padanya.
"Terima kasih," ujar Mayu dan ada senyum di wajahnya.
Naura lagi-lagi hanya memperlihatkan wajah malasnya. Walau dia sudah janji pada daddynya mau berubah, tapi tetap saja Naura sulit sekali tersenyum seperti Mayu.
Sementara Mayu, dia buru-buru mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada daddynya. Mulai hari ini dia sudah bebas mengirim pesan pada daddy dan nomor daddynya juga sudah tersimpan manis dalam ponselnya.
[Terima kasih untuk cakenya Dad, Mayu sangat suka.] Isi pesan Mayu.
[Naura beneran memberikan cakenya pada kamu? Baguslah. Padahal Daddy tidak berharap banyak dia mau melakukannya, tapi ternyata dia mau melakukannya.] balas David.
[Iya Dad. Daddy juga semangat ya kerjanya. Love you Dad.]
[Love you too Mayu.] balas David lagi.
David tersenyum membaca pesan dari Mayu. Selanjutnya dia juga mengirim pesan pada anak bungsunya.
[Terima kasih cantiknya daddy sudah memberikan cakenya pada Mayu. Cantiknya Daddy memang paling bisa diandalkan. Semangat ya Cantik kuliahnya!]
Naura tersenyum tipis begitu membaca pesan dari David.
[Iya Dad, Daddy juga semangat kerjanya!]
[Siap Sayang, Daddy pasti akan semangat kerja demi kedua anak gadis Daddy.] balas David lagi.
David benar-benar asik mengirim pesan pada kedua anaknya dan tanpa perduli sama sekali pada Sindi yang menatap kesal padanya.
Jika sebelumnya Sindi masih bisa mengambil ponselnya dan memeriksanya, maka sekarang tidak lagi. David benar-benar sudah menunjukkan pemberontakannya dan tidak perduli sama sekali dengan amarah Sindi. Terlebih lagi Naura juga ada dipihaknya, maka tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan.
Sindi meletakkan kuat sendok makannya saat melihat David tersenyum depan ponselnya. Sindi juga bangun cepat dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan. Dia benar-benar tidak tahan melihat David.
David hanya melirik sebentar pada Sindi dan kembali fokus pada ponselnya. Bagi David, ponselnya jauh lebih menarik dari pada Sindi.
Sindi melangkahkan cepat kakinya keluar rumah. Dia benar-benar butuh tempat curhat untuk melepaskan semua amarah di hatinya.
"Hai Sin, selamat pagi. Mau olahraga bareng?" ujar Dira begitu melihat Sindi masuk halaman rumahnya.
"Pagi juga. Lagi enggak mood olahraga Mbak." ujar Sindi kemudian duduk di bangku yang tersedia.
__ADS_1
"Kenapa enggak mood, apa karena masalah kemarin? Udah lah soal kegagalan kita yang kemarin tidak perlu dipikirkan lagi. Ingat Sin banyak jalan menuju Roma, dan ada banyak cara untuk mengalahkan mereka. Untuk saat ini biarkan saja mereka menikmati kemenangan mereka." ujar Dira sambil merapikan matrasnya, dia mau melakukan yoga.
"Aku enggak yakin kita masih bisa membalas mereka Mbak. Sepertinya kita benar-benar sudah kalah, Mbak." ujar Sindi membuat Dira seketika menoleh padanya.
"Kenapa begitu. Ingat Sin kita punya uang yang sangat banyak, dan kita bisa melakukan apa pun dengan uang kita. Termasuk memberi pelajaran pada si Mayu itu." seru Dira.
"Iya Mbak, kita memang bisa melakukan apa pun dengan uang kita, tapi masalahnya Mayu juga sekarang punya uang yang sangat banyak. Ditambah lagi orang yang berdiri si belakangnya itu ada Alga dan David. David juga benar-benar sudah menujukkan taringnya Mbak. Dia tidak lagi takut padaku karena dia juga punya Alga dan Mayu. Bisa dibilang posisi mereka itu benar-benar saling menguntungkan Mbak. Ditambah lagi Naura juga memilih berpihak pada daddynya. Aku takut Mbak, jika aku masih nekad, maka aku akan kehilangan semuanya." curhat Sindi.
"Beneran Naura juga berpihak pada David? Kamu yakin? Naura kan masih suka plin plan dan gampang dipengaruhi." tanya perempuan paruh baya itu.
"Iya Mbak. Mbak tahu sendirilah David itu kan sangat sayang pada Naura, dan begitu juga dengan Naura. Walau Naura sering berdiri di pihak kita tapi hatinya itu akan selalu memilih daddynya. Ya karena tak bisa dipungkiri, David itu memang sosok daddy yang sangat baik untuk anaknya. Apalagi sekarang, aku perhatikan, Naura juga sepertinya memilih move on dari Alga. Entah apa yang David janjikan padanya." ujar Sindi lagi.
Dira lemas mendengarnya.
"Kalau Naura juga sudah tidak berpihak pada kita, ya percuma saja kita menyerang Mayu, dan aku juga enggak mau Sin kalau kamu sampai kehilangan segalanya, karena perjuangan kamu untuk mendapatkan semua itu juga tidak mudah." ujar Dira.
"Itu dia Mbak. Aku bisa gila kalau aku sampai kehilangan segalanya, dan kalau aku jadi gila, maka si Mayu itu akan dengan senang hati menertawakanku. Selain itu aju juga khawatir pada Naura. Jika aku jadi gila, pasti dialah yang paling sedih juga malu. Aku tidak ingin Naura jadi sedih dan malu gara-gara aku, karena aku juga sayang pada Naura." ujar Sindi lagi.
"Iya Sin aku mengerti. Aku juga tidak ingin memaksakan kamu lagi kali ini, karena kamu memang sudah kalah, tapi kamu tenang saja Sin, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku benar-benar tidak terima kalau Mayu itu jadi menantuku. Aku pastikan hubungan mereka akan berakhir." seru Dira.
"Iya Mbak, semoga Mbak berhasil ya, dan aku juga pasti akan selalu mendukung Mbak." ujar Sindi.
"Iya Sin, terima kasih. Kamu yang sabar ya Sin!"
"Iya, Mbak juga."
***
Mayu merapikan produk Maga wear sambil bersenandung kecil. Dia merasa senang pekerjaan berjalan dengan lancar dan sebentar lagi pesanan untuk Pratama group juga sudah selesai.
"Mayu posel kamu ada yang nelpon." ujar Nenek Iroh yang sedang bersantai sambil menonton televisi.
"Daddy, Nek." ujar Mayu begitu melihat nama si peneleponnya.
"Iya Nak," ujar nenek Iroh.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mayu menjawab telepon dari daddynya.
"Hallo Dad," ujar Mayu.
"Hallo Mayu, Daddy ada di depan." balas David membuat kening Mayu berkerut.
"Maksudnya di depan apa Dad?" tanya Mayu tidak mengerti.
"Daddy di depan rumah kamu Mayu." jawab David lagi.
"Serius depan rumah Mayu, Dad?" tanya Mayu seakan tidak percaya. Ini sudah jam 10 malam, Daddynya ngapain datang ke rumahnya?
"Serius Mayu."
"Ah iya Dad, Mayu akan buka pintu." ujar Mayu kemudian membuka mematikan sambungan teleponnya.
"Daddy sudah di depan rumah kita Nek. Mayu buka pintu dulu ya." ujar Mayu.
Nenek Iroh mengangguk dan perasaannya seketika campur aduk. Dia tidak menyangka Kalau David akan datang ke rumah mereka.
Sementara itu, Mayu sudah sampai depan pintu dan membuka pintu untuk daddynya.
Mayu refleks tersenyum begitu melihat David berdiri depan pintu rumahnya. Dia merasa senang akhirnya David menginjakkan kakinya di rumahnya, walau dia masih bingung dengan kedatangan David yang tiba-tiba dan sangat malam lagi.
__ADS_1
"Assalamualaikum Mayu," ujar David.
"Waalaikumsalam Dad," ujar Mayu dan langsung salim pada daddynya.
"Maafkan Daddy ya datangnya sangat malam. Daddy sengaja menunggu Rangga dan yang lainnya pulang dulu." ujar David tanpa ditanya.
Mayu langsung mengangguk paham. Jadi karena itu Daddynya datang semalam ini.
"Iya Dad, tidak apa-apa. Mayu mengerti."
"Iya. Ini untuk kamu dan nenek Iroh." ujar David sambil memberikan parsel buah juga roti bakery.
"Terima kasih Dad. Harusnya Daddy enggak perlu repot-repot bawa ini. Daddy mau datang ke sini saja, Mayu sudah senang Dad." ujar Mayu menerima oleh-oleh dari daddynya.
"Iya kamu memang senang, tapi gimana dengan nenek kamu? Daddy enggak mungkin datang dengan tangan kosong, takutnya Daddy dikira orang pelit lagi."
"Benar juga. Ah iya, ayo masuk Dad!" ujar Mayu mempersilahkan Daddy. Dia juga tidak lupa menutup pintu rumah kembali.
"Iya," ujar David mengikuti langkah anaknya.
"Maaf ya Dad kalau rumahnya penuh dengan barang dagangan." ujar Mayu.
"Tidak apa-apa daddy mengerti, tapi rumahnya jadi terlihat sempit dan kecil ya."
"Ya begitu lah Dad. Apa lagi hari ini kami belanja banyak, jadi ya begitu barangnya numpuk semua."
"Kamu benar, barangnya benar-benar menumpuk, rumah kamu jadi mirip gudang. Harusnya kamu beli rumah lagi ini, biar barangnya enggak terlalu menumpuk."
"Kak Alga sudah beli Dad, hanya saja rumahnya masih dalam proses pembangunan."
"Oh Alga sudah beli, baguslah."
"Iya Dad. Ah iya Dad itu Nenek." ujar Mayu kemudian membawa David ke arah neneknya.
Nenek Iroh sudah bangun dari duduknya. Dia bingung harus bagaimana dia bersikap di depan David, tapi satu yang pasti dia merasa senang akhirnya bisa bertemu dengan David lagi setelah sekian tahun. Dia juga ingin berterima kasih pada David.
Sama halnya dengan David, dia juga jadi canggung begitu melihat nenek Iroh. Hanya saja kedatangannya kali ini memang untuk nenek Iroh. Dia ingin minta maaf pada nenek Iroh, karena David belum bisa sepenuhnya tenang sebelum dia minta maaf pada nenek Iroh.
David menatap nenek Iroh dan nenek Iroh juga melakukan hal yang sama. Tidak ada senyum di wajah mereka, sampai akhirnya David berlutut di depan nenek Iroh membuat Mayu dan nenek Iroh terkejut.
"Da-david kamu ngapain?" tanya nenek Iroh terbata.
"Saya minta maaf Ibu. Saya minta maaf atas apa yang pernah saya lakukan pada Marisa. Saya benar-benar menyesal Ibu. Saya memang laki-laki yang sangat bodoh dan pengecut. Berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab." ujar David.
Nenek Iroh menarik nafas pelan. Dia kembali merasa senang atas permintaan maaf David, dan memang sudah sepantasnya David minta maaf, meski dia sudah melakukan banyak sekali kebaikan selama ini.
"Iya David, saya sudah memaafkan kamu, bahkan jauh sebelum kamu minta maaf. Saya juga sudah melupakan semua kesalahan kamu di masa lalu. Lagian Marisa juga sudah tenang sekarang. Jadi sebaiknya kamu duduk, dan kamu tidak perlu belutut di depan saya!" ujar nenek Iroh apa adanya dan itu cukup membuat David merasa lega.
David mengangkat kepalanya dan menatap nenek Iroh.
"Terima kasih banyak Ibu sudah mau memaafkan saya."
"Iya David sama-sama, dan saya juga mau mengucapkan terima kasih pada Kamu.Terima kasih kamu sudah jadi ayah yang baik untuk Mayu dan melakukan semua yang terbaik untuk Mayu. Terima kasih juga untuk hadiah yang kamu berikan pada saya. Saya hanya bisa berdoa semoga rejeki kamu semakin dilancarkan dan kamu juga selalu diberi kesehatan." ujar nenak Iroh.
"Iya Ibu, sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama David."
Mayu diam-diam tersenyum melihat daddy dan neneknya saling memaaafkan juga saling berterima kasih. Inilah salah satu keinginan Mayu selama ini dan akhirnya kesampaian juga.
__ADS_1